LINEUSS ATTACK (SYSTEM)

LINEUSS ATTACK (SYSTEM)
Bab 30: Salah Jalan


__ADS_3

Ruangan gelap dan suram, barang yang hancur berantakan dan berserakan di lantai, debu yang mengendap serta noda tanah dan lumut di mana-mana, semjanya menghiasi ruangan yang dia masuki ini.


Di depannya yaitu ruangan aula atau lantai dasarnya tidak terlalu mewah dibandingkan dengan yang lainnya.


Tidak luas dan lebar ruangannya, terkesan sempit jika dilihat, ditambah dengan banyak barang rusak serta tumbuhan yang ada di ruangan ini yang menambah penampilan ruangan semakin kecil.


Sinar senter dari bahu Rai menyinari sebagian ruangan.


Segera saat menggerakkan lampu cahaya senter ke bawah lantai, dia menemukan beberapa jejak sepatu yang terlihat acak.


Senter itu diarahkan mengikuti jejak sepatu itu mengarah. Ternyata jejak sepatu mengarah ke tangga darurat yang ada di apartemen kecil ini.


Namun, saat didekati jejak kaki itu mengarah ke dua arah, satu ke tangga dan yang lain menuju ke lorong ruangan lantai bawah.


Mengikuti jejak sepatu ini, Rai menaiki tangga dan pergi ke lantai selanjutnya.


Di lantai setelah lantai dasar jejak sepatu ini tidak berhenti di lantai ini, melainkan terus menaiki tangga ke lantai atasnya lagi.


Dengan seksama Rai terus bergerak mengikuti jejak sepatu dan tidak tertinggal.


Jejak sepatu ini tidak lagi melangkah ke tangga berikutnya, akan tetapi menjelajah di lantai tiga apartemen ini.


Mendorong pintu darurat, Rai keluar dari ruangan tangga, dan berdiri di sebuah lorong panjang dengan berbagai pintu kamar di kedua sisinya.


Perlahan Rai menyusuri lorong dengan mengarahkan senter ke setiap sisi lorong dan beberapa kamar yang tidak lagi mempunyai pintu.


Semakin dia ikuti, jejak sepatu ini seperti memudar setiap jejaknya, dan juga jejak ini terlalu acak.


Berbagai jejak sepatu dengan ujung jejak sepatu yang mengarah ke segala arah, nampak pemilik jejak berputar dan berjalan di tempat di lorong ini, hingga jejak sepatu memiliki visual yang abstrak.


Tapi itu masih bisa diikuti ke mana jejak tersebut mengarah.


Tidak lama kemudian Rai mengikuti jejak, dia sampai di sebuah kamar yang rusak dinding temboknya, pintu masih terpasang walah banyak terdapat jejak goresan dari suatu benda.


Sebelum membukanya, Rai menempelkan telinganya pada dinding untuk mendengar apakah ada sesuatu gerakan di dalam ruangan ini.


Dengan fokus dan cermat, Rai mendengar sesuatu yang ada di dalam, namun beberapa menit kemudian dia tidak mendengar gerakan apa pun dari sana.


Berjalan ke depan pintu kamar, dia melakukan beberapa persiapan untuk membuka pintu.


Senjata Methuragon membelah diri dan menjadi longsword di kedua tangan Rai.


Lalu Rai melakukan ancang-ancang beberapa detik.


Dengan kuat Rai menendang pintu yang ada di depannya hingga terpental ke dalam kamar.


Bang!


Bunyi keras tercipta dari hantaman kaki keras Rai.


Pintu itu terbelah menjadi beberapa bagian dan terlempar ke dalam kamar.


Rai langsung beralih postur tubuh ke mode bertarung, dua pedangnya dia genggam kuat sambil mengawasi ruangan kamar ini.


Sinar senter menerangi ruangan kamar, segera Rai melihat sesuatu yang ada di dalam.


“Ini?“


Beberapa sosok kerangka manusia sedang duduk di sudut ruangan, beberapa helai baju dan kain terjatuh di atas tulang kaki kerangka.


Barang-barang di sini masih rapih, namun beberapa sudah rusak akibat termakan usia dan tidak terawat.


“Ini mereka yang tadi?“ Rai berjalan menghampiri kerangka tulang manusia.


Lampu senter terfokus menyinari kerangka putih ini yang masih mempertahankan posisi duduk meringkuk di sudut.


Ada tiga kerangka tulang manusia utuh di sini, tiga tengkorak kepala dengan bagian tulang tubuh yang sebenarnya sudah tidak lagi sempurna terlihat seperti manusia, karena tergeser dan jatuh dari posisi awalnya.


“Sepertinya ini bukan mereka.“ Rai menyaksikan kerangka inj dengan teliti, dan hasilnya dia mendapatkan dugaan kuat bahwa ini bukanlah mereka.

__ADS_1


Pasalnya tidak mungkin seseorang mati dan menjadi kerangka mayat dalam waktu yang begitu singkat, hanya beberapa jam saja.


Tidak masuk akal dan nalar manusia.


Bisa saja mungkin terkena cairan asam yang pernah melelehkan daging dari tangan kiri Rai.


Mengalihkan pandangan dari kerangka ini, Rai melihat ke sekitar kamar, dan mencoba menemukan sesuatu yang menarik.


Kamar ini terkunci, dan itu alasan kenapa pintu kamar masih berdiri dan tidak rusak.


Kerangka ini di saat masih hidup, mereka pasti bertahan hidup di kamar ini.


Tidak, lebih tepatnya mengurung diri dan tidak ingin berjuang keluar.


Pilihan mereka tidak salah atau benar, itu tergantung bagaimana pandangan kita saat menghadapi masalah.


Menurut mereka pilihan berdiam diri adalah sesuatu pilihan yang benar, tapi tidak untuk orang lain.


Mereka mungkin aman dari serangan monster di luar, namun kematian tetap mengintai melewati sebab yang berbeda.


Salah satunya adalah kelaparan.


Pasti mereka membutuhkan asupan makanan untuk tetap hidup.


Lalu bagaimana caranya mereka mendapatkan pasokan makanan dan minum jika tidak keluar dan mengambilnya.


Terus diam di kamar tidak pernah melangkahkan kakinya keluar, bahkan tidak pernah sekali pun memegang knop pintunya dan berniat untuk keluar.


Hanya bisa berharap akan ada seseorang yang menolong mereka di situasi kacau seperti ini, orang lain juga kesulitan juga memikirkan bagaimana caranya untuk hidup, sedikit orang yang berpikir untuk menolong sesama.


Rasa ketakutan dan panik mendominasi diri mereka, sehingga tidak pernah terlintas dipikiran mereka untuk membantu sesama, terkecuali mereka memiliki tujuan untuk menolong.


Mata Rai bergerak ke sekeliling dan mencari sesuatu yang penting di sini.


Ujung kertas timbul di balik koper yang usang di lantai, Rai sadar dengan ini dan dia berjongkok dan memeriksa kertas tersebut.


Mengangkat tas koper rusak dan penuh debu, dia mengambil secarik kertas robek, dan mulai membacanya.


Dia mengangguk setelah membaca secarik kertas ini, tanda bahwa dia telah mengerti kenapa semua ini terjadi di kamar ini.


Pada intinya, mereka bertiga menunggu pertolongan dari pemerintah kota Lhee, namun saat ditunggu beberapa hari lamanya bahkan beberapa bulan, mereka tak kunjung didatangi oleh utusan dari pemerintahan.


Kasus ini tidaklah berbeda dengan orang yang ada di kamar tempat pertama kali Rai muncul.


Orang itu juga sama pilihannya dengan mereka bertiga, dan akhir hidupnya pun sama.


Jika dipikir-pikir lebih baik seperti ini, karena setidaknya dia tidak merugikan orang lain.


Saat kita terinfeksi pasti kita akan menularkan virus lagi ke manusia yang masih hidup.


Pilihan mereka yang mati kelaparan lebih baik dibanding menjadi monster.


“Aku menghargai orang-orang ini, walau terdengar pengecut, tapi ini adalah pilihan yang baik,” gumam Rai sambil menatap tengkorak putih yang menempel di tembok dinding dan lantai.


Melipat kembali secarik kertas, dia memasukkan kertas itu ke dalam tas.


“Jejak sepatu yang ini mengarah ke kamar, jadi apakah ada yang sempat untuk pergi ke sini?“


Dipikirkan lagi, jejak sepatu ini membawanya ke tempat ini, berarti ada seseorang yang ingin pergi ke sini.


“Apakah mereka kembali lagi dan tidak ingin masuk ke kamar ini? Apakah mereka tahu bahwa di sini ada mayat saja?“


Mungkin jejak sepatu yang bercabang ke arah lain masihlah pemilik yang sama, mereka kembali lagi dan melanjutkan ke gedung berikutnya.


“Kemungkinan seperti itu,” gumam Rai yang berniat untuk kembali melanjutkan perjalanan mengikuti jejak sepatu.


Memastikan bahwa tidak ada lagi barang yang masih tersisa, Rai segera keluar dari kamar dan pergi ke jejak sepatu yang bercabang ke arah yang lain.


Turun ke lantai dasar, Rai langsung berbelok mengikuti jejak sepatu yang mengarah ke suatu tempat.

__ADS_1


Dengan senternya menerangi jejak sepatu, membuat Rai mudah mengikutinya.


Berjalan melewati beberapa gedung, Rai tidak melihat jejak ini berhenti di suatu tempat.


“ Jauh sekali mereka kabur,” kata Rai sambil berjalan mengikuti jejak sepatu yang tidak ada ujungnya.


Sudah beberapa gedung dia lewati demi ikut jejak sepatu ini.


Hingga akhirnya dia sampai di sebuah bangunan besar dan tinggi seperti seperti gedung suatu perusahaan besar, karena masih ada logo di atas gedung meski tidak terlalu jelas.


Jejak sepatu ini membawa dia ke gedung besar ini yang memiliki lantai yang banyak menjulang tinggi ke atas.


“Kau yakin akan pergi ke sini, Kuro?“ Rai bertanya pada Kuro yang bertengger bagai burung di bahunya.


'Miaw!' Kuro mengangguk seraya menatap gedung di depannya.


Karena Kuro setuju untuk maju ke depan, Rai juga yakin dengan masuk ke gedung tinggi ini.


Berjalan di halaman parkir yang tidak begitu luas, dengan di samping kanan dan kiri area gedung terdapat bangunan bertingkat lagi. Ini adalah sebuah gedung berhalaman parkir sedikit luas yang diapit oleh bangunan bertingkat yang minim lahan parkir.


Kebanyakan deretan dan barisan bangunan di Kota Lhee Pusat sangat berdempetan, akan sulit untuk parkir mobil atau kendaraan lain.


Gedung yang memiliki halaman parkir lebih luas, sudah dipastikan gedung ini sebuah perusahaan besar atau notabenenya adalah perusahaan elit atau penting.


Berdiri di depan pintu masuk yang gelap, Rai mencoba mendorong pintu kaca ini, tetapi itu tidak terbuka saat Rai mendorongnya.


“Pintu sensor otomatis?“ Rai memandangi pintu tinggi penuh kaca dengan kerangka besi di sisinya.


Pintu yang akan terbuka saat seseorang datang, lebih tepatnya terdapat sensor yang akan membukakan pintu saat orang datang karena terdeteksi sensor tersebut.


Gerakan pintu terbuka bukanlah ke belakang atau maju, seperti pintu supermarket di Indonesia pada umumnya, melainkan tergeser sendiri ke samping.


Jikalau listrik mati total, itu tidak akan berfungsi. Kasus inilah yang terjadi pada pintu di depan Rai.


Menundukkan kepala untuk melihat ke bawah, di lantai terdapat jejak sepatu yang terkena tanah basah.


“Sepertinya mereka juga ke sini,” gumam Rai melihat ke arah jejak sepatu tercetak di lantai.


Banyak jejak sepatu yang tergabung dan membuat pola acak, tetapi untungnya Rai masih dapat melihat arah mereka pergi setelah mereka linglung di sini.


Walau agak samar, Rai bisa melihat jejak sepatu mereka, dan ia mulai mengikuti jejak sepatu lagi.


Tap! Tap!


Suara langkah kaki terdengar dari sepatu Rai, dia masih fokus mengikuti jejak sepatu.


Tak lama dia berhenti di depan sebuah kaca yang ada di samping kanan gedung, ternyata kaca ini telah hancur dan rusak, kaca yang sebagai jendela, namun dengan ukuran yang besar yang terdapat di sisi gedung.


Tanpa Ragu Rai masuk melangkahi bekas pecahan kaca yang masih menempel dan berdiri tegak. Tidak terlalu tinggi dan mudah untuk dilangkahi, jika terkena pecahan kaca itu seseorang pasti akan terluka, tidak menutup kemungkinan akan mendapatkan luka berat.


“Ruangan ini cukup mewah walau di situasi seperti ini.“


Sebuah ruangan yang dipenuhi barang mewah yang rusak, meja kaca yang hancur, meja marmer, dan lainnya.


Ruangan ini memiliki dinding marmer yang tinggi, namun kemewahannya telah berkurang sebab telah dirusak oleh lumut dan tanaman yang menempel.


Jejak sepatu masih terdapat di sekitar sini dan Rai terus mengikutinya.


Kali ini jejak sepatu benar-benar mengarah pada tangga darurat dalam gedung, tidak ada cabang lain.


Rai menaiki tangga darurat dan pergi ke lantai atas.


Jejak sepatu sudah mulai samar-samar, dan Rai cukup kesulitan untuk melihat jejak ini.


Pada akhirnya jejak sepatu menghilang di lantai lima gedung ini.


“Ke mana lagi mereka? Jejak sepatu menghilang di sini dan tidak ada lagi jejak yang terlihat.“ Rai berkata sambil memandangi ruangan sekitar.


“Aku harus mengeksplorasi tempat ini dan menemukan mereka.“

__ADS_1


Menoleh ke arah kanan lorong, Rai berjalan untuk menjelajahi bagian kanan lantai.


__ADS_2