Love Me Tender

Love Me Tender
Makan Siang Bareng


__ADS_3

Theo berjalan menyusuri lorong kampus. Netranya terbeliak kala melihat sang istri yang berjalan berlawanan arah dengannya sedang berjalan bersama seorang pria.


Seketika senyuman di wajah Indira hilang saat menyadari pria yang sedang berjalan menuju kearahnya adalah suaminya.


"Keruangan saya sekarang!" titah Theo saat berdiri sejajar dengan Indira.


"Baik, pak", balas Indira dengan sedikit gugup.


"Aku keruangan pak Theo dulu, ya", bisik Indira pada Saka, teman prianya yang baru saja berjalan dengannya. Saka hanya membalasnya dengan anggukan.


 


Theo masuk ke dalam ruangan yang khusus di buat untuknya.


"Tutup pintunya!" titahnya pada Indira.


"Apa aku menyuruhmu duduk?" tanya Theo saat Indira baru saja menempelkan bokongnya di kursi. Dan terpaksa dia bangkit kembali.


"Duduklah!" pinta Theo. Dia merasa tidak tega untuk menghukum sang istri. Namun Indira tetap berdiri. "Kenapa masih berdiri?"


"Langsung berikan saja tugasnya pak", ucap Indira tegas dengan hanya menatap Theo sekilas.


Theo bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan menghampiri Indira. Semakin dekat, terus lebih dekat lagi hingga Indira beringsut mundur dan badannya menempel di dinding.


Cup.


Kecupan tepat di bibir Indira membuatnya berdecak kesal. "Harusnya bapak.."


Cup.


"Jangan panggil aku bapak, jika kita sedang berdua saja!" ucap Theo sembari menatap Indira yang masih terlihat kesal. "Kalau tidak aku akan terus menciummu! Dan satu hal lagi, ingat bahwa statusmu itu bukan lagi single, jadi jangan sembarangan bergaul dengan pria lain."


Indira mendengus kasar kala mendengar penuturan sang suami. Namun sesaat kemudian dia merubah ekspresinya. "Baiklah suamiku. Apa ada tugas untuk hari ini?" tanya Indira dengan sikap manis.


Theo tersenyum melihat sikap manis sang istri. "Ada sayang. Tunggu sebentar ya", sahut suara lembut Theo. Lalu dia meraih beberapa berkas yang sudah dia persiapkan sebelumnya untuk diberikan pada Indira. "Ini ambillah! Tolong kalian kerjakan hari ini, setelah selesai langsung kamu kumpulkan dan antar ke meja saya."


"Baik, kak. Ada lagi kak?"


"Ada", sahut Theo sembari melangkah lebih dekat pada Indira. "Nanti kita pulang bareng. Jika kuliahmu sudah selesai, tunggu kakak diruangan ini."


Indira menyesal telah bertanya. "Tapi hari ini aku ada..."


"Mulai membantah?" Theo langsung memotong ucapan Indira.


"Baiklah, kak", jawab Indira lesu. Lalu dia berjalan keluar ruangan Theo sembari membawa tugas yang diberikan Theo.


 


Theo masuk ke kelas Indira setelah tugas yang dia berikan pada Indira selesai dibagikan.


Lha... Ternyata dia langsung masuk. Jadi apa gunanya dia memintaku membagikan tugas, batin Indira.


"Semua sudah menerima tugas yang saya berikan?"

__ADS_1


"Sudah pak", jawab suara yang serempak namun sedikit riuh.


"Oke, kerjakan sekarang. Waktu kalian hanya 1 jam untuk menyelesaikannya."


Theo duduk di kursi sembari menatap wajah sang istri yang sedang serius mengerjakan tugas yang dia berikan.


Ternyata dia manis juga kalau sedang serius, batin Theo.


Namun tiba-tiba Theo terbelalak kala seorang pria di sebelah Indira menggeser duduknya hingga jarak mereka sangat dekat.


"Ara", panggil Theo. Tamara pun menghentikan gerakan tangannya, lalu menatap ke arah Theo.


"Ya, kak", sahut Tamara.


"Tolong kamu bertukar tempat dengan pria di sebelah Dira."


Tamara berdecak kesal tatkala mendengar permintaan sang kakak. "Baik, kak", sahutnya dengan malas. Dia langsung merapikan lembar soal miliknya dan membawanya menuju meja Indira.


Theo tersenyum puas saat memastikan tak ada pria lain yang akan mendekati Indira.


Tanpa terasa waktu 1 jam pun berlalu. Indira bergegaa mengumpulkan berkas yang tadi dia bagikan. Setelah semua berkas sudah terkumpul, Theo pun lanjut mengajar mata kuliah yang akan dia bawakan, karena waktu masih bersisa 30 menit lagi.


 


Di ruangan Theo.


Saar ini Indira terkurung dalam ruangan sang suami. Dia harus menuruti keinginan suaminya itu yakni makan siang berdua di dalam ruangan sempitnya itu.


"Makan yang banyak biar gak sakit lagi kalau aku serang tengah malam", ucap Theo dengan santai, namun Indira tersentak mendengarnya. Masih ada rasa trauma setelah rasa sakit yang dia alami.


Ucapan Theo barusan seakan terngiang di dalam pikiran Indira. Perkataan yang sering diucapkan sang paman padanya. Entah kenapa Indira akan selalu gusar kala mengingatnya.


"Kenapa?" tanya Theo saat melihat perubahan raut wajah Indira.


"Bukan apa-apa", sahut Indira yang berusaha menutupinya. Namun Theo tak mempercayai ucapan Indira begitu saja.


"Cepat katakan atau kau masih menganggapku sebagai orang lain?"


Indira yang tidak suka dicurigai seperti itu, akhirnya menyatakan hal sebenarnya. "Aku hanya teringat dengan ucapan paman. Ucapannya persis ucapan kakak tadi."


Theo terdiam sesaat dengan perasaan bersalah. "Maaf kakak sudah membuatmu mengingat kisah kelam itu."


"Tidak apa-apa kak."


"Ayo, makanlah. Biar ada tenaga nungguin kakak selesai ngajar nanti." Theo menyodorkan sesendok makanan kw dalam mulut Indira yang terbuka.


 


Di kantin kampus.


Tamara sedang duduk saling berhadapan dengan Saka di meja kantin. Awalnya Tamara senang karena Saka datang menghampirinya, namun setelah tahu siapa yang dia cari wajahnya pun berubah cemberut.


"Kenapa itu makanan sedari tadi dipandangin aja?"

__ADS_1


"Udah gak mood!" celeruk Tamara.


"Karena lihat muka Saka ya?"


"Eh, bukan. Tadi tiba-tiba saja teringat mata kuliah yang menyebalkan", jawab Tamara berbohong.


"Oh, syukurlah bukan karena Saka", ucapnya seraya menelan makanan yang baru saja dia kunyah. "Nanti malam Tamara ada kegiatan, gak?"


Tamara menghentikan gerakan tangannya yang mengacak-acak makanan, lalu menatap Saka dengan serius. "Gak ada. Emangnya kenapa?"


"Aku ada beli tiket nonton untuk 4 orang. Kau boleh ajak temanmu 2 orang lagi, itupun kalau kau mau."


Tamara tersenyum mendengar ajakan Saka. "Em, pasti aku mau dong. Aku akan mengajak Dira dan kakakku."


"Oke, apa perlu aku jemput?"


Tamara mengangguk dengan cepat. "Boleh", jawabnya dengan tersenyum sumringah. Lalu dia kembali menyentuh makanan yang sempat dia anggurin.


"Apa masih enak?" tanya Saka dengan mengernyitkan keningnya.


"Em, sedikit", jawab Tamara yang sudah tidak lagi memperdulikan soal rasa.


Saka bangkit dari tempat duduknya. "Aku mau balik ke kelas dulu. Jangan lupa jam 6 nanti aku jemput ke rumahmu, tolong kirim alamatnya ya."


"Oke", sahut Tamara dengan singkat.


---


Di dalam kelas Indira dan Tamara mulai riuh saat mata kuliah baru saja berakhir.


"Akhir pekan nanti mau kemana?" Sesama mahasiswa saling bertanya. Mereka ingin menikmati akhir pekan dengan santai.


"Tadi siang kakak ip..." Tamara menggantung ucapannya, karena hampir saja dia keceplosan. Meskipun sudah ada beberapa mahasiswa yang mengetahui pernikahan kakaknya dengan Indira, namun mereka belum mau mempublikasikannya dengan terang-terangan.


Saat ini Indira masih menatap Tamara yang belum menyelesaikan ucapannya. "Tadi siang kenapa?"


"Em, tadi siang kau kemana?" tanya Tamara melanjutkan ucapannya.


"Oh, tadi siang." ucap Indira mengulangi. Lalu dia merapatkan tubuhnya pada Tamara. "Tadi siang aku diruangan kak Theo", bisiknya tepat di telinga Tamara.


"Makan siang bareng, ya?"


Indira mengangguk cepat. "Em."


"Oh, bagus dong." Tamara mengacungkan kedua jempolnya. "Aku cuma mau ngajak kalian nonton bareng nanti malam."


"Lihat nanti ya. Aku tanya kak Theo dulu."


"Oke, kalau gitu ayo kita pulang." Tamara menatap Indira yang masih diam di tempat duduknya. "Ayo", ajak Tamara kembali, namun Indira tidak juga beranjak.


"Kau duluan saja. Aku masih harus menunggu kak Theo selesai ngajar."


Tamara menatap wajah lesu Indira. "Kasihan... ", ucapnya dengan pura-pura bersedih. "Aku duluan ya, bye." Tamara melangkahkan kakinya meninggalkan Indira yang masih duduk di tempatnya semula.

__ADS_1


.


__ADS_2