Love Me Tender

Love Me Tender
Area 18 ke atas


__ADS_3

Theo melangkahkan kakinya memasuki rumah yang tampak sepi, dengan waspada dia berjalan mengendap-endap menuju kamarnya. "Aman", ucapnya saat sudah berada di dalam kamar. Lalu dia mengunci rapat pintu.


Tiba-tiba dia merasakan sensasi panas disekujur tubuhnya. "Aku kenapa?" ucapnya bergumam. Lalu dia buru-buru masuk ke dalam kamar mandi.


 


Indira yang sedari tadi berada di ruang makan bersama keluarga besar Theo di buat gugup, karena telah berbohong mengenai Theo. Dia pun berpamitan pada seluruh keluarga untuk masuk kamar lebih dulu. Mereka pun mengizinkannya, namun Ratu ingin ikut dengannya, karena dia kesal melihat prilaku putranya itu yang tidak menghargai seluruh keluarga besarnya.


"Kamu harus makan lebih banyak, biar lebih berisi", ucap Ratu dengan tersenyum saat berjalan beriringan dengan Indira.


"Iya, mom", sahut Indira gugup. Habislah aku kali ini, rutuk Indira di dalam batinnya.


Tanpa terasa mereka sudah berada di depan pintu kamar.


Tok. Tok.


Indira mengetuk pintu dengan perasaan cemas, karena dia mengira Theo sedang tidak berada di dalam kamar. "Mungkin kak Theo di kamar mandi, mom. Besok saja mommy marahin dia."


"Gak bisa Dira. Mommy akan tunggu dia sampai keluar dari kamar mandi." Sang mommy kembali mengetuk pintu dengan keras.


Indira yang grogi mulai menggigit bibir bawahnya. "Em, sebenarnya ..."


Ceklek.


Ucapan Indira menggantung saat pintu kamar di buka dari dalam. Sang mommy yang sedari tadi emosi langsung melongos masuk, namun seketika matanya melotot saat melihat pakaiian basah kuyup Theo.


"Apa yang sudah kau lakukan? Kenapa kau mandi masih mengenakan pakaian?" Pertanyaan penuh emosi sang mommy membuat Theo semakin gelisah. Dia pun terpaksa mendorong Ratu keluar dan menarik paksa Indira masuk.


"Maaf, mom. Besok saja marah-marahnya." Theo langsung menutup dan mengunci rapat pintu.


"Dasar anak durhaka!" Suara teriakan Ratu terdengar dari luar pintu kamar Theo, namun Theo mengabaikannya.


"Bantu aku," ucap Theo dengan memelas pada sang istri.


Indira mengernyitkan keningnya. "Apa kakak sudah lupa bagaimana caranya membuka pakaiaan?" tanyanya dengan polos.

__ADS_1


Theo langsung melepaskan pakaian basahnya, lalu menarik Indira ke dalam pelukannya. Namun itu tidak mengurangi rasa panas ditubuhnya.


Indira semakin bingung melihat sikap Theo. "Apa yang sudah terjadi kak? Sadarlah!" teriaknya yang mengira Theo sedang kesurupan.


Tanpa aba-aba, Theo menjatuhkan tubuh Indira tepat di atas ranjang. Lalu dia pun ikut menjatuhkan dirinya, hingga posisi Indira berada dalam kungkungannya saat ini. Tubuh Indira mulai bergetar. "Apa yang ma..."


Cup.


Theo langsung mengecup bibir mungil Indira sebelum dia meenyelesaikan ucapannya. "Bantu aku... Aku sudah tidak tahan lagi." Bagian bawah miliknya yang berharga itu sudah tidak dapat diatasinya lagi, meskipun berendam dengan air dingin.


Indira yang polos menganggukkan kepalanya. Dia sudah bertekad dalam dirinya, bahwa apapun akan dia lakukan untuk suaminya itu, nyawanya sekalipun akan dia berikan.


Theo yang mendapat lampu hijau langsung melancarkan aksinya. Dia ******* bibir ranum Indira dan bermain liar di dalam mulutnya. Tanpa Indira sadari suara l******n berhasil keluar dari dalam mulutnya. Permainan mereka semakin panas, karena aksi Theo yang semakin liar. Aiir mata Indira jatuh dengan bebas yang disertai dengan rintihan saat merasakan sakit yang teramat perih di bagian bawah perutnya, tepat setelah Theo melepaskan hasratnya yang sudah tertahan sedari tadi.


"Terimakasih", ucap Theo dengan nafas yang memburu sembari membaringkan tubuhnya di sebelah Indira.


Indira hanya diam seraya menahan rasa sakit karena itu adalah pengalaman pertamanya, lalu tangannya mengusap sisa air mata dipipinya.


"Kau jangan kuatir, karena kita ini suami istri", ujar Theo yang mencoba menenangkan Indira. Lalu dia bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi.


Ceklek.


Pintu kamar mandi di buka, Indira mencoba bangkit, namun rasa perih masih dirasakan. Theo yang melihat Indira kesakitan langsung menghampirinya. "Sini aku bantu." Theo sadar semua itu terjadi akibat ulahnya. Tiba-tiba netra Theo melihat bercak di atas sprei. Ternyata aku adalah orang pertama baginya, ucap Theo di dalam hatinya.


 


Mentari pagi menyeruak masuk melalui kaca jendela. Indira mengerjap saat merasakan silaunya. "Emm, cepat sekali pagi", ucap suara paraunya. Namun tiba-tiba dia terbeliak saat melihat dirinya berada di atas tempat tidur. "Apa semalam aku bermimpi?" ucapnya bergumam.


"Kau tidak bermimpi", sahut Theo yang baru saja keluar dari dalam walk-in closet. Lalu berjalan menghampiri Indira.


Mulut Indira menganga saat kesadarannya baru kembali. Dia buru-buru menutup mulutnya. "Berarti kejadian malam tadi..."


"Iya, itu semua sudah terjadi. Sekarang bersihkan dirimu. Aku akan menunggumu untuk sarapan."


Indira bangkit dari tempat tidur. "Aww...", ringisnya saat masih merasakan perih di area s*****f miliknya.

__ADS_1


"Pelan-pelan saja, aku tetap menunggumu disini."


Ini semua karna dia, tidak bisakah dia berinisiatif untuk menggendongku. Aku ini istrimu lho, keluh Indira di dalam batinnya.


 


Hampir 30 menit lamanya Indira menyelesaikan ritual mandinya. Kalau bukan karena perbuatan Theo malam itu, mungkin dia sudah pergi keluar dari kamar.


"Maaf lama menunggu", ucap Indira seraya merapikan pakaiannya. Lalu dia berjalan menuju cermin.


"Apa masih perlu memoles wajah?"


Indira menatap Theo dari pantulan kaca. "Emangnya kenapa? Aku kan wanita, jadi.wajar memoles wajah." ketus Indira. Dia masih kesal karena perlakuan Theo tak ada manis-manisnya setelah malam tadi.


"I-ya sudah. Silakan dilanjutkan nona cantik."


"Sudah selesai, ayo kita turun." Indira langsung berjalan dengan melewati sang suami.


"Hem, sudah ditungguin malah ditinggal. Dasar wanita sulit dimengerti."


 


Theo dan Indira tiba bersamaan di ruang makan, karena Indira sedikit payah saat berjalan. Seluruh anggota keluarga yang berada di sana menatap curiga keduanya saat mereka baru saja duduk di kursi makan.


Tiba-tiba sang mommy berdehem. "Menantuku, apa tidurmu nyenyak malam tadi?" Pertanyaan menjurus Ratu membuat Indira gugup.


"Em, nyenyak mom", sahutnya dengan tersenyum kaku.


"Oh, berarti cuma mommy doang yang susah tidur. Tadi malam mommy dengar ada yang ribut gitu."


Indira terkesiap kala mendengar penuturan sang mommy. Apa mommy mendengar suara jeritanku tadi malam, batin Indira.


"Di sini tempat makan bukan tempat untuk bergosip!" seru sang kakek yang paham akan arah ucapan Ratu, putrinya itu.


"Iya, pa", sahut Ratu. Namun dia berencana akan menanyakan kembali mengenai kejadian malam itu dengan serius pada menantunya.

__ADS_1


Setelah ucapan sang kakek barusan, suasana di ruang makan menjadi hening, yang terdengar hanya sendok dan garpu yang saling bersahutan.


__ADS_2