Love Me Tender

Love Me Tender
Perusahaan Theo Dalam Masalah


__ADS_3

Beberapa tahun kemudian


Perusahaan keluarga Theo saat ini sedang menghadapi guncangan besar, bahkan sudah berada di ujung tanduk. Hal itu terjadi karena perusahaan keluarga Theo telah di tipu oleh klient besar yang baru saja satu minggu menjalin kerja sama, dengan nominal angka 13 digit itu.


Raja, daddynya Theo itu harus menghubungi beberapa rekan bisnisnya untuk membantu kesulitan diperusahaannya meskipun saat ini Theo sudah menjabat sebagai CEO.


Berita kebangkrutan perusahaan keluarga Theo dengan cepat menyebar, hingga sampai ke telinga seorang wanita karir yang sukses.


"Apa kau akan membantunya?" tanya Daven seraya duduk di sofa.


Indira terdiam sesaat. Jika dia harus mengikuti perasaan bencinya pada keluarga Theo, maka dia seharusnya membiarkan hal itu terjadi. Dengan begitu dendamnya terbalaskan, tanpa dia harus mengotori tangannya. Namun di sisi baik dirinya, yakni jauh di dalam lubuk hatinya yang paling murni, dia ingin mengulurkan tangannya membantu pria yang pernah menjadi suaminya itu.


"Aku harap kau tidak akan membantunya!" ucap Daven dengan tatapan serius.


"Ikuti kata hatiku saja", balas Indira dengan tersenyum. Lalu dia beranjak dari posisinya duduk dan berjalan menuju pantry.


"Apa kata hatimu?" tanya Daven penasaran. Lalu dia bangkit dari sofa dan duduk di hadapan Indira yang dipisahkan oleh meja.


"Kau akan tahu nanti!" jawab Indira seraya meletakkan gelas yang menyisakan setengah air didalamnya.


"Kenapa tidak sekarang saja? Aku bisa mati penasaran kau buat."


"Aku tak perlu menjawabnya!" sahut Indira seraya meneguk sisa air di gelas. Lalu dia meletakkan gelas kosong itu kembali. "Aku cuma ingin kau tetap mendukung apapun nanti yang menjadi keputusanku", sambungnya.


Daven menatap kesal Indira yang sedang berjalan menjauhinya. Sampai kapan kau menganggapku hanya sebagai seorang sahabat, batin Daven.


...---...


Di perusahaan Arkana group, tampak Theo sedang duduk di kursi kebesarannya seraya memijit pelipisnya.


"Hai sayang", ujar seorang wanita yang berhasil masuk ke ruangan Theo tanpa sepengetahuan sang sekretaris.


"Kenapa kau bisa masuk?" tanya Theo tanpa menatap wanita itu, karena dia sangat mengenal suaranya.


"Ternyata kau tahu itu aku! Berarti kau masih sangat mengenalku", balas Tiara seraya berjalan mendekati Theo.


"Stop!" titah Theo, yang memberi isyarat dengan menggunakan telapak tangannya.


"Jangan bohongi dirimu sayang, kalau kau sedang membutuhkan bantuanku katakan saja."


"Yah, aku membutuhkan bantuanmu...!" seru Theo dengan tatapan datar. Tiara pun berbinar mendengar ucapan Theo barusan. Sesaat kemudian Theo melanjutkan ucapannya. "...untuk pergi dari sini!"

__ADS_1


Seketika ekspresi wajah Tiara berubah, dia menatap Theo dengan berdecak kesal. "Kenapa sekarang kau begitu egois? Bukankah kita ini saling mencintai?"


"Itu dulu! Sekarang aku tidak mencintaimu lagi!"


"Kau bohong! Sorot matamu berkata lain!" teriak Tiara dengan emosi. "Aku tahu sampai saat ini kau masih mencintaiku. Tapi karena kesalahanku, kau memalingkan wajahmu dariku", lanjutnya. Lalu dia terduduk di lantai. "Pernahkah kau tahu kenyataan pahit apa yang aku alami selama aku meninggalkanmu kuliah di luar negeri?"


Theo melirik Tiara sekilas menandakan ada rasa penasaran. Tiara pun berhasil melihat lirikan itu. "Kau pasti tidak tahu bagaimana rasanya tidak memiliki apapun. Namun aku mengalaminya saat keluargaku bangkrut. Selama di luar negeri aku tidak punya kenalan atau sanak saudara, tapi ada seorang pria baik hati yang dengan tulus menolongku."


"Sudah selesai bicaranya?" tanya Theo menotong ucapan Tiara.


Tiara bangkit dari posisinya di lantai. Lalu berjalan menghampiri Theo. "Percayalah padaku. Aku terpaksa bersama pria itu, itu semata hanya untuk membalas hutang budi padanya. Jika aku tidak bersamanya mungkin seluruh keluargaku sudah mengemis di jalanan."


"Jika sudah selesai bicara, kau tahu pintu keluar!"


"Dengarkan aku Theo! Aku bisa membantumu mengatasi kesulitan keuanganmu saat ini", ucapnya dengan percaya diri untuk menarik simpati Theo.


"Cih, kau pasti mau memamerkan harta teman priamu itu!"


"Tidak sayang. Ini adalah uang milikku, aku rela memberikannya padamu."


Theo menautkan kedua alisnya. "Keluargamu sudah bangkrut, bagaimana bisa kau masih memiliki harta?"


Theo tertawa mendengarnya. "Sudah cukup dramanya. Aku tidak ada waktu untuk itu. Silakan cari pintu keluar, sebelum aku bertindak dengan keras."


Tiara mulai jengah dengan sikap dingin Theo. Karena semua usahanya telah sia-sia, akhirnya dia membalikkan badannya, hingga posisinya membelakangi Theo. "Aku selalu merindukanmu cinta terbaikku", ujarnya seraya melangkahkan kakinya menuju ke luar ruangan.


Theo terkesiap mendengar ucapan Tiara barusan. Perkataan yang sering mereka ucapkan saat mereka sedang berkomunikasi lewat telepon. Hampir saja Theo goyah dan hendak bangkit dari tempat duduknya untuk mengejar Tiara, namun pikiran itu sesaat dia tepis.


Tok. Tok.


"Masuk..." pinta Theo.


"Permisi pak..." ujar Risa sang sekretaris seraya membawa berkas ke meja Theo.


"Apa ini Risa?"


"Bagian accounting mengatakan, ini adalah hutang ke bank yang harus segera dilunasi pak."


Theo terbeliak mendengarkan perkataan sang sekretaris. "Apa kau punya solusi, bagaimana kita bisa mendapatkan disainer ternama untuk membuat produk kita laku di jual?"


"Mungkin disainer ternama bisa kita dapatkan segera, pak. Tapi biaya untuk membayar jasanya, bagaimana pak?"

__ADS_1


"Kalau harus menjual asset pribadi sekalipun akan aku lakukan, asal semua karyawan bisa tetap bekerja."


"Terimakasih bapak sudah peduli pada kami. Saya akan usahakan untuk mencari disainer yang bapak minta", ucapnya dengan tegas. "Dan saya tadi melihat bu Tiara keluar dari ruangan bapak. Maafkan saya pak tidak bisa menghalanginya, karena tadi saya ke pantry sebentar."


"Tidak apa-apa, orangnya juga sudah pergi."


"Baik pak. Kalau begitu saya lanjut kerja", ujarnya seraya berjalan menuju pintu, lalu keluar.


Sepeninggal Risa sang mommy datang dengan membawa cucu kesayangannya.


"Uncle Ti... " teriak Cha cha keponakannya yang comel itu seraya menghamburkan diri memeluk Theo.


"Cha cha cantiknya uncle gimana sekolahnya hari ini?" tanya Theo dengan mendorong pelan tubuh sang keponakan yang sudah masuk sekolah paud itu meskipun usianya belum genap 4 tahun.


"Asyik uncle Ti. Banyak temannya."


"Jadi pergi kesekolah cuma mau cari teman?" tanya Theo dengan menaikkan kedua alisnya.


Cha cha tersenyum dengan cengiran kuda. "Uncle Ti tau aja", ucapnya sembari menjauh dari Theo dan menghampiri sang nenek yang sedang duduk di sofa dengan menyandarkan tubuhnya. "Oma, Cha cha haus", ucapnya sembari duduk di samping sang nenek.


Ratu menyodorkan tempat minuman milik Cha cha yang selalu di bawa ke sekolah. "Ini sayang", ujarnya.


Cha cha menggelengkan kepalanya. "Bukan itu oma, Cha cha maunya ice cream!" tolaknya.


"Ice cream bukan untuk ngilangin haus sayang."


"Pokoknya Cha cha maunya ice cream", ucapnya dengan mengerucutkan bibirnya.


"Ayo, kita beli ice cream", ajak Theo dengan menjulurkan tangannya.


"Gak perlu, nak. Kau urus saja masalah di kantor."


"Masalah itu tidak akan selesai jika Theo hanya duduk diam di sini, mom. Jadi Theo mau keluar sekalian menghirup udara luar."


"Lakukan apa yang menurutmu baik, nak."


"Uncle Ti, jaid gak sih kita beli ice creamnya?" tanya Cha cha yang sudah berdiri di antara oma dan pamannya itu.


"Let's go Cha cha sayang!"


Mereka pun berjalan keluar dari ruangan Theo. Sedangkan Ratu hanya bisa mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


__ADS_2