
Dunia sangat sulit untuk mencari pokok makanan untuk manusia-manusia yang ada di dunia hidup dan meneruskan perjalanannya mencapai puncak rantaian makan lagi.
Banyak sekali keterbatasan yang menghambat jalur berkembang manusia. Makanan, serangan monster, dan perselisihan antarmanusia secara bersamaan menghalangi jalur manusia untuk bisa ke posisi awalnya.
Meskipun banyak halangan, pasti ada saja seseorang atau beberapa kelompok yang hebat yang berjuang untuk kemaslahatan umat manusi.
Orang-orang itu mengorbankan keegoisan, kesenangan, tujuan, bahkan nyawa mereka untuk kebersamaan dan hidup semua manusia agar lebih baik dari sebelumnya.
“Ambil ini.“ Rai mengeluarkan dua bungkus makanan lagi.
Dua bungkus nasi uduk, di Jakarta dia sesekali makan makanan ini untuk sarapan, jadi dia ingin bernostalgia sesaat.
Melemparkan dua bungkus nasi pada Flank yang ada di atas kasur dan Loret yang duduk di bawah jendela kamar.
“Kau masih memiliki makanan lagi?“ Loret berkata dengan ekspresi terkejut.
Ia kira Rai sudah tidak memiliki makanan lagi, ternyata masih banyak.
“Makanlah.“
Alih-alih menjawab, Rai menyuruh mereka berdua untuk memakan nasi uduk itu.
“Oke.“
Loret dan Flank keduanya saling memandang lalu berkata secara bersamaan.
Membuka bungkus kertas nasi, mereka berdua langsung meihat nasi putih dengan aroma wangi khas dari nasi uduk, ada potongan paha ayam, telur dadar orak-arik, dan tempe dengan kecap.
“Aku belum pernah melihat makanan seperti ini di hidupku.“ Loret spontan berkata saat melihat visual makanan yang Rai berikan.
Makanan nasi uduk ini belum pernah Loret lihat selama dia hidup, bahkan saat kecil dia tidak pernah sama sekali melihat makanan yang mirip dengan ini, apalagi aroma serai yang tercium secara terang-terangan oleh hidung mereka berdua.
Tak perlu ditanyakan lagi, makanan ini pasti enak, berkali-kali lipat lebih enak dari potongan dada ayam yang mereka makan sebelumnya.
“Ini juga,” ucap Rai tiba-tiba sambil melemparkan dua botol air mineral pada keduanya.
“Terima kasih!“ Loret berkata penuh rasa syukur pada Rai.
Flank juga, tapi dia tidak begitu terlalu seperti Loret.
Setelah mendapatkan botol air mineral dari Rai, mereka berdua segera memakan makanannya dengan sendok semalam yang bekas mereka memakan nasi goreng.
Saat memakan nasi uduk, ekspresi mereka benar-benar merasa nikmat dan bahagia, sudut mulutnya melengkung menampilkan senyum tanpa dibuat-buat.
Tentu saja Rai ikut makan bersama dengan Kuro, satu bungkus nasi uduk dia ambil lagi dari tasnya.
Potongan ayam yang ada di nasi uduk ini Rai belah lagi menjadi dua bagian, lalu memberikan setengahnya kepada Kuro.
Melihat ini Kuro langsung senang, dan menggigit daging ayam goreng dengan senang hati.
Tampak wajah Rai menjadi senang memandang Kuro yang sedang makan daging ayam, mengalihkan pandangannya ke dua pemuda di depannya yang masih asyik dengan makanannya sendiri-sendiri.
Semuanya telah mulai sarapan, jadi Rai ikut mereka semua dan mulai untuk sarapan.
Dua puluh menit berlalu setelah mereka semua memulai sarapan di pagi hari. Loret berdiri sambil menggumpal kertas nasi di tangannya, ia telah selesai sarapan pagi, hendak membuang sampah miliknya.
“Barengan saja, Loret.“ Flank yang masih memakan makanannya berkata pada Loret yang berdiri sedikit menghalangi sinar matahari yang masuk ke dalam kamar.
“Oke, sampahnya kumpulkan di sini.“
Tangan Loret bergerak, meletakkan sampah kertas nasi di bingkai jendela kayu.
Respon Flank hanya mengangguk lalu melanjutkan lagi memakan makanannya.
Beberapa menit kemudian, Flank dan Rai telah selesai menghabiskan makanannya, keduanya menyatukan sampah dengan sampah milik Loret.
“Aku akan membuangnya di tempat pembuangan air kecil, agar kita tidak terlalu terlihat meninggalkan jejak.“ Loret berjalan menuju ruangan kecil sambil berkata pada Flank dan Rai.
Rai hanya bisa setuju saja dengan tindakan Loret, melihat ini Flank pun mengangguk setuju.
“Ayo kita pergi,” ajak Loret pada Rai dan Flank setelah keluar dari ruangan kecil tersebut.
“Ayo.“ Flank menyahut ajakan Loret dan mereka berdua keluar dari kamar terlebih dahulu.
Menatap punggung mereka berdua yang telah keluar dari kamar, lalu Rai dan Kuro mengikuti mereka berdua.
Di jalan depan gedung tempat mereka menginap semalam, mereka bertiga berjalan santai sambil melihat-lihat sekeliling kota.
“Kau lihat sesuatu yang di depan?“
Tiba-tiba Flank berbicara yang ditujukan pada Rai di belakangnya sembari menunjuk sesuatu yang ada di depan mereka bertiga.
__ADS_1
“Jalan layang yang rusak?“ Rai menjawab dengan apa adanya sesuai dengan apa yang dia lihat.
“Eee … benar,” ucap Flank yang sedikit canggung setelah mendengar jawab Rai. “Bukan jalan layang biasa, jalan itu adalah jalur kita untuk bisa sampai ke kota Lhee Utara.“
“Apa yang dikatakan oleh Flank itu benar,” tambah Loret sambil mengangguk beberapa kali.
“Tapi ….“ Loret mendadak menoleh ke arah Rai dengan ekspresinya serius.
“ Tapi, kita harus berhati-hati, jalan layang ini sangat terbuka, artinya monster-monster bisa melihat kita dengan mudah yang membuat posisi kita sangat rawan.“
Loret berjalan mundur menjelaskan lagi pada Rai.
“Mau bagaimana lagi, jalan ini satu-satunya akses untuk kita bisa pergi ke kota Lhee Utara.“
Suara yang tidak berdaya dan pasrah keluar dari mulut Loret.
Rai mengalihkan tatapannya ke arah jalan layang yang semakin besar dalam pandangannya.
Berbalik badan menghadap ke depan, Loret menyimpan senjata besinya pada belakang punggungnya.
Mereka bertiga dan satu anak kucing sudah semakin dekat dengan jalan layang yang runtuh menghantam jalan utama kota Lhee Pusat.
“Kita harus mendaki bongkahan ini untuk sampai ke atas jalan layang yang besar dan lebar ini.“
Loret berkata sambil memandangi jalan layang di depannya.
Tidak hanya Loret saja, Rai pun melihat jalan layang ini dengan seksama.
Jalan layang yang bersilang dengan jalan utama, tapi jalan layang ini adalah jalan utama juga, karena sumbernya dari jalan utama yang bercabang, dan cabang ini melengkung setengah lingkaran dan naik menyilang dengan jalan utama sebelumnya.
“Aku dahulu yang naik ke atas,” ujar Flank pada Loret dan Rai.
Setelah itu dia melompat cukup tinggi pada bongkahan beton yang menumpuk yang secara tidak langsung membuat tangga untuk mereka memanjat.
Hanya beberapa lompatan Flank sudah sampai di atas jalan layang, dan dia melihat ke bawah pada Rai dan Loret.
“Kau duluan, Rai.“ Loret membiarkan Rai memanjat terlebih dahulu memanjat dan naik ke atas jalan layang.
“Oke.“
Rai menatap bongkahan beton yang tinggi ini sejenak, lalu dengan cepat dia melompat beberapa kali sampai di atas jalan.
Tak ada rasa lelah setelah Rai sampai di atas, sementara Flank masih nampak seperti kelelahan, karena pengambilan nafasnya yang tidak stabil.
“Aku kira tidak akan menguras tenaga, ternyata memanjat ini saja membuatku sedikit lelah.“
Berdiri memegang kedua lututnya, Loret sedang terengah-engah.
“Kau lemah, Loret.“
Menepuk pundak Loret dan Flank berkata sedikit meremehkan.
“Haha, aku hanya kali ini saja sedikit melemah.“ Loret melambaikan tangannya menangkis perkataan Flank yang menyatakan bahwa dia itu lemah.
“Ayo, kita lanjut berjalan menyusuri jalan ini.“
Tubuh Loret ditegakkan sambil menghadap ke depan, dan berkata pada Rai.
“Ya.“
Respon sederhana Rai terdengar oleh mereka berdua, tapi mereka sudah memaklumi Rai.
Ketiganya berjalan menyusuri jalan sambil memandangi bangunan yang ada di samping kiri dan kanan jalan layang ini.
Gedung tinggi yang terpaku di bawah banyak yang sudah rusak dan luruh akibat waktu juga tak ada yang merawat.
Rai berjalan agak ke samping jalan untuk melihat pemandangan kota dari atas jalan layang ini.
Ternyata kota ini tidak seperti yang dia lihat sebelumnya, ternyata ada beberapa saluran air yaang tidak begitu besar yang mengalir ke lubang pipa besar yang menempel di tanah.
Lintasan pipa besar ini masih bisa terlihat oleh mata. Sepanjang dia berjalan, Rai langsung tersadae bahwa pipa besar ini beriringan dengan jalan layang, bisa dikatakan satu jalur.
“Kau sedari tadi melihat pipa besar itu, Rai. Ada apa?“
Loret setelah melihat Rai memandangi pipa besar yang ada di bawah, ia penasaran dan bertanya.
“Pipa ini apakah sama jalurnya dengan jalan ini?“
Menoleh pada Loret dan Rai mengajukan pertanyaan.
“Benar, tapi yang aku tahu bahwa pipa ini akan berhenti di gorong-gorong yang luas, di sana sangat seram,” jawab Loret dengan tatapan yang serius dan wajah yang sedikit ketakutan.
__ADS_1
“Seram?“
Mendengar perkataan Loret, ekspresi Rai langsung berubah, ia terheran dan penasaran.
“Seram apa?“ Rai bertanya dengan raut yang ingin tahu.
“Banyak rumor yang bilang bahwa gorong-gorong itu adalah tempat berkumpulnya para monster.“
Mata Loret memandangi pipa besar sambil terus berjalan. “Monster di sana belum diketahui berjenis apa. Tapi, aku menebak monster di sini tidak jauh dengan jenis Huuzer Crawler.“
“Benar, aku juga berpikir seperti itu, selama kami berdua di sini, kami kerap kali bertemu dengan Huuzer Crawler dengan berbagai jenis. Kota Lhee Pusat gudang monster Huuzer Crawler,” tambah Flank pada pernyataan yang dibuat Loret.
Flank masih asyik memegang besi panjang yang runcing ini dan menusuk benda yang ada di jalan.
“Bagaimana denganmu? Apa kau memiliki asumsi lain atau tebakan lain?“ Loret berjalan bersebelahan dengan Rai dan menoleh.
“Aku pikir itu masuk akal.“ Rai berkata ringan dan agak setuju dengan hasil pemikiran Loret.
“Tidak dapat dibayangkan seberapa kuat monster-monster yang ada di dalam saluran pembuangan itu.“
Loret bergidik ngeri saat berbicara kalimat seperti itu.
“Kau mungkin langsung mati saat bertemu mereka, Loret.“
Tiba-tiba Flank berbicara pada Loret dengan nada bercanda.
“Tidak, aku tidak semudah itu untuk mati,” balas Loret sembari menggelengkan kepalanya. “Aku masih memiliki tujuan yang harus dicapai.“
“Goals maksudmu?“
“Ya, di kehidupan ini aku harus mencapai goals yang telah aku tentukan sejak aku kecil.“
“Apa itu?“
“Kau ingin tahu?“ Loret bertanya seraya tersenyum aneh.
“Apa?“ Flank sangat penasaran dengan goals Loret.
“Baiklah aku beri tahu ….“ Loret menghembuskan nafas ringan sebelum berkata lagi, “Aku ingin disentuh oleh seorang wanita, karena aku belum pernah merasakan rasanya belaian wanita!“
Mendengar ini Flank sontak terkejut, lalu dia memandang aneh Loret dan menjauhkan diri darinya.
“Hei-hei, kenapa kau menjauh, Flank?“ Loret yang melihat gerakan Flank langsung bertanya.
“Goalsmu aneh.“
Flank masih menampilkan ekspresi aneh dan sedikit jijik pada Loret.
“Goals orang berbeda-beda, hargailah.“ Loret berkata santai sambil merentangkan tangannya.
Flank tidak menjawab perkataan Loret dan kembali fokus pada jalan layang yang banyak sekali kendaraan yang menghalangi jalur mereka.
“Kalau kau bagaimana, Rai? Apa Goals yang telah kamu jadikan terget,” tanya Loret pada Rai yang sedang berjalan bersampingan.
“Tidak tahu, aku tidak memikirkannya.“ Rai menjawab dengan sederhana seraya melihat pemandangan kota dari bawah.
“Kenapa seperti itu?“
Kali ini Loret memandang Rai dengan heran dan aneh, kenapa manusia satu ini tidak memiliki keinginan.
“Entah, aku tidak ta ….“
“Sial! Kita terkena masalah kali ini!” Flank memotong kalimat Rai, dan berbicara dengan keras pada Loret dan Rai.
“Lihat ke depan!“ Flank menunjuk ke depan jalur jalan layang.
Segera Rai dan Loret melihat ke arah yang ditunjuk oleh Flank, seketika wajah mereka berubah.
“Tidak baik.“
Loret mengambil balok besi dari punggungnya dan memasang sikap bertempur.
Tepat di depan mereka, terdapat ratusan Huuzer Crawler dan beberapa Big Huuzer Crawler, gerombolan monster ini sedang merangkak dengan cepat menuju mereka bertiga.
Kendaraan yang telah hancur semakin hancur akibat kaki-kaki monster ini, dan jalan layang sedikit bergetar.
“Kita dalam masalah Rai, kau segera bersiap bertempur.“ Loret memandang Rai di sampingnya dan mengingatkan.
“Oke,” jawab Rai ringan.
Tangannya mengambil Double Bladed Sword dari tasnya dan menegang dengan erat.
__ADS_1
Melihat senjata ini, Loret langsung terkejut, rasa ingin memiliki terlintas dari wajahnya, tapi dia segera tahan dan fokus memandang ke depan.
Mereka bertiga berdiri dengan postur ingin bertarung, siap menghadapi mereka semua.