Love Me Tender

Love Me Tender
Rafa Hilang


__ADS_3

Di kantor Westy Production, Dealova datsng menemui Daven diruangannya.


"Pak Hengky, Daven kemana?" tanyanya saat tidak melihat keberadaan Daven dari ambang pintu.


"Eh, ada Bu Lova. Masuk dulu Bu", ajak Hengky.


"Tidak perlu. Aku cuma mau mencari Daven. Dia pergi kemana?"


Raut wajah Hengky seketika berubah murung. Dia mengira kesempatan untuk berduaan dengan wanita yang jadi pujaan hatinya telah tiba. "Aku tidak tahu", jawabnya ketus.


"Apa begitu caramu bicara dengan atasan?"


"Anda bukan atasan saya", sahut Hengky.


"Baik, nama kamu akan saya catat!" tegas Dealova seraya beranjak dari tempat itu.


"Baru jadi staff IT saja belagu, gimana kalau jadi Manager", gerutu Dealova saat berjalan menjauhi ruangan Daven.


"Ada apa nona cantik? Kenapa marah-marah?" tanya Daven yang tiba-tiba datang dari arah belakang Dealova.


"Kau membuatku kaget!" ucap Dealova sembari mengelus dadanya. "Kau dari mana saja?" sergah Dealova.


"Kenapa kau mencariku?"


"Ada yang ingin aku bicarakan. Apa kau punya waktu?"


"Ini masih jam kerja! Apa kau selalu bergosip di jam kerja?" tanya Daven dengan menaikkan alisnya.


"Kau terlalu kaku dengan peraturan perusahaan, aku curiga ini pertama kalinya kau bekerja."


"Kalau iya, emangnya kenapa? Toh, aku bekerja tidak mengandalkan relasi atau pun kekayaan orang tua!" pungkas Daven.


"Kenapa jadi ribet gini? Aku cuma mau bicara hal penting denganmu."


"Katakan sekarang! Aku masih punya pekerjaan."


"Oke, tapi di tempatnya bukan di sini. Ayo, kita ke ruanganku saja", ajak Dealova dengan sedikit memaksa.


Daven mengernyitkan keningnya. "Bukankah yanh lebih dekat itu ruanganku?"


"Di sana ada anak buahmu yang tidak punya attitude! Aku akan melaporkannya, karena tidak sopan bicara dengan atasan."


"Apa yang dia katakan?"


"Dia menjawabku dengan ketus. Seharusnya dia tahu sedang bicara dengan siapa."


"Bu, Lova. Pak Daven", sapa karyawan yang sedang melewati mereka dengan senyum ramah.


"Ya...", balas Daven dan Dealova hampir bersamaan.


"Nah, itu contohnya karyawan punya attitude yang baik", terang Dealova.


"Iya, aku tahu. Tapi sejauh ini Hengky selalu bicara sopan denganku. Nanti aku coba uji dia", balas Daven.


"Itu terserahmu sebagai atasan. Sekarang ikut keruanganku!" titah Dealova.

__ADS_1


"Tidak perlu! Kita tetap diruanganku saja. Aku tidak mau ada gosip di kantor!" tegas Daven.


Dealova terpaksa menuruti perkataan Daven. Dia tahu bahwa biasanya karyawan yang datang ke ruangan IT bukan sebaliknya.


Saat mereka sudah berada diruangan Daven, Dealova mengabaikan tatapan tajam Hengky. Dia tidak ingin membuang waktunya berurusan dengan staf kecil.


...---...


Tanpa terasa Dealova berbincang lebih dari 1 jam dengan Daven.


"Aku tidak bisa!" tolak Daven dengan tegas.


Dealova mengepal kuat tangannya. Dia emosi mendengar jawaban Daven. "Setidaknya kau pikirkan dulu."


"Tidak perlu!" tukasnya. "Bukan hubungan yang seperti itu yang aku inginkan", lanjutnya sembari membayangkan kehidupan rumah tangga kedua orang tuanya.


"Kau munafik!" tuduh Dealova. Lalu dia beranjak dari tempat duduknya.


"Tunggu dulu!" pinta Daven yang menghentikan langkah Dealova, namun dia tidak berbalik. "Aku sarankan kau jangan mengganggu hubungan Theo dan Dira lagi", pungkasnya yang membuat Dealova semakin emosi. Dia berjalan dengan menghentakkan kakinya tanpa berpamitan.


Tiba-tiba Hengky mengetuk pintu ruangan Daven. Lalu dia masuk setelah mendapat izin dari Daven.


"Permisi, Pak", ucap Hengky sopan.


"Ya, ada perlu apa?"


"Saya mau minta maaf, Pak", ucapnya sembari menunduk.


"Kesalahan apa yang sudah kau lakukan?'


"Kalau begitu minta maaf padanya, bukan pada saya."


"Baik, Pak", sahut Hengky. "Kalau begitu saya mau sekalian minta izin keruangan Bu Lova sebentar, Pak", lanjutnya.


"Jangan sekarang. Nanti saja, kira-kira sejam lagi kau pergi keruangannya", saran Daven. Dia tidak ingin Hengky jadi sasaran kemarahan Dealova.


"Baik, Pak. Kalau begitu saya lanjut kerja", sahut Hengky dengan sopan. Lalu dia berjalan menuju pintu keluar.


...---...


Di kantor milik Ayah Theo, tampak Rafa sedang bercengkerama dengan karyawan Theo. Mereka kagum dengan kepintaran putra Theo itu saat di ajak bicara.


"Tante punya coklat. Ini buat Rafa", kata seorang karyawan cantik seraya menyodorkan coklat pada Rafa.


"Maaf Tante. Mama melarang Rafa makan coklat", ujar Rafa yang di dengar oleh Julie.


"Em, iya mba. Dia memang dibatasi makan coklat, karena giginya suka ngilu kalau makan coklat", sahut Julie.


"Owh, gitu ya", ucap karyawati yang bernana Vanny itu dengan lesu.


"Coklatnya di kasih ke saya saja, mba", pinta Julie.


"Huu, itu sih maunya mba Julie!" ledek Vanny.


"Dari pada mubazir, mba", bujuk Julie dengan tersenyum.

__ADS_1


"Ya, sudah. Ini buat mba Julie saja", ucap Vanny dengan memberikan sebatang coklat itu pada Julie.


"Terimakasih, Mba", sambut Julie dengan mata berbinar. Lalu dia membukanya dan menikmati setiap potongan coklat yang lumer di mulutnya. Tanpa dia sadari Rafa sudah tidak berada di tempat duduknya.


"Rafa mana?" tanyanya pada seseorang yang ada di sana.


Pria itu menaikkan bahunya. "Entah", jawabnya singkat.


Julie mulai panik. Dia bergegas keluar dari ruangan itu dan mencari keberadaan Rafa.


"Habislah aku!" rutuknya kala melihat Indira sedang berjalan dari arah depannya.


"Julie", panggil Indira saat melihat julie hendak menghindar darinya.


"Eh, Bu Dira. Ada tugas buat saya Bu?" tanya Julie dengan cengengesan.


"Kamu kenapa?" tanya Indira saat melihat sikap Julie yang mencurigakan.


"Em, itu Bu. Ta-tadi ada di sini."


"Apa maksudmu tadi ada di sini?" ulang Indira.


"Ma-maaf, Bu. Sa-saya telah lalai menjaga Rafa", sahut Julie gugup.


Indira mulai panik. Dia langsung menghubungi Theo untuk meminta bantuannya.


Theo tak kalah panik dengan Indira. Tanpa menunda dia pun meminta Risa untuk mengirim pesan di group chat kantor untuk mencari tahu keberadaan Rafa.


Seluruh karyawan yang sudah membaca pesan dari Risa turut membantu dengan melihat disekeliling mereka, barangkali Rafa sedang bermain petak umpet.


Di ruang pantau CCTV Theo meminta petugas memutar rekaman CCTV sesuai jam perkiraan Rafa menghilang. Sementara Indira dan Julie mencari di setiap toilet kantor.


"Ketemu!" seru Theo saat melihat Rafa berjalan seorang diri di koridor kantor sembari memegang celananya. Tampak seorang petugas kebersihan menghampirinya. "Coba perbesar gambar dan suaranya!" pinta Theo dengan buru-buru


"Baik, Pak", sahut petugas keamanan. Dengan sigap tangannya sudah mengerjakan sesuai permintaan Theo.


"Coba huhungi Head OB, minta dia keruangan ini!" titah Theo.


Petugas keamanan yang cekatan itu langsung menghubungi Head OB menggunakan HT.


"Sudah saya hubungi Pak, dalam 5 menit dia tiba", kata petugas keamanan.


"Oke", balas Theo singkat. Namun sorot matanya masih memperhatikan rekaman CCTV.


"Coba suruh bagian keamanan periksa toilet bagian itu!" desak Theo.


"Baik, Pak", ucap petugas. Lalu dia menghubungi pos jaga melalui HTnya.


Tak lama kemudian Head OB masuk. "Pak Theo mencari saya?' tanyanya.


"Iya, coba lihat kemari! Apa kau mengenal pria ini?" tanya Theo.


Pak Yatino, Head OB perusahaan Theo mulai menyipitkan matanya. "Walaupun angoota saya memakai masker, biasanya saya tetap bisa mengenali mereka, Pak. Tapi orang ini belum pernah saya lihat", ujarnya.


"Apa kau yakin?"

__ADS_1


Pak Yatino mengangguk sebagai jawaban. Theo pun terduduk lemas mendengar jawaban Pak Yatino.


__ADS_2