LINEUSS ATTACK (SYSTEM)

LINEUSS ATTACK (SYSTEM)
Bab 57: Methuragon Tipe 3


__ADS_3

Keempat atribut Rai sudah sangat tinggi, bahkan atribut mental telah menembus angka 200 poin, ini kabar yang baik.


Hanya saja, terdapat satu atribut yang masih rendah nilainya ketimbang yang lain, yaitu atribut ketahanan.


Tetapi, Rai bimbang apakah ingin meningkatkan atribut tersebut atau tidak.


Masalahnya Sistem juga tidak memberikan peringatan bahwa terdapat satu atribut yang sangat rendah daripada yang lain.


Rai tahu ada beberapa sistem permainan yang melarang untuk memfokuskan satu atribut pada karakter permainan, sehingga salah satu atribut begitu rendah dan lemah.


Alasannya karena atribut dasar harus rata atau mendekati sama rata, meski terdapat perbedaan, itu harus tipis, tak boleh selisihnya begitu besar dari atribut yang satu dengan lainnya.


Kesimpulannya, Sistem Rai tidak mempermasalahkan ini.


Merenung beberapa saat untuk memikirkan hal ini, di dalam kepalanya terdapat dua pilihan yang saling bertempur untuk memenangkan sebuah keputusan Rai.


“Untuk sementara ini, aku akan membiarkan atribut ketahanan seperti ini, sewaktu-waktu apabila ada hal yang tidak terduga terjadi dan berdampak merugikan padaku, aku akan mengalokasikan poin atribut gratis ke atribut ketahanan.“


Rai berkata pada dirinya sendiri setelah berpikir.


Ia memutuskan untuk membiarkannya saja, dan menyimpan poin atribut gratis untuk keadaan darurat.


[Ding! Senjata Methuragon membuka tipe baru!]


[Nama: Methuragon]


[Level: ???]


[Tipe: Semua Tipe Senjata]


[Tipe Terbuka: 3]


[1. Double Bladed Sword.]


[2. Longsword.]


[3. Spear.]


[4. ??? (Tipe baru akan terbuka saat pengguna mencapai level tertentu.)]


[Efek 1: Semakin kuat seiring meningkatnya kekuatan pengguna.]


[Efek 2: Senjata yang akan mengubah bentuknya sesuai dengan keinginan pengguna. Note: Hanya untuk tipe yang telah terbuka.]


[Efek 3: Akan membuka tipe senjata selanjutnya saat pengguna telah mencapai level tertentu.]


[Pengguna: Rai Caelan (Permanen)]


[Methuragon Spear: Senjata Methuragon dapat berubah menjadi senjata tombak dengan ujung berbilah bermata dua yang bentuknya lurus dan memiliki panjang bilah 90 sentimeter dan lebar 33 sentimeter, total panjang keseluruhan senjata 2,7 meter. Cocok untuk serangan area dan serangan individu.]


Sebuah informasi kembali muncul di dalam layar hologram transparan.


Begitu Rai melihat informasi yang tercantum di layar panel, ia segera melihat senjata Methuragon yang ia pegang di tangan kanannya.


“Bisakah pedang ini menjadi tombak?“


Rai bertanya-tanya mengenai kemampuan terbaru senjatanya yang baru diperoleh.


“Sekarang aku akan mencobanya,” ujar Rai yang fokus pada pedangnya.

__ADS_1


Tanpa sadar tangan kirinya kembali ke bentuk tangan normal yang dibalut oleh kain kasa putih.


Segera pedang Methuragon dalam bentuk Longsword bilah bercabang mengalami perubahan yang signifikan.


Gagang yang dipegang oleh Rai memanjang dan jari-jari lingkaran gagang mengecil, bilah pedang berwarna hitam dengan aura ungu gelap menyusut menjadi lebih pendek, tetapi masih mempertahankan bentuknya yang bermata dua tanpa bercabang, ujung sisi lainnya terdapat tali dengan ikatan cakar hitam tajam di ujungnya, perubahan senjata diakhiri dengan tubuh senjata dilindungi sisik ungu mirip dengan sisik tangan kirinya.


“Woah! Keren sekali tombak ini!“ Rai berseru bersemangat sembari mengayunkan tombaknya beberapa kali.


Rai mencoba gerakan menusuk dan menghunus menggunakan tombaknya, lalu menebas cepat seolah-olah di depannya terdapat musuh untuk dibunuh, dan beberapa gerakan memutar layaknya Mayoret yang memutar-mutarkan tongkat atau bendera dalam pertunjukan marching band.


Pada saat mencoba gerakan menyerang dengan tombak, sebuah ide terbesit di kepalanya, ia berniat untuk melempar tombak dengan massa tombak yang besar.


Dengan hati dan keinginannya, senjata tombak ini menjadi berat saat dipegang oleh Rai, ternyata fungsi memanipulasi berat pada senjata berlaku juga dalam bentuk tipe tombak ini.


Melakukan ancang-ancang terlebih dahulu, lalu Rai melemparkan tombak itu menuju mobil yang berkarat di kejauhan.


Whooshhh … bum!!


Ujung tombak itu menusuk bumper depan mobil yang berkarat dan penyok hingga mendorong mobil belasan meter ke belakang.


Melihat dampak serangan tombak begitu kuat, Rai segera berlari ke arah mobil tersebut untuk mengambil kembali tombaknya.


Sesampainya di sana Rai menarik tombaknya dengan satu tangan, sebelum ia tarik tombaknya harus diringankan sesuai dengan keinginannya, dalam satu tarikan tombak itu pun tercabut.


“Tombak ini sepertinya cocok untuk serangan jarak jauh,” Rai memandang senjata Methuragon dengan puas. “Coba saja tombak ini seperti palu yang ada di dalam mitologi itu, bisa kembali ke tangan pengguna dengan sendirinya.“


Akan lebih keren lagi apabila senjata ini bisa terbang kembali menuju dirinya tanpa ada batasan jarak, sayangnya senjata ini tidak memiliki fitur ini.


Rai bisa saja menggunakan senjata ini layaknya palu yang ada di dalam mitologi, bisa dengan cara memakai Majestic of Mind untuk menarik kembali Methuragon ke tangannya.


Akan tetapi … jangkauan dan radius yang bisa dicapai tidak begitu jauh dan memiliki batasan, sangat disayangkan.


Kuro berjalan dengan keempat kakinya yang besar tanpa bersuara mendekati Rai.


Merasakan kehadiran Kuro yang semakin dekat, segera Rai menoleh untuk melihatnya.


“Kuro, kita kembali ke jalan utama lagi.“


Roarr!


Kuro meraung setuju lalu menganggukkan kepalanya.


Rai melompat tinggi ke udara dan jatuh tepat di punggung Kuro dengan lembut.


“Ikuti jalan ini yang mengarah ke timur, nanti kita akan menemukan jalan utama.“ Rai menunjuk jalan di depan Kuro dan memberikan arahan pada Kuro.


Kuro bergegas berlari mengikuti jalan yang ditunjuk Rai dan mereka berdua menghilang di malam yang gelap.


….


“Melihat pemandangan kota ini bagaikan aku masuk ke dalam imajinasi saat aku kecil dahulu.“


Rai memandangi kota yang gelap tanpa ada satu pun lampu yang menyala di bawahnya dari atas gedung yang tinggi. Ia duduk di pinggiran atap bersama Kuro.


Setelah pembasmian Roachzer monster serangga berbentuk kecoak raksasa, tiba-tiba dirinya ingin menikmati pemandangan Kota Lhee Utara dari atas gedung.


Dahulu waktu Rai kecil, dirinya pernah membayangkan apabila dirinya hidup di dunia yang suram dan penuh oleh zombie, sebuah petualangan ia bayangkan dalam kepalanya sehingga membuat Rai merasakan keseruan sendiri dengan khayalannya.


Namun, sekarang ia sungguhan hidup di dunia yang dahulu Rai imajinasikan, ternyata tidak begitu seru seperti apa yang ia bayangkan dahulu.

__ADS_1


Hidup di dunia yang hancur tidak asyik, banyak sekali tantangannya, bukan masalah pekerjaan atau pun cinta lagi yang dihadapi dalam hidup ini, melainkan masalah menghindari dari kejaran dan penyerangan monster yang sewaktu-waktu datang, selain itu masalah kebutuhan pangan, tak ada pekerjaan di sini, di Bumi asalkan ada kemauan yang kuat minimal masih bisa hidup meski banyak kekurangan.


Tetapi, di sini sangatlah berbeda, meski ada kemauan yang kuat, namun segi kekuatan tidak mencukupi, hanya ada kematian yang menghampiri.


Tidak ada namanya manusia di sini, hanya ada wujudnya saja, isinya belum tentu bisa disebut manusia.


“Makan ini, Kuro.“ Rai melemparkan potongan daging ayam bagian paha kepada Kuro yang ada di sebelahnya.


Kuro juga menikmati pemandangan bersama angin malam yang menerpa bulu halusnya.


Melihat daging ayam yang diberikan Rai, ia segera menggigitnya dan mulai memakannya.


Rai membeli dua potong daging ayam untuk dirinya dan juga Kuro, juga secangkir teh hangat ia beli di Mall System.


Mengangkat cangkir tehnya dengan tangan kirinya, Rai menyeruput air teh sedikit demi sedikit sambil sesekali menggigit daging ayam di tangan kanannya.


Angin malam yang dingin mengibas rambut Rai yang sudah mulai panjang, mungkin sebulan lagi ia harus mengikat rambutnya untuk lebih rapih dan tidak menggangu penglihatannya ketika bertarung.


Tidak disadari olehnya daging ayam dan teh yang dia konsumsi telah habis, terlalu fokus dengan panorama indah kota di malam hari sehingga lupa dengan apa yang ada di tangannya.


“Kota ini sangat bagus untuk dipotret dari sudut pandang di sini, aku akan memotretnya sekarang.“


Rai mengocek sakunya dan mengambil handphone di dalam saku, lalu menyalakan ponsel pintar dan mengklik ikon kamera.


“Gelap sekali, mode malam harus aku nyalakan.“


Saat mode malam pada kamera ponsel dinyalakan, detail kota dan pencahayaan cukup pas untuk dipotret, sangat terlihat jelas kota yang divisualisasikan lewat layar ponsel ini, tanpa perlu berlama lagi, Rai segera menangkap gambar dan menyimpannya.


Senyum puas muncul di ekspresi wajahnya ketika melihat hasil jepretan kamera ponselnya, tampaknya ia berbakat menjadi fotografer profesional.


Beberapa gambar Rai ambil untuk kenang-kenangan sekaligus dokumentasi perjalnannya di dunia ini, anggap saja dirinya bisa kembali lagi ke Bumi.


Puas dengan gambar yang diambil sekarang, Rai hendak mengambil gambar lagi, namun ia tidak sengaja melihat jam yang ditampilkan di dalam ponsel.


“Sudah malam? Tidak terasa sudah jam sepuluh malam, saatnya untuk tidur.“ Rai bangkit dari pinggir atap gedung dan mengambil Kuro yang ada di bawahnya.


Di depannya, di tengah atap gedung yang rusak ini terdapat tenda kemah yang telah didirikan oleh Rai sejak tadi, Rai melangkah menuju tenda kemah dan masuk ke dalam.


“Setelah Kota Lhee Utara aku harus pergi ke mana, coba aku lihat peta.“ Rai mengambil ponselnya lalu mengklik halaman galeri foto.


Ia telah memfoto peta dunia menggunakan ponselnya, jadi ia tak perlu mengeluarkan kertas yang sudah usang itu untuk melihat peta, takut kalau terlalu sering disentuh akan merusak peta lama kelamaan.


“Kota Talu Utara?“


Di gambar peta pada layar ponselnya yang sedang ditampilkan, Kota Lhee Utara terlihat jelas ada di dekat Kota Talu Utara, tetapi letaknya tidak seratus persen ke arah utara, Rai harus sedikit berjalan ke arah timur laut atau ke arah jam 1 atau jam 2 untuk bisa ke sana.


Tidak ada informasi mengenai Kota Talu Utara, jadi Rai benar-benar murni akan ke sana tanpa petunjuk, semoga saja besok Rai mendapatkan beberapa petunjuk mengenai Kota Talu Utara, sekurangnya satu petunjuk, itu juga berguna bagi Rai.


“Lebih baik tidur sekarang.“ Rai mematikan ponselnya dan meletakkan ponsel di tempat biasa.


Kuro berjalan ke tempat tidur dan naik ke atasnya, seperti malam-malam biasanya, Rai berbaring meringkuk di dalam selimut.


“Selamat malam, Kuro.“


'Miaw~'


Rai menjangkau saklar lampu dan mematikannya.


Keesokan harinya Rai kembali melanjutkan perjalanannya, sekarang dimulai di pagi hari buta.

__ADS_1


Cuaca masih sama dengan kemarin, hujan rintik-rintik turun di Kota Lhee Utara, namun Rai tetap pergi untuk keluar dari Kota Lhee menuju kota selanjutnya, yaitu Kota Talu Utara.


__ADS_2