
Malam berganti pagi dengan begitu cepat. Rasanya baru saja Raja dan dan sang istri membaringkan tubuh, sudah harus bangun kembali. Mereka pun bergegas bangkit dari tempat tidur untuk melakukan rutinitas pagi seperti biasanya, hanya saja pagi ini mereka akan kedatangan tamu yang kurang mereka harapkan.
Tok. Tok.
Bi Iyem berjalan buru-buru menuju pintu utama. "Siapa yang bertamu sepagi ini?" ucapnya berdecak kesal.
Bi Iyem melotot kala melihat Tiara dan neneknya sedang berdiri di depan pintu rumah keluarga Theo. "Kenapa pagi sekali, bu? Bukankah pertemuannya jam 10?" tanya sang bibi yang mendapat tugas dari Ratu untuk meyiapkan beberapa kudapan untuk jam 10 pagi ini.
"Suka-suka saya. Situ hanya pembantu, jangan banyak tanya."
"Baik bu. Silakan masuk", balas bi Iyem dengan sopan. Dia.tidak ingin kena masalah, hanya karena nenek lampir dihadapannya.
"Panggil Tuan dan nyonyamu!"
"Sebentar bu, saya panggilkan", ucap sang bibi masih dengan sikap sopan.
"Bibi mau kemana?" tanya Theo yang baru saja menuruni anak tangga.
"Mau panggil Tuan dan nyonya, den."
"Gak perlu bi. Biar Theo saja yang hadapi mereka."
"Baik, den", balas sang bibi dengan menunduk. Lalu dia berjalan menuju dapur.
"Kenapa kau melarang pembantu itu untuk memanggil kedua orang tuamu? Bocah ingusan sepertimu mana bisa di ajak ngobrol!"
Theo menatap sang nenek dengan tersenyum sinis. "Untuk masalah ini tidak perlu melibatkan kedua orang tuaku. Aku bisa mengatasinya sendiri."
"Ternyata kepercayaan dirimu tinggi juga. Pantas cucuku menyayangimu. Tapi percaya diri saja tidak cukup, kau juga harus punya tanggung jawab."
"Nenek tidak perlu mengingatkanku tentang itu. Jika saya bukan orang yang bertanggung jawab, maka saya tidak mungkin menceraikan istri saya sebelumnya."
"Itu bukan urusan saya!"
"Siapa yang bilang itu bukan urusan ibu!" seru Raja yang datang tiba-tiba. Lalu dia ikut bergabung duduk dalam perbincangan Theo dan nenek Tiara itu.
"Jelas bukan urusan kami. Itu semua ulah anak anda sendiri!"
"Ibu salah besar!" bantah Raja. "Coba ibu tanyakan sendiri pada cucu ibu, anak siapa yang dia kandung sebelumnya?"
Tiara dan sang nenek terkesiap mendengarkan ucapan mereka.
"Apa yang coba kalian tuduhkan pada cucuku ini, ha?" sergah nenek Tiara. "Sepertinya aku akan melaporkanmu pada pihak yang berwajib", lanjutnya.
__ADS_1
"Silakan, bu. Itu yang kami inginkan, agar semua terungkap!"
Perkataan itu membuat aliran darah Tiara seakan terhenti dengan tiba-tiba, wajah pucat pasinya tak dapat dia tutupi lagi.
"Oke, akan segera saya laporkan!"
Mendengar perkataan sang nenek barusan, Tiara langsung menatap tajam sang nenek. Dia mulai ketakutan, bila nanti semuanya terbongkar.
Seakan paham arti tatapan Tiara, sang nenek mencoba menenangkannya. "Jangan kuatir! Mereka hanya mencoba menggertak kita!"
Tiara membalas dengan menggelengkan kepalanya.
"Lihatlah cucumu itu! Dia benar-benar ketakutan, karena sudah ketahuan berbohong."
Tiba-tiba Ratu datang bersama bi Iyem. "Ayo, dicicipi dulu, bu", pinta Ratu dengan ramah, meskipun dia tahu suasana sedang menegang.
"Mommy tahu aja kesuakaan daddy", ujar Raja dengan santai yang membuat nenek Tiara kesal.
"Tidak ada waktu santai untuk makan. Ayo, kita ke kantor polisi sekarang!"
"Untuk apa?" tanya Raja dan Theo hampir bersamaan.
"Kalian kompak juga", balas sang nenek. "Untuk apa lagi, selain untuk melaporkan putramu ini!" sambungnya dengan berdecak kesal.
"Yang mau melaporkan itu anda sendiri, kenapa kami harus ikut! Lagi pula bukankah kemaren anda mengatakan bahwa anda sudah menyuruh seseorang bersiap di kantor polisi untuk melaporkan anak saya?"
"Maaf kami tidak bisa mengantar", ucap Raja yang membuat nenek Tiara semakin kesal.
Sang nenek langsung menarik tangan Tiara yang masih berdiri menatap Theo.
Kenapa ini berakhir begitu cepat? Meskipun ini untuk membalas dendam nenek, tapi aku lebih menyukai Theo dari pada Mark, pria playboy itu, ucap Tiara di dalam benaknya.
Sepeninggal Tiara dan neneknya. Raja dan seluruh anggota keluarganya bernafas lega.
"Syukurlah mereka sudah pergi", ujar Tamara yang sedang berjalan menghampiri. Lalu dia duduk tepat di samping sang mommy. "Biar Ara aja yang habisin", lanjutnya sembari menjulurkan tangan meraih beberapa kudapan di atas meja.
Raja dan Ratu menatap bahagia putri cantik mereka itu. Keceriaan di wajah Tamara akhirnya kembali, setelah peristiwa kejam itu.
"Sudah lama kita tidak makan di luar bareng. Gimana kalau siang ini kita pergi ke restoran dekat kantor daddy."
"Setuju, dad", balas mereka hampir bersamaan.
"Mommy mau sekalian ke salon di seberangnya. Ara juga ikut ya, nak."
__ADS_1
"Iya, mom", sahut Tamara dengan tersenyum.
"Oke, kalau gitu. Jangan di tunda lagi. Ayo kita pergi!" titah Raja.
"Kepagian, dad..." ucap mereka bersamaan.
Tawa mereka pun pecah memenuhi ruangan itu.
"Sarapannya sudah siap Tuan, nyonya", ujar sang bibi membuat mereka menghentikan suara tawa yang terdengar hingga ke dalam dapur itu.
"Baik, bi, balas Ratu di sisa tawanya. Lalu mereka berjalan bersama menuju ke ruang makan dengan hati riang.
Di tempat berbeda di sebuah kamar yang tampak mewah itu. Tiara merengek memohon bantuan kekasih kayanya itu untuk menghancurkan Theo.
"Cih, karmaren bukannya kau tampak begitu yakin rencanamu berjalan dengan baik?"
"Tidak berhasil. Katanya dia punya bukti kalau anak.yang aku kandung bukan anaknya."
"Oh, gitu ya", balas Mark dengan santai. Maaf Tiara, aku tak rela kau bersama dengan Theo. Kau hanya milikku satu-satunya, batin Mark.
"Tolong bantu aku untuk menghancurkan perusahaan Theo atau bahkan kehidupannya!" pinta Tiara dengan nafas yang memburu.
"Tenanglah sayang. Asal kau selalu disisiku, maka apapun keinginanmu akan aku penuhi", ucap Mark seraya mengusap lembut wajah cantik Tiara.
"Terimakasih sayang", balas Tiara dengan senyum penuh arti.
"Bukankah nenek bersamamu? Kemana dia pergi?"
"Setelah pulang dari rumah Theo, nenek tidak mau lagi bicara padaku. Dia langsung pulang ke tempat tinggalnya."
Mark tertawa mendengarnya.
"Kenapa kau tertawa?"
"Ternyata keras kepalamu turun dari nenekmu!"
"Jangan samakan aku dengan nenekku yang cerewet itu. Kalau bukan karena dia yang sudah membesarkanku dan menyayangiku, aku tak akan mau membalaskan dendamnya itu!"
"Kenapa nenekmu harus membalas dendam? Bukankah itu akibat perbuatan tantemu sendiri, jika saja dia tidak memcelakai keluarga Theo, tidak mungkin hal itu menimpanya. Mungkin dia masih hidup sampai saat ini."
"Itu terjadi karena tante Elsa sangat mencintai papanya Theo. Bahkan tante lebih dulu mengenal papanya Theo."
"Tapi bukan berarti dia harus melakukan segala cara untuk mendapatkan cintanya."
__ADS_1
Tiara tertunduk lesu, karena dirinya ingin melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh tantenya. Hanya bedanya Tiara sudah mendapatkan cintanya Theo, namun dia khianati.