
"Terimakasih, Ara. Kau sudah mau menemaniku sedari tadi. Jadi gak terasa sudah jam 5", ujar Indira saat mereka tiba di gerbang kampus.
"Sama-sama Dira. Kita itu sahabat, jadi gak perlu sungkan." Tamara merangkul bahu Indira dengan tersenyum.
"Trus, kau pulang naik apa?"
"Tuh...", tunjuk Tamara pada sebuah mobil yang baru saja menepi di depan gerbang kampus.
"Oo, dijemput. Kalau gitu, hati-hati di jalan, ya."
"Eh, main usir aja. Dasar tak tahu berterimakasih!" ujar Tamara dengan berpura-pura cemberut.
Indira tersentak kaget mendengar penuturan Tamara. "Maaf Ara. Aku gak bermaksud seperti itu", sahut Indira dengan rasa bersalah.
"Bercanda kali!" teriak Tamara seraya tertawa dengan keras. "Serius amat mukanya." Tamara mencubit gemas kedua pipi Indira.
Indira pun bernafas lega. Dia mengira bakal kehilangan sahabat terbaiknya itu. "Aku hanya tak ingin merepotkanmu dan orang yang sedang menunggumu di mobil, kalau kau masih menemaniku disini."
"Sudah aku katakan. Jangan sungkan. Kita ini bukanlah orang asing lagi, tapi kita adalah sahabat!" Tamara menekankan kata sahabat.
"Baiklah sahabatku", sahut Indira dengan tersenyum lebar. "Kebetulan jemputanku sudah datang", ujarnya.
"Ayo, kita sama-sama berangkat", ucap Tamara seraya melangkahkan kakinya menuju mobil. Indira pun melakukan hal yang sama.
"Eh, ada bibi juga", ucap Indira saat baru.saja masuk ke dalam mobil.
"Iya,.bibi mau ikut melihat kos-kosan yang ingin diperlihatkan mamanya Nisya", ujar sang bibi dengan menoleh sekilas ke arah Indira, lalu dia kembali menoleh ke luar kaca mobil.
"O, berarti sekarang kita mau lihat kos-kosan?" tanya Indira yang dibenarkan oleh sang bibi.
Tak butuh waktu yang lama mereka tiba di tempat kos-kosan yang tidak jauh dari kampus tempat Indira kuliah.
"Kalau lokasinya sudah cocok", ujar sang bibi saat melhat jarak tempuhnya tidak jauh dari kampus. "Tapi apa disini aman?" tanya sang bibi.yang merasa kuatir jika Indira tinggal seorang diri di tempat itu.
"Tenang, mba. Di sini ada CCTVnya, coba lihat itu." tunjuk mamanya Nisya pada sebuah berbentuk kamera.
Sang bibi dan Indira menoleh ke arah yang di tinjuk, lalu mereka pun manggut-manggut.
"Ayo, kita cek ke dalam", ajak wanita itu pada Indira dan bibinya. Lalu mereka bertiga jalan bersama.
__ADS_1
---
Setelah kurang dari 20 menit mereka berada di sana untuk mengecek keadaan kos-kosan dan menamyakan biayanya, mereka pun memutuskan akan menyewa 1 umit kos-kosan untuk Imdira dengan membayar uang kos untuk 3 bulan ke depan.
"Tempatnya lumayan bagus ya, harganya juga terjangkau", ujar bibinya Indira dengan rssa puas saat akan berjalan pulang.
"Kos-kosan Dira kan sudah dapat nih, jadi mba dan Dira jangan pusing lagi, ya", ucap mamanya Nisya seraya menatap Indira dan bibinya Indira bergantian.
"Terimakasih, tante sudah mau bantuin kita nyari kos-kosan."
"Itu bukan seberapa. Tante juga wanita, jadi paham kesulitanmu saat ini", sahutnya dengan tersenyum ke arah Indira. "Ayo, kita pulang", ajaknya seraya melangkahkan kaki meninggalkan tempat itu. Indira dan sang bibi pun mengikuti langkahnya.
---
Di kediaman keluarga Theo.
"Hai, mommy", teriak Tamara memanggil sang ibu seraya menghamburkan dirinya memeluk sang ibu yang sedang duduk di ruang keluarga.
Sang ibu pun membalas dengan memeluk putri cantiknya itu. "Kenapa Ara pulang lama sekali?" tanya sang ibu kuatir.
Tamara melepaskan pelukannya. "Mommy kan tahu Ara sekarang punya sahabat. Jadi Ara gak boleh egois dong."
"Bukan itu maksud Ara, mom", sahut Ara dengan tersenyum. "Egois yang Ara maksud itu gini lho, mom. Kalau sahabat Ara belum pulang tentulah Ara harus menemaninya, supaya kami bisa pulang sama-sama", ujar Tamara menjelaskan.
Ratu tersenyum seraya mencubit gemas pipi Tamara. "Iya, mommy paham. Sekarang pergi mandi dulu, gih. Aroma masam sudah mrnyebar, nih", ujar Ratu seraya menutup hidungnya
"Ada satu lagi yang mau Ara omongin", ucapnya tiba-tiba saat baru saja akan bangkit dari tempat duduknya.
"Apa lagi, nak?"
"Gini lho, mom. Ara kasian banget lihat kondisi sahabat Ara. Dia sudah kehilangan kedua orang tuanya sejak umur 15 tahun. Sekarang tinggal bareng paman dan bibinya. Tapi pamannya itu jahat!" seru Tamara.
Ratu menautkan kedua alisnya. "Emangnya apa yang dilakukan pamannya?" tanya Ratu.
"Dia mrncoba mencabuli Dira sahabat Ara, mom."
Ratu menutup mulutnya yang menganga. "Seriously!"
"Yes, mom."
"Dasar biadap itu pamannya. Apa mereka sudah lapor polisi?"Ratu mulai emosi. Dia pun bergegas bangkit dari tempat duduknya dan ingin segera mendatangi pamannya Indira.
__ADS_1
"Mommy tenang dulu, okay." Tamara menarik tangan sang ibu, lalu menuntunnya untuk duduk kembali.
Ratu mendengus kasar saat bokongnya berhasil menempel di kursi. "Jadi gimana keadaan temanmu itu sekarang?"
"Dira sudah tidak tinggal di rumah pamannya lagi. Sekarang dia tinggal di rumah tetangganya. Kasihan kan, mom", ujar Tamara dengan wajah sedih.
Ratu terdiam sesaat. "Apa kamu yakin diia tidak sedang menipumu?" tanya Ratu yang mulai ragu. Dia khawatir putrinya yang mudah sekali iba dengan seseorang itu, akan dimanfaatkan.
"Mommy tenang saja. Dira bukan seorang penipu. Dia selain pintar, dia juga anak yang baik."
"Kenapa Ara bisa seyakin itu? Ara kan baru mengenalnya beberapa hari saja."
"Feeling, mom", sahut Ara singkat.
"Baiklah kalau Ara memang sudah yakin. Tapi mommy ingatkan, jangan percaya 100% tetap waspada ya, nak."
"Tapi bukan itu intinya mom." Tamara menatap sang ibu dengan serius.
"Lalu apa?"
"Ara mau mengajaknya tinggal di rumah kita", ujarnya dengan wajah memelas.
Ratu terdiam sambil berfikir. Dia memang merasa iba dengan sahabat putrinya itu. Tapi dia juga masih sedikit ragu dengan kebenaran dari cerita putrinya itu.
"Begini saja, nak. Kamu undang sahabatmu itu datang kemari, biar mommy juga bisa kasi pendapat."
Tamara menatap sang ibu dengan tersenyum. "Okay, mom", sahutnya. "Ara ke kamar dulu, mom."
"Iya, mandilah!" seru Ratu seraya memaksakan senyumannya.
---
Di dalam kamar Tamara langsung meraih ponsel dari dalam tas selempangnya, lalu dia mencari kontak Indira yang baru dia simpan tadi siang di ponselnya. Setelah beberapa kali mendengar nada terhubung, Indira belum juga menyahut panggilan telepon darinya. Dia pun mencobanya untuk kedua kalinya, namun hasilnya tetap sama.
"Kemana dia? Apa aku datangi aja ke sana?" Tamara terus bergumam. Sedikit rasa kuatir terbesit dalam pikirannya. Dia pun meletakkan ponselnya d atas nakas, lalu buru-buru melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Setelah 30 menit berlalu, Tamara keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk yang meggulung di kepalanya. Dia pun berjalan menuju walk-in closet, mencari pakaian yang hendak dia kenakan. Sepasang pakaian diraihnya lalu segera memakainya.
Saat ini Tamara berdiri di depan cermin menatap bayangan wajah cantiknya saat sedang memoles liptint kesukaannya. Seulas senyum terbit di wajahnya tatkala melihat riasan yang menambah kecantikannya.
"Tunggu dulu... Sebenarnya aku ini mau ketemu sahabat atau pacar, sih", ucapnya bergumam. Dia pun tergelak sendiri saat baru menyadarinya. Lalu dia meraih tas selempang kecil yang sudah dia persiapkan, dan berjalan keluar kamar.
__ADS_1