
Indira melajukan kendaraannya membelah jalanan yang masih ramai itu. Perjamuan singkat yang dia hadiri malam ini di rumah keluarga Daven berakhir dengan rasa canggung.
Indira menyesal tidak langsung memberitahu kedua orang tua Daven tentang kehamilan dan kelahiran putranya. Kini kedua orang tua Daven bersikap dingin padanya.
"Hfft, setidaknya kedua orang tua Daven tidak menginginkan aku jadi menantunya", desahnya bergumam. Matanya sesekali melirik Rafa yang tertidur pulas melalui kaca spion.
Indira menghentikan kendaraannya saat berada dipersimpangan lampu merah. Pandangannya dia alihkan pada mobil yang berhenti tepat disamping mobil miliknya sembari menunggu lampu berganti warna.
Mata nanarnya menatap seorang wanita dari posisi samping yang sedang tersenyum bahagia. "Kekasihnya pasti sedang menggodanya", gumam Indira yang hafal dengan gerak gerik itu.
Indira mengalihkan pandangannya, namun lampu yang belum juga berganti warna. Kemudian dia kembali melirik ke arah sisi kanannya. Kini yang tampak bukan hanya wajah wanita itu. Seorang pria yang duduk di bangku kemudi membuat Indira terperangah. "Theo..." ucapnya hingga mengusik tidur Rafa.
Rafa menggeliat seraya mengigau. Indira pun berusaha menenangkannya. "Shhh" Indira membuat suara sembari membulatkan bibirnya.
Tit. Tit.
Desakan mobil yang berada tepat di belakang mobil Indira dengan membunyikan klakson panjang saat lampu baru saja berganti warna, membuat Indira gugup.
"Iya, sabar", decaknya. Dia langsung menjalankan mobilnya tanpa memperdulikan Theo yang juga sudah melihatnya.
...---...
"Kak Theo kenapa?" tanya wanita yang duduk disampingnya.
"Bukan apa-apa."
Wanita itu merasa jawaban Theo tidak sesuai dengan ekspresi wajahnya. "Apa wanita yang di samping mobil kita tadi adalah mantan Kak Theo?" tanyanya kembali.
"Aku tidak perlu membahasnya denganmu", jawab Theo dengan tatapan dingin.yang membuat Lova terdiam.
Sebelumnya Dealova sudah berusaha membuat Theo datang menjemputnya dengan alasan klasik. Dia mengatakan kalau malam sudah semakin larut dan dia sama sekali tidak tahu daerah itu.
Saat Theo menyarankan menggunakan aplikasi taksi online Lova pun beralasan tidak mengerti menggunakan aplikasi itu dan tidak ada orang yang bisa membantunyanya, karena teman sejawatnya sudah pulang lebih dulu.
Kini semua alasan yang dia buat seakan sia-sia, karena Theo bertemu kembali dengan wanita yang Dealova duga adalah mantan Theo.
Setidaknya aku tahu bagaimana wajah wanita yang membuat Kak Theo tidak mau melirikku, ucap Dealova di dalam batinnya.
Dealova membuang pandangan jauh keluar kaca mobil. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini namun seringainya menunjukkan sesuatu yang jahat sedang dia rencanakan di dalam benaknya.
__ADS_1
Theo pun sibuk dengan lamunannya. Dia tidak ingin Indira salah paham pada Dealova. Dia menutar balik kendaraannya, berharap masih dapat mengejar mobil Indira.
"Kenapa putar balik, Kak?" tanya Dealova yang baru tersadar dari lamunannya. Namun Theo mengabaikannya.
"Jangan ngebut-ngebut, Kak!" pohonnya dengan berteriak kala Theo semakin menambah laju kecepatan mobil.
Dealova menggantung kuat tangannya di atas. Keringatnya mulai bercucuran bahkan wajahnya tampak pucat pasi, tidak lama kemudian dia tak sadarkan diri.
Theo buru-buru menepikan kendaraannya. Lalu dia turun dari dalam mobil dan berjalan dengan mengitari mobil menuju Dealova.
"Lova bangun... bangunlah!" pinta Theo dengan suara keras seraya menepuk pipi Dealova. Namun Dealova belum sadarkan diri juga. Lalu diraihnya botol air mineral, dipercikkannya air beberapa kali hingga membasahi wajah Dealova.
Tidak lama kemudian Dealova mulai mengerjap sembari memegang kepalanya. "Kepalaku pusing", katanya sembari memijit pelipisnya.
"Syukurlah kau tidak apa-apa."
Theo membantu Dealova membenarkan posisi duduknya. "Apa kau sudah merasa enakan?"
Dealova berdehem seraya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Oke, kalau begitu kita lanjut", ujar Theo seraya menutup pintu mobil. Lalu dia kembali mengitari dan masuk ke dalam mobil.
Dealova mendesah seraya mengatur nafasnya yang masih merasakan sesak. "Aku tidak tahu. Tapi sejak kecelakaan mobil yang membuat Papa dan Mama tiada. Aku begitu takut di dalam mobil yang melaju kencang."
Theo melirik Dealova sekilas, namun masih tetap fokus menyetir. "Maaf, aku sudah membuatmu ketakutan. Jika aku tahu kau memiliki trauma, aku tidak akan melakukan hal seperti tadi."
"Tidak apa-apa, Kak. Yang penting tidak terjadi sesuatu yang membahayakan."
Theo sedikit lega mendengarnya. "Apa kita perlu ke dokter?" tanya Theo sebagai rasa tanggung jawab.
Dealova menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu, Kak", sahutnya. Theo pun tidak menawarkan untuk kedua kalinya.
Tidak butuh waktu yang lama Theo sudah menepikan kendaraannya saat akan masuk ke halaman tempat tinggal Dealova. Setelah menunggu beberapa saat Theo mulai bingung, kala Dealova belum juga keluar dari dalam mobil.
"Sudah sampai", kata Theo seraya melirik Dealova. Dia menduga-duga barangkali Dealova sedang melamun.
"Kak Theo. Aku masih merasa takut", ucapnya lirih.
Theo mencoba mencerna ucapan Dealova. Dia takut salah mengartikan ucapan wanita yang masih duduk di dalam mobil Theo itu dengan wajah murung.
__ADS_1
"Apa kau mau aku mengantarmu sampai ke atas?" tunjuk Theo pada apartemen tempat tinggal Dealova.
Dealova mengangguk pelan. Dia tidak ingin terlihat sebagai wanita yang sedang mencari kesempatan.
"Oke, kalau begjtu. Ayo, aku antar ke atas", ucap Theo seraya keluar dari dalam mobil.
...---...
Hanya butuh waktu 5 menit mereka sudah berada di depan pintu apartemen Dealova.
"Ayo, masuk Kak", ajak Dealova saat dia berhasil membuka pintu.
"Tidak perlu. Aku hanya mengantarmu sampai di sini", tolak Theo dengan tegas.
Tiba-tiba tubuh Dealova merosot dan hampir saja jatuh ke lantai jika tidak di topang Theo.
"Kau kenapa?" tanya Theo seraya menuntun Dealova duduk di sofa.
"Aku tidak tahu. Sejak aku pingsan di mobil Kak Theo kepalaku tidak berhenti sakit."
Theo mengkerutkan keningnya. "Aku rasa tidak ada korelasi antara keduanya."
"Tapi aku mengalaminya", tegas Dealova yang tidak ingin Theo segera pulang. Dia mencoba membuat Theo tetap tinggal di apartemennya.
"Aku tinggal sendiri di sini. Bagaimana jika nanti sakit kepalaku kambuh lagi atau aku kembali pingsan", ucap Dealova dengan wajah sedih.
"Tidak perlu kuatir. Karena hal itu bisa terjadi padamu, jika kau sedang dalam tekanan. Tapi jika kau duduk tenang atau berbaring untuk tidur, maka hal seperti tadi tidak akan terjadi.
Dealova kecewa dengan penuturan Theo. Dia pun meminta Theo segera meninggakjan apartemen miliknya.
"Kalau begitu aku pamit", kata Theo.
Dealova mengabaikannya. Dia tetap duduk diam di sofa.
Sedangkan Theo sudah melangkahkan kakinya meninggalkan apartemen Dealova. Maafkan aku Lova, karena telah menyakiti perasaanmu. Tapi aku lebih tidak ingin menyakiti perasaan wanita yang selama ini aku rindukan, ucap Theo di dalam batinnya.
Theo bergegas masuk ke dalam lift yang baru saja terbuka lebar. Dia ingin segera pergi meninggalkan tempat yang menggoda imannya itu. Bagi Theo cukup 1 kali melakukan kesalahan, tidak boleh ada untuk yang kedua kalinya.
Theo tidak tahu dan tidak ingin tahu apa yang dilakukan oleh Dealova sepeninggalnya. Kini dia berada di dalam mobil miliknya. Dia menayalakan, lalu melajukan kendaraannya menuju tempat tinggalnya.
__ADS_1