LINEUSS ATTACK (SYSTEM)

LINEUSS ATTACK (SYSTEM)
Bab 38: Bertemu Orang Asing


__ADS_3

Gedung yang telah dia periksa mengeluarkan bau yang tidak enak, bukan karena tidak ada alasan kenapa itu terjadi. Lima ekor Reek Huuzer Crawler ada di sana entah apa tujuan mereka di sana, bisa jadi ingin berkembang biak, namun Rai tak yakin monster semacam Huuzer Crawler bisa berkembang biak.


Selain Reek Huuzer Crawler yang mengeluarkan bau tidak enak, ada pula belasan Huuzer Crawler biasa. Lumayan hasil yang dia dapatkan, walau tak begitu banyak yang terpenting dapat.


Membenarkan masker mulut di wajahnya, memeriksa perlengkapan di tubuhnya, memegang pedang Methuragon di tangannya, berjalan kembali ke jalur utama sambil Rai melihat kompas pada ponselnya.


Berbeda dengan yang lain, orang-orang kebanyakan mencari perbekalan pada setiap perumahan atau pun tempat tinggal yang sejenisnya, tetapi Rai berbeda dia sama sekali tidak mencari perbekalan, apa yang dia cari adalah informasi mengenai dunia ini.


Melihat kerusakan yang ditunjukkan pada kota ini dan beberapa tumbuhan yang menempel lebat di setiap bangunan, dengan ini saja Rai dapat menduga bahwa kota ini telah ditinggalkan oleh penduduk yang masih hidup selama beberapa tahun.


Sudah tidak mungkin untuk mencari perbekalan yang dapat dikonsumsi secara layak. Selama perjalanan ini pun Rai menemukan banyak supermarket tapi dia tidak melihat ada barang yang dapat digunakan, mau itu makanan, minuman, dan alat.


Akan tetapi, ada yang membuat Rai bingung masalah makanan ini. Dipikir lagi ia pernah melihat tulang ayam berserakan di mall yang telah lama dia jelajahi, sampai saat ini ada satu pertanyaan yang selalu terngiang-ngiang di dalam kepalanya.


Dari mana makanan itu berasal?


Ini gila, selama perjalanan yang jauh yang Rai tempuh, ia sama sekali bahkan tidak sekali pun menemukan makanan yang masih bisa dikonsumsi secara normal.


Semua makanan yang dia temui telah rusak kemasannya.


Sekali pun ada, makanan itu sudah di masa tak bisa dikonsumsi atau expired date.


Jika kita berpikir secara logika, orang-orang di sini seharusnya sangat sulit untuk mendapatkan makanan, tapi kenapa mereka bisa hidup.


“Sebagian besar gedung dan bangunan yang aku temui, aku belum pernah menemukan makanan yang sekiranya bisa dimakan.


Tapi aku heran dengan tiga orang yang aku temui, dalam tasnya terdapat makanan yang dibungkus kain."


Makanan itu adalah daging, tapi Rai tidak tahu daging apa.


Apa mungkin mereka semua memakan daging monster seperti Kuro?


“Pusing jika memikirkan ini, lebih baik fokus pada jalan.“ Rai memegang kepalanya dan menggelengkan kepala.


Pikiran Rai pergi ke mana-mana, dia bahkan memikirkan sebuah permainan yang sangat terkenal di kehidupan sebelumnya, permainan yang bertema dunia akhir atau apocalypse.


Pada saat memainkan permainan itu, kita akan menggerakkan karakter utama dan salah satu karakter yang lain, tapi bukan itu yang menjadi permasalahan.


Permasalahannya adalah Rai tidak melihat mereka makan atau minum, kalau pun mengambil barang, itu hanya mengambil bagian untuk meningkatkan senjata, bukan makanan.


Sudahlah ia tidak akan pernah tahu jika terus menebak dan berpikir tentang kemungkinan.


“Langit sudah mulai gelap.“


Rai menatap matahari yang telah turun, posisinya tidak ada di atas kepalanya lagi.


Langit tak lagi cerah, gelap perlahan menguasai langit yang berawan.


“Kita harus pergi ke gedung terdekat, Kuro.“ Rai berkata pada Kuro yang ada di bahunya.


Miaw!


Kuro melompat ke bawah, lalu dia bertransformasi menjadi kucing besar dengan taring besar dan tajam yang keluar dari moncongnya.


Grrr …!


Segera Rai menaiki punggung Kuro dan duduk dengan nyaman.


“Hap!“


Bulu Kuro sangat lembut saat menjadi bentuk kucing yang besar ini, jika tak ada tenda kemah nampaknya dia bisa tidur di atas tubuh Kuro, inj sangat nyaman.


“Ayo, Kuro segera lari!“ Rai berseru sambil mengangkat pedangnya ke depan.


Roar!


Kuro bergegas berlari sangat cepat mengikuti jalur jalanan yang semakin jauh semakin rusak.


Angin kencang menyapa Rai membuat tudung hoodie dan rambutnya yang telah memanjang menutupi telinga langsung berkibar.

__ADS_1


Wajah tegas dan tampan ditampilkan saat ini, jika kita lihat dengan detail, kita dapat menemukan rasa kebebasan dari sosok Rai yang duduk di atas Kuro.


Rintangan demi rintangan Kuro lewati dengan cara yang kreatif dan cukup bergaya. Seruan keluar dari Rai saat Kuro melakukan manuver yang kece, sebab ia merasa sedang menaiki wahana Rollercoaster.


Lebih dari setengah jam Kuro berlari, mereka berdua sampai di depan sebuah gedung yang tidak begitu tinggi, tetapi bangunannya masih bagus dan kokoh tidak ringkih.


Kuro telah lama menjadi anak kucing sebelum sampai di gedung di depannya sekarang, hal itu adalah suruhan Rai yang merasa bahwa Kuro tidak perlu berlari lebih jauh lagi.


Alasannya yang tepat ialah Rai telah memperhatikan bahwa gedung di sini sudah semakin banyak yang berdiri dibandingkan jalan yang sebelumnya, terlebih Rai dengan jelas melihat jalan layang yang runtuh tidak jauh dari gedung tempat perhentian mereka.


Pada saat Rai dan Kuro sampai di sini, semua tindakan Rai diperhatikan secara alami oleh dua pasang mata di dalam gedung, lebih tepatnya di salah satu lantai di gedung yang ingin Agler masuki.


“Kau pernah melihat orang itu di kota ini?“ Seorang pemuda dengan rambut acak-acakan memakai kaos abu-abu dan celana panjang yang memiliki kantung yang banyak sedang bertanya pada pemuda yang ada di sampingnya.


Mendengar pertanyaan ini, pemuda itu menjawab, “Tidak, aku belum pernah melihat orang yang seperti itu, Flank.“


Pemuda yang bertanya memiliki nama Flank.


Dari perawakannya, sangat jelas bahwa Flank adalah asli orang dunia ini, baju abu-abu yang lusuh, serta tas yang sedikit rusak.


Memegang besi yang memiliki ujung runcing, Flank berdiri dan menghadap pemuda yang menjawab pertanyaannya ini.


“Kita harus mengetahui orang ini, Loret.“ Flank memandang pemuda yang masih memandangi Rai di depan gedung.


Menoleh ke arah Flank, pemuda yang bernama Loret membalas ucapan Flank, “Aku juga setuju, siapa tahu orang ini bisa membuat kita mendapatkan hasil yang baik.“


Loret mengangguk beberapa kali pada Flank, tanda dia setuju dengan pemuda di depannya.


Tampilan Loret seperti seorang pemuda berusia sekitar 25 tahun ke atas, tidak tampan dan jelek, biasa saja bentuk wajahnya, tak ada yang menarik. Terdapat jejak kotoran tanah dan debu di sekitar wajahnya, mungkin dia belum membasuh wajahnya seharian ini.


Loret mengenakan baju biru lengan panjang yang berbeda dengan Flank berlengan pendek, tapi sudah sangat lusuh dan terdapat sobekan di sekujur pakaiannya.


Celananya sama dengan Flank, mereka tampaknya mengambil pakaian ini bersama. Selain itu juga, sepatu yang mereka berdua kenakan sama bentuk dan modelannya.


Tak diragukan lagi, keduanya memang kompak.


“Jangan gegabah, kita harus berikap baik dan ramah dengan orang ini. Kita harus memberikan respon yang baik serta kesan yang baik bagi orang itu.“ Flank berkata dengan serius pada Loret.


“Ayo kita sambut orang ini.“


Flank berjalan keluar dari salah satu kamar di gedung ini meninggalkan Loret yang masih di dalam.


“Tunggu, Flank!“


Memanggil Flank yang telah keluar dari kamar, Loret berlari mengejarnya.


“Kau merasakan itu, Kuro?“ Rai yang berjalan seiringan dengan Kuro di sampingnya menuju gedung tempat dua orang yang sebelumnya berada.


Miaw!


Kuro mengangguk cepat, dia juga merasakan apa yang dimaksudkan oleh Rai.


Keduanya merasakan sebuah kehadiran dua orang di dalam gedung ini. Tepat saat mereka sampai di depan gedung, dua sosok yang berdiri tegap muncul dan menghampiri mereka dengan perlahan.


“Halo!“ Pemuda berambut hitam dengan baju abu-abu pendek melambaikan tangan pada Rai dan menyapa.


Melihat dua orang ini, Rai segera mengencangkan pegangan pada senjatanya, dan matanya bergerak ke masing-masing dua orang ini.


“Tidak perlu berwaspada, aku sama denganmu.“ Pemuda yang berbaju biru berkata dengan senyum ramah.


“Siapa kalian?!“ Rai bertanya dengan lantang sambil mempertahankan sikapnya yang masih waspada.


Kedua pemuda ini saling memandang dan mereka berdua bersamaan meletakkan senjata mereka ke dalam belakang punggungnya.


“Kita berdua adalah seorang pejuang, sama sepertimu,” jawab Pemuda berbaju abu-abu yang masih mengeluarkan tampilan yang ramah dan baik hati.


“Benar, kita seorang pejuang yang bersama melawan monster di sini dan terus berusaha bertahan hidup di dunia yang telah rusak ini.“ Pemuda berbaju biru berkata dengan ekspresi yang sedih.


“Perkenalkan, namaku Flank.“ Pemuda berbaju abu-abu mengulurkan tangannya pada Rai, berniat untuk berkenalan dengannya.

__ADS_1


Mata Rai bergerak pada kedua wajah ini, mencoba mencari kemunafikan dari mereka berdua.


Tapi, setelah beberapa menit Rai tidak merespon dan masih terpaku pada sosok kedua pemuda ini, ia tak dapat menemukan kebohongan di antara keduanya.


Suasana terasa canggung dan kaku, saat Rai memandangi dua pemuda ini.


“Rai,” kata Rai lalu berjabat tangan dengan pemuda bernama Flank.


Sosok Flank jauh lebih tua ketimbang Loret, pasalnya terdapat janggut di wajah Flank.


“Salam kenal, Rai.“ Flank tersenyum pada Rai.


Setelah itu, Rai melepaskan tangannya dari genggaman tangan Flank.


“Kenalkan, aku adalah Loret.“


Kali ini Pemuda berbaju biru lengan panjang menjulurkan tangannya kepada Rai.


“Rai.“


Respon Rai tetap sama dengan sebelumnya, nampak sangat dingin.


Loret dan Flank menggaruk kepalanya menatap Rai di depannya. Sepertinya orang yang dia temui sekarang ini sangat sulit diajak bicara.


“Daripada berdiam diri di sini, lebih bagus pergi ke tempat kita ke atas.“ Flank mengajak Rai untuk pergi ke atas.


Di atas terdapat tempat mereka berdua tinggal beberapa hari ini.


Tempat yang cukup nyaman bagia mereka berdua, setidaknya aman dari para monster.


Respon Rai terhadap ajakan ini adalah gelengan kepala yang berarti penolakan.


Alih-alih ke atas, Rai berjalan ke bagian barat gedung ini, berniat untuk pergi menjelajahi gedung ini.


“Percuma saja, tidak ada apa-apa di gedung ini, kita berdua sudah membersihkan gedung ini dari beberapa monster yang masih hidup,” ujar Loret pada Rai yang hendak berjalan ke koridor kiri lantai dasar gedung.


Langkah Rai terhenti, lalu ia berbalik badan menatap Loret. “Benarkah itu? Kau mendapatkan apa di sini?“


Nada dingin terkandung dalam pertanyaan yang Rai ajukan, tatapan sedikit rasa tajam terasa saat Loret melihat kembali mata Rai.


“Kau ingin tahu apa yang kita dapatkan dari gedung ini?“ Loret bertanya sambil memiringkan kepalanya.


“Ya?“ Satu alis Rai naik ke atas dan membalas.


Flank tersenyum sembari menggelengkan kepalanya, dan ia perlahan berjalan ke arah Rai.


Tanpa persetujuan dari Rai, tangan Flank merangkul Rai dan dia tertawa, “Kita akan memberitahukan apa yang kita dapatkan dari gedung ini kepadamu, tapi tidak enak berbicara di sini, lebih baik kita ke atas.“


Flank tetap terus mengajak Rai untuk ke atas, wajahnya masih terlihat ramah tanpa ada jejak kejahatan.


“Ada apa di sana?“ Rai melepas rangkulan Flank yang sok asik ini.


Mendengar pertanyaan Rai satu ini, membuat Loret tak berdaya dan menggelengkan kepala.


Nampaknya Rai orang yang tidak bisa bergaul dan bersosialisasi, setiap tindakan yang terlihat kaku dan hati-hati.


“Di sana ada beberapa informasi, mungkin kau butuh informasi itu.“ Flank masih menahan emosinya terhadap respon Rai yang dingin ini. Jika itu orang lain mungkin Flank sudah memukulnya dengan sekuat tenaga.


“Oke,” ucap Rai mengangguk.


Setelah diperhatikan lebih jauh sikap mereka berdua, Rai tidak menemukan sesuatu yang aneh atau mencurigakan. Tapi ada sesuatu yang mengganjal dari sikap mereka, yakni terlalu memaksa dia untuk pergi ke atas.


Namun, ketika dia melihat lagi senjata yang mereka tempelkan di punggungnya, sepertinya ingin berteman dengannya.


Tetap saja Rai harus berhati-hati dengan kedua orang asing ini.


“Baiklah kalau kau mau, kita ke atas sekarang, ikuti aku.“ Flank berjalan terlebih dahulu menuju tempat tangga darurat berada.


Diikuti oleh Loret, kemudian Rai bersama Kuro yang sedari tadi diam mengawasi mereka berdua.

__ADS_1


Tampaknya sekarang Rai akan memiliki teman lagi.


__ADS_2