Love Me Tender

Love Me Tender
Theo Tidak Ingin Bercerai


__ADS_3

Indira menatap wajah sendu Theo. "Kapan aku bisa menerima surat cerai itu?" tanya Indira yang berusaha tetap tegar.


Theo terdiam sejenak, lalu dia menatap Indira dengan wajah sendu. "Apa kau tidak menerima permintaan maaf dariku?"


"Apa yang anda katakan dan yang saya minta adalah dua hal yang berbeda."


"Tidak ada surat cerai! Aku tidak pernah punya keinginan untuk bercerai, jadi buat apa aku mengurusnya", jawab Theo dengan berdecak kesal.


"Oke, kalau begitu aku yang akan mengurusnya!'


Theo terbeliak kala mendengar ucapan yang keluar dari mulut Indira. Dia pun bangkit dari posisinya duduk, lalu berjalan mendekati Indira. "Apa kau benar-benar menginginkannya?" tanya Theo dengan menatap intens Indira.


Indira membuang jauh pandangannya. "Itu bukan urusanmu!"


Theo langsung memaksa Indira masuk dalam pelukannya. "Jangan biarkan putra kita tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah", ujarnya yang membuat Indira semula meronta kini mendadak tenang.


Sesaat kemudian Indira buru-buru mendorong tubuh Theo. Namun kekuatan Indira tidaklah sebanding dengan kekuatan Theo.


Ceklek.


Raja tiba-tiba masuk ke dalam ruangan. Theo dan Indira saling melepàs pelukan mereka.


"Kalian lanjut saja. Maafkan daddy tidak sengaja mengganggu kalian", ujarnya seraya membalikkan badan dan keluar dari ruangan.


"Saya rasa semua sudah cukup jelas. Mengenai kerjasama saya akan tetap bertindak profesional", ucap Indira seraya memungut tasnya dari atas meja. Lalu dia beranjak dari posisinya, namun tangannya dijegal.


"Kita selesaikan semuanya dengan baik-baik. Tolong jangan pergi lagi dari kehidupanku", pohon Theo dengan wajah memelas.


"Kita selesaikan semua dipersidangan!" pungkas Indira seraya menghempaskan tangan Theo. Dia benar-benar tidak mau lagi menjalani kehidupan rumah tangga bersama Theo.


"Silakan lakukan apa saja yang membuatmu senang. Tapi ingatlah satu hal! Aku tidak akan pernah menyetujui perceraian itu!" tukas Theo.


Indira terhenyak mendengar perkataan Theo. "Keputusanku tidak akan berubah, walau anda sudah berubah!"


Theo kembali meraih tangan Indira. "Percayalah, aku akan membuat rumah tangga kita bersatu kembali."


"Sepertinya tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, kalau begitu saya pamit Pak Theo", ucap Indira dengan buru-buru dan menarik paksa tangannya. Setelah terlepas, Indira melangkah keluar dari ruangan Theo.


Theo tak dapat lagi menahan Indira. Dia tidak ingin saat memaksa Indira tetap tinggal, malah akan semakin menyakiti istrinya itu.

__ADS_1


Sepeninggal Indira, Raja buru-buru masuk ke dalam ruangan Thei. "Bagaimana, Nak?" tanya sang Ayah dengan rasa penasaran.


"Dia menolakku, Dad. Dia minta cerai", balas Theo dengan mengacak kasar rambutnya.


"Tapi tadi dia tersenyum ramah pada Daddy. Dia juga menyapa Daddy seperti sebelumnya."


Theo berjalan menuju sofa, lalu menjatuhkan bobot tubuhnya di sana. "Daddy lupa kalau Dira itu memang anak yang sopan?" tanya Theo.


"Daddy tidak akan pernah lupa", sahut sang Ayah sembari duduk di samping Theo. "Daddy punya saran", lanjutnya.


Theo menoleh seraya mengernyitkan keningnya. "Maksud Daddy?"


"Daddy mau kasi saran supaya kamu balikan dengan Dira", jelas sang Ayah.


Theo membenarkan posisi duduknya sembari menatap sang Ayah. "Saran seperti apa, Dad?"


"Bagaimana kalau kamu minta bantuan Kakek? Karena Kakek yang telah menuduh almarhum Ayah Dira berbuat curang."


Theo membalikkan badannya seraya berfikir. "Apa yang Daddy katakan ada benarnya juga", ucapnya dengan manggut-manggut. "Nanti malam Theo berkunjung ke rumah Kakek", lanjutnya dengan penuh semangat.


"Nah, ini baru namanya CEO. Penuh semangat dan harus percaya diri", ujar Raja yang kembali mengingat bagaimana dia muda dulu.


"Kamu suka benar kalau nebak pikiran Daddy", ucap Raja seraya menepuk pelan lengan kekar Theo. Namun tiba-tiba tangan Raja berhenti, kala memegang otot kekar Theo. "Ini hasil kamu rutin ngegym, ya?" tanyanya dengan berdecak kagum. "Keren", sambungnya.


"Iya, Dad. Kalau Daddy mau ikut ngegym bareng Theo. Otot seperti ini tidak lagi sebagus dalam bayangan Daddy."


"Daddy sudah tua", ujar Raja yang sudah berumur 53 tahun itu. "Mungkin semua persendian Daddy akan remuk saat baru saja memulai", lanjutnya dengan bergidik ngeri.


"Daddy menyerah sebelum berperang. Gak asyik!" seru Theo dengan tersenyum meledek.


"Terserah kamu bicara apa. Daddy tetap tidak akan terpengaruh", sahut sang Ayah dengan santai.


"Iya deh Theo tidak akan memaksa. Daddy tidak perlu melakukan itu semua saja sudah terlihat keren dan hebat", puji Theo yang selalu menjadikan sang Ayah mentor terbaiknya.


"Kau yang paling tahu membuat hati Daddy ini senang", ujar Raja dengan tersenyum. "Owh, iya. Hampir saja Daddy lupa. Tadi Daddy buru-buru datang mau memperkenalkanmu pada rekan bisnis Daddy yang datang dari kota Surabaya", ujarnya.


"Apa rekan bisnis Daddy masih di kota ini?" tanya Theo dengan wajah serius.


"Masih di kota ini. Nanti siang kita pergi makan bersama", ajak sang Ayah.

__ADS_1


"Oke, Dad. Theo pergi setelah menyelesaikan beberapa pekerjaaan yang masih tertunda."


"Oke. Daddy akan kirim alamatnya. Kamu susul Daddy."


"Baik, Dad. Kalau begitu Theo harus buru-buru", ucapnya seraya berjalan menuju kursi kerjanya.


"Kamu kerjakan dengan hati-hati! Jangan gegabah!" teriak sang Ayah dengan rasa khawatir. "Daddy mau pergi ke sekolahnya Cha cha dulu", ucapnya kemudian.


Theo hanya membalas sang Daddy dengan anggukan, lalu dia membiarkan sang Ayah pergi meninggalkan ruangannya.


...---...


Di sekolah Paud yang tampak ramai, dipadati para orang tua yang sedang sibuk menjemput anak masing-masing.


"Cha cha, apa jemputanmu belum datang?" tanya Rafa dengan ragu.


"Aku gak suka bicara denganmu!" ucap Cha cha seraya membuang wajahnya.


"Rafa..." panggil Mira yang membuat Rafa menoleh. "Sampai ketemu besok", katanya dengan tersenyum ramah.


Namun Rafa hanya membalas dengan anggukan. Dia lebih peduli dengan hubungannya yang tidak baik, karena terjadi kesalahpahaman antara dirinya dan Cha cha.


"Kakek..." teriak Cha cha seraya berlari menghampiri Raja. Lalu dia memeluk sang Kakek.


Rafa hanya bisa menatap kepergIan sahabat kecilny itu, hingga kendaraan yang dia tumpangi melesat. Lalu dia berjalan menuju mobil sang Ibu.di parkir.


"Mama...", panggil Rafa saat dia berhasil.masuk ke dalam mobil.


"Hai, sayang. Apa hari ini keguatan di sekolah sangat menyenangkan?" tanya Indira sembari melepaskan tas ransel yang masih menggantung dipuggung putranya.


"Masih sama, Ma. Hanya saja teman Rafa berkurang 1 orang."


"Kenapa bisa seperti itu?" tanya Indira dengan penasaran.


"Itu semua karena Mira, Ma. Dia sudah membuat Cha cha teman Rafa itu menjauh. Mira sengaja mengambil makanan dari dalam.tas Rafa, lalu memasukkan semuanya ke dalam tas Cha cha."


"Trus Mira bilang Cha cha maling. Padahal kata Cha cha dia tidak mengambilnya. Mira yang sebenarnya ingiin mencuri jajanan Rafa. Tapi Rafa terlanjur marah sama Cha cha", ujarnya dengan menunduk.


"Jangan sedih, Nak. Rafa harus mau mengakui kesalahan dengan minta maaf lebih dulu. Setelah itu baru Rafa jelaskan ke Cha cha, kalau Rafa tidak sengaja telah salah menuduh pelaku sebenarnya. Pasti Cha cha mau berteman lagi sama Rafa", usul Indira untuk membuat putranya senang.

__ADS_1


"


__ADS_2