
Malam ini kediaman keluarga Theo tampak ramai. Kedua kakek dan neneknya datang berkunjung setelah mendapat kabar mengenai kejadian yang menimpa Rafa, cicit mereka.
Cha cha dan Rafa bermain bersama kakek dan nenek buyut mereka. Tingkah lucu keduanya membuat seluruh keluarga tertawa bahagia. Namun tidak dengan Saka. Ratu yang mulai curiga, meminta menantunya itu membantunya.
"Saka, bantu Mommy sebentar", pinta Ratu yang membuyarkan lamunan Saka.
"Iya, Mom", jawabnya gugup.
"Bantu Mommy bawa beberpa kursi, supaya semua bisa duduk", pinta Ratu.
"Baik, Mom." Saka beranjak dari posisinya berdiri, lalu dia pergi mengambil beberapa kursi di ruang makan.
Ratu pun mengikuti Saka dari belakang. Lalu dia menepuk pelan pundak Saka. "Apa kau sedang punya masalah, menantuku?" tanyanya.
Saka terjingkat seraya menoleh ke arah Ratu. "Apa maksud Mommy?"
"Kau jangan pura-pura lagi, dari ekspresi wajahmu terlihat jelas ada yang sedang mengganggu pikiranmu!"
Saka menatap Ratu dalam kebisuan. Kemudian dia tersenyum yang membuat Ratu sedikit takut.
"Mommy terlalu banyak berfikir. Aku hanya lelah di dalam pekerjaanku saja", katanya tanpa beban.
Ratu tidak percaya sepenuhnya dengan ucapan Saka. Dia meneliti sorot mata Saka memastikan menantunya itu tidak sedang berbohong. "Oke, jika kau hanya lelah karena pekerjaan. Mommy sarankan ambillah cuti beberapa hari, pergilah berlibur dengan keluargamu", kata Ratu dengan lembut.
"Akan Saka pertimbangkan, Mom."
"Jangan dipertimbangkan lagi! Mommy yang akan minta izin pada Theo, kau bersiaplah dan jangan lupa beritahu istri dan anakmu", desak Ratu.
"Mommy dan Saka sedang bicara apa?" tanya Tamara yang datang dengan tiba-tiba sembari memegang gelas kosong ditangannya.
"Saka mau mengajak kalian berlibur!" ucap Ratu dengan riang. Namun Tamara menunjukkan ekspresi datar.
Ratu menatap putri dan menantunya bergantian. "Apa sesuatu terjadi di antara kalian berdua?" tanya Ratu dengan wajah serius.
"Aku tidak bisa menutupinya lagi!" seru Saka yang membuat Tamara melotot.
"Kita masih bisa memulainya dari awal", pohon Tamara.
Ratu semakin bingung mendengar perbincangan keduanya. "Tolong jelaskan pada Mommy. Ini sebenarnya ada apa?"
"Saka mau berpisah dengan Ara, Mom!"
__ADS_1
"Apa?" Ratu mendelik tak percaya dengan ucapan Saka. "Kalian jangan terlalu gegabah mengambil keputusan!"
"Kami sudah memikirkannya baik-baik, Mom. Aku sudah mengajukan surat gugatan ke pengadilan", imbuh Saka.
"Tunggu dulu! Mommy harus tahu, kenapa kalian memutuskan seperti itu?"
Saka dan Tamara terdiam sesaat. Tidak ada di antara mereka berdua yang mau memulai untuk menjelaskan.
Saka mulai berdehem. "Maaf, Mom. Saka yang egois, karena Saka tidak bisa punya keturunan, jadi lebih baik Ara mencari pria lain saja."
"Siapa yang bilang kamu tidak bisa punya keturunan?"
"Kami sudah lakukan pemeriksaan ke dokter, Mom. Dari hasil pemeriksaan Saka tidak bisa punya keturunan", timpal Tamara.
"Jangan menyerah begitu saja! Mommy yakin pasti ada obat yang bisa mengobati Saka", ucap Ratu memberi semangat. "Sekarang Mommy tidak mau dengar ada kata cerai!" tegas Ratu. "Ayo, kita kembali", ajaknya kemudian.
Saka dan Tamara terpaksa mengikuti langkah Ratu, berjalan menuju ruang keluarga.
"Kenapa wajah kalian serius sekali?" tanya sang Kakek saat melihat wajah menegangkan Tamara dan Saka.
"Biasa, Pa. Pertengkaran kecil dalam rumah tangga", bohong Ratu. Dia tidak ingin membahas kisruh rumah tangga putrinya itu di saat mereka sedang merasakan kebahagiaan atas kembalinya cucu mereka yang sudah 5 tahun lamanya tidak bertemu.
"Jangan dibiarkan berlarut-larut, kalau bisa kalian selesaikan hari ini", imbuh sang Kakek.
"Bagus kalau begitu. Ayo, bergabunglah di sini", ajak sang Kakek kemudian.
Lalu mereka bergabung walau terpaksa. Mereka melanjutkan kegembiraan itu hingga waktu sudah mulai larut, bahkan Cha cha dan Rafa tertidur dipangkuan kakek buyut mereka.
Seluruh keluarga menghentikan perbincangan mereka, lalu kembali ke kamar masing-masing.
...---...
Di dalam kamar Saka dan Tamara masih lanjut membahas persoalan keduanya. Saka masih tetap pada keputusannya, walaupun Tamara tidak setuju dengan keputusan itu.
"Jangan membuatku berlaku kasar!" tukas Saka yang membuat Tamara terkesiap. Untuk pertama kalinya Saka mengucapkan kata itu. Selama ini Saka selalu bersikap baik dan sangat menyayangi dirinya dan Cha cha.
"Katakan dengan jujur, apa sebenarnya yang telah aku lakukan sampai kau harus menceraikanku?" tanya Tamara dengan terisak.
"Aku sudah mengatakannya, jangan memintaku untuk mengulanginya!" tegas Saka. "Besok aku akan menyampaikan hal ini di depan seluruh keluarga!"
Tamara tidak sanggup lagi menahan bobot tubuhnya, hingga dia merosot dan terduduk di lantai. "Apakah kau mencintaiku?" tanya Tamara dengan nada lirih.
__ADS_1
Saka membisu. Sorot matanya menatap wajah sendu Tamara. "Aku akan mengemasi semua barang-barangku", ucap Saka.
Tamara menangis histeris. "Aku tahu alasanmu sebenarnya!" tukas Tamara seraya menatap ke arah Saka. "Kau pasti sudah memiliki wanita lain!" tuduh Tamara dengan isak tangis.
"Terserah kau berfikir apa. Keputusanku tidak akan berubah!"
"Aku mohon, tolong tinggalkan wanita itu", pohon Tamara dengan mengatupkan kedua tangannya. "Aku akan menemuinya dan memohon padanya", lanjut Tamara dengan isak tangis.
"Pergilah tidur! titah Saka. Lalu dia mengambil bantal dan selimut.
"Bahkan kau tidak mau lagi tidur di ranjang yang sama?" tanya Tamara dengan perasaan kacau.
Namun Saka tetap diam. Dia berbaring di sofa dan memejamkan matanya.
Perasaan Tamara mulai tidak stabil. Dia ingin berteriak sekencang-kencangnya melampiaskan kekecewaannya pada pria yang telah menemani dirinya selama 5 tahun.
Tamara semakin gelisah kala melihat Saka telah tertidur pulas dan mengabaikan dirinya. Dia pun menyimpulkan bahwa Saka tidak lagi mencintai dirinya.
Malam semakin larut, namun Tamara tidak dapat memejamkan matanya hingga pagi menjelang.
...---...
Tamara mengerjap untuk menetralkan matanya dengan cahaya di dalam kamarnya.
"Sudah pagi", ucap suara paraunya.
Namun dia tersentak kaget saat melihat Ibunya sedang duduk di tepi ranjangnya. "Kenapa Mommy ada di sini?" tanyanya bingung.
"Kamu yang sabar ya, Nak", ucap Ratu memberi semangat pada putrinya yang akan berpisah dengan suaminya.
Tamara mengermyitkan keningnya. "Maksud Mommy apa?"
"Saka sudah mengatakannya pada seluruh keluarga saat sarapan pagi ini", ucap Ratu seraya menghela nafas. "Mommy pikir dia tidak akan melakukan itu, tapi dia dengan tegas mengatakan hal itu di depan semua orang, bahkan dia berani melawan Kakek", terang Ratu.
Tamara memegang kepalanya yang terasa sakit, karena dia baru tertidur selama 2 jam saja. "Apa yang harus Ara lakukan, Mom?" tanya Tamara bingung.
"Mommy akan tetap mendukung kamu, Nak. Jika Saka tidak mau merubah keputusannya, maka Mommy minta kamu jangan pernah terlihat lemah dihadapannya!" tegas Ratu.
"Ara tidak siap untuk berpisah, Mom", rengeknya seraya memeluk Ratu.
"Mommy tahu sayang", balas Ratu memeluk putrinya itu. "Jangan sampai kamu jatuh sakit, karena memikirkan pria seperti Saka!"
__ADS_1
Ratu mengusap lembut punggung Tamara untuk membuat tenang putrinya itu. Dia telah menyewa orang untuk mengintai Saka, tanpa diketahui oleh anggota keluarganya.