LINEUSS ATTACK (SYSTEM)

LINEUSS ATTACK (SYSTEM)
Bab 91: Ada Pengungsian?


__ADS_3

“Rai, aku ingin bertanya mengenai kekuatanmu … dan senjata anehmu,” Lara menoleh melihat Rai dengan wajah yang penasaran. “Sebenarnya kekuatan dari kebangkitanmu apa? Senjatamu juga memiliki kekuatan apa?“


Pada saat Rai bertarung, Lara sempat memerhatikan gerakan Rai dan serangan apa yang Rai luncurkan termasuk senjata Rai saat mengendalikan senjata tombaknya untuk menusuk tubuh depan belakang monster Big Apezer.


Rai tidak memerlukan waktu untuk memikirkan jawabannya, ia sudah menyiapkan jawaban dari pertanyaan ini.


“Seperti yang kamu lihat, kekuatanku berhubungan dengan fisik, dan karena itulah aku bisa memukul monster sebesar itu sampai terhempas jauh hanya dengan kepalan tanganku,” ucap Rai sembari mengeluarkan camilan berupa kue black forest dari tas. “Senjataku memiliki kemampuan lain, yaitu bisa kembali ke tanganku, ada jarak tertentu yang berlaku agar bisa mengaktifkan kemampuan senjata tersebut.“


Kue berwarna hitam itu diberikan kepada Lara bersama dengan piring dan sendok kecil.


Rai memerhatikan pandangan Lara yang sesekali melihat Kuro sedang makan daging monster, tampaknya ia memang ingin mengunyah sesuatu.


“Emm … terima kasih, Rai.“ Lara mengambil kue tersebut dan mengucapkan terima kasih dengan malu-malu.


“Ya.“ Rai mengangguk dan mengambil kue lain untuk dirinya sendiri.


Lara memamah kue yang ia sendoki dan menelannya setelah beberapa kunyahan. “Seperti apa yang aku duga, senjatamu memang memiliki kemampuan layaknya seorang pejuang seperti kita.“


“Asal kamu tahu, tidak ada senjata yang memiliki kemampuan seperti itu, senjata di dunia ini benar-benar kembali ke jaman tanpa senjata api, peradaban teknologi benar-benar hancur selama beberapa tahun, tidak ada orang yang pintar yang memahami mengenai teknologi, mungkin ada beberapa, tetapi sangat langka dan terbatas ruang untuk mengembangkan teknologin,” tambah Lara seraya memakan kue miliknya lagi.


Informasi ini diterima oleh Rai, ia segera merenung dan mengolah informasi tersebut, otaknya berjalan dan mulutnya bergerak untuk memproses menghaluskan makanan.


Setelah dipikir lebih lanjut, apa yang dikatakan Lara memiliki korelasi dengan kenyataan.


Selama hidup di dunia ini lebih dari dua bulan ia memang tidak pernah melihat kota yang dapat menyalakan listrik, semua elektronik rusak dan tidak ada satu pun yang aktif dan hidup.


“Tetapi aku tidak tahu apakah ada orang yang memiliki senjata yang serupa dengan senjatamu,” kata Lara. “Jujur, aku baru pertama kali bertemu dengan senjata yang begitu ajaib.“


“Lalu, senjata apa yang dipakai oleh orang-orang?“ Kali ini Rai yang bertanya.


Lara tidak langsung menjawabnya, ia menelan potongan kecil kue terlebih dahulu sebelum memberi tahu Rai. “Sama seperti senjataku, kebanyakan atau generalnya senjata yang digunakan orang-orang adalah tongkat besi atau puing besi yang sekiranya layak digunakan.“


“Dimodifikasi seperti senjatamu juga?“


“Benar, modifikasi kecil-kecilan dan seadanya saja, sulit untuk memodifikasi dengan serius, kita harus ke pandai besi di suatu pengungsian untuk modifikasi dengan serius.“ Mata Lara terpaku kepada makanannya, sesekali ia menatap Rai yang sedang membuka maskernya.


Alis Rai terangkat tanpa sadar setelah mendengar informasi satu ini. “Pengungsian? Apakah ada pengungsian?“


“Ada, setiap kota seharusnya ada tempat pengungsian suatu kelompok, tetapi sangat tersembunyi dan orang-orang yang tinggal pun hanya dari kelompok itu-itu saja,” jelas Lara kepada Rai.

__ADS_1


“Jadi, di kota Talu Utara pun ada sebuah pengungsian?“


“Ada, tetapi aku tidak begitu tahu tempatnya, sebab mereka terlalu tersembunyi, juga di pengungsian tidak selalu baik orang-orangnya.“


Lara meletakkan piring di atas batang pohon tempat mereka duduk. Kue yang ada di atas piring Lara telah habis dimakan Lara.


Wanita tetaplah wanita, tidak peduli di planet atau tempat apa, mereka tetap sama-sama menyukai makanan yang manis dan juga pedas.


“Oke, aku mengerti,” kata Rai dengan anggukkan kecil.


Wajar saja Rai tidak pernah bertemu pengungsian mana pun di kota yang pernah ia kunjungi, itu dikarenakan sistem mereka yang harus tertutup dan privasi, tidak sembarangan orang yang bisa ke sana.


Namun, apa yang dikatakan Lara bahwa mereka yang adalah para pembuat pengungsian tidak selalu orang yang baik.


Apakah itu mungkin pengungsian dari kedua kelompok yang berseteru itu?


The Bunmuri dan The Linzation.


Bisa saja itu dari keduanya, Rai sampai saat ini tidak tahu siapa yang jahat dan baik.


Pandangan buruknya terhadap The Bunmuri pun dipecahkan oleh Lara yang berkata bahwa The Linzation yang memiliki tanda di tubuh anggotanya.


Bahkan Rai tidak tahu dari mana asal Lara ini.


Beberapa minggu ini berpetualang dengan diri Lara, ia tidak merasakan sesuatu kebencian sekecil pun dari Lara.


Pada hakikatnya, Rai sangat sensitif dengan pandangan kebencian seseorang kepadanya, pasalnya di Bumi ia sudah kenyang dengan pandangan orang-orang yang dilontarkan kepadanya.


Dengan demikian, Rai tahu yang mana munafik berpura-pura baik hanya untuk memanfaatkan dan yang sungguhan baik.


“Pengungsian juga ada yang baik dan buruk, Rai. Aku tahu segala sesuatu di dunia pasti memiliki sisi baik dan sisi buruk, pengungsian juga ada bagian yang baik dan buruk.


"Pengungsian yang buruk ini biasanya atau umumnya terbentuk dari orang-orang yang kriminal atau sifat kemanusiaannya memang benar-benar hilang.


"Sebaliknya dengan pengungsian yang baik, mereka saling membantu satu sama lain dan membuat komunitas yang bersih dan damai.


"Sangat beruntung apabila bertemu dengan tempat pengungsian yang baik, kita benar-benar dibantu oleh mereka, sebab aku pernah bertemu dengan salah satu tempat pengungsian yang baik.


"Tetapi ….“

__ADS_1


Informasi Lara terdengar seperti terpotong, Rai pun segera menoleh untuk melihat Lara.


Lara menunduk dan pandangannya berubah, di matanya sebuah perasaan yang sedih dapat dilihat oleh Rai, tampaknya ada sesuatu yang buruk yang terjadi dengan tempat pengungsian yang tergolong baik.


Benar saja, apa yang dikatakan oleh Lara selanjutnya sesuai dengan dugaan Rai.


“Tetapi … tempat mereka dihancurkan hingga banyak sekali orang yang aku kenal mati dan tidak bernyawa lagi. Aku tidak tahu apa dan siapa pelaku yang berbuat jahat seperti itu, aku masih menyimpan dendam kepada pelaku tersebut, entah siapa itu, pokoknya aku harus memberinya hukuman!“


Mata Lara langsung memerah ketika mengatakan kalimat tersebut, nadanya pun perlaha naik dan tinggi seolah ia sedang mengeluarkan kesedihannya yang ada di dalam hatinya.


“Minum ini.“ Rai mengeluarkan minuman Boba dari tasnya dan menyerahkan kepada Lara.


“Emm … terima kasih, Rai.“


Seketika wajah marah itu menghilang dan langsung digantikan dengan wajah yang manis dan imut.


Mulut ceri berwarna pink itu menyedot minuman boba, tampak imut sekali.


Kemungkinan besar apabila ada pria lain yang melihat ini langsung tidak tahan dan ingin memakan kue Lara yang ada di bawah, keimutan wajah ini dalam bidang perobatan dan kesehatan bisa dibilang overdosis.


“Apakah kamu bisa menduga atau menebak siapa pelakunya? Kelompok atau perorangan?“ tanya Rai.


Lara terdiam sejenak seraya menghisap air minuman boba melalui sedotan, dan kemudian menjawab, “Aku tidak yakin dengan asumsiku, tetapi 90% bisa aku percaya. Kemungkinannya pelaku tersebut dari sebuah kelompok, dilihat dari bekas dan jejak yang ditinggal menunjukkan sebuah kelompok ketika menjarah suatu tempat secara paksa.“


“Apakah itu berasal dari dua kelompok besar?“


“Entah aku tidak tahu, intinya kelompok ini cukup kuat untuk menghancurkan tempat pengungsian itu, aku kenal baik dengan anggota pengungsian tersebut, mereka tidak lemah, tidak mungkin mereka lemah, tidak ada orang yang lemah bisa membentuk sebuah pengungsian.“ Lara menatap kosong gelas plastik boba di tangannya.


Rai mengangguk menunjukkan pengertiannya terhadap kata-kata Lara, ia menoleh ke arah Kuro yang sedang berjalan ke arah mereka berdua.


Tampaknya Kuro telah selesai melahap tubuh monster Big Apezer.


“Kalau ketemu kelompok tersebut, aku pastikan mereka mati,” kata Rai tiba-tiba dan berdiri dari batang pohon yang roboh. “Ayo kita pergi.“


Mata Lara yang terlihat terkejut dengan perkataan Rai perlahan berubah, senyum bahagia muncul di wajah Lara, dan ia menyahut ajakan Rai. “Ayo!“


Mereka bertiga dengan Kuro kembali melanjutkan perjalanan menuju Kota Mopulu.


Tidak terasa, tiga hari pun berlalu.

__ADS_1


__ADS_2