Love Me Tender

Love Me Tender
Perlakuan Manis Indira


__ADS_3

Pria yang bertemu Tamara sewaktu di lorong kampus sedang menunggu di depan pintu kelasnya, hingga membuat riuh isi kelasnya.


"Kenapa sih, lihat cowok cakep dikit aja udah histeris kayak gitu!" Tamara berdecak kesal saat melihat reaksi teman wanita sekelasnya itu. Lalu dia menggantung tas selempangnya dan berjalan keluar kelas.


"Tamara tunggu!" ujar pria itu saat Tamara akan melewatinya.


"Oh, kau mengenalku? Maaf sebelumnya aku belum tahu namamu dan ada perlu apa ya mencariku?"


"Aku Saka. Aku ingin mengajakmu makan siang."


"What! Saka? Apa kau melakukan operasi plastik? Kenapa wajahmu bisa berubah...?"


"Berubah cakep ya?"


Tamara hanya membalasnya dengan cengiran kuda. "Tapi aku minta maaf sebelumnya, karena aku gak bisa memenuhi ajakanmu."


"Sekali ini saja, please", ucap Saka memohon.


Baru saja Tamara mengharapkan kedatangan seseorang, yang di nanti pun benar-benar datang.


"Ara, yuk kita ke cafe mama", ajak Dion saat dia tahu Tamara sedang dalam kesulitan menolak ajakan Saka.


"Eh, ada kak Dion juga. Bolehlah kita bareng."


Tamara dan Dion seakan membatu mendengar ucapan Saka. Niat hati ingin mengelak, namun yang terjadi semakin terjepit.


"Maaf Saka. Ini pertemuan keluarga, jadi harusnya kau sudah paham kan maksudnya?"


Saka terdiam sesaat. "Oke, lain kali kita pergi makan bersama,", ujarnya yang membuat Tamara menghela nafas lega. Lalu Saka membalikkan badannya hendak meninggalkan Tamara dan Dion.


"Saka... Tunggu dulu!" teriak Tamara.


Saka tiba-tiba menghentikan langkahnya, lalu dia berbalik menghadap Tamara dengan tersenyum sumringah. "Ya, apa kau berubah pikiran?"


"Um, begini Saka. Untuk memudahkan kita berkomunikasi, lebih baik tuliskan alamat email dan nomor telepon Saka di sini." Tamara buru-buru meraih buku binder dari dalam tasnya. "Ini Saka", ucapnya seraya memberi buku dan pena pada Saka.


"Tak perlu pakai itu!" Saka menolak pemberian Tamara. "Sekarang kan jaman sudah canggih. Tamara tinggal sebutkan nomor telepon saja, nanti Saka langsung menyimpannya di ponsel."


Tamara menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Em, minta nomor kak Dion saja, ya. Ara tiba-tiba ingat ada urusan mendesak." Tamara berjalan terburu-buru meninggalkan Dion bersama dengan Saka yang masih berdiri di posisi mereka masing-masing.


 


Theo sedang duduk di kursi kebesarannya sembari menatap nanar langit cerah melalui kaca jendela ruangannya. Saat ini dia sedikit pusing, karena tidak punya solusi atas masalah yang dia ciptakan sendiri yakni tidak mau memperkenalkan sang istri pada seluruh karyawannya.


"Aku tidak punya pilihan lain. Terserah para karyawan menilai Dira seperti apa." Theo hanya memikirkan penilaian para karyawannya pada Indira yang jauh berbeda dengan mantan kekasih Theo.

__ADS_1


Tok. Tok.


"Masuk..." Theo membalikkan kursinya ke posisi semula.


"Permisi pak." Risa sang sekretaris masuk, lalu berjalan menghampiri Theo. "Ini berkas yang harus Bapak tanda tangan." Sebuah map warna biru berisi dokumen diberikannya pada Theo.


"Hanya ini?" tanya Theo sembari meraih map itu.


"Iya, pak."


Risa duduk di hadapan Theo sambil menunggu sang bos menyelesaikannya.


"Ini sudah."


Risa meraih kembali map dokumen dari tangan Theo. "Baik, terimakasih pak", ucapnya, namun dia masih duduk ditempatnya semula.


"Ada apa?" tanya Theo saat melihat sang sekretaris seperti kebingungan.


"Maaf pak jika saya lancang. Apa saya boleh tahu siapa wanita yang datang membawa rantang tadi siang? Saya hanya takut kalau sikap saya ada menyinggungnya."


"Dia istri saya", jawab Theo santai, namun berhasil membuat Risa tersentak kaget.


"Bapak sudah menikah?"


'Iya, apa salah saya menikah?" Theo menatap Risa dengan tajam.


"Semua terjadi mendadak dan yang di undang hanya kerabat dekat saja."


"O, begitu. Tapi saya suka melihat istri bapak, karena selain cantik dia juga ramah. Beda banget sama yang sebelumnya", ujar sang sekretaris yang mengenal mantannya Theo.


"Apa ucapanmu bukan hanya bual semata?"


"Saya mana berani pak. Dan ini jujur dari apa yang saya lihat sendiri."


"Oke, terimakasih pujiannya. Apa ada lagi yang mau ditanyakan?"


"Tidak ada lagi pak. Saya permisi." Risa bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan keluar dari ruangan Theo.


Sepeninggal Risa, Theo berfikir sejenak. Akhirnya dia ada ide untuk memperkenalkan sang istri tanpa harus dirinya sendiri yang mengatakannya.


Tak butuh waktu yang lama, atas perintah Theo Risa telah menyebar gosip tentang istri sang atasan.


Sang resepsionis yang mendengar berita itu terduduk lesu. "Habislah aku! Mungkin sebentar lagi aku akan dipecat", ujarnya dengan gusar, hampir saja gelas kopi dia dekatkan ke daun telinganya saat akan mengangkat telepon yang sedang berdering.


 

__ADS_1


Di rumah kediaman Theo.


Dari ruang keluarga terdengar gelak tawa, saat guyon dari sang kakek berhasil menggelitik perut senua anggota keluarga Theo.


"Sudah cukup, kek", ujar Indira seraya memegang perutnya.


"Apa yang membuat kakak ipar seperti itu?" tanya Tamara yang baru saja datang dari rusng tamu.


"Biasa kakekmu selalu aja ada cerita lucunya", sahut Ratu yang paham benar dengan sifat papanya.


"Yah, Ara ketinggalan cerita dong kek." Tamara memandang sang kakek dengan wajah cemberut.


"Makanya sering berkunjung ke rumah kakek", sindir sang kakek. Dia tak habis pikir dengan kedua cucunya itu yang sangat jarang berkunjung meski masih dalam satu kota.


"Iya, kek. Libur semester nanti Ara ke sana."


"Gak mesti nunggu libur semester Ara! Akhir pekan ini juga kan bisa. Rumah kakek cuma 30 menit dari sini."


"Iya... Iya kek. Nanti Ara ajak kakak ipar ke sana", ucap Tamara, agar sang kakek tidak menuntutnya terus.


"Nah, gitu dong", sahut sang kakek dengan bahagia.


"Kalau ke rumah kakek gimana?" Kakek dari sang daddy seakan menuntut hal yang sama.


"Tenanglah kakek-kakekku yang masih sangat tampan ini, Ara akan mengunjungi kalian pekan ini dan juga pekan depan."


Kedua kakeknya pun tersenyum bahagia, karena selama ini mereka sangat kesepian di rumah.


"Wah, pada ngumpul di sini semua. Theo pikir pada kemana", ucap Theo yang baru saja sampai di rumah.


Indira pun bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan menghampiri sang suami. "Sini kak, biar Dira yang bawa." Indira meraih tas laptop yang sedang di tenteng oleh Theo. Tanpa bantahan Theo pun memberikannya.


"Theo mau ke kamar dulu ya kakek, nenek dan semuanya", pamitnya. Lalu dia melangkahkan kakinya meninggalkan semua anggota keluarga. Indira pun mengikuti dibelakangnya.


 


Di dalam kamar Theo.


"Bagaimana pekerjaannya hari ini, kak?" tanya Indira yang ingin menunjukkan kepeduliannya pada sang suami.


"Biasa saja."


Indira membantu Theo melepaskan jasnya. "Mau langsung mandi atau perlu Dira buatkan sesuatu dulu kak?" ujar Indira yang berusaha membangun hubungan suami istri yang wajar. Meskipun dia tidak ahli dalam rumah tangga. Namun wejangan dari sang ibu mertua sangat mudah dia tangkap, hingga dia langsung mempraktekkannya.


Theo terdiam sejenak. Perlakuan manis Indira membuatnya tersentuh. "Aku mandi saja dulu", jawabmya.

__ADS_1


Indira tersenyum saat mendengar jawaban sang suami. "Baiklah, kak."


__ADS_2