Love Me Tender

Love Me Tender
Tempat Hiburan


__ADS_3

Acara resepsi belum usai, MC meminta Theo dan Indira untuk berdansa, sebagai penutup dari semua rangkaian acara. Saat ini keduanya sedang berdiri di tengah ruangan sembari mekakukan tariannya, disaksikan semua orang yang ada di dalam ruangan itu.


Theo meringis menahan rasa sakit tatkala sang istri berulang kali menginjak sepatunya. Untung sepatu ini dari kulit asli, kalau tidak bolong sudah ini kaki, batin Theo.


"Akhirnya...", ucap Theo bergumam saat musik berakhir.


MC langsung mengambil alih dan meminta para tamu undangan yang ingin mempersembahkan lagu agar tampil ke depan, sambil menikmati hidangan yang sudah tersedia di buffet.


"Ara", panggil Theo pada sang adik yang sedang celingak celinguk mencari seseorang.


"Ya, kak", sahut Tamara tanpa menoleh.


"Kamu cari siapa?"


Tamara pun menoleh sembari menatap sang kakak. "Em, bukan siapa-siapa. Ada apa tadi kakak memanggilku?"


"Temani Dira di sini. Kakak ada perlu sebentar."


"Kenapa Dira di tinggal di sini? Kakak kan bisa membawanya, sekalian kakak kenalin tu dengan teman-teman kakak."


"Bentar, doang", ucapnya seraya melangkahkan kaki menjauhi Indira dan Tamara.


 


Theo berjalan menghampiri sahabatnya yang sedang berdiri di samping orang tuanya.


"Hai, Radit", sapa Theo.


Radit langsung menoleh ke sumber suara. "Aku tak ingin bicara denganmu", sahut Radit seraya membuang wajahnya


"Kenapa?" tanya Theo pada sahabatnya yang sudah dia kenal sejak duduk di bangku SMP.


"Kau masih bertanya kenapa. Setelah kau mengkhianati cinta kekasihmu yang selalu setia padamu!"


"Cih, setia? Apa kau bisa menjamin itu?"


"Dia keluar negeri hanya untuk melanjutkan kuliahnya. Tidak bisakah kau menunggunya kembali hanya untuk beberapa bulan lagi?" Radit menatap tajam Theo seraya mengepalkan tangannya.


"Jika dia memintaku untuk menunggu, Aku pasti akan setia menunggunya, walau kami terpisah jarak yang sangat jauh! Tapi apa...? Dia minta putus hanya lewat pesan. Setelah itu dia pergi dan tidak pernah memberiku kabar sama sekali!"


Radit terdiam sesaat. "Jadi kalian sudah putus?"


Theo memdengus kasar. "Aku tidak pernah menginginkan kami putus, dia yang memintanya."

__ADS_1


 


Dari kejauhan tampak Indira memperhatikan Theo dan sahabatnya itu. Ada sedikit rasa khawatir pada raut wajah Indira karena dia mengira bahwa mereka sedang bertengkar. Tanpa memberitahu Tamara teelebih dahulu, dia pun melangkahkan kakinya menghampiri keduanya.


Theo melihat sang istri sedang berjalan menuju kearahnya. "Nanti kita lanjut lagi, aku masih ada urusan lain." Theo buru-buru meninggalkan Radit, tanpa mendengar jawaban darinya.


"Kau mau kemana?" tanya Theo pada sang istri yang membuatnya beringsut mundur, karena Theo menghampirinya tiba-tiba.


Indira terdiam sesaat. Dia tampak seperti orang yang kebingungan. "Tadi aku mengira melihat orang yang aku kenal", ujarnya dengan gaguk.


"O... Kalau begitu, ayo kita menyapa saudaraku yang lain", ajak Theo. Indira pun menjulurkan tangannya, namun Theo mengabaikannya. Dengan tersenyum getir, Indira menghempaskan tangannya lalu melangkahkan kakinya mengikuti langkah Theo dibelakangnya.


 


Para tamu undangan mulai berpamitan hingga menyisakan beberapa kerabat terdekat saja. Theo yang sedari tadi gelisah akhirnya berpamitan pada seluruh keluarganya untuk beristirahat di dalam kamar. Mereka pun menyetujuinya dengan senyuman penuh arti.


Theo melangkahkan kakinya menuju lantai atas dengan mengabaikan tàtapan menggoda dari seluruh keluarganya itu. Indira pun mengikuti langkah sang suami tanpa diketahui oleh Theo.


Theo masuk ke dalam kamarnya dan dia pun tersentak kaget saat baru saja membalikkan badan, melihat Indira berada tepat dihadapannya.


"Kenapa kau mengikutiku?" tanya Theo dengan berdecak kesal. Sejak pertemuannya dengan Radit sikap Theo pada Indira kembali seperti sebelumnya.


Indira yang bingung melihat perubahan sikap sang suami menjawab dengan gugup. "Aku mau ke kamar."


Dari dalam kamar Indira menatap sang suami yang sedang menghubungi seseorang dengan raut wajah serius. "Apa dia sedang ada masalah?" tanya Indira pada dirinya sendiri. "Lebih baik aku tunggu saja sampai dia mau menceritakannya padaku", ucap Indira bergumam, lalu dia masuk ke dalam walk-in closet untuk berganti pakaian.


Sudah setengah jam lamanya Indira berada di dalam walk-in closet, namun resleting gaun yang dipakainya masih belum terbuka, karena sulit dijangkau oleh tangannya. "Bagaimana ini?" ucapnya bergumam. Lalu dia berjalan keluar untuk melihat apakah sang suami sudah berada di dalam kamar.


"Nah, itu dia", ucapnya saat Theo baru saja menutup pintu. Lalu Indira berjalan menghampiri Theo. "Kak, apa aku bisa minta bantuannya?"


Theo menatap Indira sejenak. "Apa?"


"Em, anu..." Indira ragu untuk mengatakannya, karena takut Theo akan marah padanya.


"Apa? Cepat katakan!" ucap Theo dengan tidak ramah.


"Gak jadi deh, kak."


Theo semakin kesal mendengar ucapan Indira barusan. Dia merasa bahwa Indira sedang mempermainkannya. "Minggir!" ketusnya seraya berjalan melewati Indira. Lalu dia masuk ke dalam walk-in closet untuk berganti pakaian.


"Tuh kan masih marah juga", ucap Indira bergumam, lalu dia berjalan dengan lesu menuju sofa. Diraihnya ponsel miliknya yang ada di atas meja. Dengan cepat jemarinya mencari kontak Tamara.


Tut. Tut.

__ADS_1


Terdengar nada tunggu saat panggilan telepon terhubung, namun Tamara tidak mengangkatnya. Indira masih terus mencobau hingga berkali-kali, dan hasilnya tetap sama. "Mungkin Tamara tidak membawa ponselnya", ucapnya bergumam.


Theo keluar dari dalam walk-in closet dengan pakaian casualnya. "Kakak mau kemana?" tanya Indira.


"Ada urusan sebentar. Mungkin pulangnya agak malam", sahut Theo seraya berjalan menuju pintu. "Kalau keluargaku tanya, bilang saja lagi mandi atau tidur." Theo pun meninggalkan Indira yang masih mengenakan gaun pestanya itu.


Indira terduduk lesu di atas sofa. Pupus sudah harapannya mendapatkan cinta dari seseorang yang dia harapkan untuk menjadi suami yang akan memimpin dia nantinya.


"Mungkin kau tidak ditakdirkan untuk hidup bahagia Dira." keluh Dira pada dirinya sendiri.


 


Theo berhasil keluar dari rumah setelah mencari kesempatan saat seluruh keluarganya berada di samping halaman rumah mereka. Dia yang sudah meminta pak Joko mengeluarkan mobil terlebih dahulu dengan alasan mengisi BBM. Dengan mudahnya melarikan diri, karena pak Joko sudah menunggu tepat di luar gerbang.


Tak menunggu lama, mobil itu pun melesat meninggalkan gerbang rumahnya.


Theo tiba di sebuah tempat dimana dia janji bertemu dengan sahabatnya Radit.


"Theo, kemarilah!" pinta Radit saat melihatnya masuk.


"Kenapa kau memintaku bertemu di tempat seperti ini? Ayo, kita pindah ke tempat lain!" Theo yang belum pernah sama sekali datang ke tempat hiburan, merasa risih saat melihat para wanita yang berpakaian minim itu mencoba merayunya.


"Come, on. Bergaullah dengan orang seusiamu, jangan dengan kakek-kakek."


Theo yang merasa tersindir, memutuskan untuk pulang.


"Eh, tunggu dulu. Apa kau sudah tidak ingin mengetahuinya?"


Theo terpaksa menghentikan langkahnya dan memutar badannya. "Cepat katakan!" ucapnya seraya menghampiri Radit.


"Santai, bro. Ayo, ini minumlah dulu. Aku sudah mempersiapkan juice khusus untukmu."


Theo buru-buru meminumnya, agar dia tidak berlama-lama lagi di sana. "Sudah, jangan berdalih lagi!" Theo menghabiskan juice yang diberikan Radit dalam satu kali tegukan.


"Sebenarnya tidak ada rahasia apapun yang aku ketahui, karena kekasihmu itu tidak pernah mau mengangkat telepon dariku."


"Jadi kau mempermainkanku!" Theo langsung menarik kerah baju Radit dengan kasar. Hampir saja kepalan tinjunya melayang, jika tidak dihalangi oleh pak Joko.


"Ayo, kita pulang saja den", ucap pak Joko yang sedari tadi kuatir Theo akan dimarahi oleh sang kakek, jika ketahuan pergi ke tempat hiburan.


Theo pun menuruti ucapan pak Joko yang menurutnya ada benarnya. Dia beranjak dari tempat itu meninggalkan Radit yang tersenyum padanya.


"

__ADS_1


__ADS_2