
Beberapa jam berlalu, Flank asyik membaca kertas di tangannya meski dalam pencahayaan yang remang-remang, sebuah suara yang mengganggu secara mendadak muncul.
“Emm?“
Flank yang sedang membaca secarik kertas tiba-tiba saja mendengar bunyi dentuman yang terdengar samar-samar.
Pada mulanya dia mengabaikan ini, tetapi suara dentuman terdengar berulang kali dan bunyinya pun semakin keras.
“Ada yang salah!“
Memasukkan semua kertas ke dalam tasnya, menggendong tas di punggungnya dan mencoba membangunkan Loret yang terbaring di dahan sebelahnya.
“Loret, bangun!“
Suara Flank membangunkan Loret terdengar juga ke telinga Rai, membuat Rai yang setengah tertidur menjadi terbangun.
“Getaran apa ini?“
Saat terbangun Rai merasakan getaran yang begitu jelas dari arah selatan, getaran di dahan pohon ini semakin jelas dan jelas.
Dedaunan sedikit bergetar dan bunyi dentuman menjadi lebih jelas.
“Kuro, bangun!“
Kuro yang tidur di atas tasnya yang letakkan di atas perutnya akhirnya membuka matanya dan menguap.
'Miaw?'
Hal yang pertama yang dilakukan Kuro setelah tidur dan menguap adalah mengeong ke arah Rai, ini telah dilakukan oleh Kuro sudah lama.
“Bangun, ada keadaan darurat.“
Mendengar perintah Rai Kuro melompat ke area dahan dari tas Rai, setelah itu Rai langsung bangkit dari posisi tidur.
“Rai! Cepat turun,” seru Loret yang sedang menuruni batang pohong yang cukup lebar dan besar.
“Oke.“
Rai melompat dari dahan pohon yang tingginya lebih dari 4 meter, dan mendarat di tanah dengan keadaan tubuh yang baik-baik saja tanpa ada luka dan rasa sakit.
Lalu selanjutnya Kuro yang melompat dan mendarat di tangan Rai, tangan Rai menangkap Kuro anak kucing.
Flank dan Loret sedikit terkejut ketika melihat Rai yang melompat begitu saja tanpa melalui batang pohon untuk mendaki turun.
Mereka berdua saling memandang sesaat dan Flank mengangkat bahunya. Mereka nampak mengirim sinyal atau kode, tapi hanya mereka berdua yang tahu.
Bam… Bam… Bam ….!
Dentuman kini menjadi lebih jelas terdengar oleh mereka bertiga, sumber suara dan getaran sudah mereka pasti dari arah selatan, arah dari mereka berasal yaitu Kota Lhee Pusat.
Mereka bertiga berkumpul bersama sambil memandang arah yang sama.
Flank maju melangkah dan berdiri di depan Loret dan Rai, tangannya perlahan berubah menjadi tinju batu berwarna abu-abu. Pemuda ini siap untik menghadapi apa yang datang di depannya.
Sementara itu, Loret mengambil besi tumpulnya dan memasang posur untuk siap bertarung, dan Agler memegang senjata Methuragon di tangan kanannya dengan erat.
Bam!
Pohon besar yang tidak jauh di depan mereka bertiga, di jarak 10 meter dari pusat mereka berdiri tiba-tiba patah dan jatuh ke tanah.
Sesosok besar yang terhalang bayangan dedaunan yang lebat mulai terlihat oleh mereka bertiga.
“Waspada.“ Flank berkata pada Loret dan Rai sembari mengaktifkan mode bertarungnya.
Tatapan mereka bertiga terpaku pada sosok besar ini, dia berjaga-jaga apabila ada serangan tiba-tiba.
Baru saja, mereka memasang posisi siap bertarung, sebuah batang pohon yang besar tiba-tiba terlempar ke arah mereka.
Sontak mereka bertiga menghindar dan melompat ke samping.
Bum!
Batang pohon besar itu menghantam pohon tempat mereka singgah untuk tidur hingga miring hampir roboh ke bawah.
Debu dan tanah beterbangan membuat tempat mereka bertiga tertutupi asap debu untuk waktu sesaat.
“Uhuk-uhuk! Sial!“
Loret bangun dari tanah, dan berdiri setelah terbaring di atas tanah karena melompat dengan panik.
Melihat ke pohon tempat Loret tidur, sebuah batang pohon besar hampir menghancurkan batang pohon tempat ia dan Flank tidur
“Lihat ke depan!“ Flank yang sudah berdiri terlebih dahulu menginterupsikan Loret dan Rai yang tidak jauh darinya untuk melihat ke depan.
Rai dan Loret secara bersamaan menoleh ke arah depan dan mereka melihat sesuatu yang mengerikan.
Sesosok monster humanoid yang berjalan dengan dua kaki, memiliki empat tangan, memiliki tubuh yang kekar berwarna coklat, terdapat dua mata yang menyala berwarna kuning. Tinggi dari sosok ini berkisar 4 meter hampir setinggi pohon yang ada di sini.
Kraaahhh!
Monster besar ini meraung liar menunjuk kepada mereka bertiga, air liur dari mulutnya keluar dari menyembur ke mana-mana.
“Hati-hati!“ seru Flank yang mulai berkumpul dengan Loret dan Rai.
Kaki mereka perlahan bergerak mundur menjauhi sosok besar yang juga selangkah demi selangkah mendekati mereka bertiga.
“Waspada, air liur monster besar ini bersifat korosif,” tambah Loret saat mengamati tanah yang terkena cipratan air liur monster menjadi berlubang beberapa sentimenter menjorok ke dalam.
Monster besar ini tiba-tiba bergerak, berlari dengan kecepatan yang tidak terlalu cepat menuju mereka bertiga.
Merentangkan keempat tangannya ke belakang, monster besar ini hendak menyerang mereka bertiga.
“Awas!“
__ADS_1
Dengan reaksi mereka yang cepat, empat tinju yang ingin meninju mereka berhasil dihindari.
Keempat tinju menghantam tanah hingga terkoyak menjadi lubang berukuran kecil.
Bum!
Loret melompat beberapa kali dan menjauh dari monster, Flank pun sama dia berhasil menghindar ke samping dan menjauh.
Di sisi lain Rai yang bereaksi lebih dahulu kini aman dari jangkauan serangan monster besar yang belum diketahui namanya.
Graahh!
Monster ini mengaum dengan marah, membuat burung-burung pergi dari area tempat di mana mereka berada sekarang.
Dengan langkah kaki yang mengeluarkan suara dentuman, monster melangkah menghampiri pohon yang Loret dan Flank tempati, lalu merobohkan sepenuhnya dan mengangkat batang pohon beserta dedaunannya untuk dijadikan senjata.
Kraaahhh!
Penyerangan sepihak dilakukan lagi oleh monster besar ini, dia berlari sambil mencondongkan batang pohon yang panjang ke depan dan membidik Loret yang paling dekat.
“Loret menghindar!“ Flank yang melihat ini segera memperingati Loret untuk menghindar.
Tepat ketika ujung pohon itu ingin menghantam Loret, sosok Loret menghindar dengan menggunakan tangannya yang manjadi cambuk, melilitkan tali cambuk ke pohon sehingga dia bisa menarik dirinya, dan berhasil menghindar.
Namun, monster itu berlari menuju Flank dan mencoba menghantam dengan pohon yang dia bawa.
“Tidak baik.“ Flank langsung bereaksi cepat ketika melihat monster ini berlari ke arahnya.
Berbalik badan, Flank berlari menjauh agar dia tidak menjadi target serangan.
Namun sayang, tiba-tiba monster besar itu meningkatkan kecepatannya sesaat dan melompat sembari mengangkat batang pohon besar tinggi-tinggi.
Swooshh
Batang pohon itu dengan kecepatan yang cepat memukul Flank yang sedang berlari.
Tahu dengan hal ini, Flank mampu bereaksi meski hampir terlambat, tinju batu itu memukul batang pohon yang datang.
Bang!
Suara tabrakan yang keras terdengar saat pertemuan serangan yang kuat.
“Flank!“
Mata Loret melihat Flank yang berlutut sambil menahan batang kayu yang hampir hancur, darah sedikit mengalir dari mulutnya.
Wajah Loret langsung berubah menjadi kemarahan, dia tidak mau temannya tersakiti, ia harus membalasnya.
Dua tangan cambuk itu diayunkan dengan cepat menuju monster yang masih menekan batang pohon pada Flank.
Tali cambuk itu menghantam tangan dan kaki kiri monster dengan tepat.
Tang! Tang!
Dalam sekejap ekspresi Loret menjadi terpana, suara yang dihasilkan dari tali cambuk yang kuat ini seperti menyerang besi yang yang keras.
Monster itu menoleh ke arah Loret yang tiba-tiba menyerangnya, dan menatap dengan geram.
Bum!
Batang pohon yang menahan Flank tiba-tiba terlempar satu meter oleh sesosok bayangan yang datang dari arah samping.
Sosok itu berhenti di depan Flank.
“Kau mundur!“
“Rai?“
Flank menatap orang yang tadi menolongnya yang sekarang ada di depannya, ternyata itu adalah Rai.
Sebelumnya Rai meluncur dengan cepat dan menendang batang pohon yang begitu besar, beruntungnya pohon itu tersingkirkan dari Flank.
“Baiklah!“
Sosok Flank segera berlari menjauh dan bergabung Loret.
“Kau tidak apa-apa?“
“Tidak apa-apa.“
Melihat mereka berdua telah mundur, Rai mengunci pandangannya pada monster besar yang masih memegang batang pohon besar.
Monster besar segera pulih, serangan tadi membuatnya tercengang.
Graahh!
Batang pohon itu dia angkat lagi tinggi-tinggi oleh Monster besar lalu mengayunkan ke arah Rai.
Kilatan cahaya dingin melintas pada batang pohon di udara suara gesekan dan tebasan menghiasi malam yang sunyi.
Krak!
Seketika setengah dari batang pohon besar itu terbelah menjadi beberapa bagian dan tidak jadi menabrak Rai.
Serpihan batang pohon berjatuhan di tanah bersama belahan yang berukuran sedang.
Monster besar terpanan sesaat sebelum dia akhirnya marah dan melemparkan setengah batang pohon yang tersisa kepada Rai.
Kedua pedangnya memotong lagi batang pohon yang dilemparkan ke arahnya lalu dia menatap monster besar ini dengan serius.
“Flank, kita harus membantu Rai.“ Loret menoleh pada Flank yang sudah tidak mengeluarkan darah lagi dari mulutnya.
“Iya, tapi kita harus merencanakan penyerangan,” kata Flank pada Loret.
__ADS_1
“Rencana?“
“Iya, sini aku beri tahu …”
Sementara itu di sisi lain, Rai dan monster besar saling bertatapan, keduanya sedang mempersiapkan penyerangan masing-masing dan menunggu pihak lawan menyerang.
'Monster ini sedikit berbeda, seperti memiliki sedikit kecerdasan pada otaknya,' batin Rai di dalam hati setelah mengamati perilaku monster besar yang kini menjadi lawannya.
Monster ini pertama bertindak setelah ia menatap Rai selama hampir satu menit, dia berjalan biasa tidak terlalu cepat, namun saat sudah mencapai jarak dua meter, monster itu membuka mulutnya dan mengeluarkan cairan hijau yang korosif menunjuk ke Rai.
“Sial! Sengaja memutahkan padaku.“ Rai segera menghindar dengan berlari dari kejaran semburan yang terus diarahkan kepadanya.
Cairan hijau yang korosif itu membuat lubang dengan kedalaman satu meter ke bawah dari permukaan tanah, sifat korosif cairan ini sangat kuat, tidak dapat dibayangkan jika Rai terkena cairan ini.
Swooshh
Seutas tali cambuk tiba-tiba melilit leher monster besar dan membuatnya secara paksa memberhentikan memuntahkan cairan asam.
“Sekarang, Flank!“
Flank berlari dari arah timur dengan cepat, monster itu terkejut atas penyerangan yang tiba-tiba ini, dan keempat tangannya memukul ke segala arah.
Muncul di samping kiri monster besar ini, tinju Flank berayun dengan kuat dan cepat ke arah kaki kiri monster.
Bang!
Gelombang angin kecil tercipta dari benturan kuat ini, namun bagi Flank itu masih belum cukup.
Ia memukul beberapa kali hingga monster besar itu terjatuh.
Di detik selanjutnya monster ini menahan tubuhnya untuk tidak terjatuh dan salah satu tangannya meninju Flank yang dekat dengannya.
Bam!
Flank bereaksi dan sempat menangkis tinju yang datang menghantamnya sangat keras.
Tubuh Flank terlempar jauh hingga puluhan meter dari tempat monster itu memukulnya dan menabrak pohon dengan kuat.
“Ugh!“
Darah keluar dari mulutnya dan membasahi tanah yang ada di depannya.
Merasakan rasa lemas pada tubuhnya serta sakit yang teramat sangat jelas membuat Flank tidak bisa melanjutkan pertarungan.
“Aaaa ….“
“Argh!“
Tak lama kemudian sosok Loret terhempas jauh dan berhenti saat menabrak pohon yang tidak jauh dari Flank.
Darah merah keluar dari sudut mulut Loret, tetapi pandangannya terus melihat ke arah Monster besar itu yang berhadapan dengan Rai.
Rasa sakit yang diberikan oleh Flank membuat amarah monster besar ini semakin besar.
Tanpa persiapan apa pun, monster ini bergerak dan meninju dengan cepat ke arah Rai yang ada di depannya.
Reaksi bertarung Rai digunakan sepenuhnya, tubuhnya dengan begitu lincah menghindari setiap pukulan yang datang.
Bahkan satu helai rambut pun tidak terkena tinju besar ini.
Graahhh!
Mata kuning monster besar itu seketika berubah menjadi merah, gerakan pukulannya yang intensif menjadi lebih cepat.
Saat menghindari pukulan tangan kanan monster besar ini, Rai melihat tangan kiri monster ini tiba di depan wajahnya, seketika Rai bereaksi mengangkat kedua pedangnya untuk menahan.
Bam!
Tubuh Rai terseret beberapa meter dalam posisi berdiri sembari tangannya menyilangkan kedua pedangnya.
'Gerakannya dua kali lebih cepat dari sebelumnya. Aku tidak bisa seperti ini.' Rai berkata dalam hati sambil menatap monster besar di kejauhan.
“Gunakan empat poin atribut ke kekuatan dan pertahan, lalu tiga poin ke kecepatan.“
[Ding! Alokasi poin atribut telah dilakukan!]
Sepotong energi mengalir ke seluruh tubuhnya, tangannya yang bergetar efek dari tabrakan yang begitu kuat dalam sekejap menghilang, seluruh tubuhnya mengalami peningkatan yang cukup.
Monster besar itu langsung melompat menuju Rai ingin menyerang kembali Rai.
Namun, karena peningkatan atributnya sebelumnya, reaksi pertarungan Rai semakin kuat dan dia menghindar dengan cepat.
Bam!
Tempat Rai berdiri dengan keras diinjak oleh monster besar itu hingga membuat retakan yang cukup luas.
Getaran dirasakan oleh Flank dan Loret yang telah berhasil bangkit dan meringankan cederanya.
“Kita harus bantu Rai dan berhasil membunuh monster besar ini!“ Loret berkata pada Flank yang ada di sebelahnya.
“Tapi, monster ini sangat kuat, kita harus melakukan rencana kembali, kita buat dulu selagi Rai mengulur waktu.“
“Bagaimana?“
“Kau hanya perlu menarik kaki itu dengan tali cambuk milikmu dan membuatnya jatuh, aku akan memberimu kode, kau harus bersiap.“ Flank berkata dengan serius pada Loret.
“Oke, aku mengerti.“ Loret mengangguk.
“Kau cari tempat yang cocok saat aku membantu Rai, lalu kode akan aku berikan dan kau menarik kaki besar monsternya.“
“Oke aku paham dengan rencanamu.“ Loret sudah paham mengenai rencana Flank, dalam pertempuran rencanan Flank terkadang cukup bisa diandalkan.
“Oke, rencana dimulai sekarang!“
__ADS_1
Flank berlari cepat menuju ke tempat Rai dan monster ini bertarung satu sama lain.
Segera Loret bergegas pergi ke tempat yang tidak terlalu jauh dengan monster ini berada, ia akan terus mengikutinya dan terus memperhatikan posisi monster besar terus bergerak.