LINEUSS ATTACK (SYSTEM)

LINEUSS ATTACK (SYSTEM)
Bab 37: Kembali Ke Jalan


__ADS_3

Tangan kirinya yang telah menjadi tangan monster ini meninju tembok yang ada di depannya dengan kuat.


Boom!


Pusat hantaman tinju Rai menjadi berlubang dan membuat tembok pagar yang masih berdiri itu langsung luruh.


Bongkahan tembok terpental ke segala arah dan beberapa yang ingin mengenai tubuh Rai dihancurkan oleh dua ekor dari tangannya.


“ini terlalu kuat!“ Rai berkata dengan wajahnya yang terkejut.


Tangannya ini benar-benar telah ditingkatkan menjadi lebih kuat dan pertahanan sisik ini lebih tangguh dari sebelumnya.


Ia memandangi tangan kirinya dengan senyuman yang terlihat puas. Senjata alami ini akan sangat bergunan nantinya jika dirinya dalam keadaan darurat.


Kini Rai tidak lagi terpaku dengan senjata Methuragon, tangan kirinya telah menjadi senjata alternatif atau utama baginya.


Secara bertahap tangan kirinya kembali menjadi tangan manusia normal yang dibalut dengan kain putih.


Saat proses transformasi dari tangan manusia ke tangan monster berjalan, Rai sama sekali tak merasakan sakit sedikit pun, rasanya sama seperti saat mengepalkan jari tangan dan membuka kepalan tangan, tidak ada rasa sakit sama sekali.


Seakan itu memang wajar terjadi dan tidak akan ada penolakan yang dapat membuatnya nyeri atau pun sakit.


Dua Longsword yang dia letakkan di sebelah kakinya pelan-pelan bersatu lagi menjadi Double Bladed Sword, telapak tangan kanan Rai di arahkan pada pedang ini, segera pedang Methuragon itu melayang menuju tangan Rai, dan tangannya menangkap pedang dengan erat.


Menatap pedangnya yang ada di tangannya, Rai berjalan menuju Kuro yang belum selesai memakan potongan daging Huszerdawg di jalan.


“Kuro, kita harus segera pergi dari sini.“ Rai berkata kepada Kuro sambil berjalan mendekatinya.


Mendengar panggilan Rai, kepala Kuro yang sedang memakan potongan daging terangkat dan melihat Rai.


“Tenang saja, kau masih bisa memakan semua potongan daging yang ada di sini.“ Rai berbicara sembari tersenyum pada Kuro.


Kepala Kuro mengangguk memberi isyarat setuju pada Rai.


“Tunggu, aku akan memasukkan semua potongan daging ini ke dalam tas.“ Rai membuka tasnya dan memasukkan senjata Methuragon ke dalamnya.


Tatapan kedua mata Rai terfokus pada daging-daging yang paling dekat dengannya, sambil menatap ia mengaktifkan kekuatan telekinesisnya untuk mengambil potongan daging Huszerdawg kesukaan Kuro.


Potongan daging itu terbang menuju Rai secara bergiliran, tangannya dengan cepat mengambil potongan daging dan memasukkannya ke dalam tas penyimpanan.


Metode ini membutuhkan waktu yang lumayan lama, hal ini bukanlah masalah bagi Rai, hitung-hitung ia sedang mengasah kemampuan telekinesisnya menjadi lebih lihai dan cakap.


Majestic of Mind atau yang Rai anggap kekuatan telekinesis ini sangat berguna untuk berbagai kondisi situasi pertarungan.


Jika saja kekuatan telekinesis yang dia punya sekarang tidak ada, mungkin dia telah mati dan tidak akan pernah sampai di titik ini.

__ADS_1


Mengingat kembali pertarungan yang baru saja terjadi pada Rai, terdapat sebuah situasi yang sangat genting dan berbahaya, yakni pada saat Rai jatuh dan terpojok oleh para Huszerdawg, bahkan Rai merasa dia sedang diolok-olok dan dijadikan sebuah mainan atau hiburan oleh monster anjing tersebut.


Ia bisa lolos dari situasi itu karena kekuatan telekinesisnya dan juga momentum waktu yang mendukung, apabila tidak ada kekuatan telekinesis Rai akan kesulitan keluar dari situasi berbahaya itu dan masih berlangsung hingga sekarang, hasil yang paling parah adalah Rai tidak lolos dan akhirnya mati di mulut mereka.


Karena peristiwa itulah Rai lebih sering melatih kontrol terhadap kemampuan telekinesisnya, pedang Methuragon pun butuh kemampuan telekinesis ini untuk lebih fleksibel untuk digunakan.


Lima belas menit berlalu, potongan daging Huszerdawg yang terakhir dengan tepat masuk ke dalam tas Rai, kemudian menutup tasnya dan menggendong tasnya di punggung.


“Sudah selesai, ayo kita kembali ke tujuan awal, Kuro.“ Rai menatap sosok Kuro yang besar dan kekar di hadapannya.


Grrr!


Kuro merespon dengan anggukan kepala.


“Kita haru pergi kembali ke jalan besar yang kita lalui sebelumnya dan mencari gedung yang masih kokoh.“ Rai melompat ke punggung besar Kuro dan mencari posisi yang nyaman.


Roarr!


Raungan keras terdengar dari mulut Kuro, lalu dengan kecepatan yang cepat ia berlari menuju jalan yang mereka telusuri sebelumnya.


Tak butuh waktu yang lama, Kuro akhirnya sampai di jalan besar yang menjadi rute mereka berdua untuk mencari gedung yang masuk ke dalam kriteria bangunan yang wajib dikunjungi serta periksa.


“Kita kembali ke jalan yang benar.“ Rai berkata pada Kuro yang perlahan menyusit menjadi anak kucing.


“Omong-omong aku belum berterima kasih padamu karena telah membantuku dalam pertarungan tadi,“ ucap Rai pada Kuro yang telah bertengger di bahu kanannya.


'Miaw!'


Kuro mendengkur nyaman saat tangan Rai mengusap kepala dan lehernya.


“Baiklah, ayo kita cari tempat untuk diperiksa!“ ajak Rai pada Kuro.


'Miaw!'


Keduanya berjalan kembali pada jalan utama yang besar ini.


Seperti yang telah dilihat oleh mereka berdua sebelumnya, banyak objek yang menghalangi jalan hingga keduanya harus mengeluarkan usaha lebih untuk melewati jalur dan melanjutkan berjalan lagi.


Gedung di sini banyak sekali yang telah runtuh dengan beberapa bagian bangunan yang hancur fatal dan mengakibatkan robohnya gedung dan tak bisa berdiri lagi layaknya sebuah gedung pencakar langit.


Semakin Rai berjalan semakin sering dia melihat penampakan gedung hancur, tapi ada beberapa gedung yang masih berdiri meski banyak bagian bangunannya yang telah hancur.


Tidak tahu kenapa daerah kota blok ini memiliki bentuk bangunan yang telah hancur, padahal daerah yang sebelumnya dia jarang menemui gedung yang telah runtuh dan jatuh sampai beberapa bongkahan bangunan banyak yang terlempar hingga ke jalan.


“Lihat, Kuro. Akhirnya juta menemukan gedung yang masih layak diperiksa.“ Rai menunjuk sebuah gedung di kejauhan di depannya.

__ADS_1


Gedung itu hanya berjarak puluhan meter dari Rai dan Kuro yang sedang berjalan, cukup dekat.


Tampilan gedung ini masih kokoh dan tangguh, hanya ada beberapa bagian yang terlihat terkoyak dan hancur, namun Rai tahu itu takkan menimbulkan bangunan miring lalu jatuh dan hancur.


Berjalan menuju gedung yang telah rusak ini, ia harus melewati bongkahan bangunan, kendaraan, besi, dan behel bangunan yang saling bertumpukan dan juga direkatkan dengan tanah yang mengendap, sehingga benda-benda tersebut membuat gunungan kecil setinggi tiga meter.


“Nampaknya aku harus memanjat.“


Tidak ada cara lain selain menaiki gunungan reruntuhan bangunan ini, tidak mungkin untuk dia terbang melewati gunungan di depannya apalagi memindahkan satu per satu benda yang menumpuk inu dengan kekuatan telekinesisnya atau kekuatan fisiknya.


Usaha yang tidak berguna, lebih baik melewati dengan memanjat.


Kaki Rai menginjak benda yang paling rendah ketinggian dan dia melompat ke permukaan yang lebih tinggi dari sebelumnya, cara itu terus ia lakukan hingga akhirnya mencapai puncak tumpukan beberapa jenis benda ini.


Berdiri di atas tumpukan, mata Rai bergerak ke sekelilingnya, hanya ada jalanan yang rusak dengan retakan dan benda yang jatuh dan berserakan, tak lupa kendaraan yang telah berkarat terparkir menghalangi jalan.


Selangkah demi selangkah Rai berjalan menuju gedung yang terlihat usang juga yang sudah tidak bagus kondisinya, tapi demi mendapatkan informasi penting yang ingin dia dapatkan, jadi Rai harus ke sana.


Di depan gedung lantai paling dasar ini terdapat pintu dorong dan tarik yang keseluruhan pintu terbuat dari kaca dan bingkai atau kerangka terbuat dari besi.


Sama halnya dengan gedung atau mall di dunia sebelumnya, banyak sekali jendela atau kaca pada tampilan depan lantai paling dasar mall tersebut.


Akan tetapi, semua kaca di sini telah pecah menjadi bagian kaca terkecil yang berserakan di mana-mana.


Dengan demikian Rai dapat melihat secara langsung apa yang ada di dalam lantai paling bawah gedung di depannya. Sebab tidak ada apa-apa yang menghalangi, meskipun ada kaca Rai tetap bisa melihat sesuatu yang ada di dalam.


Pada intinya adanya kaca atau tidak itu semua sia-sia.


Bangunan ini adalah Hotel bintang empat, Rai berasumsi seperti itu dikarenakan ia telah melihat hotel yang lebih besar serta mewah. Lantai yang ada di depannya memiliki ruangan lobi yang luasnya mencapai 90-110 meter persegi, cukup luas untuk dijadikan lapangan sepak bola, tapi di sini sudah sangat berantakan dan acak-acakan, banyak sekali barang-barang rusak, hancur terpotong, terbelah, remuk, dan lainnya. Bagian-bagian yang hancur itu terdapat di mana-mana tak beraturan.


Sebagian orang yang tinggal di hotel semacam ini biasanya atau kebanyakan adalah orang berada, orang yang memiliki sumber pendapatan keuangan yang banyak, atau memiliki kepentingan yang sangat istimewa.


Tidak mungkin jika orang sepertinya yang hidup dari orang yang sulit untuk makan dan sangat kekurangan untuk tinggal di hotel mewah berbintang.


Lebih baik dia menyimpan uang itu untuk membeli barang yang benar-benar dibutuhkan, bagaimana pun juga dia hanya orang yang susah dan tidak punya uang.


Rai berjalan perlahan menuju dalam ruangan, menghindari barang yang hancur di lantai dan terus masuk lebih dalam dengan cermat.


Sebuah lift terbuka lebar dan sudah tidak bisa digunakan lagi Rai temukan saat mencari informasi. Gedung ini memiliki banyak tingkat, jadi Rai menggunakan pola yang telah dia ikuti. Memeriksa cepat, masuk ke ruang lain, periksa lantai lapis demi lapis namun selang-seling tidak semuanya, dan membunuh monster jika ada yang menghalanginya.


[Ding! Bunuh 5 Reek Huuzer Crawler F+. Dapatkan +15 Exp, +15 Koin!]


[Bunuh 15 Huuzer Crawler F-. Dapatkan +15 Exp, +15 Koin!]


“Gedung ini telah diperiksa, tapi tidak ada apapun di sana, sayang sekali.“ Rai menghela nafas tak berdaya

__ADS_1


Lima puluh menit dia memeriksa bangunan ini, dan tidak ada hasil yang dia dapatkan, tapi paling tidak dia masih mendapatkan pengalaman dan koin sistem.


__ADS_2