
Sebenarnya memang dirinya lupa, tetapi karena sudah terlanjur terjadi sehingga secara spontan niat untuk melatih tinjunya muncul.
Satu pukulan tinju Rai dapat menghempaskan Roachzer, Quitozer, dan Huuzer Licker.
Butuh tiga sampai lima pukulan untuk bisa membunuh monster tersebut, itu pun Rai harus mengarahkan pukulan ke bagian dada monster agar bisa menghancurkan Tick Stone.
Kuro tidak ikut bertarung, dia berbaring diam dengan nyaman di dada besar Lara. Tubuhnya yang kecil mampu masuk dan terperosok ke dalam lempengan dua bulatan yang kenyal tersebut.
Awalnya, Lara terkejut dengan anak kucing yang tiba-tiba masuk ke dalam bobanya, tetapi melihat anak kucing tersebut diam dan tidak bergerak, Lara membiarkan Kuro diam di sana sampai pertempuran selesai.
Namun, Rai mencepatkan pertempuran dengan cara mengerahkan segenap kekuatannya, pukulannya yang terbalut kekuatan telekinesis dapat menambah daya kerusakan bertambah besar dan merusak sehingga mampu menghancurkan monster hanya dalam dua pukulan.
Begitu ia sibuk membereskan monster di dekatnya, ia melihat siluet hitam dalam bidang penglihatannya.
Bam!
Siluet hitam itu menghantam Rai, untungnya Rai bereaksi cepat, dan sempat menangkis serangan yang datang kepadanya tersebut.
“Sial! Serangan diam-diam!“ Rai terseret beberapa meter dari tempatnya berdiri sebelum akhirnya berhenti.
Kakinya menahan dampak benturan yang terjadi dengan menginjak tanah kuat-kuat, dan postur tubuhnya sedang menyilangkan tangan di depan dadanya, ia menahan tinju tersebut. Begitu ia melihat dengan jelas sosok dari bayangan hitam yang muncul di depannya, ternyata itu Garol yang menyerangnya layaknya seorang pengecut.
Tangannya sedikit gemetar akibat dari menahan tinju Garol, ia merasa atributnya masih kurang untuk melawan monster dan manusia tidak berada sekaligus.
Karena pertempurannya dengan monster terhenti, hitungan pembunuhan monsternya terhenti dan suara Sistem muncul.
[Ding! Bunuh 9 Roachzer (F+). Dapatkan +36 Exp, +36 Koin!]
[Ding! Bunuh 5 Quitozer (F+). Dapatkan +20 Exp, +20 Koin!]
[Ding! Bunuh 6 Huuzer Licker (F+). Dapatkan +30 Exp, +30 Koin!]
[Anda Telah Naik Level!]
“Alokasikan 5 poin atribut gratis ke setiap atribut yang ada, Sistem!“ Rai tanpa ragu meminta Sistem untuk menambahkan semua atributnya.
[Ding! Penambahan poin atribut telah selesai!]
Sejumlah energi dan kekuatan yang akrab masuk ke dalam tubuhnya dan berpencar mengisi setiap sel yang ada di dalam tubuhnya. Rai merasa dirinya jauh bertambah kuat ketimbang dirinya yang sebelumnya.
Tangannya mengepal erat dan pandangannya terkunci pada sosok Garol yang juga memandang dengan tampangnya yang meremehkan.
Menarik napas panjang, dan Rai bergumam kecil, “Aku malas bermain dengan orang ini, lebih baik aku menuntaskannya secara langsung!“
Rai mengatakan hal tersebut karena dirinya sangat membenci orang-orang yang memiliki tipe seperti pria yang ada di depannya.
Ia sama sekali tidak senang dengan pria yang kerap kali memainkan wanita layaknya sebuah mainan.
Ucapan yang dikeluarkan oleh Garol sangat keterlaluan. Apabila benar komandannya memiliki sifat dan hobi seperti apa yang dikatakan Garol, itu sangatlah biadab, Rai akan membunuhnya tanpa memberi kesempatan untuk kabur.
Namun, Rai masih skeptis terhadap ketiga orang ini berasal dari organisasi Seizure.
Perbuatan ketiga pria di depannya dan Komandannya sangatlah tidak mencerminkan perilaku kelompok Seizure yang mengayomi manusia dan melindungi manusia dari monster.
Rai menduga ketiga orang ini adalah Bunmuri yang menyamar dan mengaku-ngaku menjadi anggota Seizure.
Akan tetapi, Lara mengapa tiba-tiba berkata bahwa ketiga pria ini anggota Seizure dan ketiga pria tersebut mengkonfirmasi ucapan Lara.
Ini sangat membingungkannya.
Untuk sekarang sisihkan dahulu pikiran tersebut dan fokus pada ketiga pria yang biadab ini.
Terutama pria berotot yang selalu bermuka masam dan menekuk, pria ini tidak ragu-ragu untuk menyerang wajah Lara sebelumnya, beruntungnya ia sigap dan segera menangkap tinju tersebut. Kalau tidak sempat Rai takut Lara akan mati setelah terkena tinju sekuat itu menabrak kepalanya.
Hal ini yang membuat Rai benci pada pria tersebut, dan menurutnya pria ini sudah diperbolehkan untuk dibunuh.
Niat pria berotot ini tidak main-main dan juga jahat, manusia semacam ini tidak layak hidup di dunia.
“Aku akan memulai denganmu dahulu.“
Setelah mengatakan itu, sosok Rai menghilang dan muncul di depan Garol tiba-tiba.
Tanpa memberi kesempatan Garol untuk menghindar, telapak tangan Rai memegang wajah Garol dan segeran ia membanting kepala Garol ke permukaan jalan layang.
Bam!
Jalan beton tersebut retak dan debu bangunan jalan beterbangan membuat asap yang menghalangi sosok Rai dan Garol.
Monster-monster dan yang lainnya langsung berhenti saling menyerang. Mereka semua terkejut dengan suara keras yang muncul tiba-tiba di tengah perperangan.
Pandangan mereka terpusat di tempat Rai dan Garol berada yang sementara waktu di tutupi asap dan debu.
Kabut debu menjadi transparan sebelum menghilang sepenuhnya dan mereka melihat kepala Garol ditekan oleh Rai dengan tangan kanannya ke jalan beton ini.
Retakan dan kawah kecil tercipta oleh tumbukan keras kepala Garol.
Akan tetapi … Garol masih hidup!
__ADS_1
Mereka semua bisa melihat Garol yang ingin berjuang untuk berdiri, tetapi tangan Rai masih menekan kepalanya dan juga tubuhnya seperti sedang ditekan oleh sesuatu yang tidak terlihat.
“Ba–bajingan! Le–lepaskan tanganmu dari wajahku!“
Meskipun dirinya sudah ditekan dalam pertarungan dan tidak bisa berbuat apa-apa, arogansinya yang buruk tetap muncul.
Hal tersebut membuat Rai makin benci dengan pria ini.
Padahal Garol sudah terluka parah di bagian kepalanya dan darah keluar dari belakang kepalanya, daya tahannya sangat kuat walaupun bagian tubuh yang vital terluka.
Rai tidak menjawab ucapan yang tanpa beradab tersebut, tetapi ia merespons dengan melepaskan tangannya dari muka Garol.
Tepat ketika Garol merasa senang dengan wajahnya tersenyum dan kesakitan, tiba-tiba kepalan tangan muncul di depan matanya dan tinju itu mendarat tepat di wajahnya.
Bang!
Suara yang keras tercipta sehingga melahirkan gelombang kejut kecil di antara tinju Rai.
Percikan darah dan cairan putih tersebar ke segala arah dan suasana menjadi hening seketika.
“Salah satu sampah telah dibersihkan,” ucap Rai sambil membersihkan darah dari tangan kanannya.
Ia berjalan menuju monster dan dua teman Garol dan meninggalkan mayat Garol tanpa kepala tersebut begitu saja.
“Rai, ka–kamu ….“ Lara terkejut oleh tindakan Rai yang kejam ini.
“Orang-orang ini memang layak untuk mati.“ Rai berkata dengan niat yang membunuh yang terasa samar-samar.
Monster-monster pulih dan monster yang dekat dengan Rai langsung meluncurkan serangan.
Rai dengan mudahnya menghancurkan mereka semua dengan tinjunya.
Bang! Bam!
Carlof melampiaskan amarahnya dengan membunuh monster di dekatnya
Jujur saja, Carlof ingin sekali membunuh Rai karena sudah membunuh Garol. Namun, saat ia hendak menyerang, dirinya ditahan oleh Haris.
Haris menasehatinya agar tidak bertindak gegabah, takut mereka akan berakhir seperti Garol. Carlof pun berhasil menenangkan dirinha dan mulai berpikir jernih.
Pada mulanya, keduanya yakin Garol berhasil mengalahkan Rai, pasalnya kedua kekuatan di antara Rai dan Garol masih seimbang, tetapi begitu pertarungan dimulai kembali, dan melihat Rai yang berhasil menangkis serangan Kekuatan penuh Garol, mereka pun pesimis.
Sebelum mereka berdua beraksi untuk menghentikan Garol, Rai sudah lebih dahulu melancarkan serangan dan … ya, Garol pun terbunuh.
Keduanya terpana sesaat dan amarahnya langsung naik layaknya letusan gunung berapi.
Haris dan Carlof membunuh monster dengan senjata besi modifikasi masing-masing.
Keduanya belum menunjukkan kemampuan kebangkitannya dan masih memakai senjata, berbeda sekali dengan Garol yang dari awal bertemu sudah memakai kemampuannya.
Rai sadar hal tersebut. Maka dari itu, ia langsung menambahkan poin keempat atributnya, sebab kekuatan Garol menyamai Boss Huuzer Crawler.
Tangan Rai pun sedikit gemetar setelah menahan pukulannya.
Lara, Rai, Carlof, dan Haris membasmi monster yang berdatangan semakin banyak, mereka berempat fokus dengan pertempuran dan mengabaikan jasad Garol.
Tepat ketika Rai sedang membunuh salah satu monster, di belakang punggungnya ia merasakan sesuatu yang datang.
Sontak, Rai menjulurkan tangan kanannya untuk menahan sesuatu yang datang tersebut.
Crat!
Tangan Rai diikat oleh sesuatu berwarna cokelat dan tajam dan darah dari tangannya keluar dan menetes ke bawah.
“Ini … tanaman berduri?!“ Lara yang melihat sosok Rai yang terikat oleh sesuatu itu dan segera berkata.
Benda yang melekat adalah tanaman merambar yang berduri dan itulah alasan tangan Rai yang terikat tumbuhan tersebut menjadi berdarah.
Tanaman berduri tersebut berasal dari Carlof, tangan kirinya berubah menjadi tanaman dan meluncur cepat dan mengikat tangan Rai. Mirip dengan Loret, tetapi ini bukan cambuk, melainkan tanaman merambat yang berduri.
Pada saat Carlof ingin melepaskan ikatan tangan tanaman berdurinya dari tangan Rai karena sudah cukup melukai Rai, tiba-tiba saja tangan kiri Rai menyambar sangat cepat dan menarik tanaman berduri.
Tubuh Carlof tersentak begitu tangannya ditarik oleh Rai, segera ia menahan tarikan Rai dan mencoba melepaskan.
“Si–sial!“ Carlof berteriak kecil sambil menahan kekuatan tarikan Rai yang berusaha untuk membuat dirinya mendekat dengan Rai.
Haris yang melihat ini dengan sigap membantu Carlof dan mencoba beradu tarikan.
Namun, hal itu bukan membuat tangan Carlof lepas dari genggaman Rai, melainkan tangannya menjadi sakit seolah ingin terputus, dan Carlof pun meminta Haris untuk tidak menariknya.
“Lebih baik kau serangan dia dari jarak dekat, kau memiliki kemampuan yang cocok untuk kondisi saat ini!“ Carlof menyempatkan diri untuk berkata pada Haris dan menyuruhnya.
“Baiklah, kau tahan sekuat tenaga.“
“Ya, cepatlah aku hampir tidak kuat menahan!“
Melihat monster di sekitarnya sudah menjadi sedikit, Haris berlari dengan guncangan lemaknya yang begitu dahsyat menuju Rai.
__ADS_1
Rai hanya melirik sekilas Haris dan tidak memedulikan, ia terus menarik tangan Carlof sedikit demi sedikit.
Carlof terus menahan sambil menyerang monster yanh berdatangan ke arahnya dengan tangan kanannya yang menjadi tanaman berduri.
Bang!
Terdengar suara yang keras di telinga Carlof, dan bertepatan dengan itu ia merasa tangannya telah bebas.
Ketika ia melihat kembali ke arah Rai, Carlof melihat sosok Rai yang sedang menahan tinju besar milik Haris.
Sebagian lemak di perutnya Haris dipindahkan secara alami ke bagian kepalan lengannya dan membuat tinjunya menjadi besar.
Rai tidak tahu bahwa ketika dirinya menahan tinju lemak Haris itu bukanlah menahan, melainkan Rai sudah terkena jebakan Haris.
Tinju besar yang berisi lemak tak berefek membuatnya sakit atau terkena serangan akibat benda padat. Namun sebaliknya, tinju lemak itu menelan tangan kiri Rai dan mencoba menguncinya.
Lemak dan daging lengan Haris seakan-akan meleleh dan merambat untuk menelan tangan kiri Rai sampai ke pundaknya.
Melihat kemampuan Haris yang aneh ini, Rai langsung bereaksi untuk memukul tubuh Haris dan berharap Haris terpental dan melepaskan tangannya.
Namun sayang, perkiraan Rai salah.
Begitu tinjunya menghantam kulit pada bagian perut Haris yang cukup mengecil, efek kerusakan dari pukulannya seolah diserap dan membuat serangan Rai tidak berarti.
Lagi-lagi Rai terjebak dan tangan kanannya ikut terkunci oleh lemak.
Berkali-kali Rai mencoba menarik kedua tangannya, tetapi itu seperti tiada artinya.
Usaha Rai percuma.
Setelah terjebak, serangan dari arah lain pun dilancarkan, kali ini dari Carlof yang menjulurkan kedua tangannya untuk melilit kuat tubuh Rai.
Carlof tidak berani dekat dengan Rai, takut ia akan terkena serangan yang sama yang terjadi pada Garol.
Duri-duri tajam yang tumbuh pada lengan Carlof membuat luka goresan pada tubuh Rai dan secara langsung merobek pakaian Rai, termasuk tasnya.
Tidak ada satu barang pun yang keluar dari tas seolah tas itu tidak ada isinya.
Rai mengernyit kesakitan, ia menahan rasa perih akibat duri yang mencoba membobol kulit dan dagingnya.
“Rai!“ Lara hendak membantu Rai, tetapi monster-monster masih banyak di sisinya.
Sementara itu, Carlof sudah merasa dengan kondisinya santai karena monster di tempatnya sudah habis tak tersisa. Karena hal itulah ia bisa melemparkan serangan pada Rai.
Tepat pada saat Lara hendak menunjukkan api putihnya, sesuatu adegan yang mencengangkan terjadi.
Lemak yang menjepit kedua tangan Rai langsung melepaskan secara perlahan seakan lemah itu melemah tanpa adanya energi.
“Carlof … me-menjauhlah.“
Wajah Haris terdistorsi terlihat sedang kesakitan dan ia berusaha berkata kepada Carlof yang jauh di belakangnya, tetapi suaranya begitu pelan dan membuat Carlof tidak jelas saat mendengarnya.
“Haris, kamu kenapa?!“
Carlof memiliki perasaan yang buruk akan hal ini dan ia memanggil Haris dengan nada khawatir.
Bertepatan dengan ucapan Carlof yang keluar, tubuh Haris terhempas beberapa meter oleh pukulan Rai.
Tubuh Haris yang bergumpal karena lemak itu terbaring lemah dengan tubuh yang berlumur darah.
Terdapat lubang yang ukurannya sebesar satu kepalan tangan orang dewasa dan darah keluar dari lubang tersebut.
Di tangan kiri Rai yang dibalut kain kasa putih yang sudah ternodai oleh darah ada benda yang sedang dipegangnya.
Benda itu panjang bagaikan ular.
Lara, dan Carlof seketika mengetahui benda itu.
Itu adalah organ usus Haris yang Rai tarik keluar dari dalam.
Rai mengaktifkan tangan monsternya dan melubangi tubuh Haris sehingga ia dapat menarik organ tersebut.
Tangan monsternya langsung disembunyikan lagi ketika tangannya keluar dari lemak Haris.
Tangan kiri Rai yang posisinya ada di tangan Haris itu berpindah karena lemaknya memaksa Rai untuk ikut pindah ke bagian perut Haris dan menguncinya di perutnya.
Usus yang berdarah itu dibuang oleh Rai ke sembarang tempat.
Rai melepaskan secara paksa tangan yang berupa tanaman tersebut dari tubuhnya.
Carlof pun segera menarik tangannya dan mencoba menjauh tubuh Rai.
Tangan Rai bergerak, ia merobek atasan pakaian, yaitu jaket hitam dan kaos hitam. Tubuhnya yang panas dan penuh otot yang tidak berlebihan tersebut terekspos jelas saat ini.
Secara tidak sengaja tampilan Rai saat ini membuat Lara terpesona sesaat sebelum akhirnya sadar dan menutup matanya.
Rai mengambil senjata Methuragon dari tasnya, dan ia langsung mengubah senjata Methuragon menjadi dua Longsword.
__ADS_1
“Hanya tersisa kamu.“