
Sosok Rai meluncur cepat menuju gerombolan monster anjing yang besar di depannya.
Tangan kirinya yang telah berubah menjadi tangan monster tak dikenal menjadi senjata alaminya sekarang.
Seekor monster anjing yang paling dekat dengannya langsung ditebas vertikal melalui arah atas oleh cakar tangan kirinya, kepala anjing itu terbelah menjadi beberapa bagian.
Dua ekor yang tumbuh dari sikut tangan kirinya bergerak, dan menusuk beberapa kali tubuh monster anjing ini.
Tubuh monster anjing yang berlubang akhirnya jatuh terbaring tanpa bisa hidup lagi.
Selanjutnya Rai berlari cepat mendatangi dua ekor monster anjing terdekat, tanpa basa-basi tangannya mencakar kaki depan dua monster ini sekaligus tanpa memberi mereka kesempatan untuk mendaratkan serangan.
Melihat mereka lumpuh sementara, ekor dari tangan kiri Rai meluncur cepat menusuk kepala dua monster ini, jarak jangkauan ekor cukup panjang, sekitar lima meter dari Rai yang dapat dijangkau oleh ekor ini.
Seakan memiliki kesadarannya sendiri, dua ekor ini menusuk dan menangkis cakaran dan terkaman anjing ini, dan membuat mereka terhempas menjauh dan mati tertusuk.
Setiap dua detik Rai berpindah dan menghilang dari tempat dia berdiri, dua ekor bahkan lebih monster anjing mati dengan mengenaskan.
Grah!
Lima monster anjing tiba-tiba menerkam secara bersamaan menuju Rai, kedua cakar mereka dikeluarkan untuk melukai Rai.
Merasakan ini, Rai segera bereaksi dengan cepat, tangan kirinya mengarah ke atas langit.
Dua ekor yang panjang ini memutar dan melambai cepat ke arah kelima monster anjing.
Lima Huszerdawg terlempar keluar dan serangan mereka dibatalkan.
Mata Rai menangkap sebilah pedang miliknya, kekuatan telekinesisnya menyala dan dia menggerakkan pedang itu.
Salah satu longsword Methuragon yang tergeletak di sisi jalan tidak jauh darinya terbang ke arah Rai.
Namun, saat perjalanan ke sini, pedang itu sempat menusuk belakang kepala salah satu monster anjing hingga otaknya keluar.
Menangkap pedang yang terbang di tangan kanannya, Rai menebas dengan cepat Huszerdawg yang mengulurkan cakarnya pada kepalanya.
Seketika kaki depan monster itu putus. Belum sempat untuk mundur, seberkas kilauan muncul di leher monster anjing tersebut.
Detik berikutnya, kepala itu terputus dan terlempar jauh.
Tak sampai di situ, salah satu ekor tangan kiri Rai menusuk beberapa kali dalam satu detik tubuh monster anjing itu sampai mengeluarkan darah busuk.
Roar!
Kuro mendatangi Rai sambil membawa kepala Huszerdawg di mulutnya.
Dia berdiri di belakang Rai yang sedang berwaspada dengan monster anjing yang datang.
Krak!
Kepala monster anjing itu hancur berantakan oleh rahang Kuro yang kuat.
Berdiri di belakang Rai, Kuro memandang puluhan Huszerdawg yang tersisa di sekelilingnya.
Sementara waktu, suasana menjadi tegang. Darah, daging, bau busuk terasa di tempat Rai berdiri.
Kedua belah pihak saling waspada satu sama lain, dan saling memandang memperhatikan gerakan lawan.
Tangan kiri Rai yang memiliki dua ekor ditempatkan di depan tubuhnya, nampak seperti petinju yang sedang berpose tinju. Sedangkan tangan kanannya memegang satu longsword dengan erat.
Tiba-tiba saja, satu ekor monster Huszerdawg bergerak cepat untuk menyerang Rai dan Kuro.
Bereaksi dengan cepat Rai melemparkan pedangnya membidik kepala monster itu.
Dengan lemparan yang cepat, pedang hitam itu menusuk kuat kepala anjing itu hingga menembus ke area belakang kepala.
Sosok Rai meluncur cepat dan meraih kembali pedangnya. Menarik pedangnya yang masih tertanam di kepala Huszerdawg, kemudian dia memotong leher monster dengan halus.
Gerakannya sangat cepat, bahkan Huszerdawg belum sempat bereaksi.
Setelah melakukan itu, Rai mendarat di tanah dekat tempat dia berdiri sebelumnya.
Tindakan Huszerdawg tadi menandakan pertarungan lanjut kembali setelah jeda beberapa detik.
Puluhan Huszerdawg menyerang Rai secara brutal dan lebih kejam.
Bahkan Rai harus menangkis serangan mereka yang datang dari segala arah.
Tangan kiri ini memiliki pertahanan yang kuat, karena sisiknya yang sekeras baja. Cakar monster anjing ini yang dia tangkis hanya memberi dua goresan kecil, padahal benturan yang terjadi begitu kuat.
__ADS_1
Pertahanan ini termasuk pada ekor yang berdiri ikut menyerang dan bertahan terhadap Huszerdawg yang datang di sekitar Rai, beberapa kali cakar tajam dan gigi tajam Huszerdawg menghantam dua ekornya ini, tetapi semua itu seakan sia-sia tidak berguna. Ekornya tidak putus bahkan terluka.
Lima cakar tebal dan tajam di tangan Rai menyerang dengan intens, dua pedangnya dipakai untuk membantu mengakhiri hidup Huszerdawg yang sekarat.
Kuro membantu Rai dari arah yang lain. Selain itu, ekor tangan kiri Rai sangat membantu, dia menangkis serangan yang ditujukan tepat di titik buta Rai saat bertarung, seolah Rai memiliki penjagaan ekstra dan mata di belakangnya.
Tampak ekor ini memiliki kendali sendirinya yang secara terus menerus membantu Rai dalam pertarungan yang sengit ini, tanpa ekor ini Rai mengalami kesulitan.
Pasalnya para Huszerdawg ini memiliki kelincahan yang hampir setara dengan Kuro.
Rai terus bergerak dan tidak diam di tempat. Tangan kiri dan pedangnya selalu bergerak menyerang para Huszerdawg yang belum sepenuhnya terbunuh.
Meskipun telah terpotong beberapa bagian pada tubuhnya, Huszerdawg masih bisa bergerak dengan bagian tubuh seadanya. Selama pertarungan berlangsung Rai sadar bahwa monster anjing ini memiliki kemampuan beregenerasi meski tidak begitu cepat layaknya Big Huuzer Crawler, namun ini hal yang cukup menguntungkan untuk Huszerdawg.
Semakin lama bertarung, dan dia tidak terbunuh apalagi terluka, Huszerdawg dapat menumbuhkan kembali bagian tubuh yang sudah terpotong, tak terkecuali luka ringan.
Namun anehnya kulit yang rusak dan daging yang terlihat tidak sembuh, seakan itu adalah penampilan aslinya dan tidak akan bisa disembuhkan.
Melompat dari atap taksi, tangan kiri Rai membanting kepala salah satu Huszerdawg hingga terbenam di dalam aspal jalan, dua ekornya dengan cepat menusuk tubuh monster anjing ini yang bergerak dan memberontak.
Darah berbau busuk mengalir keluar dari puluhan lubang di tubuh Huszerdawg dan menggenangi jalan.
Beberapa Huszerdawg segera melesat menerkam Rai setelah melihat ini.
Tubuh Rai melompat mundur beberapa meter dan berdiri di atas atap taksi yang sudah rusak.
Terkaman para Huszerdawg melesat dan dia menciptakan goresan panjang pada jalan yang hancur ini karena cakar tajam mereka.
Kuro yang sedang melawan tiga Huszerdawg segera mempercepat pembunuhannya untuk membantu Rai.
Asap hitam semakin kental keluar dari tubuhnya, sosok Kuro berakselerasi sangat cepat membuat garis hitam di lintasan saat dia berlari.
Dengan cakarnya yang tajam dan gerakannya yang semakin cepat, Kuro cukup mudah untuk membunuh mereka meski membutuhkan waktu yang lama.
Sehabis itu Kuro berlari menghindari segala serangan yang ada dalam perjalanan menuju Rai.
Sesampainya di sana langsung menyerang Huszerdawg yang mengepung Rai di sekitar mobil Taksi.
Roar!
Dengan taringnya yang tajam, Kuro menggigit leher salah satu Huszerdawg hingga terputus, tidak lupa dia mencabik-cabik tubuh Huszerdawg tanpa kepala.
Melompat dengan gaya back flip, pedang di tangan kirinya dilemparkan ke arah salah satu Huszerdawg yang dia lihat pertama yang di bawahnya, saat dia sedang ada di udara.
Pedang itu terbang sangat cepat, lalu menusuk tepat pada tubuh besar Huszerdawg.
Rai mendarat di atas pegangan pedang dengan satu kakinya lalu menekannya ke bawah.
Seketika tubuh Huszerdawg itu remuk dan menempel di jalan.
Krak!
Suara tulang yang patah jelas terdengar, Huszerdawg yang Rai injak seketika lumpuh tak bisa bergerak.
Selanjutnya dua ekor Rai bergerak, seperti biasa menusuk tubuh Huszerdawg sehingga membuat lubang yang begitu banyak, mustahil bila monster ini masih hidup.
Empat Huszerdawg terdekat segera tersadar dan bereaksi bersamaan menyerang Rai.
Sontak Rai bereaksi lebih cepat dan menghindar mundur beberapa langkah dari serangan yang mendadak ini.
Whooshhh! Whooshhh! Whooshhh!
Angin berhembus saat Huszerdawg meluncur cepat, mencoba menyentuh tubuh Rai. Namun, Rai sendiri terlalu gesit dan licin, mereka bahkan kesulitan untuk menyentuh ujung rambutnya.
Menghindar, menghindar, serang. Pola gerakan seperti itu Rai lakukan secara berulang-ulang hingga akhirnya satu persatu Huszerdawg mati.
Mata Rai melihat salah satu pedangnya yang terbaring di dekat salah satu pagar rusak dari sebuah gedung. Letak posisi pedang masih ada di radius jangkauan Rai, kekuatan telekinesisnya bekerja lagi, dan menggerakkan pedangnya untuk pergi mendekatinya.
Sembari menunggu pedang datang, Rai menangkis sebuah cakar yang tiba-tiba menyambar, Rai langsung menghindar tetapi dia tetap terkena salah satu cakaran anjing ini, pipinya terserempet ujung cakar monster anjing tersebut, dan menimbulkan sebuah goresan kecil yang mengeluarkan darah merah.
Cakaran Huszerdawg memang berbeda, pertahanannya bahkan tidak dapat dengan sepenuhnya menangkal serangan dari monster anjing ini.
Detik berikutnya, tangan kiri Rai bergerak dan menusuk tubuh Huszerdawg yang melukai dirinya hingga menembus keluar. Tak lupa ekor ini menancapkan ujung ekornya ke seluruh tubuh Huszerdawg ini. Monster ini mati.
Tinggal berapa Huszerdawg tersisa, mereka tidak takut melihat kawanannya yang telah mati di jalan ini, tanpa gentar mereka terus menyerang Rai dan Kuro.
Grahhh!
Salah satu monster anjing ini melompat menuju Rai.
__ADS_1
Melihat ini Rai tidak bergerak dan diam seperti patung sambil menatap kedua cakar yang semakin membesar dalam pandangannya.
Huszerdawg ini menyeringai karena merasa yakin dia akan membunuh Rai dengan cakarnya.
Tetapi, saat ujung cakar hendak menyentuh hidung Rai, sesosok garis hitam melintas begitu cepat dan menghantam kepala Huszerdawg dari arah samping, seketika itu juga monster anjing itu terbang ke samping. Cakar itu tidak jadi mengenai Rai.
“Tidak semudah itu.“ Rai melihat monster anjing tergeletak tidak jauh di sampingnya dengan kepala yang tertancap pedang hitam.
Siluet hitam yang melintas cepat adalah longsword satunya lagi.
Roar!
Kuro berteriak sembari menginjak mayat Huszerdawg yang terakhir dia lawan.
Tersisa sepuluh Huszerdawg yang bersamaan melakukan penyerangan.
Usaha mereka sia-sia, sebelum menyentuh tubuh Rai, mereka telah mati oleh pedang yang melayang dan juga tangan kiri yang memiliki dua ekor panjang.
Dengan pedang yang menancap tepat di moncong monster anjing terakhir, dan segerombolan Huszerdawg resmi mati.
[Ding!]
[Bunuh 644 Huszerdawg (E-). Dapatkan +4.508 Exp, +4508 Koin!]
[Selamat Anda Telah Naik Level!]
[Selamat Anda Telah Naik Level!]
Pengingat naik level terdengar Rai hanya bisa diam dan duduk bersandar pada pintu taksi yang rusak. Rai sekarang telah kelelahan.
Tiba-tiba, kelelahannya setengahnya menghilang dia merasakan bahwa tubuhnya memanas dan kepalanya sejuk.
Proses ini berjalan beberapa menit sebelum akhirnya menghilang dari seluruh tubuhnya.
Tubuhnya telah dikuatkan beberapa poin oleh Sistem, kekuatannya juga semakin bertambah.
“Haha langsung naik dua level dalam sekali pembantaian.“ Rai tertawa senang karena telah naik dua level sekaligus.
Bangkit dari jalan yang kotor penuh darah, loncat ke atas atap taksi, Rai duduk dengan pedangnya yang telah menyatu menjadi Double Bladed Sword Methuragon.
Memandang ke depan, kita bisa melihat begitu banyak daging dan tubuh monster anjing yang telah tidak utuh lagi.
Daging ini menjadi santapan Kuro di pagi hari menjelang siang. Dalam wujud Sabertooth hitam, Kuro memakan dengan cepat ribuan potong daging Huszerdawg.
Setelah melihat ini, Rai mengalihkan pandangannya ke tangan kirinya yang diselimuti oleh kain putih.
Tangan kirinya telah menjadi bentuk normalnya sebagai tangan manusia, tangan kiri inilah yang dapat membawa Rai pada kemenangan.
Kemampuan kebangkitan kali ini sangatlah kuat, bahkan pertahanan tangan kirinya lebih ketimbang dengan bagian tubuh yang lain.
Sebuah tangan dari makhluk yang tidak dikenal telah menjadi tubuhnya, ini sangat keren, karena tidak mengubah penampilannya, hanya saat diaktifkan kemampuan ini mengubah penampilannya.
Mengatur nafas menjadi normal, ia mencoba meringankan kelelahannya akibat pertarungan yang baru saja terjadi.
Sehabis itu dia melemaskan otot-otot tubuhnya dan berbaring di atap sebuah mobil taksi dengan kedua kakinya menjuntai ke bawah. Atap taksi terlalu kecil Rai tidak bisa sepenuhnya berbaring.
“Tangan ini sangat keren, terlebih dengan dua ekor yang tumbuh dari bagian sikut lenganku,” ucap Rai sambil menaikkan tangan kirinya menunjuk ke atas langit yang biru.
Tangan kiri yang terbalut kain putih mulai berubah kembali menjadi tangan besar dengan bentuk dan sisik seperti monster, dua buah ekor yang panjang bergerak melambai di udara.
Penasaran dengan ekor ini, Rai mencoba menggerakkan dua ekor melalui pikirannya, dengan mudahnya beradaptasi dengan anggota baru tubuhnya, Rai mengontrol kedua ekor ini agar terulur pada tangan kanan Rai.
Meraih ekor bersisik ungu tua, tangan kanannya merasakan sisik dingin berwarna ungu tua pada setiap ekor.
“Ini bertambah keras dan gelap sisiknya. Apa ini perasaanku saja?“ Rai bergumam kecil sambil menyentuh bentuk tangan kiri barunya.
Lima cakar yang panjang dan tajam disentuh oleh Rai sendiri, ia baru sadar bahwa banyak darah yang menyentuh tangan kirinya ini menghilang tanpa jejak, bahkan goresan pada sisik tangan ini pun ikut menghilang.
Diperhatikan dengan cermat, sepertinya keseluruhan tangan kiri ini menjadi lebih gelap warnanya. Kepekatan ungu tua menjadi lebih dalam lagi
Rai memiliki firasat bahwa tangan kiri ini ikut kuat dari sebelumnya, untuk mengetahui lebih pasti, ia pun ingin mencobanya.
Mengembalikan lagi bentuk tangan kirinya kembali menjadi tangan normal, turun dari atap taksi, dan ia berjalan menghampiri salah satu pagar tembok gedung yang masih berdiri.
Pelan-pelan tangan kirinya bertranformasi menjadi tangan yang aneh namun keren.
Mengulurkan tangan kirinya ke depan, ia membidik pada pagar tembok yang ada di depannya.
Sebuah percobaan ingin Rai lakukan untuk membuktikan bahwa dirinya tidak salah dalam menduga.
__ADS_1