
Ting.
Pintu lift terbuka lebar di lantai 10. Theo dan Indira berjalan keluar dari dalam lift.
"Langsung keruanganku saja!" katanya saat Indira berjalan sejajar dengannya.
Indira mengangguk sebagai jawaban. Dia ingin segera menyelesaikan masalahnya dengan Theo.
"Pagi, Pak. Pagi, Bu", sapa Risa dengan ramah.
"Pagi", jawab Theo dan Indira hampir bersamaan.
Lalu mereka berjalan masuk ke dalam ruangan Theo.
"Daddy", ucap Theo kaget saat melihat sang Ayah berada di dalam ruangannya sedang duduk santai di sofa.
"Kenapa kaget? Apa kalian merasa tertangkap basah?" tanya Raja sembari bercanda.
"Ini belum jam 10, dad", sahut Theo seraya melirik jam dipergelangan tangannya.
Raja menatap serius ke arah Indira. "Apa kita harus menunggu sampai jam 10, kalau semuanya sudah berkumpul di sini?"
Indira paham maksud tatapan sang mertua. "Saya rasa lebih cepat lebih baik, Pak", ujarnya.
"Oke, karena kamu sudah mengatakannya. Jadi saya minta jawaban dari kamu sekarang juga!"
Indira menghirup udara lalu melepaskannya. "Maaf Pak!" ucapnya yang membuat Raja dan Theo kecewa.
"Tidak apa-apa", sahut Raja lirih.
"Saya terpaksa menerima saran dari Bapak", lanjutnya.
Raja dan Theo menatap serius Indira seraya mengernyitkan kening.
"Itu artinya kamu terima saran dari saya?" tanya Raja memastikan.
Indira menganggukkan kepalanya. "Saya tidak mau hanya karena keegoisan saya, Rafa yang jadi korbannya, Pak."
"Bagus! Daddy suka dengan cara berfikirmu. Kami yang terlalu ceroboh lebih mempercayai kata orang lain. Tapi untuk kedepannya, Daddy janji tidak akan ada yang boleh mengusir menantu dan cucu Daddy!" tegas Raja seraya melirik ke arah Theo.
"Theo juga sepemikiran dengan Daddy", balasnya.
"Sekarang kita tinggal lihat bagaimana cara Theo untuk meyakinkanmu bahwa dia layak menjadi suami dan Ayah bagi putramu", lanjutnya sembari menoleh ke arah Indira.
"Baik, Pak", sahut Indira.
"Karena Daddy sudah mendapat jawaban yang memuaskan, Daddy mau pamit", ucap Raja. Lalu dia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu keluar.
"Oke, Daddy", balas Theo dengan nada bahagia.
"Daddy sudah pergi, sekarang hanya tinggal kita berdua. Barangkali ada yang ingin kau bicarakan, katakan sekarang", ucap Theo sembari menatap serius Indira.
"Aku mau kita tetap tinggal di kamar yang terpisah", pinta Indira.
Theo mendengus kasar. "Hem, baik. Hanya itu saja?"
__ADS_1
"Jangan paksa Rafa memanggilmu dengan sebuatan Papa!"
Theo mendelik. "Kenapa? Aku ini kan Papanya."
"Iya, aku tahu. Tapi dia baru saja mengenalmu, jadi dia belum terbiasa dan tidak suka dipaksa. Aku takut dia jadi membencimu."
Theo terdiam sejenak. Dalam hatinya dia merasa kecewa, karena Indira seakan mengatur semua hal yang berkaitan dengan putranya itu. "Aku akan melakukan dengan caraku sendiri", ujarnya.
Indira hanya bisa menggelengkan kepalanya atas sikap Theo yang menurutnya tidak berubah, selalu saja keras kepala. "Oke, lakukan saja sesuai keinginanmu", balas Indira.
Theo membalas dengan berdehem.
"Kalau begitu kita lanjut membahas draft yang disetujui klien. Kapan kami bisa mulai bekerja?"
"Owh, untuk masalah itu. Akan aku beritahukan dalam minggu ini. Apa asistenmu tidak datang hari ini?" tanya Theo.
"Dia bekerja sesuai arahanku. Hari ini aku minta dia bekerja dari rumah. Apa kau perlu sesuatu darinya?"
"Tidak ada", jawab Theo singkat.
Hening seketika.
Indira berdehem memecah keheningan. "Em, Aku butuh ruang kerja dikantormu. Di mana ruang kerja desainermu sebelumnya? Apa boleh aku meminjamnya?" tanya Indira.
"Tidak ada. Biasanya kami bekerja sama dengan desainer yang punya perusahaan sendiri. Tapi jika kau butuh ruangan, segera aku siapkan."
Indira membalas dengan tersenyum canggung. "Terimakasih", sahutnya.
Theo langsung menekan extension Risa.
"Risa, ke ruangan sebentar!" titahnya melalui telepon kantor.
"Tolong kamu siapakan meja dan kursi kerja. Segera bawa ke ruangan saya!" titahnya yang membuat Indira melotot.
"Baik, Pak", sahut Risa. "Ada lagi, Pak?" tanya Risa dengan sopan.
"Apa kamu pikir saya sedang memesan makanan?"
"Maaf, Pak. Maksud saya selain meja dan kursi, apa perlu laptop atau peralatan kantor lainnya."
"Iya, saya tahu maksud kamu. Sudah kerjakan saja yang saya minta!" tegas Theo.
"Baik, Pak", balas Risa seraya berjalan menuju pintu keluar.
"Jadi ruang kerjaku di sini?" tanya Indira setelah Risa keluar dari ruangan Theo.
Theo menganggukkan kepalanya. "Kontrak kerja kita hanya 6 bulan. Sedangkan membuat ruangan baru butuh waktu yang tidak sedikit. Jadi untuk sementara kau bekerja diruangan ini."
"Oke, tapi bagaimana jika asistenku datang. Dia biasanya kerja selalu didekatku."
"Kalau begjtu aku akan menambah kursi di sini. Dia bisa duduk didekatmu", imbuh Theo.
"Maksudku bukan itu", ucap Indira berdecak kesal.
"Sudah jangan berisik. Kau bisa duduk didekatku menunggu meja dan kursimu datang."
__ADS_1
Indira menatap jengah sikap menyebalkan Theo. Dia duduk di sofa seraya membuka tas laptopnya.
...---...
Di kantor perusahaan Westy Production, Daven sedang memberi arahan pada anak buahnya yang cuma satu-satunya.
"Baik, Pak", sahut Hengky saat dia paham akan maksud Daven.
"Oke, lanjutkan pekerjaanmu seperti biasanya", lanjut Daven, lalu dia berjalan ke luar ruangan untuk melihat kantor tempat dia bekerja saat ini.
"Aww..." ringis seorang wanita saat Daven tanpa sengaja menyenggol bahu wanita itu.
"Eh, maaf... maaf... " ucap Daven dengan rasa bersalah.
"Kamu!" ucap mereka kemudian dengan bersamaan.
"Wah, ternyata kita berada di kantor yang sama!" seru Dealova.
Daven pun tersenyum menatap wanita cantik dihadapannya. "Ternyata benar kata orang-orang kalau dunia ini sempit", ujarnya.
"Kau benar", sahut Dealova sembari tersenyum. "Apa kau sudah sarapan?" tanyanya kemudian dengan memegang perut keroncongnya.
"Pffft... Apa kau sangat kelaparan? Bunyinya sudah seperti paduan suara salah nada", ledek Daven.
Tanpa menjawab pertanyaan Daven, Dealova langsung beranjak meninggalkannya.
"Hei, kau mau kemana?"
"Kantin!" seru Dealova tanpa menoleh.
Daven bergegas mengejar Dealova yang mulai menjauh, hingga langkahnya sejajar dengan Dealova. "Apa kau telat bangun?" tanya Daven seraya menoleh ke sisi kirinya.
Dealova menggelengkan kepalanya. "Nanti saja ceritanya. Aku tidak punya tenaga untuk bicara denganmu saat ini", pungkasnya.
"Iya, maaf. Tapi aku akan menemanimu makan di kantin!"
"Terserah kau saja!" balas Dealova dengan malas.
Lalu mereka berjalan bersama menuju kantin perusahaan.
...---...
Di tempat lain yakni di ruangan Theo tampak riuh, karena peralatan kerja Indira mulai dimasukkan satu persatu ke dalam ruangan. Ruangan luas itu kini tampak sempit. Namun Theo tidak peduli akan hal itu, dia hanya ingin menatap sang istri setiap hari.
"Sudah selesai, Pak", kata karyawan dari divisi GA itu.
"Oke, terimakasih", balas Theo dengan ramah.
"Baik, Pak. Kalau begitu kami undur diri dulu."
Saat dua orang karyawan itu berjalan keluar, mereka berbisik memuji keramahan CEO mereka yang tidak seperti biasanya.
Sepeninggal dua orang karyawan itu, Indira mencoba meja kerja barunya dan mengucapkan terima kasih pada Theo.
"Aku suka meja kerjanya, bagus!" puji Indira.
__ADS_1
"Syukurlah kalau kau suka. Semoga kau nyaman bekerja di situ", ucap Theo dengan tersenyum.
Lalu dia memberikan beberapa balasan email dari kliennya pada Indira.