LINEUSS ATTACK (SYSTEM)

LINEUSS ATTACK (SYSTEM)
Bab 7: Gedung Seberang


__ADS_3

Rai berdiri di depan pintu masuk dan keluar apartemen, matanya bergerak melihat ke sekitar.


“Misi pertama selesai!“ Rai berkata sambil melihat suasana di luar apartemen.


Di luar apartemen terdapat sebuah jalan yang cukup besar, namun nampak sepi dan hanya ada bongkahan bangunan yang jatuh dan tidak utuh, kendaraan yang berkarat dan tak berbentuk lagi, papan iklan dan rambu jalan tergeletak di tengah jalan dengan keadaan rusak berkarat. Banyak rumput dan lumut hijau mendominasi jalanan dan menjalar di setiap garis retakan.


Gedung-gedung tinggi banyak sekali dibangun pada sisi jalan besar ini, Rai tidak tahu di mana batasnya jalan besar ini dan arah serta tujuan dari jalan raya ini.


Angin masih terasa di luar sini, namun udaranya tidak begitu segar seperti kelihatannya. Normalnya, jika tumbuhan dan tanaman banyak yang bertumbuh di suatu tempat atau daerah, maka udaranya akan lebih sejuk dan segar ketika dihirup, karena tumbuhan mengeluarkan atau menghasilkan oksigen yang menyebabkan lingkungan sekitar tumbuhan itu menjadi lebih sejuk.


Meskipun demikian, udara di sini masih bisa dihirup. Tapi Rai, masih bisa mencium sedikit aroma yang tidak mengenakkan.


Tidak tahu dari mana asal bau itu.


Omong-omong cahaya dari langit masih menyinari daerah ini, Rai tidak tahu itu berasal dari bintang yang disebut matahari atau bukan. Untuk sementara ini, Rai menganggap sinar yang datang dari atas langit adalah sinar matahari.


Tetapi cahaya ini tidak panas ketika matahari di siang hari bolong, melihat arah bayangannya yang bisa terlihat sedikit miring, kemungkinan waktu sekarang menjelang sore hari.


“Sistem, jam berapa sekarang?“ tanya Rai kepada Sistem. Lebih baik dia bertanya kepada Sistem.


[Sekarang pukul jam 14:21.]


“Termasuk waktu siang meski ingin masuk waktu sore, pantas saja cahayanya sudah agak berkurang.“


Mengangkat kepalanya ke atas, Rai memejamkan mata menikmati sinar mentari lembut yang menghantam tubuhnya.


“Sekarang masalah barunya adalah aku harus berjalan ke arah kanan atau ke kiri?“


Masalah muncul saat ini, Rai bingung akan berjalan ke arah mana dan ke tempat apa. Jika berjalan tanpa arah tujuan sepertinya itu akan sia-sia, hanya menghabiskan waktu dan tenaga.


“Hmm … aku harus bertanya kepada Sistem.“


Satu-satunya solusi yang bisa didapatkan adalah dari Sistem. Semoga saja dia tahu.


“Sistem, sebaiknya aku pergi ke arah yang mana?“


[Tidak tahu.]


Rai tertegun sejenak setelah mendengar jawaban sistem. Ternyata percuma saja bertanya kepada Sistem yang kurang wawasan ini. Lagi-lagi dia harus berpikir sendiri dan mengandalkan dirinya sendiri.


[Sistem sarankan untuk menjelajahi dari tempat yang terdekat, seperti bangunan-bangunan yang ada di depan Anda.]


“Hmm … saran yang bagus. Baiklah aku akan mengikuti saranmu.“ Rai hendak berjalan namun langkahnya terhenti, “Aku lupa! Catatan yang tadi harus disimpan di ransel.“


Setengah lengan Rai masuk ke dalam celana Jogger nya dan merogoh saku celana pendek di dalam. Kemudian dia memasukkan selembar kertas itu ke dalam tas dan dia berjalan menuju gedung tinggi depan apartemen ini.


Sesampai di depan gedung tinggi ini, Rai berhenti dan mendongakkan kepalanya melihat ketinggian gedung. Cukup tinggi, kira-kira 40 meter tingginya dari permukaan tanah. Tingginya melebihi dari gedung apartemen sebelumnya.

__ADS_1


Seluruh bangunan tampak tidak pernah diurus atau dirawat, sebagian atas gedung telah hancur dan bongkahannya ada yang terjatuh ke tengah jalan, Rai juga dapat melihat sedikit ruangan di dalam atas gedung itu.


Segera Rai bergegas masuk melalui suatu celah, seperti jendela, dan dia meloncat ke dalamnya.


Ruangan kali ini lebih gelap karena sinar matahari banyak yang tidak berhasil masuk ke dalam bangunan ini, ruangan ini minim pencahayaan. Selain itu, barang-barang atau perabot di sini banyak sekali yang telah rusak dan ditutupi tanaman. Lantai dan dinding lebih kotor dari apartemen tempat dia muncul tiba-tiba.


Setiap Rai melangkah akan ada tanah yang terinjak juga debu yang beterbangan, dia harus menahan nafas jika debu terbang, itu bisa membuatnya batuk. Selain debu, dia juga harus menghindari pecahan dan potongan barang yang sudah hancur menyebar ke lantai secara hati-hati.


Dilihat lebih dekat ruangan ini nampak seperti sebuah lobi dari hotel atau penginapan, karena di tengah ruangan yang menjorok ke belakang terdapat meja panjang ke samping, nampak seperti meja untuk resepsionis. Rai tidak tahu pastinya, tetapi dia menduga seperti itu.


Daerah yang bisa disebut kota ini penuh dengan gedung penginapan yang bertingkat tinggi dan gedung komersial. Dari segi bentuk bangunannya saja mudah untuk ditebak dan dikenali.


“Apakah ada informasi atau petunjuk di sini? Seharusnya meja panjang resepsionis itu menyimpan sesuatu yang penting. Aku harus memeriksanya.“


Dipikir lagi meja resepsionis itu selalu menyimpan barang atau informasi berharga, oleh sebab itu Rai mendekati meja panjang yang penuh tanah dan debu ini.


Berjalan ke belakang meja, dia memeriksa setiap tempat yang biasa untuk menyimpan berkas penting, seperti laci atau pun bufet. Setelah lama ia mencari tetapi dia tidak menemukan sesuatu kertas, hasilnya nihil. Itu juga dia hanya menemukan secarik kertas kecil bekas sobekan. Sobekan kertas itu telah rusak antara dikarenakan dimakan serangga, faktor cuaca, dan kelembaban.


“Sangat sulit sekali mencari informasi mengenai tempat ini. Tapi ... sulit bukan berarti mustahil, karena itu aku harus terus mencari dan berjuang sampai dapat mengetahui tentang apa sebenarnya dunia ini.“


Setelah mengatakan itu, Rai menoleh ke sekeliling ruangan lobi hotel, mencari tempat yang memungkinkan orang untuk menyimpan dokumen penting.


Sayangnya setelah beberapa kali melihat, tempat itu tidak ada satu pun. Tempat ini telah hancur berantakan, semua perabot banyak yang rusak terbelah dan berlubang besar, hal tersebut membuat Rai sulit untuk mencari barang-barang yang ia cari.


“Mungkin di lantai atas ada suatu petunjuk.“


Tangga lebar ini sepertinya hanya untuk pergi ke lantai atas atau lantai dua, karena setelah dia berjalan menaiki tangga ke lantai dua, tidak ada lagi anak tangga lanjutan untuk bisa pergi ke lantai berikutnya. Tangga ini berakhir di lantai dua.


“Terlalu gelap, aku membutuhkan penerangan untuk bisa melihat.“


“Sistem, aku ingin membeli senter, apakah barang itu ada di Mall System?“ tanya Rai sambil mewaspadai area sekitarnya.


[Lampu senter x1. Harga: 2 Koin.]


[Apakah Anda yakin ingin membelinya?]


Harga senter ini sedikit mahal dibandingkan makanan dan minuman, Rai heran dengan ini.


“Kenapa senter ini lebih mahal ketimbang makanan?“


[Senter ini memiliki jangka waktu untuk hidup dan menyala hingga 10 tahun pemakaian tanpa harus dicas atau diganti baterainya.]


“Kalau seperti itu, aku membelinya satu.“


Sebenarnya Rai tidak mempermasalahkan harga, tapi dia hanya ingin tahu kenapa alasan senter itu lebih mahal.


Senter yang bisa menyala selama sepuluh tahun, itu barang yang sangat bagus, wajar saja Sistem menghargai barang itu dengan lebih mahal.

__ADS_1


Satu buah senter yang ukurannya tidak terlalu besar jatuh di tangan kanan Rai, lalu dia mengaktifkan lampu senternya untuk menerangi ruangan ini.


Cahaya senter membuat Rai dapat melihat dengan jelas apa yang ada di tempat ini, itu hanya ada puing-puing yang terlepas dan terkikis, juga tanaman yang berhasil menjalar ke dalam.


“Sepertinya ini tempat untuk bersantai dan tempat orang menunggu.“


Selama Rai berjalan, ia seringkali melihat banyak kursi panjang yang hancur berantakan begitu saja di lantai, juga terdapat ruangan terbuka untuk anak-anak bermain, itu sudah rusak sekarang. Pastinya juga ada beberapa lorong menuju kamar-kamar di lantai ini.


Sesekali dia berhenti, setelah berjalan beberapa langkah, dan memeriksa semua barang yang ada di lantai, sekiranya saja dia mendapatkan sesuatu yang menarik di balik puing-puing.


“Foto?“


Meletakkan senternya di lantai, Rai mengambil selembar foto kecil yang telah kotor oleh tanah.


Dia menyeka tanah itu menggunakan jari tangannya, sekilas Rai melihat sebuah keluarga kecil beranggotakan sepasang orang tua dan satu anak perempuan yang sedang digendong oleh ayahnya.


Sebuah senyuman muncul di wajah Rai, dia senang melihat foto keluarga yang bahagia ini. Namun, wajah Rai berubah menjadi cemberut pada detik berikutnya.


Pasalnya dia mendengar suara kecil dari salah satu lorong di arah baratnya.


“Monster jelek itu lagi?“


Bunyi yang terdengar samar-samar ini hampir sama dengan suara yang dikeluarkan Huuzer Crawler.


“Saatnya memanen pengalaman!“


Menyimpan foto itu di dalam ransel, dan mengambil kembali senter, Rai berjalan mengendap-endap menuju asal suara yang aneh.


Posisi Rai semakin dekat dengan arah suara, itu membawanya menuju suatu kamar yang ada di paling pojok lorong.


Suara-suara yang tidak pernah ada di bumi ini terdengar semakin banyak.


Ternyata suara itu bukan dari satu ekor monster, tetapi dari banyak monster. Bunyi itu jelas terdengar ketika Rai berhenti di depan kamar hotel yang diduga sumber dari suara aneh.


“Satu … dua … tiga ….“


“…Tujuh belas. Setidaknya ada belasan ekor Huuzer Crawler.“


Rai menghitung jumlah Huuzer Crawler melalui dengkuran mereka. Kira-kira ada belasan ekor, mungkin lebih dari belasan.


Senternya dia simpan ke saku hoodie, terlalu repot jika kedua tangannya terpakai semua, karena tangan kirinya selalu memegang pedang sejak awal keluar dari apartemen yang sebelumnya.


Srett …!


Double Bladed Sword dibagi menjadi dua, pantulan cahaya dari bilah itu sedikit terlihat, walaupun di dalam pencahayaan yang sedikit.


Sekarang Rai bersiap untuk membantai monster dan memanen poin pengalaman meningkatkan level.

__ADS_1


__ADS_2