Love Me Tender

Love Me Tender
Indira Menghindar


__ADS_3

Theo menghubungi kembali perancang busana terkenal yang telah sepakat melakukan kerjasama dengannya Dia meminta maaf, karena dalam berkas yang telah dia bawa ada poin yang salah dan akan segera di revisi. Wanita yang kendaraannya belum jauh dari kantor Theo itu terpaksa harus kembali.


"Kali ini aku akan ikut bersamamu", ucap atasan wanita itu.


"Baik, Bu", sahutmya.


Setelah mobil mereka berhenti di depan lobi kantor milik Theo. Kedua wanita itu turun dari mobil dan melangkahkan kakinya berjalan menuju lobi.


Sudah bertahun-tahun, tapi tempat ini tidak banyak berubah. Yang berubah hanya resepsionisnya saja, ucap wanita itu bermonolog di dalam batinnya.


"Kenapa, Bu?" tanya sang asisten kala melihat perubahan wajah sang atasan.


Ting.


Pintu lift terbuka lebar mereka berjalan masuk ke dalam lift.


"Bukan apa-apa, hanya saja tempat ini tidak asing bagiku", jawabnya yang membuat sang asisten bingung. "Jangan terlalu dipikirkan ucapanku, nanti kau bisa terkena asam lambung", lanjutnya dengan santai.


Sang asisten tersenyum mendengar candaan atasannya. "Ternyata Ibu suka bercanda", sahutnya. "Tapi apa Ibu tidak merasa khawatir, kedepannya akan mudah dikenali orang yang akan bekerjasama dengan Ibu?" tanyanya saat pintu lift terbuka lebar.


"Sudah, jangan di bahas lagi. Kita sudah berada di lantai yang ingin kita tuju."


"Baik, Bu", balas sang asisten dengan tegas.


"Permisi Bu Risa", ucap sang asisten dengan ramah. Namun Risa langsung bangkit dari tempat duduknya, matanya melotot kala melihat wanita yang ada di samping sang asisten.


"Bb-Bu Indira..." ucapnya terbata-bata seraya menunjuk dengan jarinya.


"Ternyata kamu masih mengenaliku", sahut Indira dengan tersenyum.


Risa keluar dari balik mejanya. Kemudian dia buru-buru masuk ke dalam ruangan Theo.


"Maaf Pak, ada hal mendesak", ucapnya yang membuat Theo bingung.


"Kenapa - ?" Theo menghentikan ucapannya kala melihat wanita yang baru saja masuk ke dalam ruangannya.


"Dira..." ucapnya seraya berjalan menghampiri Indira. "Bagaimana kabarmu?" tanyanya kemudian.


"Bu Dira... Bu... Ayo, Bu", panggil sang asisten membuyarkan lamunan Indira.


"Ternyata aku belum siap untuk bertemu dengannya", ucap Indira dengan lirih. "Kalau begitu kau pergilah, aku akan menunggumu di mobil", lanjutnya seraya membalikkan badan dan berjalan menuju pintu lift.


...---...


Asisten Indira sudah berada di dalam ruangan Theo. Dengan gugup Risa memberikan berkas revisi.


"Ini, Bu", ucapnya dengan menyodorkan berkas dihadapan asisten Indira.

__ADS_1


"Apa kalian sedang mempermainkanku? Hanya untuk revisi 2 kata ini, kalian memintaku kembali!"


"Mm-maaf", ucap Risa dengan terbata.


"Semua itu salah saya. Maaf telah membuang waktu Ibu. Saya hanya curiga, jika pemilik Rafa Inlove adalah orang yang saya kenal", ujar Theo dengan menatap intens asisten Indira.


"Buat apa kita bekerja sama, jika masih dicurigai. Lebih baik kerjasama ini batal!'


"Kalau begitu. Bagaimana kalau Ibu langsung menandatangani kerjasama ini", pinta Theo.


Sang asisten terdiam sesaat. Dia terus mencoba memikirkan cara agar dia bisa membawa kontrak kerja sama.


"Tapi saya belum membaca detailnya."


"Saya rasa Ibu tidak terburu-buru, karena waktu 15 menit saja Ibu tempuh untuk kembali ke tempat ini."


"Kalau Pak Theo memaksa, maka lebih baik kontrak kerjasama ini batal."


"Baik, kalau itu yang Ibu mau. Berarti kita belum bisa menjalin kerja sama yang baik", balas Theo dengan santai. Sedangkan Risa berdiri dengan resah saat mendengarkan penuturan Theo.


Pak bos, tolong jangan egois. Kemana lagi saya mencari perancang busana ternama, ucap Risa di dalam batinnya yang menangis.


"Baik, saya pergi!" kata sang asisten dengan tegas. Lalu dia beranjak meninggalkan ruangan Theo.


Risa menatap atasannya itu dengan wajah memelas. "Pak, jangan di tolak", ucapnya berbisik.


"Apa Pak Theo berubah pikiran?" tanyanya saat berbalik.


"Ibu boleh membawa berkasnya. Tapi saya minta draft rancangan busana bisa dikirimkan besok."


"Baik, saya setuju", sahut asisten Indira dengan tegas. Lalu dia berjalan kembali menghampiri meja kerja Theo.


"Ini berkasnya Bu", ujar Risa.


Asisten Indira meraihnya, lalu menggenggamnya. "Kalau begitu saya langsung pamit", ucapnya sembari beranjak dari posisinya berdiri dan berjalan keluar dari ruangan Theo.


Sepeninggal asisten Indira, sang sekretaris menoleh ke arah Theo. "Kenapa Pak Theo tidak terus terang saja, kalau Pak Theo tahu bahwa Bu Indira adalah pemilik sebenarnya."


"Kamu jangan ikut campur terlalu banyak! Ini urusan pribadi saya", ujar Theo dengan tegas.


"Baik Pak", balas Risa dengan sedikit gugup. Lalu dia berjalan keluar dari ruangan Theo.


Sepeninggal Risa, Theo langsung menyandarkan tubuhnya menatap langit-langit putih ruangannya. "Kenapa kau tidak ingin menemuiku? Apa kau sangat membenciku?" ucap Theo bermonolog. Tidak lama kemudian Theo tersadar. "Anak itu, anakku", ucapnya dengan girang. Lalu dia menghubungi seseorang yang dapat dia percaya untuk menyelidiki tempat tinggal Indira.


...---...


Di dalam mobil Indira tampak gelisah, karena Theo sudah mulai curiga jika pemilik Rafa Inlove adalah dirinya.

__ADS_1


"Ke sekolah Rafa ya, Pak", titahnya pada sang supir.


"Baik, Bu", balas sang supir dengan sopan. Lalu dia melajukan kendaraannya menuju arah sekolah putra sang bos.


Tidak butuh waktu yang lama mobil milik Indira tiba di depan gerbang sekolah Paud Ceria itu. Indira menghentikan tangannya yang akan membuka pintu mobil.


"Kenapa tidak jadi keluar, Bu?" tanya sang asisten.


"Tolong jemput Rafa dan langsung bawa masuk", pohon Indira pada sang asisten.


Tanpa bantahan sang asisten langsung keluar dari dalam mobil dan mencari keberadaan Rafa.


Saka mau menjemput siapa di sini? Apa dia sudah menikah dan puntmya anak? tanya Indira di dalam batinnya.


Tidak lama kemudian Indira melihat Tamara keluar dengan menggandeng seorang anak perempuan. Dia semakin di buat terkejut, kala Tamara menghampiri Saka. Anak perempuan itu berlari memeluk Saka.


Apalagi ini? Saka menikah dengan Tamara, tapi kenapa bisa? Tanya Indira di dalam batinnya.


"Mama", panggil Rafa saat membuka pintu mobil.


"Hai, sayangnya Mama. Bagaimana sekolahnya hari ini, apakah menyenangkan?" tanya Indira dengan lembut.


"Rafa punya teman baru, tapi perempuan Ma."


"Bagus dong, anak kesayangan Mama ini punya teman baru", ucap Indira dengan mencubit gemas hidung putranya. "Tapi jangan berteman hanya karena apa yang dia punya, bertemanlah dengan semua orang yang punya sikap baik."


"Baik, Ma", balasnya dengan tersenyum. "Rafa pengen ice cream, Ma", lanjutnya dengan menohon.


"Iya, nanti Mama belikan."


"Di dekat rumah ice creamnya enak. Kalau Mama gak percaya tanya Tante Julie", ucap bibir mungil Rafa yang membuat Julie kesusahan menelan salivanya.


"Oh, jadi kamu sering di bawa makan ice cream sama Tante Julie?" tanya Indira. Julie pasrah jika harus mendapat kemarahan sang atasan. "Sepertinya Julie akhir-akhir ini banyak waktu luang, ya?"


"Maaf, Bu. Saya hanya kasihan melihat Rafa merengek terus minta dibelikan ice cream."


"Malam ini kamu buatkan draft desain untuk perusahaan Theo. Besok pagi sudah harus ada di tangan saya."


Julie hanya bisa menerima tugas itu dengan lapang dada, karena dia telah melanggar perintah atasannya itu untuk tidak membawa putranya makan ice cream tanpa seizin darinya.


"Mama jangan hukum tante Julie, hukum Rafa saja."


"Bagus Rafa mengaku salah. Kalau begitu selama satu minggu Rafa tidak boleh makan ice cream."


"Mama kejam!" teriak Rafa seraya membalikkan badannya.


Selama dalam perjalanan Indira tidak berhasil membujuk putranya itu, dengan terpaksa Indira harus menyetujui permintaannya. "Julie saat ini hukumanmu saya kurangi. Saya tahu kamu pasti kesulitan menghadapi putraku. Tapi lain kali tolong kamu langsung beritahu saya apa yang dia minta."

__ADS_1


"Baik, Bu", balas Julie dengan bernafas lega.


__ADS_2