Love Me Tender

Love Me Tender
Perancang Busana Terkenal


__ADS_3

Senja sudah kembali keperaduannya, namun Theo masih saja menunggui kursi kebesarannya dengan perasaan gusar.


Tok. Tok.


"Masuk", pinta Theo dengan suara khas lelahnya.


"Permisi Pak", ucap Risa seraya menjulurkan mukanya dari balik pintu.


"Ada apa, Risa?"


Risa berjalan masuk menghampiri Theo. "Saya mau memberitahu Pak Theo satu kabar baik", ujar sang sekretaris saat sudah berada dihadapan Theo.


"Katakan!" pintanya.


"Seorang perancang busana terkenal lulusan dari luar negeri menyetujui bayaran jasa yang kita tawarkan, Pak."


"Apa kamu yakin dia perancang busana terkenal? Kenapa semudah itu dia menyetujuinya?"


"Besok dia akan datang ke perusahaan ini. Pak Theo bisa mengujinya."


Theo terdiam sesaat. "Namanya siapa?"


"Nama penanya Rafa Inlove", jawab Risa dengan cepat.


"Aku tidak pernah mendengarnya", ujar Theo yang membuat Risa terbeliak.


"Saya juga tidak tahu wajah aslinya, Pak. Karena dia hanya menampilkan foto bayi di profilnya. Tapi untuk informasi lengkap mengenai orang itu, akan saya kirimkan ke email Pak Theo."


"Baik, saya tunggu email dari kamu. Kalau begitu kamu sudah boleh pulang."


"Terimakasih, Pak. Akan saya kirimkan sebelum saya pulang", ujar sang sekretaris. Lalu dia pamit keluar dari dalam ruangan Theo.


Tak berselang lama ponsel Theo berdering. "Daddy..." ucapnya saat melihat nama kontak di layar ponselnya.


"Halo, Dad."


"Halo, nak. Maaf Daddy tidak biaa membantumu kali ini. Semua rekan bisnis Daddy sepertinya punya kesulitan masing-masing."


"Tidak apa-apa, Dad. Theo sudah mendapatkan seorang perancang busana terkenal. Besok dia akan datang ke perusahaan. Apa Daddy juga ingin bertemu dengannya?"


"Kamu urus sendiri saja, Nak. Besok Daddy ke kampus menggantikan kakek kamu."


"Oke, Daddy. Bagaimana kabar Kakek, Dad?" tanya Theo dengan perasaan bersalah. Karena dia salah satu penyebab sang Kakek mengalami sakit.


"Kakek sudah mulai baikan, tapi masih belum bisa bangkit dari tempat tidur."


"Kasihan Kakek. Besok setelah semua urusan dengan perancang busana selesai, Theo pergi ke rumah Kakek."

__ADS_1


"Itu hal yang bagus, Nak. Bila perlu kamu juga hsrus membawa kabar baik, agar Kakekmu kembali pulih", ujar Raja dari seberang telepon.


"Baik, Daddy."


Lalu mereka memutus sambungan telepon. Sesaat setelah Theo mengakhiri percakapan mereka, sebuah notifikasi email terdengar.


"Ini pasti informasi yang dikirim oleh Risa", ucap Theo seraya membuka email melalui ponselnya. "Iya, benar ini informasinya", lanjutnya. Lalu Theo beralih ke laptop dihadapannya. "Profilnya luar biasa keren. Tapi foto bayi ini seperti tidak asing", ucapnya sembari berfikir. "Oh, iya. Bayi ini persis aku. Apa semua bayi terlihat mirip ya sewaktu kecil", ucapnya bermonolog.


Tiba-tiba Theo merasa bahagia kala melihat foto bayi itu. "Jika aku memperlihatkan foto ini pada Daddy dan Mommy pasti mereka lebih terkejut."


Theo memutuskan untuk pulang, karena langit senja sudah berganti malam. Dia tidak ingin membuat keluarganya semakin risau dengan keterlambatannya pulang ke rumah.


...---...


Di dalam sebuah kamar terdengar suara tawa seorang anak laki-laki yang tidak kuasa menahan rasa geli yang dilakukan oleh Ibunya.


"Mama... Hentikan!" teriaknya masih dengan tertawa dan berguling-guling.


"Mama tidak akan berhenti sebelum Rafa mau makan", ujarnya.


"Iya, Rafa mau makan, Ma", ucapnya, dengan terpaksa yang membuat sang Ibu menghentikan aksinya.


"Nah, gitu dong. Ayo, sini biar nanti Mama yang suapin", ujar sang Ibu dengan penuh perhatian.


"Rafa makan sendiri saja, Ma", ucapnya. Lalu dia turun dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar.


"Ada apa Den", sahut sang bibi yang berlari kecil dari arah dapur.


"Rafa mau makan", ucapnya dengan serius.


"Sebentar bibi ambilkan", ujar sang bibi yang bersemangat kala mendengar perkataan anak majikannya itu.


Tak lama kemudian sang bibi datang dengan membawa makanan dan menghidangkannya di atas meja makan.


"Den Rafa, makanannya sudah bibi siapkan. Ayo, di makan", ujar sang bibi seraya menyodorkan sepiring makanan dihadapan Rafa.


"Fiuh, Bibi... Rafa tidak mau makan sayur."


"Tidak baik pilih-pilih makanan", kata sang Ibu yang datang dengan tiba-tiba.


"Tapi, Ma..."


"Tidak ada tapi-tapi, Rafa mau pilih yang mana?Mama gelitik lagi atau tidak di beri uang jajan selama satu minggu."


Rafa menggelengkan kepalanya sebagai penolakan atas penawaran sang Ibu. "Tidak dua-duanya Mama."


"Kalau begitu ayo di makan."

__ADS_1


Rafa menatap suram satu sendok makanan ditangannya. Tidak lama kemudian makanan itu masuk ke dalam mulutnya.


"Bagaimana rasanya? Enak kan?" tanya sang Ibu saat melihat Rafa berhasil menelan 1 sendok makanan.


"Lebih enak ayam goreng, Ma."


"Di piring Rafa juga ada ayam goreng. Berarti double dong enaknya."


"Iya, Mama cantkk", jawab Rafa dengan melahap makanan yang sudah terhidang itu.


"Ayo, cepat dihabiskan. Mama tidak mau ada sisa makanan", tukasnya yang membuat Rafa semakin mempercepat makanan itu masuk ke dalam mulutnya.


Setelah Rafa menyelesaikan makan malamnya, kini dia harus membersihkan giginya dan mencuci mukanya sebelum naik ke atas tempat tidur.


"Selamat malam sayang", ucap sang Ibu dengan mencium lembut kening Rafa. Lalu dia berjalan keluar dari dalam kamar Rafa.


...---...


Malam berganti pagi dengan begitu cepat. Pagi ini Theo bersemangat untuk pergi ke kantor.


"Pagi ini Kakak tampaknya berbeda dari pagi sebelumnya", ucap Tamara saat tangannya sedang menyuapi putri kecilnya.


"Pagi ini Kakak kedatangan perancang busana terkenal", kata Theo dengan nada senang.


"Pasti bayarannya mahal. Apa kita masih sanggup untuk membayarnya."


"Kamu tenang dan lihatlah. Kakak pasti bisa melakukan negosiasi dengannya, agar kita tidak rugi banyak."


"Saka hari ini mau berangkat bareng?" tanya Theo.


"Uncle Ti... Kenapa masih memanggil nama Papa Cha cha. Tidak sopan!" tukas bibir mungil sang keponakan.


"Iya, Uncle Ti mengaku salah. Lain kali tidak akan Uncle Ti ulangi", jawab Theo dengan memelas.


"Bagus kalau Uncle Ti mengakuinya. Sekarang Uncle Ti harus memanggil dengan benar", ajarnya pada sang Paman yang membuat seluruh keluarga yang sedang duduk di meja makan tersenyum meledek Theo.


"Adik ipar hari ini kita berangkat sama, ya."


"Baik kakak ipar", balas Saka dengan tersenyum.


Cha cha tersenyum seraya mengacungkan jempolnya. "Uncle Ti, best", ucapnya.


Kenapa aku mau di atur oleh anak kecil, batin Theo menangis.


Saka berpamitan lebih dulu, di susul oleh Theo setelah mencium gemas pipi sang keponakan. Theo yang berjalan dengan langkah panjang itu berhasil mensejajarkan langkahnya dengan Saka.


"Kamu yang nyetir, ya", pinta Theo seraya memberikan kunci mobil pada Saka. "Ada email yang harus aku balas segera", ujarnya kemudian saat mendapat tatapan bingung dari Saka.

__ADS_1


"Baik, Kak", balas Saka sembari meraih kunci dari tangan Theo. Lalu mereka masuk ke dalam mobil. Saka langsung menyalakan mobil dan melajukan kendaraan itu menuju kantor Arkana Group.


__ADS_2