LINEUSS ATTACK (SYSTEM)

LINEUSS ATTACK (SYSTEM)
Bab 31: Monster Huuzer Berekor


__ADS_3

Baru berjalan beberapa langkah Rai mendengar suara minta tolong dari arah belakang.


Membalikkan tubuhnya, Rai melihat seseorang pria yang berlari di lorong bagian kiri hendak menuju di sini.


Belakang pria itu ada sesuatu yang merangkak cepat hendak menjangkau pria ini untuk membunuhnya.


“Tolong! Tolong aku!“ Pria itu meminta tolong dan berupaya lari sekuat tenaga dari kejaran monster di belakangnya.


“Salah satu tiga pemuda tadi, kan?“ Rai masih ingat sosok dari tiga pemuda yang dia bantu sebelumnya.


Pria yang sedang berlarian ke arahnya adalah salah satu dari mereka, pria ini ialah yang paling pendek dari yang lain.


“Hei! Kau yang ada di depan! Tolong aku!“ Pria itu terus berteriak minta tolong dari lorong yang panjang ini.


Rai dengan pria ini masih ada jarak yang cukup jauh sekitar puluhan meter.


Saat Rai hendak bergerak, monster di belakangnya meningkatkan kecepatan merangkaknya dan berhasil menyusul pria itu.


Kraaahhhh!


Kaki yang merangkak itu bergerak cepat, dengan cakar yang melekat pada kaki, diayunkannya dengan kecepatan yang tinggi.


Merasakan angin dari sesuatu yang berayun, wajah pria itu langsung berubah, kepanikan ditampilkan sangat jelas dengan mata yang melotot hampir keluar ke arah Rai.


“Sial!“


Hanya kalimat itu yang diucapkan oleh pria sebelum kematiannya.


Cakar itu mengenai punggungnya dan membelahnya hampir terpisah.


Tas yang ada di punggungnya ikut terpotong hingga mengeluarkan isian di dalamnya.


Darah menyemprot ke udara, menyebar ke segala ruangan yang ada di dekatnya.


Dengan bersimbah darah, pria itu terjatuh dan menghantam lantai ubin.


Kondisinya belumlah mati, namun masih dalam keadaan sekarat tanpa bisa melakukan perlawanan apapun.


Tidak sampai di situ, monster ini menurunkan tubuhnya untuk menjangkau kepala pria tersebut.


Membuka mulutnya yang lebar serta gigi yang runcing, monster itu menggigit kepala pria itu sampai tercabut dari tubuhnya, seolah itu adalah tanaman yang dicabut dari tanah.


Darah merah yang pekat keluar dari leher tanpa kepala, dan terus mengucur keluar menggenangi lantai di depannya.


Monster ini langsung mengunyah kepala pria itu di mulutnya, terlihat sama dengan manusia mengunyah makanan yang keras, butuh usaha untuk bisa menelan.


Krahhh!


Setelah menelan kepala pria itu, monster ini memandang ke arah Rai dan meraung kencang kepadanya, seakan dia sedang memprovokasi Rai.


Rai menaikkan salah satu alisnya terheran.


“Monster ini menantangku? Satu ekor Big Huuzer Crawler seberani ini?“


Sebagai orang yang telah banyak membunuh monster, Rai hanya bisa tersenyum melihat tingkah makhluk jelak tanpa kecerdasan ini.


Krak! Krak!


Tiba-tiba tubuh pria tanpa kepala itu bergerak dan bergetar hebat.


Kaki dan tangannya yang masih utuh mulai bergerak, sebuah perubahan yang aneh pada tubuh manusia si pria ditampilkan saat ini.


Sebuah daging perlahan tumbuh di ujung leher tidak berkepala tersebut, dalam beberapa nafas daging itu membesar hingga membentuk sesuatu.


Gumpalan daging yang membesar itu mulanya membentuk sebuah bola yang tidak sempurna, kemudian terus berubah hingga diakhir pembesaran gumpalan daging tersebut membuat kepala baru.


Kepala tanpa mata, hanya ada lubang hidung yang besar, dan mulut yang lebar.


Kaki dan tangan berubah menjadi empat buah kaki yang merangkak dan bercakar tajam, tampilan pria ini telah menjadi monster seutuhnya, serupa dengan monster yang membunuhnya.


“Sungguh? Proses bermutasi ditunjukkan di hadapanku?“ Rai terpesona dengan proses perubahan dari manusia ke monster yang jelek tanpa kecerdasan dan kebijaksanaan.


Pertama kalinya dia melihat secara langsung, ini menambah informasi baru untuknya.


“Ternyata tidah harus menggigit sedikit untuk penularan virus ini. Memakan satu bagian atau beberapa bagian tubuh korban juga dapat menularkan virus tersebut.“ Rai mengingat informasi ini dalan kepalanya sementara.


Tidak sama dengan zombie atau sejenisnya yang hanya boleh menggigit korban untuk menjadi zombie lagi, dan juga kebanyakan zombie pada film yang ada memakan daging hanya di bagian tubuh, dan bukan kepalanya.


Karena kepala itu adalah kelemahan atau vital dari zombie, oleh sebab itu banyak orang yang menyarankan untuk melukai kepala zombir supaya lebih cepat mati tanpa kita mengeluarkan usaha yang lebih.


Sementara, Huuzer Crawler ini tidak berlaku, semua akan menjadi sejenisnya apabila di gigit atau korban terkena serangan fisik dari mereka.


Tak peduli itu memakan setengah bagian tubuh atau hanya satu gigitan, korban akan menjadi monster sejenis mereka.


Penularan ini cukup kuat.


“Dua lawan dua?“ Rai memandangi dua monster di depannya.


“Aku tidak akan bergerak, biar Kuro yang menjadi lawan kalian.“ Rai tersenyum pada dua monster dan mengejek secara halus.


“Kuro, ada daging baru, kau sepertinya suka itu.“ Rai sedikit menolehkan kepala ke arah kanan, dan dia berbicara pada Kuro di bahu kanannya.


'Miaw!' Kuro mengangguk, dia memang suka dengan daging Huuzer Crawler.


Tentu dia tidak akan menolak jika diberikan daging jenis monster ini.


Kuro meloncat ke bawah, dan mendarat di lantai.


Berjalan dengan keempat kaki kecilnya, perlahan-lahan dia mendekati monster yang cukup jauh di depannya.


Semakin berjalannya waktu, setiap detiknya kaki Kuro melangkah lebih cepat, itu terus meningkat hingga akhirnya Kuro berlari dengan kecepatan penuhnya.


Di tengah dia berlari, dia mulai memasuki mode penyerangan.

__ADS_1


Tubuhnya mengalami perubahan selama berlari kencang dan saat tiba di depan mereka, Kuro sepenuhnya menjadi macan purba bergigi panjang dan tajam.


Roar!


Kuro melompat rendah dengan kecepatan cepat, hanya terlihat bayang samar yang melintas.


Cakar tajam dari telapak kaki Kuro menebas salah satu kaki dari dua monster ini.


Krahh!


Mereka menjerit kesakitan, namun kaki mereka segera bertumbuh kembali sangat cepat.


Kaki yang yang lain berusaha membalas serangan Kuro, tetapi kecepatan mereka bergerak sangat lambat jika dibandingkan dengan Kuro.


Kuro menghindar, menyerang, menghindar, dan menyerang secara intensif sampai akhirnya dua monster itu mengalami kerugian parah dalam pertarungan dua lawan satu ini.


Pertarungan itu banyak mengeluarkan jeritan yang dikeluarkan oleh dua monster jelek, Kuro sedikit kesal dengan mereka, dan ingin mencepatkan pengakhiran pertarungan.


Roar!


Dengan raungannya, Kuro kali ini di mode yang serius.


Matanya bersinar dengan warna yang dipancarkan dari pupil matanya, sedikit asap hitam keluar dari tubuhnya yang gelap.


Saat berikutnya, Kuro bergerak sangat cepat hingga hanya terlihat berbagai lintasan hitam samar-samar di sekitar dua monster ini.


Mereka tidak dapat melawan sama sekali dan hanya bisa menjerit kesakitan, mencoba menyerang pun tidak berguna, mereka hanya mengerahkan kemarahan dengan raungan.


Sepuluh menit berlalu, lorong yang gelap dengan cahaya yang minim kembali sunyi dan sepi.


Hanya ada nafas dari makhluk yang tidak dikenal dan nafas seorang manusia.


Bau darah menguasai lorong selama beberapa menit, itu berasal dari genang darah yang menempel di lantai serta tembok lorong.


Krek!


Bunyi renyah terdengar, seperti seseorang sedang memakan makanan yang renyah, namun sedikit keras.


“Kuro semakin kuat,” gumam Rai setelah melihat pertarungan Kuro dengan Big Huuzer Crawler.


Dengan lampu senternya Rai dapat melihat sosok Kuro saat mode yang serius.


Sesuatu seperti asap gelap keluar dari tubuhnya, dan itu membuat Rai terkejut.


Dugaan sementara, Kuro sepertinya tidak akan lama lagi untuk membangkitkan kemampuan selanjutnya.


“Kecepatannya meningkat saat asap gelap itu keluar. Apakah itu memang efek asap tersebut atau memang perasaanku saja,” kata Rai pada dirinya sendiri.


Dilihat dengan cermat, memang akselerasi kecepatan Kuro meningkatkan menjadi lebih cepat.


Cakarannya pun sama, itu ikut meningkat menjadi lebih kuat.


Entahlah itu belum tahu kebenarannya, Rai juga belum mendapatkan pengingat dari sisitem bahwa Kuro telah meningkat.


Tepat ketika Kuro sedang asik memakan potongan daging dari dua monster tadi, suara gemersik terdengar.


Kuro berhenti mengunyah dan mengangkat kepalanya melirik ke sumber suara.


Suara itu berasal dari ujung lorong kiri.


Kuro spontan memasuki kewaspadaan ekstra, alih-alih menjauh untuk menghindari serangan diam-diam, Kuro bergerak maju mendatangi asal suara.


Krrr …!


Suara geraman yang kasar semakin jelas terdengar oleh mereka berdua.


Karena tidak tahu makhluk apa di depannya, Rai mendekati Kuro yang masih terus maju langkah demi langkah.


“Berhenti, Kuro.“ Rai menepuk tubuh Kuro, “Kita jangan terlalu jauh dari pintu darurat, kita harus berhati-hati dalam segala kondisi, jangan ceroboh.“


Perkataan peringatan diucapkan oleh Rai ditujukan untuk Kuro yang telah berhenti berjalan maju.


Kuro hanya merespon mengangguk, tetapi matanya masih terpaku pada sesuatu yang ada di depan lorong kiri lantai ini.


Tak lama sesosok makhluk terlihat di balik kegelapan lorong, Rai segera mengarahkan lampus senternya ke arah makhluk itu.


Seketika Rai tersentak karena terkejut, karena di depannya terdapat sesosok makhluk yang belum pernah dia temui sebelumnya.


“Makhluk apa lagi ini.“ Rai bergumam kecil sambil mengawasi makhluk yang muncul ini.


Monster ini berjenis merayap atau merangkak, serupa dengan sebelumnya, namun memiliki perbedaan di antaranya.


Perbedaan paling mencolok ada pada ekor yang terbuat dari tangan manusia, ekor ini berbentuk layaknya ekor kalajengking yang naik ke atas, tetapi ini terbuat dari gabungan beberapa tangan manusia.


Tidak tahu bagaimana tangan manusia ini membentuk ekor kalajengking dengan ujungnya adalah sebuah cakar tajam dari lima jari manusia.


Kraaahhh!


Makhluk itu meraung ke depan, menunjuk pada Rai dan Kuro yang tidak jauh ada di depannya.


Segera makhluk ini merangkak cepat mendatangi mereka berdua.


Rai dan Kuro langsung memasuki mode bertarung.


Pedang Methuragon terbelah menjadi dua, dia genggam di kedua tangannya.


Grrr ….


Geraman Kuro semakin keras dikeluarkannya, dia memasang tubuhnya untuk siap melakukan perlawanan.


Makhluk ini sampai di depan mereka berdua dan melakukan penyerangan.


Ekor belakangnya tiba-tiba menyambar mereka berdua dengan sangat cepat.

__ADS_1


Duar!


Ekor itu menghantam lantai tempat Rai dan Kuro berada, mereka lebih cepat bereaksi dan mundur beberapa meter dalam dua kali lompatan.


Sebuah retakan tercipta dengan lubang yang hampir menembus ke lantai bawah.


“Ekor ini kuat!“ Rai sedikit tercengang melihat hasil benturan ekor itu ke lantai ubin beton ini.


Jika saja dia yang terhantam oleh ekor itu, dia tidak bisa memastikan bahwa dia akan baik-baik saja setelah itu.


Kraahh!


Monster itu kembali menyerang lagi. Sebuah serangan intensif dikerahkan, ekornya dengan cepat bergerak membidik Rai dan Kuro berada.


Rai dan Kuro berusaha menghindari serangan ini, mengandalkan kecepatan gerak mereka berdua, mereka masih bisa melewati ekor yang ingin menusuk mereka dengan cukup mudah.


Serangan ekor ini sangat cepat, mereka harus mengeluarkan kecepatan mereka masing-masing untuk tidak terkena serangan ini.


Tiga bayangan terus bergerak, serangan dan hindaran dilakukan oleh mereka bertiga, dengan kecepatan yang sulit dilihat oleh mata telanjang.


Boom! Boom! Boom!


Dinding lorong yang masih terbilang kokoh langsung dilubangi oleh ekor ini, kaca yang menempel pada dinding seketika pecah, lantai pun retak lebih banyak dari sebelumnya.


Lorong yang panjang ini porak porando oleh serangan bertubi-tubi dari monster berekor tanggan manusia.


Stamina monster ini sangat tinggi setelah beberapa menit melancarkan serangan, dia tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan.


Rai dan Kuro berupaya keras untuk menghindari lontaran ekor berbahaya ini.


Keduanya melakukan defensif dengan cara menghindar mundur menjauhi area serangan monster di depannya.


'Sial! Jika terus begini, lantai ini akan runtuh!' Rai berkata dalam hati.


Mata Rai terus terfokus pada tubuh monster dan masih menghindar tanpa menyerang.


Boom!


Dang!


Tiba-tiba Rai menahan serangan ekor ini dengan pedang disilangkan.


Ekor ini seketika menambah kecepatan serangan bahkan Rai sulit mengimbangkan, ekor itu dengan cepat meluncur pada tubuhnya.


Rai bereaksi cepat dan untungnya sempat menahan serangan.


Tangannya bergetar hebat saat benturan mendadak ini terjadi.


“Ughh!“ Rai menyeringai sedikit kesakitan.


Tangannya terasa sakit karena menahan serangan ini, Rai dengan sekuat tenaga menahan agar ekor ini tidak menusuk ke tubuhnya.


Pedang Rai bergetar disebabkan oleh tangannya yang bersusah payah menangkis serangan.


'Kekuatanku masih lemah.' Rai menyadari ini, dia masih kewalahan menghadapi monster di depannya.


Prang!


Pedang ditangan Rai terlepas, tangannya tidak mampu lagi menggenggam.


Ekor bercakar ini menuju tubuh Rai seketika dalam jarak dekat.


Di detik Rai ingin tertusuk, siluet bayangan meluncur cepat menabrak ekor ini.


Bam!


Ekor itu terhempas ke samping dan tidak jadi menusuk Rai.


Roarr!


Ternyata siluet hitam yang melintas cepat adalah Kuro si kucing hitam.


Luka cakaran panjang terdapat pada ekor itu, sebelum Kuro ingin memutuskan ekor ini, ekor itu ditarik kembali oleh monster di depannya.


Krahhh!


Monster ini berteriak marah, luka pada ekornya membuat dia sangat marah pada Kuro.


Pasalnya ini adalah penghinaan terhadap diri sendiri karena terluka oleh seekor kucing besar di hadapannya.


“Terima kasih, Kuro.“ Rai mengucapkan terima kasih pada Kuro karena telah membantunya melewati peristiwa berbahaya tadi.


Grrr ….


Kuro hanya mengangguk dan dia masih mengawasi monster di depannya.


Rai mengaktifkan kekuatan telekinesisnya untuk mengambil senjata yang terlempar ke belakang.


“Kita harus menyerang, Kuro, jika terus seperti ini kita akan sulit menang,” ucap Rai memegang salah satu pedang di tangan kanannya.


Perlahan pedang yang satunya melayang di samping Rai.


Kuro merespon mengangguk.


Mereka berdua menyiapkan pikiran dan fokus pada pertarungan kali ini.


“Kau siap, Kuro!“ Rai berseru seraya menatap monster di depannya yang juga bersiap bertarung.


Roar!


Raungan menggelegar keluar dari tenggorokan Kuro,.


“Ayo!“

__ADS_1


Keduanya berlari bersama menuju monster berekor tangan manusia.


__ADS_2