
Indira menunggu kepulangan Theo di dalam kamarnya. Wajah kesalnya terlihat jelas kala panggilan telepon darinya tak satu pun di angkat oleh Theo.
"Pergi kemana dia?" ucapnya bergumam.
Baru saja Indira menyelesaikan ucapannya, seseorang yang dinantinya akhirnya muncul dari balik pintu kamar. Theo berjalan melewati Indira yang sedang berdiri dengan raut wajah cemberut itu.
"Kakak dari mana?"
"Bertemu dengan teman", jawabnya santai. Lalu dia berjalan menuju balkon kamarnya, tak lupa dia menutup rapat pintu.
Lagi-lagi Indira hanya bisa memandang dari dalam kamar kala sang suami sedang menelepon seseorang. Entah apa yang sedang mereka bicarakan Indira pun tidak tahu. Dia bukanlah cenayang yang dapat menebak apa yang sedang diomongin oleh sang suami.
Indira yang sudah jengah sedari tadi menunggu Theo, akhirnya dia beranjak dari posisinya berdiri dan berjalan menuju keluar kamar.
"Hai, kakak ipar. Mau kemana?" tanya Tamara saat melihat Indira sedang menuruni anak tangga.
"Mau jalan-jalan ke taman belakang sebentar, sebelum mentari meninggi."
"Aku ikut."
"Ya, sudah ayok."
Tamara berjalan menghampiri Indira dengan penuh semangat. "Kenapa gak ajak kak Theo sekalian?" tanya Tamara saat langkahnya sudah sejajar dengan Indira.
"Dia lagi sibuk", jawab Indira sekenanya.
"Sibuk apa? Jabatan CEO kan masih di pegang sama daddy."
"Aku gak tahu. Tapi dari tadi dia sibuk menelpon seseorang."
Tamara menoleh ke arah Indira, lalu dia bertindak seperti orang mengendus. "Umm, aroma-aroma cemburu, nih?" tebak Tamara sambil tersenyum penuh selidik.
"Cemburu? Kenapa aku harus cemburu?"
"Kalau bukan cemburu, jadi kenapa wajah kakak ipar dari tadi murung?"
"Lagi badmood aja, makanya pengen jalan-jalan ke taman belakang."
"Itu sama aja kakak ipar sayang." Tamara lansung merangkul Indira. "Ya, sudah. Ara temani kakak ipar sampai badmoodnya hilang."
Indira merentangkan tangannya, menutup matanya dan menikmati udara pagi yang masih terasa sejuk, walau jam sudah menunjukkan pukul 8.30.
"Setelah ini kakak ipar ada rencana mau kemana?"
"Tidak ada", jawab Indira santai masih dengan menutup matanya.
__ADS_1
"Temani Ara ke mall, ya."
Indira langsung membuka matanya dan menoleh ke arah Tamara. "Mau shopping?"
"Bukan sekedar shopping. Tapi aku mau ajak kakak ipar ke salon juga. Mau ya?"
Indira menatap Tamara dalam kebisuan.
"Ara yakin setelah pulang dari sana nanti pasti badmood kakak ipar berganti dengan goodmood", rayu Tamara saat melihat Indira belum juga merespon ajakannya.
"Oke, aku ikut."
"Nah, gitu dong. Ini baru kakak iparku yang cakep." Tamara kembali merangkul Indira dengan tersenyum bahagia.
Indira berjalan masuk ke dalam kamar. Lalu dia mengedarkan pandangannya, mencoba mencari keberadaan sang suami, namun bayangannya pun tidak terlihat olehnya. "Kemana lagi dia?" Indira berdecak kesal sembari melangkah menuju walk-in closet.
Setelah mengganti pakaiannya, Indira kembali mencari sang suami. "Di balkon tidak ada. Fix dia keluar lagi", ucap Indira bergumam. "Kalau dia saja sesuka hatinya pergi, berarti aku juga boleh", ucapnya dengan kesal. Lalu dia melangkahkan kakinya berjalan keluar kamar.
"Wah, kakak ipar cantik banget", ujar Tamara saat baru saja keluar dari dalam kamar.
"Kau jauh lebih cantik", balas Indira yang membuat Tamara tersenyum.
"Ayo, kita let's go."
Indira menatap Tamara dengan tersenyum, dia senang sikap Tamara kembali hangat padanya, setelah kemaren malam seakan Tamara memperlakukannya sebagai musuh.
"Nanti kami hubungi bapak ya", ucap Tamara pada sang supir.
"Baik, non", sahut pak Joko dengan ramah. Lalu dia melajukan kendaraannya meninggalkan mall.
Tamara langsung menggandeng tangan Indira sembari masuk ke dalam mall. "Kita mau ke butik dulu atau salon?" Tamara memberikan pilihan pada Indira.
"Terserah kau saja!"
Tamara terus melangkah masuk masih dengan menggandeng Indira. "Kita ke salon aja dulu", ucapnya sambil menuntun Indira menuju salon langganannya.
"Selamat datang, ada yang bisa dibantu", ucap suara ramah pekerja salon.
"Saya member di sini mba."
"Owh, silakan masuk mba." Sang pekerja salon mempersilakan dengan telapak tangan terbuka.
Tamara dan Indira pun masuk, lalu mendaftar di bagian resepsionis. Karena Indira baru pertama kali melakukan hal itu, dia meminta Tamara yang memilihkan paket untuknya.
__ADS_1
Saat sedang mendapatkan pelayanan dari pekerja salon, Indira hampir saja tertidur karena sudah 1 jam lamanya dia menikmati semua pelayanan yang diberikan padanya. Bahkan dia mulai ketagihan saat merasakan seluruh tubuhnya rileks.
"Bagaimana? Sudah mulai goodmood?" tanya Tamara saat mereka baru saja melakukan sejumlah treatment.
"Masih setengah", sahut Indira.
"Oke, kita lanjut berburu pakaian."
"Oke", balas Indira yang mulai bersemangat. Namun tiba-tiba netranya terkesiap saat melihat seseorang yang dia kenal.
"Paman", ucapnya bergumam.
"Siapa?" tanya Tamara saat mendengar Indira bergumam.
"Bukan siapa-siapa. Aku salah mengenal orang", ucap Indira berbohong. Sorot matanya tak lepas dari sang paman yang sedang menggandeng seorang wanita yang berpakaian sexy. Siapa wanita itu? Kenapa paman merangkulnya dengan sangat mesra? Batin Indira.
"Ayo, kita ke butik sana", ajak Tamara sembari menarik tangan Indira, karena dia berjalan sangat lambat. Indira terpaksa mengikuti, walaupun rasa penasaran sedang berkecamuk dalam pikirannya.
Tamara bersemangat saat masuk ke dalam butik. Dia yang pencinta rancangan designer terkenal itu tidak pernah melewatkan keluaran terbaru.
"Pagi mba Ara... Mau cari keluaran terbaru?" Penjaga butik yang sudah biasa melayani Tamara menyapa dengan ramah.
Tamara pun mengangguk sembari mengedarkan pandangannya mencari sesuatu yang menarik bagi pada pandangan matanya.
"Ayo, saya perlihatkan yang cocok buat mba Ara."
"Aku mau lihat yang itu dulu, ya", tunjuk Tamara pada baju yang ada di manekin.
"Oh, boleh. Silakan di coba sekalian mba."
Tamara pun meminta penjaga butik melepasnya dari manekin. "Ini cobalah dulu." Dia meminta Indira untuk mencobanya.
Saat Indira sedang mencoba pakaian di ruang ganti, Tamara pergi melihat pakaian lain yang ada di butik itu.
"Ara... Apakah ini co- " ucapan Indira terputus saat tidak melihat Tamara di tempatnya semula. "Kemana dia?" Indira bergumam sembari mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Tamara, namun dia tidak juga menemukannya. Tiba-tiba netranya terbeliak kala melihat sang suami sedang berjalan melewati butik itu. Dia berjalan bergandengan tangan dengan seorang wanita yang berpakaian modis dan terlihat elegan.
"Siapa wanita itu? Kenapa mereka sangat mesra?" Pertanyaan demi pertanyaan berkecamuk di dalam benak Indira. Ingin rasanya dia mengejar sang suami untuk meminta penjelesan, namun dia urungkan karena sesuatu hal.
"Wah, kakak ipar sangat cantik", puji Tamara atas penampilan Indira saat mengenakan pakaian pilihannya.
"Tapi aku tidak suka", ujar Indira dengan ketus, karena warna pakaian yang dia kenakan sama persis dengan pakaian wanita yang sedang jalan bersama Theo. "Ayo, kita pulang saja."
Tamara terdiam sesaat, dia bingung dengan perubahan sikap Indira yang tiba-tiba. "Kakak ipar kenapa? Apa ada orang yang sedang mengganggu kakak ipar?"
Indira menggelengkan kepalanya. "Tadi aku tidak pamit sama kak Theo, nanti dia marah karena aku keluar belum izin dengannya."
"Aku yakin kak Theo tidak akan marah. Ayolah pilih beberapa pakaian untukmu."
__ADS_1
"Kau saja, aku akan menunggu disini, tapi aku akan mengganti pakaianku dulu." Indira berjalan menuju ruang ganti pakaian dan mengganti kembali pakaiannya.
Tamara pun buru-buru memilih pakaian. Lalu dia membayarnya di kasir, termasuk baju yang tadi dicoba oleh Indira.