
Sekumpulan monster yang mirip manusia dengan cara jalannya yang merangkak sedang menatap Rai dan Lara.
Meskipun mereka tidak memiliki mata, hanya ada tulang mata yang kosong, mereka masih bisa mengetahui posisi keberadaan Rai dan Lara di kejauhan, indra penciuman dan pendengaran mereka sangat tajam layaknya seekor anjing.
Sekilas monster ini mirip dengan Huuzer Crawler dan Licker, tetapi setelah dicermati lagi, Rai menemukan perbedaan yang jelas dari monster satu ini, yakni tubuhnya tidak murni terbuat dari daging, tulang, dan kulit, ada benda asing yang seharusnya tidak dimiliki seorang manusia semasa hidup.
Terdapat tumbuhan merambat di sekujur tubuh setiap monster tersebut, tanaman itu seolah-olah menyatu dengan tubuh monster.
Daun kecil, lumut, dan akar yang menjalar membalut tubuh kering monster yang merakak itu, dan daun serta yang lain itu sesekali bergerak dengan halus.
“Hati-hati, Rai. Monster ini memiliki kemampuan mengikat yang kuat apabila kita berada di dekat mereka.“ Lara menoleh ke arah Rai. “Monster ini cukup tangguh dan setara dengan Huuzer Licker.“
“Tetapi … yang satu ini cukup merepotkan, terlebih jumlah mereka yang banyak,“ tambah Lara yang bersiaga terhadap monster yang perlahan mendekatinya.
“Apa yang membuat merepotkan?“ Rai bertanya dengan rasa penasaran.
Lara melihat kembali ke arah depan dan menjawab dengan cepat, “lempar saja puing kayu yang di dekat kakimu ke arah mereka, kamu akan segera tahu setelah itu.“
“Oke.“
Rai melihat puing kayu yang rusak di sebelah kaki kanannya, tangan Rai langsung mengambil dan melemparkan kayu tersebut ke monster terdekat.
Tepat pada saat kayu tersebut menyentuh tubuh monster, akar kecil tumbuh cepat dari tubuh monster dan langsung melilit kuat kayu yang meneyentuhnya tadi.
Adegan ini dilihat dengan jelas oleh Rai, wajah Rai sedikit terkejut saat melihatnya.
“Mereka akan mengikat benda yang menyentuh tubuhnya, cukup merepotkan dan juga menghambat kita untuk membunuhnya,” Lara memberika penjelas singkat mengenai monster yang bergerombolan ini. “Hati-hati!“
Bam! Bam!
Monster-monster ini melompat sangat tinggi dan mendarat tepat di tempat keduanya berdiri, dikarenakan peringatan Lara, Rai sempat menghindar sebelum serangan tersebut mendarat.
Rai berhenti belasan meter dari tempatnya berdiri tadi dan menatap monster dengan serius.
Tanah yang sedikit basah itu langsung berderai, butiran dan gumpalan tanah memercik jauh ke segala arah.
Tangan Rai segera mengambil senjatanya dari dalam tas. Senjata Methuragon berubah menjadi Double Bladed Sword dan dengan cepat ia lontarkan menuju monster yang berani menyerangnya.
__ADS_1
Swooshh!!
Senjata Rai berputar sangat cepat bagai baling-baling helikopter, dan itu terbang ke arah monster yang paling depan. Rai menggunakan kekuatan telekinesisnya untuk bisa senjata itu berputar cepat ketika hendak dilempar, disebabkan gerakan yang terlalu cepat, Lara pun tidak menyadarinya.
Dengan putaran yang cepat, senjata tersebut membelah monster paling depan bersama monster yang ada di belakangnya, senjata itu terus maju sampai belasan meter jauhnya, dan akhirnya berhenti di atas tanah.
Kemarahan melonjak dan para monster mulai menyerang Rai secara bersamaan.
Kraaah!
“Pinjamkan senjatamu, biar aku saja yang melawan mereka,” ujar Rai pada Lara yang bersiap untuk menyerang.
“Tetapi —”
“Kamu menjauh ke belakang dan pastikan dirimu aman, aku saja yang mengurus mereka semua.“ Rai menatap wajah Lara dengan serius dan tegas.
Melihat wajah Rai yang teguh dan yakin dengan pilihannya, tidak ada yang harus dipilih lagi, Lara memberikan senjatanya yang terbuat dari batang besi yang dibalut kain dan memiliki ujung yang tajam ke tangan Rai.
“Pergilah ….“ Rai memegang batang besi dengan mantap dan pandangannya terkunci ke arah ratusan monster yang merangkak ke arahnya.
Di detik berikutnya, kaki Rai menendang tanah dengan kuat sehingga membuat sosoknya meluncur ke atas.
Rai terbang sesaat di atas para kumpulan monster yang buta dengan melakukan gerakan ingin menusuk.
Bang! Crat!
Begitu mendarat di tengah kumpulan monster, ia langsung bergerak membunuh para monster ini dengan kecepatan yang sangat cepat.
Tusukannya terhadap monster sampai tidak terlihat oleh mata telanjang, hanya tampak seperti bayangan yang melintas secara intens.
Cipratan darah berbau busuk timbuh setiap kali Rai melakukan tusukan kepada monster terdekat.
Rai terus menyerang tanpa lelah, dan diam-diam ia bergerak menuju senjatanya jatuh di tanah.
Menggunakan besi ini sangat tidak efesien dan daya kerusakan yang ditimbulkannya tidak begitu berarti.
Tidak lama kemudian Rai berhasil berada di tempat senjatanya jatuh, dan kini ia sedikit kesulitan untuk mengambilnya.
__ADS_1
Banyak sekali monster yang datang, jika dilihat dari kejauhan, keadaan Rai tampak sedang dikerumuni oleh kawanan monster berwujud mengerikan dan aneh.
Rai mengayunkan batang atau tongkat besi dengan cepat, perlahan ia menggunakan satu tangannya untuk mengendalikan senjata besi tersebut dan tangan yang lain mencoba untuk meraih senjata Methuragon.
“Argh …!“ Rai langsung berteriak ketika berhasil mengambil senjata Methuragon-nya yang tergeletak di tanah.
Segera, pedang Methuragon-nya dilambaikan ke kiri dan ke kanan, belasan monster seketika terbelah saat terkena bilah tajam dari Methuragon.
Jleb!
Batang besi yang Rai genggam di tangan kanan itu diterbangkan oleh Rai ke arah monster yang ingin menyentuhnya hingga monster tersebut ikut terbang dan tertancap ke batang pohon bersama tongkat besi.
Sebuah cahaya hitam di pagi yang cerah memeriahkan suasana, diiringi dengan jeritan monster yang mati satu demi satu.
Methuragon telah Rai ubah menjadi dua Longsword, kedua tangannya memegang senjata andalan dan Rai menggila.
Lara yang saat ini sedang berdiri di samping pohon di luar desa seraya memandangi Rai yang dengan brutal membunuh kumpulan monster.
Terlihat dengan jelas dari tatapan matanya mengandung rasa khawatir dan sedikit rasa bangga.
Rasa khawatir muncul karena pemikiran pesimisnya apabila Rai tidak sanggup melawan monster-monster tersebut dan akhirnya terluka parah atau bahkan gugur, sedangkan rasa bangga muncul di dalam hatinya tanpa ada alasan yang jelas, Lara sendiri pun tidak sadar dengan perasaannya sekarang ini.
Keahlian Rai dalam menggunakan dua pedang makin cakap dan lihai, gerakannya terasa halus dan nyaman saat dipandang, titik penyerangannya pun tepat tidak megacak apalagi asal-asalan.
Kurang dari setengah jam berselang, monster yang katanya merepotkan itu telah rata dengan tanah dan bersimbah oleh darah.
[Ding! Bunuh 384 Huuzer Crawler Moss (F+). Dapatkan + 2.304 Exp +2.304 Koin!]
[Anda Telah Naik Level!]
Rai memejamkan matanya menikmati segumpal kekuatan yang masuk ke seluruh tubuhnya dan mengaliri ke setiap sel yang ada.
Tubuhnya ditempa untuk puluhan kalinya, dan ia jauh lebih kuat dan kuat.
Setelah proses integrasi kekuatan selesai, Rai segera memanggil Kuro untuk memakan daging monster yang ada.
Lara pun menghampiri Rai sambil tersenyum senang melihat Rai yang berhasil membasmi musuh tanpa luka sedikitpun.
__ADS_1