LINEUSS ATTACK (SYSTEM)

LINEUSS ATTACK (SYSTEM)
Bab 79: Penjelasan Barang Rai


__ADS_3

Gulungan tenda kemah tersebut meledak dan langsung berdiri dalam satu kedipan mata.


Tenda kemah muncul begitu saja di tengah lantai kosong sehingga hanga menyisakan sedikit ruang.


Rumah ini memiliki ruang tamu yang cukup luas, tetapi saat tenda kemah ada lantai yang luas tampak jadi sempit, bahkan Rai dan Lara harus mundur.


“I-ini apa, Rai?“ Lara terkejut sambil menatap Rai dengan rasa ingin tahu.


“Tenda kemah, kamu belum pernah melihatnya?“ kata Rai.


“Pernah aku rasa, mungkin waktu aku kecil. Pasalnya aku sedikit familiar dengan benda ini.“ Lara menatap tenda oranye yang berdiri tegak di dalam rumah ini.


Kemungkinan besar apa yang dirasakan oleh Lara itu benar. Dari bangunan tinggi yang telah Rai lihat dari beberapa kota tidak jauh berbeda dengan apa yang ada di Bumi sebelumnya, tingkat teknologinya pun sama, kendaraannya masih beroda dan memakai ban karet hitam.


Tenda kemah seperti ini seharusnya sudah ada di dunia ini, tetapi Lara samar-samar mengetahuinya karena itu sudah lama sekali.


“Apakah ini tempat kita akan tidur?“ tanya Lara sambil memeluk tangannya untuk meredakan hawa dingin di tubuhnya.


Rai mengangguk, dan berkata ringan, “Benar. Ayo masuk!“


Kuro yang duduk di atas bahu Rai langsung turun dan berdiri di depan ritsleting tenda kemah, wajahnya terlukis ketidaksabaran.


Rai menjulurkan tangannya dan memegang kepala ritsleting, lalu menariknya ke atas.


Melihat tenda sudah terbuka, Kuro masuk lebih dahulu meninggalkan Rai dan Lara di luar.


“Masuklah, aku akan memantau sekitar sekali lagi,” ujar Rai pada Lara yang diam dan menatap tenda.


Lara mengangguk pada Rai dan ia sedikit membungkukkan tubuhnya untuk bisa masuk ke dalam tenda.


Setelah melihat Lara yang sudah masuk ke dalam, Rai mengalihkan pandangannya ke arah luar rumah untuk mengamati situasi di luar.


Tidak ada suara gerakan apapun di luar, hanya ada suara semilir angin dan daun pohon yang bergoyang, merasa sudah aman dan tidak ada ancaman, saatnya Rai yang masuk ke dalam tenda.


Ketika masuk ke dalam tenda, Rai langsung melihat sosok Lara yang berdiri diam tak bergerak seolah membeku.


Rai berdiri dan berjalan sedikit maju untuk melihat ke tampilan Lara dari depan.


Ekspresi wajah Lara tercengang dengan mata bulatnya yang membesar dan mulut cerinya terbuka lebar yang dapat menyimpan satu buah telur ayam.


“Apakah yang aku lihat itu nyata, Rai?“ Lara menengok ke Rai dengan kaku dan bertanya.


“Benar,” jawab Rai dan ia berjalan ke satu tempat.


Di dalam tenda ini terdapat sebuah boneka panda kecil yang terpajang dan belum pernah Rai pegang, dan boneka tersebut Rai lempar menuju Lara.


Lara bereaksi dan menangkap boneka lucu nan lembut tersebut dengan kedua tangannya. Jari-jarinya yang putih dan lentik mengelus-elus bulu boneka dengan lembut dan mata Lara membelalak kembali.


“Ini nyata!“ seru Lara bersemangat.


Boneka di tangannya ia peluk dengan erat beberapa saat, dan kemudian ia berjalan mengelilingi ruangan di dalam tenda.


Berjalan perlahan sambil tangannya terulur ke beberapa benda untuk mencoba menyentuhnya. Perasaan padat, halus, dan kasar permukaan benda yang ia sentuh terasa jelas dan artinya semua benda di sini adalah nyata.


Lara berhenti di depan kasur yang cukup dua orang dan memandang tempat tidur dengan tatapan yang penuh kerinduan.


“Duduk saja, tidak apa-apa,” ujar Rai yang melihat sosok Lara berdiri di depan tidur.


“Emm … baiklah.“ Lara mengangguk dan secara hati-hati duduk di atas kasur.


Empuk, halus, dan nyaman langsung dirasakan oleh Lara. Tangan kanannya turun dan menyentuh seprai kasur yang lembut dan agak dingin.


Setelah merasakan semua itu, Lara memindahkan pandangannya ke Rai dan menunjukkan wajah yang meminta penjelasan.

__ADS_1


Rai mengambil napas pendek dan berkata, “Tenda dan tas itu benda yang serupa jenisnya, semua barang-barang ini hanya bisa diakses olehku dan bisa digunakan atas izinku, orang lain tidak bisa menggunakannya apabila tanpa izin dariku.“


“Kalau boleh tahu, dari mana benda ini berasal?“ Lara bertanya pada Rai dan serius menatap wajahnya.


“Barang-barang ini ada di saat kemampuanku terbangun. Pedang, tas, tenda, dan bahkan makanan yang aku berikan itu termasuk bendang yang muncul berbarengan dengan kemampuanku.“ Rai duduk di kursi makan yang tidak jauh dari tempat tidur.


Sorot mata Rai tidak terasa seperti yang sedang berbohong seolah itu memang kenyataannya yang terjadi. Lara yang mencermati mimik wajah Rai pun beranggapan bahwa Rai tidak berbohong.


“Oke, aku sudah mengerti sekarang, kenapa kamu tidak memberi tahu jawaban atas pertanyaan yang telah aku lontarkan.“ Lara mengangguk tegas menunjukkan bahwa dirinya mengerti.


Sudah sewajarnya Rai tidak memberi jawaban dari beberapa pertanyaan Lara sebelum-sebelumnya, jawabannya hanya kata-kata “itu Rahasia” dan itu ternyata sesuatu yang memang dirahasiakan dan tidak harus memberi tahu informasi itu kepada orang lain.


Ketika memikirkan hal ini, Lara termenung seraya mengelus pelan bulu-bulu boneka panda yang imut, dan berpikir dalam hati, “Apakah aku bukan orang lain lagi bagi Rai? Apa dengan ini Rai memberi tahu secara tidak langsung kepadaku bahwa aku orang yang bisa dipercaya?“


Rai yang melihat Lara tertunduk dan tak berbicara lagi, hanya dapat membiarkan Lara seperti itu dan Rai membuka tas dan peralatan yang dipakai di tubuhnya, termasuk hoodie hitam yang selalu ia kenakan.


Merasakan gerakan Rai di jangkauan penglihatannya, Lara tersadar dari lamunannya dan memandang Rai yang satu per satu melepaskan barang-barangnya.


Namun, begitu Lara melihat lebih lama, ia segera memalingkan pandangannya ke arah lain dengan pipinya yang memerah.


Lara melihat Rai yang hendak membuka celana panjangnya dan itu sesuatu yang tidak boleh dilihat.


Reaksinya tersebut tidak sengaja dilihat oleh Rai dan membuat Rai menahan untuk tidak membuka celana panjangnya.


Alih-alih membuka celana, ia berjalan untuk mengambil sebuah remote kontrol pendingin ruangan dan menyalakan pendingin ruangan dengan benda tersebut.


Alasan kenapa Rai ingin membuka celana ialah ruangan di sini terasa sedikit panas semenjak adanya Lara yang ikut masuk ke dalam, biasanya Rai membuka celana untuk mendinginkan tubuhnya secara natural di saat sendiri.


Rai membuka hoodie dan hanya memakai atasan berupa kaos lengan pendek, maskernya pun dilepaskan olehnya, barang-barangnya Rai simpan di dekat kasur.


Merasakan Rai yang mendekat ke tempatnya, Lara pun menoleh dan melihat sosok Rai yang datang.


Tubuh tinggi Rai yang penuh otot yang tidak begitu berlebihan serta wajah tampannya terlihat begitu jelas di mata Lara dan Lara pun terpesona dengan visual Rai.


Setelah meletakkan barang-barangnya, Rai menundukkan kepalanya sedikit melihat Lara yang menatapnya dengan manik mata yang penuh bintang.


Suara Rai membangunkan Lara dan secara spontan berkata, “Tidak, aku tidak apa-apa.“


“Aku sering melihat wajahmu, terutama pipi memerah bagai orang yang sedang demam, apakah kamu sering sakit?“


Lara menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Tidak-tidak, aku baik-baik saja. Aku cuma merasa sedikit panas suhu di sini dan membuat kulit wajahku memerah.“


Tidak normal apabila Lara memberi tahu alasan dari pipinya yang sering memerah, sama saja membuat dirinya lebih malu lagi.


“Baguslah, aku kira ada yang salah dengan tubuhmu.“ Rai mengangguk dan menghembuskan napas ringan.


“Eh, iya. Hehe …” Lara menjawab dengan canggung.


Rai duduk kembali sambil ke kursinya dan mengeluarkan ponselnya yang sudah lama tidak ia gunakan.


Tepat ketika Rai mengambil ponsel dari kantong celananya, suara Lara terdengar.


“Apa itu, Rai?“


Lara yang melihat benda kotak di tangan Rai langsung bertanya dengan mimik muka yang penasaran.


“Telepon,” jawab Rai singkat dan tangannya telepon.


Nama yang disebut Rai barusan tidak diketahui oleh Lara dan ia bangkit dari kasur dan mendekati Rai untuk melihat benda tersebut dari jelas.


Begitu melihat sesuatu benda di tangan Rai, mata Lara membelalak tidak percaya. “Apakah itu kota Lhee Pusat?“


Gambar yang ditampilkan pada layar ponsel Rai adalah gedung-gedung yang ada di Kota Lhee Pusat.

__ADS_1


“Benar, aku mengambil foto ini saat di sana.“ Rai mengangguk dan jarinya menggerakkan layar telepon untuk menampilkan foto yang lain.


“Itu Kota Lhee Utara, ternyata masih sering hujan di kota itu,” ujar Lara yang melihat foto-foto di telepon Rai.


“Apakah alat ini bisa menangkap lukisan lingkungan dan sesuatu yang ada?“ tanya Lara yang masih ingin tahu dengan telepon.


Rai mengangguk dan menjawab, “Benar, benda ini bisa menangkap pemandangan yang ada dan menyimpannya selamanya, kecuali benda ini rusak.“


“Apakah benda itu bisa mengambil penampilanku?“


“Bisa, kamu mau aku memotret dirimu sekarang?“ Rai bertanya dan melihat Lara.


“Baiklah,” kata Lara. “Di mana kita mengambil gambar diriku? Begini saja?“


Rai tidak langsung menjawab pertanyaan Lara, melainkan ia memerhatikan tampilan Lara dari ujung kakinya sampai ujung kepala.


Merasakan tatapan Rai yang sedang memindai dirinya, membuat tubuh Lara bereaksi aneh.


“Kamu duduk saja di kasur itu bersama boneka yang kamu pegang,” Rai mengintruksikan Lara.


Lara mengangguk setuju, dan berjalan ke tempat tidur.


Rai pun ikut berjalan bersama Lara dan berhenti di depan tempat tidur, sementara itu Lara duduk di atas kasur.


“Jangan lupa untuk senyum agar gambarmu terlihat bagus.“


“Oke, akan aku lakukan, Rai.“ Lara tidak sadar tersenyum.


Rai mundur beberapa langkah dan berhenti, teleponnya ia angkat dan kameranya diarahkan ke sosok Lara.


“Hitungan mundur dari tiga sampai satu, kamu sudah harus siap.“


“Oke!“ Lara memberi jempol menunjukkan bahwa dia mengerti.


“Tiga ….“


“Dua ….“


“Sa —”


Rai tidak melanjutkan hitungannya dan ia berjalan menghampiri Lara.


Sebelum Lara sempat bereaksi, tangan Rai menyeka beberapa bagian di wajah Lara dengan tisu yang datang entah dari mana.


Wajah Lara yang terdapat noda kotor sebelumnya kini sudah bersih.


Begitu sadar dengan gerakan Rai, Lara hanya bisa diam dan tidak melarang Rai, sampai akhirnya Rai kembali ke tempat awal untuk memotret Lara.


Sosok Lara berhasil ditangkap oleh kamera ponsel Rai dan ia segera menunjukkan hasilnya.


“Woah!! Bagus sekali!“ Lara berseru kegirangan dan senang.


Penampilannya di layar ponsel Rai sangat cantik, imut, dan manis. Dirinya sangat-sangat suka dengan fotonya.


“Kamu sangat cantik,” kata Rai spontan.


Lara tertegun beberapa saat, dan menoleh melihat wajah tampan Rai.


“Kalau begitu, kamu harus menyimpan fotoku selamanya.“


“Oke,” jawab Rai dengan anggukkan kepala.


Rai tidak masalah dengan foto Lara, hitung-hitung menambah koleksi foto di dunia ini, dan juga kenang-kenangan baginya.

__ADS_1


“Janji? Kamu tidak akan menghilangkan gambarku, kan?“ Lara bertanya sambil mengulurkan jari kelingkingnya.


Jari kelingking tangannya terkait dengan jari kelingking Lara, sebuah janji berhasil dibuat.


__ADS_2