
Malam semakin larut, namun Theo belum juga memejamkan matanya. Dia terlihat gusar dengan menggeser tubuhnya beberapa kali. Indira yang tidur tepat disamping Theo mulai terusik, dia bangun dan menepuk pelan pundak sang suami.
"Kakak kenapa?" ucap suara paraunya.
Theo pun membalikkan badannya menatap Indira yang belum sadar sepenuhnya. "Ini pertama kali aku tidur denganmu. Jadi... " Lidah Theo seakan tercekal saat dia akan melanjutkan ucapannya.
"Jadi apa kak?"
"Sesuatu mengeras di sana dan aku sulit untuk mengendalikannya."
Indira mengernyitkan keningnya. "Apanya kak?"
Theo tahu kesadaran Indira belum kembali sepenuhnya. "Ini lho!" refleks Theo menarik tangan Indira untuk menyentuh sesuatu yang mengeras itu.
"Aaaa..." pekik Indira sembari menarik tangannya saat baru saja menyentuh benda keras itu.
"Apa yang sudah kakak lakukan?" kesalnya, namun sedikit geli karena Indira belum pernah menyentuh benda seperti itu.
"Sekarang sudah paham kan?"
Indira membalas dengan mengangguk pelan, tapi tidak dengan debaran jantungnya yang masih memompa dengan kencang.
"Boleh?" tanya Theo dengan tidak sabar.
Indira terdiam sesaat sembari menatap wajah Theo yang memelas. Lalu dia mengangguk dengan ragu.
Theo tersenyum bahagia meskipun Indira tidak mengucapkannya, namun anggukan Indira, dia anggap sebagai persetujuan. Tanpa menunggu lama Theo menumpahkan hasratnya yang sudah tertahan sedari tadi. Seakan tak ada puasnya Theo melakukannya hingga Indira benar-benar terkapar di atas tempat tidur.
Pagi ini kedua kakek dan nenek Theo bersiap untuk kembali ke tempat kediaman mereka.
"Cucu menantu kakek mana?" tanya sang kakek saat melihat hanya Theo sendiri yang akan mengantar kepulangan mereka.
"Em, Dira lagi kurang enak badan, kek", sahut Theo sedikit berbohong, karena sebenarnya sang istri sulit bangkit dari tempat tidur akibat ulahnya tadi malam.
"Coba kamu cek dulu nak. Bila perlu bawa ke dokter langganan kita", pinta sang kakek pada Ratu.
"Papa tenang saja. Dira akan saya urus dengan baik." Ratu berusaha meyakinkan sang papa, agar tidak risau selama perjalanan pulang.
__ADS_1
"Oke, jangan lupa kabari jika ada yang serius."
"Baik, pa", sahut Ratu.
Lalu mereka mengantar kepergian sang kakek menuju kendaraan yang terparkir di halaman rumah.
---
Saat ini Theo duduk di bangku kemudi mobil miliknya sembari memegang telinga kanannya yang masih terasa perih itu Entah kenapa sejak keluarganya tahu bahwa Indira tidak pernah menjebaknya, perlakuan keluarganya seakan berubah menjadi terbalik. Kini keluarganya lebih menyayangi Indira daripada dirinya.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Sang mommy memintanya untuk putar balik, karena Indira sedang demam tinggi dan dokter langganan mereka tidak bisa datang.
Dengan buru-buru Theo memutar balik kendaraannya, lalu dia melajukan kendaraannya itu menuju rumah kediamannya.
---
Setibanya di rumah dia langsung berjalan menuju kamar tempat keberadaan sang istri.
"Bagaimana keadaannya, mom. Apa panasnya masih tinggi", risau Theo seraya meletakkan punggung tangannya pada dahi Indira. "Panas sekali", ucapnya. "Kenapa gak langsung di antar ke rumah sakit saja, mom?"
"Daddy sedang menggantikan kamu meeting, jadi dia ke kantor disupirin sama pak Joko. Tapi kamu jangan panik, mommy sudah memberinya obat penurun panas. Mungkin sebentar lagi panasnya akan berkurang."
Baru saja Ratu menyelesaikan ucapannya, sang dokter pun datang. "Maaf aku baru bisa datang. Tadi ada pasien darurat di rumah sakit."
Sang dokter terkesiap mendengar penuturan Theo. "Istri? Kapan Theo menikah?"
"Iya, ini istri Theo. Maaf karena tidak mengundang bu dokter, karena saat mereka menikah kami hanya mengundang kerabat dekat saja."
Sang dokter hanya membalas dengan tersenyum tipis. "Iya, gak apa-apa", sahutnya. Lalu dia memeriksa keadaan Indira. "Sudah berapa lama dia demam?"
"Dari pagi ini, dok."
Sang dokter mengukur kembali suhu tubuh Indira. "Kenapa demamnya bisa setinggi ini? Atau kau telah melakukan hubungan suami istri saat area se******fnya masih sakit?" tebak sang dokter.
Theo menganggukkan kepalanya dengan cepat. Apa ada hubunganmya dok?"
"Jelas ada! Buktinya istri bapak sekarang sedang menahan rasa sakit hingga demam.
Theo menatap wajah cantik sang istri. "Maaf telah membuatmu jatuh sakit", ucap Theo seraya mengusap lembut kepala sang istri. "Aku janji ridak akan melakukan seperti itu lagi."
__ADS_1
Sang dokter yang mendengar ucapan Theo itu, langsung menatap wajah pucat Indira. Tidak ada yang menarik darinya, kenapa Theo.mau menikah dengan wanita seperti dia, ucqp sang dokter di dalam batinnya.
Setelah sang dokter selesai memeriksa keadaan Indira. Dia langsung memberikan resep obat yang bisa di tebus di apotik.
"Saya permisi dulu, bu", ujar sang dokter yang malas berlama-lama di sana.
Theo menatap ke arah sang dokter. "Terimakasih, dok", ucapnya. Lalu dia kembali menatap sang istri.
"Ya, sama-sama", sahut sang dokter dengan kesal, namun dia tutupi dengan senyum yang dipaksakan itu. Lalu dia berjalan ke luar dari kamar Theo.
Sepeninggal sang dokter, Ratu kembali menjewer telinga Theo. "Ini semua karena ulahmu. Dasar anak nakal!" rutuk sang mommy.
Theo tertunduk lesu. "Iya, maaf mom. Theo kan sudah janji tak akan mengulanginya lagi."
"Oke, mommy pegang janjimu."
Setelah itu sang mommy menelpon pak Joko untuk membelikan beberapa resep.obat.
---
Panas Indira mulai turun saat meminum obat yang dibeli oleh pak Joko. "Syukurlah tidak panas lagi", ujar sang mommy saat Theo terlelap di samping Indira.
"Apa dia masih demam?" tanya Theo saat dia terbangun dan melihat sang mommy baru saja selesai mengukur suhu tubuh Indira.
"Tidak lagi!" ujarnya.
"Syukurlah! Panasnya sudah turun. Semoga tidak akan naik lagi!" Theo mencium lembut pipi Indira. Dia tetap berada di dekat Indira hingga fajar kembali keperaduannya. Sedangkan Ratu sudah keluar dari dalam kamar mereka.
Hari seakan berjalan lambat bagi Theo yang sedang duduk di sebelah Indira tanpa melakukan apa-apa.
"Apa kakak gak lelah sedari tadi duduk?" tanya Indira yang tahu sejak kapan Theo berada disampingnya.
"Tidak! Karena kakak melakukannya dengan senang hati", ujar Theo namun tidak sepenuhnya benar.
Saat ini Indira merasa benar-benar pulih. Dia pun langsung bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi untuk menyelesaikan ritual mandinya saat dia merasakan tubuhnya mulai terasa lengket, meskipun Theo sudah berkali-kali melarangnya.
Sang mommy yang baru saja mengetahuinya pun berdecak kesal. Dia takut Indira kembali demam, karena menyentuh air dingin.
"Harusnya Dira menunggu beberapa saat dulu setelah benar-benar pulih, baru mandi", tutur Ratu menasehati.
__ADS_1
"Iya, maaf mom", sahut Indira dengan wajah memelas.
Lalu sang mommy meminta Indira segera makan, makanan yang baru saja dia bawa dan setelahnya memberikannya obat, agar menantunya itu pulih total.