
Malam sudah semakin larut namun Indira belum juga berhasil memejamkan matanya. Kejadian saat di lampu merah seakan menari-nari dalam pikirannya membuatnya gelisah dan ingin segera mengurus perceraiannya dengan Theo.
"Apa yang kuharapkan sebenarnya. Kenapa hatiku sakit melihat suamiku bersama dengan wanita lain. Apa aku masih mencintainya?" gumam Indira bermonolog.
Indira mencoba memejamkan matanya kembali dan membuang jauh bayangan Theo dari dalam pikiriannya. "Aku harus tidur!" katanya memaksa dirinya sendiri.
...---...
Di tempat yang berbeda di dalam kamar, Theo merasakan hal yang sama. Matanya sulit terpejam kala mengingat putranya yang begitu akrab dengan pria lain. Dia merasa cemburu putranya menatap pria lain dengan begitu bahagia.
Tubuhnya terus bergerak gusar kala tawa riang putranya seolah terdengar ditelinganya. "Apa dia akan seceria itu jika bersamaku," gumamnya.
Lalu tangannya bergerak untuk memandamkan semua penerangan yang ada di dalam kamarnya, barangkali dia bisa tertidur.
Drrt. Drrt
Theo tersentak kaget kala dikegelapan yang sunyi ponselnya tiba-tiba bergetar. "Siapa yang tidak punya aturan menelpon jam segini", decaknya.
Matanya terbeliak kala melihat nama kontak di layar ponselnya. "Dira..." gumamnya. Dengan cepat Theo menerima panggilan telepon itu.
"Halo, Dira", sapa Theo dengan perasaan senang.
"Halo. Aku hanya akan mengatakan intinya saja. Besok aku harap kamu datang kepersidangan untuk mengurus surat perceraian kita", tegas Indira dari seberang telepon.
Theo terdiam sesaat. "Kenapa kau menelponku tengah malam, hanya untuk memberitahu ini?" tanya Theo dengan kesal.
"Aku sudah mengatakannya dengan jelas. Kalau begitu telponnya aku tutup."
"Tunggu dulu! Apa ini caramu menghormati suami?"
Indira tidak menjawab pertanyaan Theo dan juga tidak memutus sambungan telepon.
"Aku tahu kau juga pasti tidak bisa tidur malam ini, makanya kau menelponku", ucap Theo. Lalu dia mendengus pelan. "Aku juga sama. Aku yakin kau ingin tahu wanita yang tadi kau lihat di dalam mobil bersamaku. Dia itu putri satu-satunya paman Reihan. Dia menyukaiku, tapi aku tidak menyukainya", imbuh Theo dengan jujur.
Sesaat Theo merasa senang karena Indira masih mendengarkan ucapannya. "Satu hal yang harus kau tahu kalau aku hanya mencintaimu. Aku menyadarinya setelah kau pergi meninggalkanku saat aku hilang ingatan jangka pendek", lanjutnya.
Theo menghentikan perkataannya menunggu reaksi dari Indira. Namun Indira masih saja diam.
"Halo... Dira... Apa kau masih mendengarkanku?" tanya Theo.
"Halo... Om ini siapa?" tanya suara anak kecil. Theo menebak itu adalah putranya.
"Rafa, kamu Rafa kan, Nak?"
"Om, tahu namaku dari siapa?"
Rafa kenapa mengangkat telepon Mama tanpa izin? Teriak suara Indira yang membuat Rafa kaget.
Tadi Rafa dengar suara halo halo, makanya Rafa jawab Ma.
Ya sudah kamu pergi tidur lagi. Titah Indira.
Baik Ma.
Theo mendengar percakapan Ibu dan anak itu. Tanpa terasa air mata haru mengalir dari pelupuk matanya.
__ADS_1
"Aku tunggu besok dipersidangan!" tegas Indira seraya menutup sambungan telepon.
Theo menghempaskan ponselnya di atas kasur. Lalu berjalan mondar mandir dengan perasaan gusar.
"Besok pagi aku harus segera memberitahu Kakek mengenai hal ini", gumamnya seraya mengacak kasar rambutnya.
...---...
Pagi tiba begiu cepat. Seperti biasanya keluarga Theo berkumpul di meja makan untuk menilmati sarapan pagi. Dan betapa kagetnya mereka kala melihat sosok pria yang sedang duduk di kursi dengan mata pandanya.
"Kau membuat Mommy kaget", ucapnya seraya memegang dadanya. "Apa kau tidak tidur semalaman?"
Theo hanya menatap sang Ibu dengan wajah lesu. "Theo memang susah tidur Mom. Tadi malam Dira menelpon meminta Theo datang ke persidangan hari ini untuk mengurus perceraian kami."
Ratu mendesah. "Mommy tahu Dira pasti sangat kecewa denganmu."
"Uncle Ti, apa ada yang sudah memukul mata uncle?" tanya Cha cha yang datang bersama kedua orang tuanya.
"Hus, jangan bicara sembarangan, Nak", nasehat sang Ibu.
"Tapi kasihan Uncle Ti, Ma."
"Uncle tidak apa-apa sayang. Ini hanya pewarna hitam", jawabnya berbohong.
"Sudah jangan dijelaskan, Kak. Nanti makin ribet."
"Cha cha mau pewarna kayak Uncle Ti, Ma."
Sontak semua keluarga menatap Cha cha dengan melotot.
"Ooo..." balas Cha cha dengan membulatkan mulutnya.
"Apa pagi ini Kakak ipar pergi ke kantor?" tanya Saka saat baru saja menegguk sebagian isi gelasnya.
Theo menoleh ke arah Saka. "Sepertinya tidak, aku harus mengurus masalah perceraianku dulu."
"Owh, kalau begitu aku akan berangkat sendiri."
"Daddy akan ikut bersamamu", kata Raja menyela ucapan Saka.
"Baik, Daddy", balas Saka.
Setelah mereka menyelesaikan sarapan pagi. Raja dan Saka pamit berangkat ke kantor sekaligus membawa Cha cha untuk mengantarkannnya ke sekolah.
Theo pun beranjak dari tempat duduknya hendak menjemput sang Kakek yang akan ikut bersama dengannya kepersidangan. Kini di meja makan menyisakan Ratu dan putrinya.
"Pagi ini Mommy mau ke kantor Kakek kamu. Apa kamu mau ikut, Nak?"
"Keperluan apa, Mom?"
"Sebelumnya Kakek kamu sudah menyerahkan perusahaannya pada Mommy, tapi sejak Mommy hamil dan melahirkan kalian berdua Kakek yang ambil kendali bersama orang kepercayaannya."
Tamara manggut-manggut. "Jadi sekarang siapa yang memimpin perusahaan Kakek, Mom?"
"Ada orang kepercayaan Kakek. Tapi dia tidak bisa selamanya memegang jabatan pimpinan."
__ADS_1
"Maksud Mommy, Kakek mau menyerahkan kembali perusahaan pada Mommy?" tanyanya.
"Bukan diserahkan ke Mommy, tapi pada anak Mommy."
"Tapi Kak Theo masih sibuk dengan perusahaan Daddy. Nanti dia kewalahan, Mom."
"Emangnya anak Mommy.cuma Theo?"
Tamara mrengernyitkan keningnya seraya menunjuk pada wajahnya. "Ara, Mom?"
Ratu mengangguk cepat. "Iya, ke siapa lagi."
"Tapi Ara.gak punya kemampuan untuk jadi pemimpin, Mom. Lagipula Ara masih punya anak kecil, bukankah Mommy berhenti karena ada Kak Theo dan Ara?"
Ratu mendengus pelan. "Pada saat Mommy tidak memimpin perusahaan, Kakekmu masih kuat untuk bekerja. Tapi sekarang Kakek tidak pernah ke kantor sama sekali. Mommy takut pemimpin saat ini mengira dia akan berkuasa selamanya atas perusahaan Kakek."
"Baik, Ara ikut dengan Mommy untuk melihat situasi di sana."
"Kita berangkat setengah jam lagi. Kamu pergilah bersiap."
"Oke, Mom."
Ratu meminta Bi Iyem membereskan meja makan setelah mereka menyelesaikan sarapan pagi.
...---...
Di tempat berbeda Indira sedang bersiap untuk mengantarkan putranya pergi ke sekolah.
"Rafa, ayo kita berangkat, Nak", ajaknya dengan sedikit berteriak.
"Iya, sebentar Ma", sahut Rafa seraya berlari menghampiri Indira. "Ayo, Ma", katanya dengan tersenyum.
Indira menggandeng tangan putranya. Lalu mereka berjalan menuju pintu keluar.
Setelah pintu terkunci Indira berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Rafa. "Mungkin, nanti Mama jemput Rafa agak telat."
"Pagi, Dira. Pagi, Rafa", sapa Daven yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.
"Paman Daven..." teriak Rafa menghamburkan diri ke dalam pelukan Daven.
Daven membalas pelukannya. Kemudian dia menyentak lembut tubuh Rafa. "Rafa mau pergi ke sekolah?"
"Iya, dong Paman. Ini kan seragam ke sekolah", tunjuknya pada pakaian yang dia kenakan.
"Paman boleh ikut?" tanyanya dengan antusias.
"Kebetulan kalau begitu. Jika kau tidak sibuk hari ini, bisakah kau mengantar dan menjemput Rafa ke sekolah untuk hari ini saja", pohon Indira.
"Tentu bisa. Bagaimana mungkin aku menolak anak seimut dan menggemaskan seperti Rafa."
"Terimakasih kalau begitu. Kau tahu dimana sekolahnya kan?"
"Tenanglah. Aku mengetahuii hampir semua daerah di kota ini", jawabnya.
Lalu Daven menggendong Rafa dan berjalan menuju pintu lift, Indira pun mengikuti mereka dari belakang.
__ADS_1