
“Ayo kembali ke tempat mereka beristirahat, Kuro.“
'Miaw!'
Rai bersama Kuro berjalan menuju tempat Loret dan Flank beristirahat.
Dalam perjalanan menuju ke tujuan, tempat ini begitu gelap pencahayaan hanya mengandalkan cahaya bulan di langit, tapi bagi Rai itu bukan masalah, ia masih bisa melihat sekitar dengan pencahayaan yang minim ini.
“Sudah tidur?“
Rai melihat Loret dan Flank bersandar di pohon bersebelahan, mata mereka ditutup dengan dadanya naik-turun dengan normal.
Mereka berdua telah beristirahat dan tidur sejenak.
Melihat ke langit, Rai melihat bahwa langit masih gelap, tapi Rai berspekulasi bahwa tidak akan lama lagi pagi akan datang.
Karena mereka berdua ada di bawah pohon, tidaklah mengapa jika Rai menyalakan ponselnya di atas pohon.
Dengan berniat demikian, di dalam hatinya Rai memutuskan untuk memanjat pohon dan duduk di salah satu dahan yang cukup besar.
Kedua kaki Rai menendang tanah, sosoknya meluncur ke atas cukup cepat, dan dengan mudahnya Rai melompat ke dahan yang tingginya sekitar tiga meter.
Lompatan Rai cukup tinggi, ini disebabkan oleh aspek kekuatan fisiknya yang semakin kuat. Menjadikan lompatannya begitu tinggi.
Mengambil ponselnya dari tas, tangannya menekan tombol power pada ponsel, seketika layar hitam itu menyala dan menghasilkan cahaya cukup terang di lingkungan yang gelap ini.
Dengan gerakan cekatannya, cehaya yang dihasil ponsel menjadi redup, tidak seperti sebelumnya yang terang benderang seperti kecerahan ponsel orang yang sudah tua.
“Jam empat pagi? Sebentar lagi pagi akan muncul.“
Jam digital di dalam ponselnya menunjukkan pukul 04:03, biasanya pagi akan terlihat di jam pukul 05:00, namun itu tidak mutlak di jam tersebut, kemungkinan pagi dimulai kurang atau lebih dari jam 5 pagi.
Mata Rai melirik ke bawah, ia melihat Loret dan Flank masih tertidur pulas dan tidak bergerak, posisinya masih sama dengan terakhir ia lihat.
Akan tetapi, cukup rawan jika dia secara terus menerus memainkan ponselnya, mereka berdua bisa saja terbangun dan melihat dirinya memain ponsel, adegan itu pasti akan aneh dan canggung.
Keduanya pasti akan bertanya benda ini didapatkan dari mana sehingga sifat serakah mereka sebagai manusia muncul dan timbul.
Itu terlalu beresiko.
Rai masih membutuhkan mereka berdua, jadi dia tidak ingin membunuh mereka berdua di waktu sekarang ini.
Setidaknya setelah dia ada di Kota Lhee Utara.
“Daging yang kita ambil di jalan layang dan jalan sebelumnya masih banyak, kau ingin makan sekarang, Kuro?“
Tiba-tiba Rai teringat dengan daging yang dia jarah dari jalan, daging Huszerdawg dan daging Big Huuzer Crawler serta daging Huuzer Crawler biasa banyak Rai masukan ke dalam tasnya.
Mumpung selagi mereka tidur, keduanya tidak akan tahu bahwa Kuro menyimpan banyak daging di dalam tasnya, dan memberi makan Kuro.
Sayang apabila didiamkan di dalam tas, karena daging ini tidak berguna untuk Rai.
'Miaw!'
__ADS_1
Kuro mengangguk setuju dengan tawaran Rai untuk memakan daging monster yang telah mereka kumpulkan.
“Kau berubah menjadi kucing yang lebih besar, tetapi jangan sampai maksimal, takut dahan itu tidak kuat menopang.“ Rai berkata pada Kuro dan memberi pesan pada Kuro agar tidak berubah terlalu besar.
'Miaw!' Kuro mengerti apa yang dikatakan Rai lalu tubuhnya segera mengembang menjadi kucing yang besar satu meter setengah.
“Oke, kau segera memakan ini dengan cepat, takut mereka berdua bangun.“
'Meong!' Kuro menyahut isyarat bahwa dia mengerti.
Tanpa berlama-lama lagi, Rai mengambil beberapa potong daging dan di letakkan di atas dahan depan Kuro.
Kuro yang melihat daging segera menyantapnya secepat mungkin.
Suara bising kunyahan Kuro cukup terdengar, namun sepertinya hanya terdengar samar-samar oleh Loret dan Flank yang masih tertidur.
Sembari ia memberi makan Kuro, Rai juga mengawasi mereka berdua dari atas, berjaga-jaga takut mereka berdua bangun begitu saja.
Satu jam berlalu, sesuai spekulasi Rai berdasarkan pengamatan dan pengalaman, langit mulai berubah menjadi terang secara bertahap.
Pada mulanya hanya ada cahaya kecil lama kelamaan cahaya tersebut semakin banyak di langit timur.
Cahaya mentari pun menerpa tubuh Rai dan juga Loret yang bersandar berdua di pohon dengan Flank. Sinar matahari sempat menyapa wajah mereka berdua sehingga keduanya terbangun dari tidurnya.
Dikarenakan mereka berdua sudah bangun, tangan Rai berhenti mengeluarkan daging monster untuk Kuro, dan Kuro pun langsung berubah menjadi anak kucing yang lucu.
Daging monster tersisa sedikit lagi, mungkin beberapa potongan daging yang ada di dalam tasnya.
Hitung-hitung untuk Kuro makan nanti di hari-hari berikutnya.
“Kau sudah mendingan, Flank?“ Loret menoleh ke arah kanannya, dan berkata pada Flank.
“Lebih baik dari sebelumnya, paling tidak kaki dan tanganku tidak begitu terasa nyeri seperti semalam.“ Flank menjawab dan dia mencoba untuk berdiri.
Bam!
Suara benda yang berat terjatuh terdengar terjelas.
Rai turun dari pohon dan mendarat tepat di depan keduanya.
“Bagaimana?“ Rai bertanya hanya dengan satu kata kepada mereka berdua.
“Aku sudah baik-baik saja walau masih terasa sakit di beberapa bagian pada tubuhku,” jawab Loret sembari memijat tangan kirinya yang masih terasa sakit.
“Aku juga, untungnya aku masih bisa berjalan.“ Flank yang hendak berdiri sebelumnya, kini kembali duduk dan bersandar di pohon.
Nampak Flank yang sedikit lemah dari sebelum dia cedera yang dihasilkan oleh pertarungan dengan Boss Huuzer Crawler.
Keduanya masih berguna untuk Rai, jadi dengan ini Rai mencoba menolong mereka dengan cara memberi makanan.
“Makan ini.“ Tangan Rai mengeluarkan sebungkus makanan yang dibalut kertas nasi coklat dari tas punggungnya yang telah ia pindahkan ke depan tubuhnya.
Melemparkan dua bungkus makanan tepat ke arah Loret dan Flank, mereka dengan sigap menangkap makanan yang diberikan oleh Rai.
__ADS_1
“Terima kasih.“
“Terima kasih, Rai.“
Keduanya berterima kasih kepada Rai, kemudian mereka dengan cepat membuka bungkus makanan dan melihat isiannya.
“Apalagi ini?“ tanya Loret pada Rai.
“Nasi uduk,” jawab Rai seadanya.
Menatap kembali isi bungkus makanan ini, Loret dan Flank mencium wewangian yang pernah dia makan sebelumnya.
“Bukannya ini sama dengan yang pernah kami berdua makan?“ Loret bertanya lagi Rai.
“Ya, itu sama.“
Rai menjawab sambil membuka bungkus nasi uduk di tanah yang ditumbuhi sedikit rumput.
“Woah, aku suka ini!“ Loret segera mengambil sesendok nasi uduk dan ia masukkan ke dalam mulutnya.
“Mmmhh enak.“
Wajah Loret tampak keenakan dengan makanannya, secara tidak langsung Rai mengetahui bahwa Loret suka dengan nasi uduk.
Flank yang ada di sebelahnya mengangguk dan menunjukkan bahwa makanan ini memanglah enak.
Sesuai dengan biasanya, potongan ayam Rai patahkan dan bagian yang lain diberikan kepada Kuro.
Kemudian ia ikut memulai makannya.
Karena Sistem, rasa rindu akan tempat tinggal dapat ditebuskan oleh makanan yang sudah disediakan oleh Sistem, di dalam hatinya Rai dangat menghargai ini.
Di dunia ini sangat sulit mencari makanan, walaupun ada bumbunya tidak seenak makanan dari Sistem.
Produksi bumbu tentunya telah hancur, tapi Rai menduga akan ada saja orang pintar dengan caranya sendiri dapat menghasilkan bumbu dapur untuk menambah rasa makanan menjadi lebih baik.
Beberapa menit berselang, mereka bertiga telah menyelesaikan makanannya.
Sampah kertas dari bungkus makanan, Loret kumpulkan menjadi bola kertas, lalu dia mencari lubang pada pohon untuk menghilangkan jejak mereka bertiga pernah ke sini.
“Kita harus melanjutkan perjalanan, ayo pergi.“
Flank berdiri di tanah, memandang Rai dan Loret, dan dia berkata.
“Oke, ayo pergi.“
Flank berjalan menuju jalan utama yang mengarah menuju Kota Lhee Utara, diikuti oleh Flank yang bergerak perlahan di belakangnya.
“Ayo, Rai.“ Loret tanpa menoleh ke belakang, berkata sembari mengangkat tangan kanannya.
“Oke.“ Rai melirik Kuro di bahunya, lalu mengangguk.
'Miaw!'
__ADS_1
Kuro mengangguk.
Rai berjalan mengikuti keduanya dan mulai melanjutkan perjalanan menuju Kota Lhee Utara yang belum Rai ketahui.