Love Me Tender

Love Me Tender
Di dalam Lift


__ADS_3

Suasana di meja makan tiba-tiba hening, yang terdengar hanya dentingan sendok dan garpu. Dalam kebisuan Indira menatap bingung pada semua anggota keluarga.


Kenapa tidak ada satu pun yang bertanya alasan aku pindah ke rumah ini, ya? Tanya Indira di dalam batinnya.


Sementara Ratu menatap wajah murung Dealova. Makanan dihadapannya tidak dia sentuh sama sekali.


"Kenapa Lova tidak makan?" tanya Ratu.


Delova mendongak menatap Ratu. "Ini bukan masakan Bi Iyem. Rasanya tidak enak seperti masakan Bi Iyem", ucap Dealova yang membuat semua mata menoleh kearahnya.


"Lidah seseorang memang berbeda soal rasa, tapi jika lidah satu orang dibandingkan dengan enam orang, maka kita tahu lidah siapa yang sedang bermasalah", celetuk Theo.


Wajah Dealova seketika memerah, kala mendapat sindiran telak dari Theo. Dia pun bergegas pamit pada semua keluarga Theo.


Sepeninggal Dealova, Raja langsung mencecar Indira. "Dira, bagaimana dengan pertanyaan Daddy kemaren? Mau di jawab sekarang atau nanti jam 10 di kantor?"


Indira terdiam sejenak seraya berfikir. "Maaf Pak. Sebelumnya ada hal yang mau saya tanyakan", balas Indira.


Raja yang sudah menduga akan mendapatkan pertanyaan, dia langsung menatap serius ke arah Indira. "Apa yang mau kau tanyakan?"


"Kenapa tidak ada satu pun yang bertanya alasan saya pindah ke rumah ini?"


Raja terkekeh mendengar pertanyaan Indira. "Apa kami perlu bertanya pada keluarga kami sendiri kenapa dia tinggal di rumah ini?" tanya Raja balik.


"Maksud saya bukan seperti itu, Pak", jelas Indira.


"Jangan diperpanjang. Kami senang akhirnya kau mau tinggal di rumah ini lagi. Jadi untuk apa kau harus menceritakan alasanmu tinggal di sini."


Indira menatap serius wajah seluruh anggota keluarga yang ada di meja makan. Namun tidak ada satupun yang bereaksi kaget atau seolah ingin tahu.


"Apa kalian yang sudah merancang kejadian di rumah saya?" tanya Indira dengan wajah serius yang membuat seluruh keluarga menatap Indira.


"Kejadian apa yang telah menimpamu, Nak?" tanya Ratu.


"Apa Ibu benar-benar tidak tahu?" tanya Indira balik.


Ratu menggelengkan kepalanya. "Kedatanganmu tadi malam bersama cucu kami membuat kami sangat bahagia, jadi kami pun sepakat tidak akan menanyakan alasanmu pindah kemari."


"Jadi semuanya sudah tahu, kami datang malam kemaren?"


Semua anggota keluarga mengangguk kecuali Theo.


"Kak Theo yang kirim pesan di group keluarga", sahut Tamara saat baru saja selesai menyuapi putri kecilnya.


"Jadi kalian semua benar-benar tidak tahu", ulang Indira dengan perasaan bersalah. "Maaf tadi saya sempat mengira bahwa kalian semua yang telah melakukan teror di apartemen saya."


"Apa teror!" ujar Ratu kaget.


"Iya, Bu. Ada orang berpakaian hitam berdiri di dekat kaca jendela kamar Dira", terang Indira.

__ADS_1


"Syukurlah kalian langsung kemari. Mommy tidak tahu apa yang akan terjadi jika kalian bertahan tinggal di sana."


Indira pun tersenyum mendengar penuturan sang mertua. Meskipun masih ada keraguan di dalam hatinya, namun dia tidak ingin membahasnya lagi demi kenyamanan dirinya dan putranya.


...---...


Di lobi kantor yang tampak mewah dan luas itu, Dealova melangkahkan kakinya.


"Pagi Bu", sapa security.


"Bak, buk, emangnya aku Ibumu?" ketus Dealova, yang membuat sang security bingung.


"Kenapa Bu Lova berbeda dari biasanya, ya?" tanya sang security dengan bergumam.


"Kenapa bingung Pak?" tanya seorang pria yang akan masuk melewati sang security.


"Eh, itu Pak. Bu Lova gak seperti biasanya", jawab sang security. "Bapak karyawan baru di sini, kan?" tanyanya saat sadar dia tidak mengenal pria yang baru menyapanya.


"Iya, saya IT baru di sini", jawabnya.


"Owh, Bapak pengganti pak Hengky ya?"


"Lebih tepatnya saya atasannya, Pak", jawab pria itu dengan tersenyum.


"Owh, maaf Pak... " Sang security membaca nama pada ID Card pria itu.


"Daven, Pak", katanya saat sang security kesulitan membaca namanya.


"Tidak apa-apa, Pak. Kalau begitu saya masuk ke dalam dulu", ucap Daven ramah.


"Atasan dan bawahan tidak ada bedanya, sama ramahnya", gumamnya seraya menyambut ramah para karyawan lain yang sedang melewatinya.


...---...


Di dalam sebuah mobil Indira termenung seraya menatap keluar kaca jendela, setelah dia dan Theo mengantarkan putranya ke sekolah. Theo telah memaksa ikut dengannya, karena dia ingin Rafa mengenalnya lebih dekat.


"Apa keputusanmu atas saran dari Daddy?" tanya Theo memecah keheningan, namun tetap fokus menyetir.


"Aku akan menjawab pertanyaan itu nanti, saat di kantor", jawab Indira tanpa menoleh.


Theo mendengus kasar sembari melirik Indira sekilas. "Bagaimana kehidupanmu dalan 5 tahun ini?" tanyanya.


"Apa itu penting bagimu?"


Jawaban ketus Indira seakan menghujam tepat di jantung Theo. Dia tidak tahu apa yang telah Indira alami selama 5 tahun ke belakang, tapi dia bisa merasakan kesedihan Indira di balik amarahnya.


"Aku minta maaf, karena atas perbuatanku, kau mengalami hal yang menyedihkan. Berikan aku waktu untuk memperbaiki semuanya."


Indira menoleh ke arah Theo. "Aku tidak pernah merasa hidupku menyedihkan!" tegas Indira.

__ADS_1


"Bukan seperti itu maksudku", sahut Theo saat memarkirkan kendaraannya di Basement. "Kita bicarakan hal ini di kantorku saja", lanjutnya setelah turun dari mobil.


Indira pun ikut turun dari mobil, lalu dia berjalan mengejar langkah Theo.


Ting.


Pintu lift terbuka lebar, Theo melangkah masuk diikuti oleh Indira dibelakangnya.


Kenapa dia naik lift yang untuk karyawan? Tanya Indira di dalam batinnya.


"Berikan tanganmu", pinta Theo tiba-tiba pada Indira.


Indira pun mendongak bingung. "Untuk apa?" tanyanya.


Tanpa menjawab Indira, Theo langsung meraih tangan Indira, hingga tangan mereka saling bergandengan.


Ting.


Pintu lift terbuka lebar. Karyawan yang menunggu di lobi pun terperangah kala melihat kemesraan yang ditunjukkan oleh Theo.


"Permisi, Pak", ucap salah seorang karyawan yang berani masuk walau CEO mereka ada di dalam lift.


Theo hanya membalas dengan deheman. Sementara Indira sedang berusaha melepas genggaman Theo, namun dia tidak berhasil.


"Apa cuma dia yang ikut?" tunjuk Theo pada wanita tomboy yang melambaikan tangannya pada karyawan lain yang tidak ikut naik ke lift.


"Iya, Pak", sahut mereka hampir bersamaan. Lalu Theo mengangkat jarinya dari tombol lift.


"Kamu dari Departemen mana?" tanya Theo saat pintu lift tertutup rapat.


"Saya dari Departemen IT pak", balasnya dengan ramah.


"Owh, pantes", ucap Theo bergumam.


"Bapak ngomong sesuatu?" tanya karyawan wanita itu, saat mendengar suara berbisik.


"Bandwidth kamu berapa? Suara berbisik saja cepat di tangkap sama signal kamu", kata Theo yang membuat karyawan wanita itu tertawa.


"Ah, Bapak bisa saja. Saya hanya takut Bapak mengira saya karyawan yang tidak sopan, karena tidak menjawab ucapan Bapak", sahutnya.


"Tapi kamu memang tidak sopan!" seru Theo yang membuat sang karyawan panik.


"Maaf, Pak. Saya sudah lancang masuk di lift ini", imbuhnya seraya menunduk.


Ting.


"Kamu bukannya mau turun di lantai ini?" tanya Theo.


"Sekali lagi saya minta maaf Pak", ucap wanita itu sembari berjalan mundur keluar dari dalam lift.

__ADS_1


Theo pun tertawa keras saat pintu lift tertutup rapat hingga genggaman tangannya terlepas dari Indira.


__ADS_2