
“Pahit rasanya!“ Lara sedikit berteriak dan mengeluarkan lidah ingin membersihkan lidahnya secara manual.
Rai mengulurkan tangannya dan mengambil botol air minum yang ada di atas meja menggunakan kekuatan Majestic of Mind miliknya tanpa diketahui oleh Lara.
“Minum ini,” Rai berkata sambil meletakkan air mineral botol di tangan Lara.
Mengetahui di tangannya ada air minum, dengan sigap Lara menyesapnya untuk menghilangkan rasa pahit.
“Kenapa kamu minum air yang bernama kopi itu? Kamu tidak kepahitan?“ Lara terheran dengan Rai dan menatapnya dengan aneh.
Bagi orang yang awam dan tidak kenal atau pun dekat dengan kopi seperti Lara, mereka pasti tidak menyukai minuman ini. Wajar saja apabila Lara bereaksi tidak suka semacam ini.
Sementara itu, Rai menyukai semua jenis kopi, bahkan semua minuman, jamu pun Rai suka. Kopi hitam memiliki rasa yang kuat dan enak baginya, cocok untuk bersantai di pagi hari sambil menghirup udara yang segar.
“Minuman ini enak, membuat pikiran tentram,“ jawab Rai ringan sembari menyesap kopinya.
Rai tidak tahu bahwa lirikan mata Lara tertuju pada bibir cangkir bekas minumnya tadi yang sekarang menjadi bagian yang disentuh bibir Rai saat menenggak air kopi.
Dengan kata lain, keduanya berciuman secara tidak langsung.
Lara menyadari hal ini dan pipinya memerah, kemudian ia membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju tempat tidur dengan tangannya yang masih memegang botol air minum.
Di dalam hatinya Lara bergumam dan mengutuk, “Rai bodoh! Kenapa minum kopi di bagian bekas aku minum tadi! Dasar pria mesum! Huft! Pria bodoh dan tidak peka! Kalau begitu berarti kita ciuman secara tidak langsung! Emangnya aku mau berciuman denganmu?!“
Duduk di atas kasur, Lara masih mengutuk Rai, tetapi pipinya makin memerah dan marahnya perlahan menghilang, digantikan oleh rasa malu dan tersipu. “Dasar, Rai yang bodoh! Untung saja aku tidak langsung menampar wajah tampanmu barusan, kalau begitu lagi mungkin aku tidak akan menampar, melainkan … mencium, eh! Tidak-tidak! Bukan itu! Aaaa!! Kenapa pikiranku seperti ini!“
Lara menepuk-nepuk pipinya sambil menginjak lantai dengan cepat.
Rai memerhatikan tindakan Lara yang aneh ini, dan ia hanya merespons dengan gelengan kepala, lalu berjalan menghampiri tempat tidur.
“Bangun, ini sudah pagi, Kuro.“ Rai berdiri di depan kasur seraya sesekali menyesap kopi di tangan kanannya.
Mendengar seruan Rai, Lara pun tersadar dari lamunannya yang penuh dengan kutukan pada Rai dan ia menyaksikan Rai yang sedang mencoba membangunkan Kuro.
Tangan kiri Rai terulur, menyentuh perut kecil Kuro dan sedikit menggoyangkannya.
Merasakan sesuatu yang sedang mengganggunya, Kuro pun terbangun tidak lama kemudian.
Kuro meregangkan tubuhnya sambil menguap, layaknya orang yang menguap sehabis bangun dari tidurnya.
“Ayo, kita akan sarapan, daging monster milikmu masih banyak.“ Rai berbalik dan berjalan ke meja makan. “Kamu juga, ayo makan!“
Ucapan tersebut ditujukan kepada Lara yang sedang asyik memandangi wajah Rai.
__ADS_1
“Siap, Komandan!“ Lara telah menyingkirkan amarahnya, dan berdiri sambil berpose layaknya menghormati seorang komandan.
Kemudian Kuro dan Lara meninggalkan kasur dan berjalan ke tempat meja makan.
Mereka bertiga duduk di tempat yang sama seperti semalam.
Rai telah menempatkan tasnya di atas meja dari awal ia terbangun dari tidurnya. Ritsleting tasnya Rai tarik hingga tas tersebut terbuka, dan ia mengeluarkan dua makanan dan dua jus semangka, tidak lupa mengeluarkan potongan daging monster kesukaan Kuro.
Setelah meletakkan makanan tersebut pada tempatnya, mereka bertiga mulai sarapan pagi sebelum melanjutkan perjalanan.
Kini wajah Lara tampak bahagia dan cerah, terlebih ketika ia mencuri pandangan pada Rai yang fokus menyuapkan makanannya.
Lara merasakan kebahagiaan dan kehangatan saat ini, ingin rasanya momen seperti ini dirasakan olehnya setiap saat.
Sambil makan, Lara berpikir di dalam hatinya dan bertanya-tanya, apakah sebelum dunia hancur para manusia hidup damai seperti ini? Jika iya Lara ingin sekali dunia ini kembali seperti dulu lagi.
Dunia tanpa monster, kesengsaraan, cemas dan ketakutan sepanjang hari, dan pengorbanan yang banyak. Dunia yang Lara dambakan sejak dahulu, sejak kejadian yang kelam menimpa hidupnya.
“Kamu kenyang, Rai?“ Lara bertanya sambil bersandar di kursi.
Rai melihat Lara, menganggukkan kepalanya dan menjawab, “Lumayan.“
Makanan sarapan pagi ini adalah nasi kebuli daging kambing.
“Cobalah,” kata Rai yang masih mengunyah potongan daging kambing yang terakhir.
“Woah! Dingin!“ Lara berseru ketika memegang gelas ini.
“Kalau begitu aku akan meminumnya.“ Lara mengarahkan gelas tersebut ke mulutnya dan ia meneguknya pelan-pelan.
Rasa manis dan aroma wangi khas buah semangka terjun ke tenggorokannya, mendorong makanan yang masih tersangkut di kerongkongan Lara.
Kesegaran yang tak terlukiskan mengguyur tubuhnya, dan Lara menyesap minumannya sampai habis tanpa tersisa setetes air pun.
“Aaahh~ minuman ini segar dan enak sekali!“ Lara menatap gelas plastik yang telah kosong dengan rasa rindu.
Sejujurnya, Lara ingin minum jus ini lebih banyak lagi, tetapi jus semangkanya telah habis.
Melihat Lara yang terus menatap gelas kosong di tangannya, Rai langsung mengerti dan ia menyerahkan jus semangkanya yang baru diminum sedikit olehnya.
“Ambillah, aku sudah tidak haus lagi.“
“Tidak usah, aku tidak menginginkannya,” kata Lara sambil menggelengkan kepalanya dan melambaikan tangannya.
__ADS_1
“Minum saja, aku ingin bersiap-siap untuk melakukan perjalanan.“ Rai bangkit dari duduknya dan berjalan menuju sambil menjinjing tasnya.
Dia berhenti di samping kasur dan mengambil hoodie yang ada di atas meja kecil samping kasur.
Lara memandang bolak-balik antara Rai di kejauhan dan jus semangka di depannya, ia bimbang ingin meminum jusnya atau tidak.
Selang beberapa menit pertimbangan, dan juga pengaruh dari pertahanannya yang telah hancur untuk tidak minum jus bekas Rai, Lara akhirnya meminum jus semangka Rai dengan tegas.
Gluk! Gluk! Gluk!
Rai yang tengah merapihkan hoodienya yang sudah dipakai tersenyum kecil mendengar suara seruputan dari minumnya Lara.
Setelah memakai semua perlengkapannya, Rai siap untuk berangkat melanjutkan perjalanan melewati gunung yang menghalangi kota besar Mopulu.
“Kalian sudah selesai bersiap-siap?“ tanya Rai pada Kuro dan Lara di dekat meja makan.
“Ya, aku sudah siap!“ Lara mengangguk semangat.
'Miaw!'
Kuro juga ikut menyahut dengan mengeong penuh ketegasan.
“Baiklah, kalian berdua keluar lebih dahulu, ada yang sesuatu yang harus aku lakukan sebentar sebelum keluar.“
“Baiklah, ayo, Kuro!“
Lara dan Kuro keluar dari tenda kemah meninggalkan Rai yang masih di dalam.
Melihat keduanya telah keluar dari tenda, Rai langsung membuang sampah plastik bekas makan semalam dan pagi ini ke dalam lubang hitam yang muncul tiba-tiba.
Semuanya sudah bersih dan kasur juga telah lama dirapihkan oleh Lara, sudah saatnya untuk pergi.
Begitu Rai keluar dari tenda, dan menggulung tenda kemah tanpa melihat ke depan. Pundaknya berasa ada yang menyentuhnya dari belakang, ia pun melihat ke depan selepas meletakkan kembali gulungan tenda kemah di dalam tas.
Lara yang tengah menggendong Kuro kini membeku tidak bergerak, pandangannya menatap ke arah depan dengan mata yang melebar karena terkejut.
Pasalnya di depan mereka bertiga terdapat beberapa monster Huuzer spesies baru yang belum dikenal Rai.
Segera, dengan reaksi cepatnya, Rai memeluk Lara untuk membawanya keluar dari rumah dengan cara menghancurkan tembok kayu rumah dengan tangan kirinya.
Bruak!
Rai mundur belasan meter dari rumah yang ambruk tersebut dan langsung berdiri melihat banyaknya monster dengan jenis yang sama.
__ADS_1
“Monster apa lagi ini?“