
Indira berjalan melewati lorong kampus dengan menggerutu, karena Theo memberikannya banyak tugas dengan mengatasnamakan sang kakek.
"Hai, Dira", sapa Daven yang tiba-tiba saja muncul dari belakangnya.
"Kenapa kau selalu muncul seperti penagih hutang!" Indira berdecak kesal sembari mengelus dadanya.
"Berarti kehadiranku gak pernah diharapkan dong! Tega banget sih Dira!"
"Sudah, jangan pakai drama! Ada perlu apa? Kalau gak penting lain kali aja kita ngobrol, aku masih sibuk."
"Jutek amat sih Dira. Coba lihat deh wajahmu!"
Spontan Indira menyentuh wajahnya. "Emang kenapa dengan wajahku?" tanya Indira. Lalu tangannya meraih ponsel di dalam saku celananya.
"Wajahmu mengalihkan duniaku!" goda Daven sembari tersenyum.
Wajah Indira seketika memerah. "Dasar anak nakal!" teriak Indira sembari memukul lengan Daven.
Seseorang yang berada di belakang mereka berdehem. "Ini kampus bukan tempat pacaran!" sergah Theo dengan sengaja menekan kata pacaran seraya menatap tajam ke arah Indira.
Indira menelan salivanya dengan susah payah. Matilah aku, dia pasti akan mengadu ke kakek, ucap Indira di dalam batinnya.
Daven menjentikkan jarinya tepat di depan mata Indira. "Perhatikan aku saja!"
"Daven, apa ada hal penting yang mau kau katakan? Kalau ada katakan dengan cepat. Aku masih ada urusan yang mendesak."
"Paling juga urusan dengan suamimu itu kan!"
Shhhht... Indira meletakkan jari telunjuknya tepat di bibir. "Jangan bicara sembarangan!"
"Urus saja dia!" Daven langsung mempercepat langkah kakinya meninggalkan Indira sembari menggerutu.
"Ini anak kapan mau berubahnya sih?" ucap Indira bergumam. Lalu dia pun melangkahkan kakinya mencoba mengejar ketertinggalannya dari Theo.
Di sebuah cafe. Tempat para ibu-ibu sosialita berkumpul terdengar gelak tawa yang menunjukkan bahwa keadaan mereka sedang baik-baik saja, kecuali seorang ibu yang sedari tadi tidak bereaksi atas perbincangan hangat mereka.
"Ada apa jeng?" tanya salah seorang ibu sosialita yang selalu gonta ganti membawa tas brandednya itu di setiap pertemuan mereka.
"Sebenarnya aku mau minta tolong dengan jeng Ratu. Ini menyangkut masa depan putraku satu-satunya yang sedang kuliah di kampus Arkana University. Saat ini.dia terancam.di DO."
"Apa?" ucap mereka hampir bersamaan.
Ratu terdiam sesaat. Dia tidak mau pertemanan mereka rusak, karena urusan keluarga. "Jeng Rita, saya bukannya tidak mau membantu, tapi untuk urusan kampus sudah ada pihak yang berwenang yang akan mengambil keputusan."
"Iya, saya paham mengenai hal itu jeng. Tapi coba jeng Ratu baca dulu pesan yang baru saya kirim. Semoga itu bisa jadi bahan pertimbangan."
Ratu meraih ponsel.dari dalam tasnya. Lalu membaca pesan dari Rita, ibunya Daven.
"Begini saja jeng Rita. Untuk masalah ini, saya akan coba bicara dengan suami saya dulu. Apapun nanti keputusannya, akan segera saya beritahukan pada jeng Rita."
"Terimakasih sebelumnya jeng Ratu."
__ADS_1
"Ya, sama-sama", sahut Ratu dengan tersenyum.
Setelah itu Rita mulai bergabung kembali dalam perbincangan mereka walau masih ada sedikit kerisauan di hatinya.
Di dalam kelas.
Tamara mengernyitkan keningnya, tatkala melihat surat cinta yang ke 5 kembali dia terima dari seseorang yang tidak menuliskan namanya itu.
"Surat dari siapa?" tanya Indira saat baru saja selesai memasukkan semua bukunya ke dalam ransel.
"Tidak ada nama pengirimnya."
Indira melirik surat yang sedang di pegang Tamara. "Boleh aku melihatnya sebentar?"
Tamara langsung menyodorkan surat ditangannya pada Indira. "Nih, coba lihatlah!"
Indira meraih surat dari tangan Tamara dan buru-buru membacanya. Dia mengernyitkan keningnya saat membaca surat cinta yang seperti susunan kata-kata romantis di ambil dari laman internet.
"Kayaknya ini anak nyomot kata-kata romantis dari internet."
Tamara menganggukkan kepalanya. "Yap, kau benar. Dan aku sudah memastikannya. Isi surat sebelumnya di ambil dari internet."
"Boleh aku pinjam suratnya?"
Tamara mengernyitkan keningnya. "Apa kau juga mau membuat surat cinta?"
"Aku bisa membuatnya sendiri, kalau hanya sekedar untuk membuat surat.cinta. Tapi aku membutuhkannya untiuk hal lain."
Indira langsung memasukkan surat itu ke dalam ranselnya. "Ayo, kita pulang."
Tamara bangkit dari tempat duduknya. Indira pun bergeser setelah Tamara beranjak. Mereka melangkahkan kaki berjalan bersama ke luar kelas.
Tamara dan Indira sudah berada di dalam mobil jemputan mereka. "Pak kita ke cafenya tante Sisil ya", pinta Tamara pada sang supir yang sudah terbiasa membawanya ke sana.
"Baik, non", sahut pak Joko dengan ramah.
Lalu pak Joko melajukan kendaraannya meninggalkan kampus Arkana University.
Hanya butuh waktu 15 menit mobil yang ditumpangi Tamara dan Indira tiba di parkiran cafe.
"Pak Joko, ayo ikut masuk saja. Ara gak bisa jamin bakalan cepat selesai urusannya.
"Gak apa-apa, non. Bapak di sini saja", ujarnya dengan sopan.
"Oke, pak", ucap Tamara seraya keluar dari dalam mobil. Indira pun melakukan hal yang sama.
Mereka berjalan bersama masuk ke dalam cafe. Tamara mulai berjalan mengendap-endap, saat melihat Dion sedang duduk memunggungi mereka.
"Kak Dion!" pekik Tamara dengan sengaja membuat Dion kaget.
__ADS_1
Dan benar saja Dion pun tersentak kaget, hingga roti dalam mulut Dion mencuat.
"Ara...", ucap Dion dengan sedikit gugup sembari menutup laptop dihadapannya, namun berhasil di lihat oleh Indira sebelum dia menutupnya dengan sempurna "Kenapa datang gak ngabari dulu?"
"Kak Dion aneh, nih. Mana ada otang yang mau datang ke cafe harus ngabarin yang punya cafe dulu."
"Iya maksudnya bukan kayak gitu, juga oneng."
"Udah ah. Males bercandain kak Dion. Gak asyik. Ara mau ketemu tante Sisil aja."
"Mak gue juga pakai di nama-namai.'
Tamara mengacuhkan ucapan Dion. Dia langsung menarik tangan Indira yang sedari tadi diam diposisinya, lalu mereka berjalan menuju dapur.
"Tante..." panggil Tamara pada ibu Dion itu, yang sedang sibuk mempersiapkan pesanan orang.
"Eh, ada Ara. Datang sama siapa nih?"
"Ini teman Ara, Dira namanya."
"Hai, tante", sapa Indira dengan menjulurkan tangannya.
"Hai, juga Dira. Maaf, tangan tante kotor. Dari tadi megang bumbu."
Indira pun menarik kembali tangannya, meskipun sebenarnya dia tidak mempermasalahkan tangan Sisil yang kotor.
"Apa kalian mau makan sesuatu?"
"Tidak tante. Ara datang cuma mau bilang pesanan mama tidak jadi dikotakin tapi dalam bentuk prasmanan aja."
"Cuma mau bilang itu doang? Kenapa gak lewat telepon Ara?"
"Ara kangen sama tante Sisil. Sudah lama tante gak main ke rumah."
"Dion minggu lalu kan main ke rumah Ara."
"Ara maunya kan tante bukan kak Dion."
"Iya, kalau ada waktu tante main ke rumah. Lagian mommymu juga jarang di rumah."
Tamara langsung menghamburkan diri memeluk Ssil. "Tante bujuklah mommy, biar gak ikut pertemuan sosialitanya itu lagi. Kayak tante Sisil", Tamara mendorong sedikit tubuhnya, lalu menunjukkan puppy eyesnya.
Sisil pun tersenyum melihat sikap manja anak perempuan sahabatnya itu, yang sudah dia anggap seperti putrinya sendiri.
"Itu kesenangan mommymu, tante mana bisa melarang."
Tamara tertunduk lesu karena masih belum berhasil meminta bantuan Sisil.
"Kalau begitu Ara pamit pulang ya, tante."
"Maaf Ara, tante.gak bisa ngantar kamu dan Dira ya, nak."
"Iya gak apa-apa, tante."
__ADS_1
Tamara dan Indira melangkahkan kaki mereka meninggalkan Sisil yang masih sibuk mempersiapkan pesanan orang tersebut.
"