Love Me Tender

Love Me Tender
Romantis


__ADS_3

Theo melajukan kendaraannya membelah keramaian jalan. "Sayang, apa kau masih berfikir untuk berbicara pada Saka?"


Indira mendelik seraya menoleh ke arah Theo. "Kenapa kau memanggilku seperti itu lagi?"


Theo tersenyum. "Aku akan terus memanggilmu seperti itu. Apa kau keberatan, sayang?" tanya Theo saat melirik Indira.


Wajah Indira bersemu merah, lalu dia membuang pandangannya jauh ke luar kaca jendela mobil. "Ingat! Aku belum menerimamu sepenuhnya!" ucapnya mengingatkan Theo.


"Tapi kenapa aku melihat rona merah diwajahmu? Atau itu hanya ilusi?" goda Theo.


"Kau salah melihat, itu hanya blush on!" bantah Indira masih dengan menatap ke luar kaca mobil.


Theo tersenyum nakal. "Kalau sedang berbicara pada suamimu pandang wajahnya, sayang!"


Indira menoleh ke arah Theo. "Kalau sedang menyetir fokuslah ke depan!" balas Indira dengan kesal.


Theo tersenyum seraya berdehem. "Hem, aku tidak akan pernah memalingkan wajahku pada wanita lain, selain wanita cantik yang sedang duduk disampingku."


"Jika kau terus menggodaku, maka semua draft ini akan menjadi sobekan kecil!" ancam Indira.


Theo tertawa bahagia. Dia berhasil membuat sang istri salah tingkah. "Maafkan aku, sayang", sahutnya. Lalu dia menepikan kendaraannya saat sudah tiba di restoran mewah tempat rencana pertemuan mereka.


Theo dan Indira keluar dari dalam mobil. Mereka mengernyitkan keningnya menatap ramainya pengunjung restoran itu.


"Apa semua orang kelaparan sepertimu?" tanya Indira seraya berjalan melangkah masuk ke dalam restoran. Theo pun mengikuti langkah Indira.


"Kau selalu meledek suamimu ini", ucap Theo dengan berpura-pura sedih.


"Aku tidak meledek. Aku suka bicara jujur dan sebaliknya aku benci orang yang suka berkata bohong!" tegas Indira sembari mencari meja yang telah dia reservasi.


"Kau seolah sedang menyindirku. Apa menurut kamu, aku sedang berkata bohong?"


Indira menarik salah satu kursi, lalu menjatuhkan bobot ditubuhnya. "Apa aku mengatakan orang yang aku maksud?" tanya Indira balik.


"Memang kau tidak langsung mengatakan orang yang kau maksud. Tapi bisa saja itu sindiran."


"Aku -- "


"Permisi, Pak, Bu. Apa pesanannya mau di bawa sekarang?" tanya sang pelayan sopan, namun dia tidak menyadari telah memotong ucapan Indira.


"Mba, lain kali kalau kita sedang bicara, tolong jangan menyela", ucap Theo menasehati.

__ADS_1


"Maaf, Pak, Bu. Saya tidak tahu kalau Bapak dan Ibu sedang berbincang", sahutnya dengan rasa bersalah.


"Sudah, itu bukan masalah besar. Hanya saja lain kali tolong kamu memperhatikan lagi sebelum bertanya pada pengunjung restoran ini", ucap Indira dengan lembut.


"Baik, Bu. Terimakasih sarannya", sahut pelayan itu dengan menunduk. Lalu dia mengulangi kembali pertanyaannya. Setelah Indira menjawab, dia pun berpamitan untuk menyiapkan pesanan Indira.


"Kau baik sama semua orang! Itu salah satu alasan aku mencintaimu", tutur Theo seraya menatap Indira.


Indira menatap jengah tatapan menggoda Theo. Tiada henti pria tampan bertubuh atletis itu merayunya. "Apa ini salah satu caramu, agar aku bisa menerimamu kembali?"


"Kau terlalu naif, sayang. Semua pria pasti akan memuji wanita yang dicintainya. Hanya saja aku sedikit terlambat untuk mengatakannya."


Tiba-tiba seseorang datang menghampiri meja mereka.


"Permisi, Bu. Apa benar ini dengan Ibu Dira?" tanya seorang kurir.


Indira menoleh, dia menatap kurir yang sedang membawa bucket bunga ditangannya.


"Ya, saya sendiri. Ada perlu apa ya, Pak?"


"Ini kiriman bunga buat Ibu", sahut kurir itu seraya menyodorkan bucket bunga pada Indira.


Indira meraih bunga itu. "Dari siapa, Pak?"


"Terima kasih, Bu", ucap kurir itu setelah mendapatkan tanda tangan Indira. Lalu dia berpamitan.


Indira membaca kartu nama pengirim. "Your husband", ucap Indira seraya melirik Theo. "Hem, terimakasih", ucapnya kemudian.


"Apa? Hanya terimakasih. Tidak adakah kata-kata manis lainnya, sayang?" kesal Theo.


Indira memutar bola matanya. Dia kembali dia buat jengah dengan sikap sang suami. "Baiklah. Terimakasih suamiku", ucapnya dengan tersenyum manis. Lalu dia mencium wangi bunga pemberian suaminya itu.


"Hem, setidaknya ini lebih baik dari yang tadi. Kau suka dengan bunganya?"


"Suka."


Theo mengepalkan tangannya seraya berseru. "Yes!" Dia senang, karena Indira menyukai hadiah darinya.


Indira menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tahu suaminya sedang berusaha membuatnya luluh dengan selalu bersikap romantis. Kemudian dia meletakkan bucket bunga itu di atas meja.


"Ayo di makan. Bukannya tadi kau sangat lapar", ucap Indira saat pelayan baru saja menyajikan makanan pesanan mereka.

__ADS_1


"Iya, tenanglah sayang. Kau begitu khawatir pada suamimu ini, aku terharu dibuatnya."


"Sudah! Jangan mennggodaku lagi."


Theo tersenyum menatap wanita yang berhasil membuat kehidupannya berwarna sama seperti pertama sekali dia bertemu dengan Tiara, namun entah kenapa dia mulai iba jika memikirkannya.


"Kenapa bengong? Entar makanannya dingin", ucap Indira membuyarkan lamunan Theo.


"Iya, sayang. Ini mau di makan kok", jawab Theo dengan lembut.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sedang menatap mereka dengan tatapan tidak suka. Dia menghentak meja dengan perasaan cemburu. "Kenapa aku selalu ketemu dengan pasangan yang menyebalkan ini?" gumamnya dengan rasa cemburu.


...----...


Di rumah kediaman milik keluarga Theo, tampak Tamara sedang berjalan ke luar kamar. Lalu dia menuruni anak tangga dan berjalan ke arah ruang makan saat mendengar sayup suara teriakan putrinya dari arah meja makan.


"Ada apa, Bi?" tanyanya dengan nada lirih seraya menoleh ke arah putrinya yang duduk dengan melipat tangannya di dada. Dia menatap sendu wajah cemberut putri kecilnya itu.


"Non Ara, apa sudah lebih baik?"


Tamara mengangguk pelan bersamaan dengan isyarat matanya. "Hem, sedikit membaik Bi", jawabnya dengan lesu. "Kenapa tadi Cha cha berteriak?"


"Cha cha tidak mau makan, Non. Padahal tadi Nyonya sudah pesan ke Bibi, supaya memberinya makan, karena Non Ara sakit."


"Biar saya saja yang membujuknya, Bi."


"Baik, Non." Bi Iyem menyerahkan sepiring makanan ditangannya pada Tamara.


"Sayang... Ayo, makan. Nanti Mama ajak bermain ke taman di tempat biasa", bujuk Tamara pada putri kecilnya yang masih merengut.


"Gak mau!" tolak Cha cha dengan membuang wajahnya.


Tamara meletakkan kembali piring ditangannya di atas meja makan. Lalu dia memegang lembut ke dua lengan Cha cha. "Cha cha mau ketemu sama Papa, kan?" tanya Tamara yang membuat Cha cha menatap Ibunya itu


"Papa di mana, Ma?" tanya Cha cha dengan raut wajah sendu.


"Ada sayang. Papa dinas ke luar kota."


"Mama bohong! Tadi pagi Papa pamit, trus Oma menangis", ucapnya dengan berteriak. Lalu dia bangkit dari kursi dan berlari menuju ke lantai atas.


"Cha cha dengarkan Mama, sayang!" seru Tamara mengejar putrinya yang terus berlari.

__ADS_1


Aaaa...


__ADS_2