LINEUSS ATTACK (SYSTEM)

LINEUSS ATTACK (SYSTEM)
Bab 80: Koleksi Foto Lara


__ADS_3

Rai mendadak menjadi fotografer profesional untuk Lara, pasalnya ia terus-menerus memintanya untuk mengambil dirinya sendiri, sudah lebih dari 100 foto yang telah Rai ambil, dan semuanya adalah foto Lara drngan berbagai pose.


Memang pada dasarnya sifat natural dan alami seorang wanita yang terpikat dengan suatu keindahan, terlebih lagi masalah gambar dan memotret diri atau selfie.


Tidak di Bumi saja, di sini juga wanita-wanitanya memiliki sifat alami yang sama.


Setelah sekian lama pemotretan berlangsung, Lara berhenti meminta untuk difoto dan kali ini ia ingin melihat semua hasilnya.


Rai menunjukkan hasil dari dirinya mengambil gambar kepada Lara.


Satu per satu gambar tersebut ditampilkan dan Lara terpesona dengan hasilnya. Sosoknya di dalam gambar sangat cantik bagaikan boneka yang hidup dan dipakaikan pakaian.


Bukan-bukan, Lara bagai peri yang dijatuhkan ke dunia ini.


“Semua foto itu juga harus kamu simpan, tidak apa-apa, kan?“ tanya Lara pada Rai.


“Oke, aku akan membuatkan folder yang isinya hanya koleksi foto-fotomu.“ Rai mengangguk dan segera membuat folder seperti yang dikatakannya.


Lara melihat fotonya yang telah dipisahkan dari foto pemandangan kota dan lainnya, dan itu di pindahkan ke dalam suatu tempat di ponsel Rai, isinya hanya ada foto dirinya saja.


Puas dengan apa yang dilakukan oleh Rai, dan Lara pun tersenyum manis sambil melirik Rai secara diam-diam.


Sebuah ide terlintas di dalam pikirannya dan segera Lara ungkapkan, “Rai, bagaimana kita foto berdua untuk dokumentasi dan kenang-kenangan?“


“Tidak,“ Rai menggelengkan kepalanya dan menolak tanpa berpikir panjang.


Mendengar penolakan Rai, Lara tertegun sejenak dan langsung menoleh ke Rai, ia pun bertanya penasaran, “Kenapa tidak mau? Apakah aku kurang cantik?“


Rai menggelengkan kepalanya, menarik napas ringan, dan menjawab, “Aku tidak suka difoto.“


“Kenapa seperti itu? Bukankah kamu itu tampan, lalu kenapa tidak suka dipotret?“ Lara mengeluarkan pertanyaan tersebut secara spontan.


Pertanyaan Lara terdengar jelas di telinga Rai, termasuk seluruh kata-katanya. Satu alis terangkat, dan ia menatap Lara tanpa berbicara.


Melihat Rai yang bereaksi seperti ini, Lara menutup mulutnya dengan kedua tangannya, ia baru sadar bahwa ia sudah menyebutkan kata “tampan” tanpa sadar.


Rai mengubah ekspresinya dan sedikit tersenyum. “Terima kasih, kamu juga cantik.“


“Eh, ya. Sama-sama.“


Setelah mendengar pujian Rai, Lara merasa berbunga dan manis di hatinya. Meskipun ini bukan yang pertama kali Rai memujinya, tetap saja perasaan dipuji oleh Rai tetap terasa luar biasa dan tak terlukiskan.


Pipinya memerah lagi sehabis dipuji oleh Rai dan ia tidak berani menatap pandangan Rai.


“Emm … lalu kita jadi berfoto bersama atau tidak?“ tanya Lara tanpa melihat wajah Rai dan masih menundukkan kepalanya.


Rai tidak langsung menjawab pertanyaan Lara dan ia berpikir beberapa detik.


“Baiklah,” balas Rai sambil mengangguk.

__ADS_1


“Tidak apa-apa?“ Lara menoleh dan bertanya dengan wajah yang tidak percaya.


“Ya, aku berubah pikiran.“ Rai mengangguk tegas.


“Ayo-ayo! Kita foto bersama!“ Lara langsung mendesak Rai dengan penuh semangat.


Ini kesempatannya bisa berfoto bersama dengan Rai, mumpung diri Rai belum berubah pikiran kembali.


Rai berdiri dan meletakkan ponselnya di atas meja, kemudian ia mengaktifkan mengambil gambar otomatis dan hitungan mundur dimulai.


“Kita harus berpose dengan cepat. Ayo, Rai!“ Lara melihat hitungan mundur di layar ponsel dan berdiri di depan ponsel Rai.


Melihat Lara yang gesit dan bersemangat, Rai hanya bisa tersenyum dan membiarkannya. Perlahan Rai berjalan ke samping Lara, tetapi tidak berdekatan, ada jarak di antara mereka berdua.


Sadar akan hal ini, Lara membuat rencana di dalam hatinya.


Tepat ketika hitungan mundur menunjukkan angka 1, Lara langsung berganti pose yang berdiri tegak menjadi berpose dua jari yang terlihat manis sambil mendekatkan diri kepada tubuh Rai.


Rai terkejut melihat tindakan mendadak Lara, tetapi ia tidak bergerak dan masih berpose hanya berdiri tegak sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku, wajahnya selalu datar bahkan dalam sesi berfoto.


Setelah selesai berfoto, Rai mengambil ponselnya dan melihat hasil gambarnya yang baru saja diambil.


“Aku terlihat bagus di sana, hehe.“ Lara mengangguk puas melihat dirinya di gambar.


Jujur saja, dirinya sangat cantik dan cocok bersanding dengan Rai yang tampan.


Lara mengangguk dan setuju tanpa berpikir lebih dahulu. “Simpan saja. Semuanya jangan dihapus, nanti kita akan mengambil gambar lagi.“


“Ya,” balas Rai singkat dan membuat folder lain untuk foto yang satu ini.


Goo!


Suara aneh terdengar di antara keduanya, dan Rai melihat ke arah Lar yang memiliki wajah yang sudah memerah bagai apel matang.


“Maaf~” Lara berkata malu sambil mencengkeram perutnya.


Rai peka dengan ini, lalu dia berjalan menuju meja makan dan membawa tas di tangannya.


Sekarang sudah waktunya makan malam, Rai menoleh ke arah Lara yang berdiri di sebelahnya dan berkata, “Kamu duduk, kita makan malam sekarang.“


“Baiklah,” sahut Lara dan ia menarik kursi yang saling berhadapan dengan Rai.


Rai mengeluarkan dua makanan dan dua kota susu ke atas meja. Mata Lara masih terpana melihat keajaiban Rai yang bisa mengeluarkan makanan layaknya tak pernah habis dari tasnya.


Makanan yang Rai keluarkan biasanya berbeda-beda, terkadang makanan khas dari Indonesia, dan terkadang makanan khas dari negara lain, seperti sushi, pizza, spaghetti, toppoki, tom yum, dan masih banyak lainnya.


Setelah mengeluarkan makanan untuk berdua, Rai mengeluarkan beberapa potongan daging monster untuk Kuro yang sedari tadi menunggu di atas meja.


Tanpa berlama-lama lagi, Rai dan Lara memakan makanannya selepas mengucapkan selamat makan.

__ADS_1


Semenjak Rai mendeklarasikan bahwa Lara adalah anggota timnya, ia bertindak dengan sangat bertanggungjawab. Ketika melakukan perjalanan sehabis keluar dari Talu Utara, dua hari perjalanan ini Rai memberi makan Lara ketika lapar.


Selain itu juga Rai berubah sikapnya kepada Lara dan sekarang terasa lebih tidak kaku dan dingin, perlahan dirinya terbuka terhadap kehadiran Lara.


Tidak tahu kenapa Rai bisa berubah sikapnya secara perlaha seperti itu, mungkin saja karena sifat Lara yang ceria dan selalu mengajak berinteraksi dengan Rai.


Selama dua hari setelah meninggalkan kota Talu Utara, Rai selalu memperhatikan gerak-gerik Lara dan memindainya walaupun ia sudah menganggap Lara seorang anggota.


Antisipasi dan waspada masih diperlukan, Rai pun tidak bisa mempercayai orang asing dengan cepat.


Masih memegang prinsipnya yang tidak ingin mengandalkan orang lain dan bergantung dengan orang lain, dia cukup mengandalkan diri sendiri untuk bisa bertahan hidup.


Omong-omong mengenai dua hari ini, Rai dan Lara telah berjalan dan melewati berbagai daerah, tetapi mereka masih belum melewati gunung yang bisa dilihat dengan jelas ketika berada di luar.


Perjalanan ke desa ini harus melalui bermacam-macam rintangan, entah itu medan yang sulit, seperti diharuskan memanjat daerah yang tinggi, melewati berbagai tanaman berduri, dan yang lainnya, dan rintangan dari monster yang selalu ada menyerang mereka.


Untuk dua hari ini Rai cukup panen banyak koin dan pengalaman levelnya, kini hanya butuh setengah seribu pengalaman lagi untuk bisa naik ke level selanjutnya.


Terbilang cukup cepat untuk hasilnya, ketimbang hasil yang diperoleh minggu kemarin yang di awalnya saja cukup sedikit.


Rencana Rai akan meneror monster dan memperoleh pengalaman dan koin dengan cepat.


Mengingat Rai sudah mengungkapkan sedikit kekuatannya, yakni kekuatan telekinesis dan senjatanya yang bisa berubah sesuai dengan keinginannya.


Akan tetapi, Lara masih tidak sadar dengan kekuatan telekinesisnya saat digunakan pada medan perang melawan Carlof yang Rai melemparkan pedang Methuragon dengan sedikit kekuatan telekinesis.


Kemungkinan Lara tidak tahu karena anggapannya bahwa pedang Rai terlempar murni dari kekuatan fisiknya.


Walaupun begitu, Rai menganggapnya suatu hal yang baik. Makin sedikit orang lain yang tahu kekuatanmu, makin besar dirimu bisa bertahan hidup.


“Terima kasih makanannya, Rai.“


“Ya, sama-sama.“ Rai mengangguk sambil menyisihkan sampah bekas makanannya ke pinggir meja.


Rai mengambil kotak susu dan menyesapnya tanpa gelas, sedangkan Lara mengambil gelas plastik yang sudah disediakan oleh Rai sebelumnya dan menuangkan susu ke dalamnya, lalu ia minum.


Setelah meminum susu, Rai memberikan sisa dari kotak susunya ke tempat air minum Kuro yang ada di atas meja dan mengisinya.


Kuro sebentar lagi menghabiskan makanannya dan ia pasti perlu minum.


“Rai, aku ingin bertanya sesuatu padamu,” ujar Lara sambil serius menatap wajah Rai.


“Apa yang ingin kamu tanyakan?“ Rai merespons dengan tenang.


Sebelum bertanya, Lara terdiam sejenak untuk menimbang-menimbang keputusan di dalam kepala, dan ia pun bertanya. “Apakah kamu pernah memiliki hubungan dengan wanita?“


Setelah mengatakan kata-kata itu, Lara menunduk sambil melihat susu yang ada di gelasnya, ia menyembunyikan pipi merahnya dari Rai dan diam-diam bersiap mendengar jawaban Rai.


Ekspresi Rai langsung terkejut, dan ia melirik Lara beberapa tarikan napas, dan ia menjawab, “Tidak pernah.“

__ADS_1


__ADS_2