Love Me Tender

Love Me Tender
Theo Mual


__ADS_3

Satu minggu kemudian.


Citra, ibunya Saka tiada henti berdecak kesal karena hari pernikahan Saka sudah tiba, namun dia belum juga bertemu dengan putra kandungnya. Sang bibi sudah berulang kali membawa Citra ke tempat di mana anak kandungnya itu berada, namun selalu saja tidak ada orang yang bisa mereka temui di sana.


"Ayo, kita berangkat bu", ajak Saka saat melihat sang ibu masih saja diam diposisinya dengan muka di tekuk. Lalu dia mendorong kursi roda sang ibu menuju ke luar rumah.


"Berhenti!" ucapnya tiba-tiba yang membuat Saka berhenti mendorong.


"Kenapa, bu?"


"Aku tidak mau pergi ke sana!" ucapnya dengan nada keras.


Saka mengernyitkan keningnya. "Ada apa bu? Kenapa ibu berubah pikiran?"


"Jangan panggil aku ibu. Kau bukan anakku!"


Saka tersentak kaget mendengar perkataan Citra. "Bagaimana bisa aku ini bukan anakmu, bu? Apa Saka sudah melakukan kesalahan, makanya ibu tidak mau mengakui Saka sebagai anak?"


"Tanyakan langsung pada bibi!"


Sang bibi yang sedari tadu mendengar perkataan Citra, langsung datang menghampiri. "Apa yang dikatakan nyonya itu benar, den", sahut sang bibi lirih. "Maafkan bibi, telah memisahkanmu dari keluarga kandungmu."


Saka menggelengkan kepalanya. "Gak mungkin, bi. Meskipun Saka bukan anak yang diharapkan oleh ibu, tapi Saka tetaplah putra kandung ibu", teriak Saka sembari mengacak kasar rambutnya.


"Tenanglah, den. Kebenaran ini bukanlah hal yang buruk. Karena den Saka memiliki keluarga yang lengkap dan sangat baik."


"Maksud bibi saya tidak baik?"


"Mana mungkin aku mengatakan putriku sendiri tidak baik", ujar sang bibi terus terang yang membuat Citra terperangah.


"Omong kosong apa lagi yang bibi katakan ini?"


"Ini bukan omong kosong. Kau memang putriku yang sengaja aku tukarkan dengan putri yang kau anggap sebagai papa dan mamamu", ujarnya sembari mengingat peristiwa yang terjadi 45 tahun yang lalu.


"Waktu itu ada seorang ibu sedang bersedih karena bayi yang baru dilahirkannya tiada. Jadi ibu memberikan putri majikan ibu, agar ibu bisa tetap bersama putri ibu. Kebetulan ibu melahirkan lebih awall dengan proses normal sedangkan majikan ibu melahirkan sesar di hari berikutnya. Tuan besar sedang di luar kota, jadi ibu yang mengurus putri majikan ibu."


"Tidak mumgkin! Kau bukan ibuku. Itu hanya cerita akal-akalanmu saja!" tukas Citra yang tidak ingin menjadi putri seorang ART, lalu Citra mendorong kursi rodanya menghampiri Saka. "Saka sayang, maafkan ibu. Ini semua karena akal-akalan bibi yang membuat ibu percaya kalau kamu bukan anak kandung ibu."

__ADS_1


Saka tampak berfikir sejenak. Awalnya dia melakukan pernikahan itu untuk menebus perbuatan sang ibu. Namun jika Citra bukan ibu kandungnya, maka dia tidak punya alasan untuk menikahi Tamara.


"Jadi ibu percaya kalau Saka ini anak ibu?"


"Ya, sayang", sahutnya seraya mengusap lembut wajah Saka.


"Oke, kalau begitu. Ayo, kita berangkat ke acara pernikahan", ujarnya yang sudah memutuskan akan tetap menikahi Tamara.


Citra menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Ayo, nak."


Sang bibi hanya bisa diam diposisinya berdiri seraya menatap kepergian Citra dan Saka. Yang penting kau bahagia, nak. Ibu tak akan memaksamu untuk mengakuiku sebagai ibu. Batin sang bibi.


...---...


Theo masih berada di dalam kamar mandi, padahal seluruh keluarganya telah pergi menuju tempat diadakannya acara pernikahan Tamara.


"Kenapa rasa mualku muncul lagi, dan sepertinya ini lebih parah", ucap Theo bergumam di depan cermin.


Tok. Tok.


"Den Theo", teriak sang bibi sembari mengetuk pintu.


"Tuan besar pesan, kalau sudah selesai langsung turun saja. Tuan besar menunggu di bawah."


"Bi, tolong sampaikan pada kakek. Theo mungkin agak lama perginya, jangan ditunggu."


"Baik den", sahut sang bibi. Lalu dia beranjak dari depan pintu kamar Theo dan berjalan menuruni anak tangga.


"Maaf Tuan besar. Kata Theo dia akan lama, jadi gak perlu ditunggu", ujar sang bbi menyampaikan pesan.


"Dasar bocah nakal ini. Entah apa yang sedang dia kerjakan sampai harus telat berangkat!" ujar sang kakek seraya bangkit dari tempat duduknya, lalu dia berjalan ke luar rumah, yang diikuti oleh sang nenek dibelakangnya.


...---...


Theo tiba di acara pernikahan setelah janji suci pernikahan selesai dilakukan.


"Kenapa lama sekali datangnya", ujar sang daddy dengan berbisik.

__ADS_1


"Maaf, dad. Tadi mual Theo kambuh lagi dan anehnya lebih parah dari sebelumnya", ucapnya menjelaskan dengan setengah berbisik.


"Kalau begitu, sehabis acara ini kamu langsung cek ke dokter!" ujar Raja seraya menyambut tangan yang terulur saat para tamu mengantri memberi salam.


"Oke, dad", balas Theo yang sedang melakukan hal yang sama seperti Raja.


"Tiara?" ucap Theo bergumam. "Apa daddy dan mommy mengundangnya datang?"


"Kalau Daddy dan mommymu tidak akan pernah mau mengundangnya."


"Berarti kakek?"


"Hai, Theo sayang. Kenapa melihatku seperti sedang melihat hantu. Apa aku semenyeramkan itu?" goda Tiara.


"Lebih seram malah", balas Theo.dengan kesal.


Tiara langsung melewati Theo. Dia terus memberi salam hingga dia berada di depan sang kakek. "Hai, kakek. Bagaimana kabar kakek?" tanya Tiara dengan nada lembut yang hampir membuat Theo kembali membuang isi perutnya.


"Baik, cu. Bagaimana kabarmu juga bayi dalam kandunganmu?" tanya sang kakek yang membuat Tiara terkesiap. Jadi kakek belum tahu kalau aku keguguran. Batin Tiara.


"Maaf kek. Kami kehilangan calon anak kami", ujarnya tertunduk lesu.


"Ayo, kita duduk di sana", ajak sang kakek pada Tiara, agar mereka dapat saling bercerita.


Setelah sampai pada tempat yang ditunjuk oleh sang kakek. Mereka pun duduk bersama. "Coba kamu ceritakan apa yang terjadi. Kenapa kamu bisa keguguran?"


"Semua karena salah Tiara yang kurang hati-hati. Tiara terpleset dan jatuh di dalam kamar mandi. Karena itu Tiara pendaharan.


Kakek Theo manggut-manggut. "Nanti kakek bicarakan lagi pada anak dan cucu kakek."


"Baik, kek. Terimakasih", balas Tiara seraya memeluk erat sang kakek.


Dari kejauhan keluarga Theo menatap dengan rasa benci atas apa yang baru saja dilakukan oleh Tiara. Mereka beranggapan bahwa Tiara sedang memainkan trik yang berbeda dari sebelumnya.


Acara pernikahan Saka dan Tamara berjalan dengan lancar, meskipun Saka dan keluarganya datang terlambat. Namun dapat diatasi oleh MC. Tamara tampak sangat bahagia saat dirinya sah menjadi istri Saka.


"Terimakasih suamiku", ujar Tamara seraya mencium telapak tangan Saka. Mereka pun saling tersenyum.

__ADS_1


"Daddy mau jumpai tamu sebentar kalian nikmati saja pestamya.


"Baik dad", balas Theo seraya berjalan menuju makanan yang sudah terhidang di buffey. Akhir-akhir ini nafsu makan Theo sedikit lebih banyak dari biasanya. Namun saat baru saja mencicipi beberapa potong makanan, Theo kembali merasa mual.


__ADS_2