Love Me Tender

Love Me Tender
Paman Indira


__ADS_3

Baru saja Indira akan memutus sambungan telepon seseorang dengan suara tak asing terdengar di ujung telepon Indira.


"Paman!" tebak Indira.


"Sudah hampir 6 tahun lamanya kita tidak bersua, tapi kau masih mengingat suara paman!" ucap sang Paman dengan tertawa.


"Ada apa paman menghubungiku?" tanya Indira dengan ketus.


"Dira, apa kau tidak rindu pada pamanmu ini? Seharusnya kau menanyakan kabarku lebih dulu!" pungkasnya.


"Paman cepat katakan atau aku akan memutus telepon!" ancam Indira.


"Apa kau tidak ingin tahu keberadaan putramu?" tanya sang Paman yang membuat seluruh keluarga mendelik.


"Jadi paman yang telah membawanya?" tanya Indira dengan nada emosi.


"Kau selalu berprasangka buruk padaku", balas sang Paman dari seberang telepon.


"Kalau bukan Paman yang mengatakannya lebih dulu, mana mungkin aku menuduh", imbuhnya.


"Bicaralah yang sopan dengan Pamanmu ini! Ingat hanya Paman yang tahu di mana putramu berada."


"Cepat katakan dimana putraku, b*****an!" maki Theo dengan emosi yang meluap-luap.


"Ternyata ada menantuku yang tidak berguna!" ledek Paman Indira. "Apa yang bisa kau lakukan, jika aku tidak mengatakannya?" lanjutnya seraya memancing emosi Theo.


"Cih, seharusnya kami yang mengatakan itu. Kau Paman yang tidak berguna", balas Theo.


"Aku tidak punya banyak waktu untuk melayani orang seperti kalian. Berikan aku sejumlah uang, maka akan aku beritahukan keberadaan Rafa", ujar Paman Indira.


"Baik, berapa yang kau minta?" tanya Theo.


"Aku mau uang 1 M dikirimkan ke rekeningku", jawab Paman Indira yang membuat seluruh keluarga Theo tersentak kaget.


"Apa 1 M?" ucap mereka hampir bersamaan.


"Oke, sepakat", kata Theo menyetujui permintaan Paman Indira.


"Bagus", sahut sang Paman. Lalu dia memutus sambungan telepon.


Keluarga Theo terlihat sangat cemas.


"Bagaimana Paman tahu nomor ponselku yang baru?" gumam Indira.


"Ada kemungkinan orang yang telah menguntit di apartemen itu Paman Dira", tebak Ratu. Dia mencoba mengkaitkan semua kejadian yang terjadi.


Theo berdehem seolah mengetahui sesuatu. "Em, Mommy jangan asal tebak."


"Apa yang harus kita lakukan selanjutnya?" tanya Indira bingung.

__ADS_1


"Aku akan minta bantuan seorang teman untuk melacak posisi Pamanmu", sahut Theo seraya mengotak atik ponselnya.


"Daddy coba persiapkan uangnya dulu", ujarnya sembari berjalan menuju ruang kerjanya.


"Kita akan lakukan semua cara demi Rafa", ujar Ratu dengan menepuk pelan punggung tangan Indira.


Indira menatap lesu sang mertua. "Iya, Mom", jawabnya.


Sementara Tamara dan Saka beranjak dari tempat duduk. Mereka meminta izin masuk kamar lebih dulu, karena Cha cha tertidur dipangkuan Saka.


...---...


Satu jam kemudian, Paman Indira kembali menelpon. Dia mengatakan bahwa Rafa telah dipindahkan dari tempat semula. Dia meminta Indira segera mengirimkan uangnya, agar Rafa kembali pada mereka.


Theo menjanjikannya besok pagi, karena Bank tidak buka malam hari.


Paman Indira berdecak kesal, dia meng*ncam tidak akan memberitahu keberadaan Rafa. Jika besok pagi uang itu belum sampai direkeningnya.


Kebetulan teman Theo berada dirumahnya. Dia mencoba memancing emosi Paman Indira, agar teman Theo dapat melacak posisi sang Paman. Setelah mereka menemukannya, Theo bersama temannya pergi menuju lokasi. Indira pun ikut, walau Theo memintanya tetap tinggal.


Mobil yang dikendarai Theo menyusuri jalanan sepi yang minim penerangan itu.


"Kalau di lihat, harusnya lokasinya di sini", ujar teman Theo.


"Oke, kita tunggu temanku yang lain", kata Theo.


Mereka menunggu di dalam mobil. Tak berselang lama Radit bersama pihak yang berwajib datang, karena Theo sudah mengirimkan lokasi mereka saat sedang diperjalanan. Kemudian mereka semua turun dari dalam mobil.


"Ssssht, jangan berisik", kata Theo setengah berbisik seraya menuntun Indira.


Radit pun diam. Dia terus berjalan masuk ke dalam rumah sunyi itu. Mereka menyalakan senter sembari menyusuri setiap sudut ruangan.


Tak lama kemudian terdengar sesuatu jatuh ke lantai. Pihak yang berwajib dengan sigap masuk lebih dalam lagi dan mereka berhasil menangkap seseorang.


"Apakah ini orang yang kalian maksud?" tanya salah satu petugas.


"Ya", sahut Indira yang tidak pernah lupa dengan wajah sang Paman.


Petugas itu langsung meringkus Paman Indira dan membawanya menuju mobil diparkir.


"Di mana anakku?" tanya Indira dengan menatap tajam sang Paman.


"Dia tidak ada di sini!" jawabnya.


"Cepat katakan, di mana dia?" desak Indira dengan penuh emosi.


"Tidak akan aku beritahu!" tukas sang Paman.


Theo hampir saja melayangkan tangannya, jika pihak yang berwajib tidak segera menahannya.

__ADS_1


"Katakan, di mana anakku!" sergah Theo.


"Cukup! Itu tugas kami untuk menanyakannya", tegas pihak yang berwajib. Lalu mereka masuk ke dalam mobil.


Indira berlari kembali ke dalam rumah. "Rafa... Rafa... Di mana kamu, Nak?" teriak Indira mencari Rafa.


Theo pun menahan Indira masuk lebih dalam. "Ayo, kita cari bersama", ucap Theo sembari menggandeng tangan Indira. Mereka berjalan bersama dan menyusuri setiap sudut ruangan.


"Sepertinya anak kalian memang tidak ada di sini", ucap teman Theo yang mengikuti mereka dari belakang.


Indira pun pasrah. Sudah semua kamar mereka buka, namun Rafa tidak mereka temukan. Indira berjalan keluar dari rumah itu. Theo dan temannya mengikuti langkahnya di belakang.


...---...


Dalam waktu 30 menit Theo.dan Indira tiba di rumah, setelah mengantar pulang teman Theo.


Ratu bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Indira. "Kalian tidak menemukan Paman Dira?"


"Paman Dira sudah di bawa pihak yang berwajib, Mom. Tapi Rafa tidak ada di sana", jawab Theo sembari duduk di sofa.


"Apa kalian tidak menanyakannya?"


"Sudah, Mom. Tapi petugas melarang kami, karena itu tugas mereka."


"Tidak bisa seperti itu!" tukas Ratu. "Mommy akan menelepon mereka. Berikan Mommy nomornya", pinta Ratu.


Theo langsung menyambungkan panggilan telepon ke Radit.


Ratu langsung mencecarnya dengan banyak pertanyaan.


"Itu Radit, Mom. Bukan pihak yang berwajib", ujar Theo. Dia lupa memberitahu Ibunya siapa yang sedang dia hubungi.


"Kenapa Radit?"


"Iya, tadi Radit yang menjemput mereka", sahut Theo.


"Mommy mau ngomong sama petugasnya!" tegas Ratu.


Mungkin Radit paham apa yang sedang Theo dan Ibunya permasalahkan. Dia langsung memberi ponselnya pada pihak yang berwajib.


Ratu pun kembali menanyakan apa yang telah dia tanyakan pada Radit. Petugas itu tidak bisa memberi jawaban seperti yang Ratu harapkan.


Ratu berdecak kesal mendengar penjelasan pihak yang berwajib itu. "Kenapa mereka yang marah", ucapnya saat sudah memutus sambungan telepon.


"Mungkin prosedurnya seperti itu, Mom. Kita jangan mengganggu pekerjaan mereka", sahut Theo.


"Tidak bisa! Mommy gak bisa tidur, kalau belum dapat kabar Rafa", ucapnya.


"Jadi Mommy mau tanya ke siapa?" tanya Theo yang membuat Ratu terdiam.

__ADS_1


Akhirnya Ratu memutuskan untuk pergi tidur, dan menunggu sampai hari esok.


Theo dan Indira juga memutuskan kembali ke kamar masing-masing, walau sebenarnya Theo ingin sekamar dengan Indira.


__ADS_2