
Tamara dan Indira sedang duduk bersama di dalam mobil, saat pak Joko hendak mengantar mereka menuju kampus. Tidak ada perbincangan seperti biasanya, karena Indira membuang jauh pandangannya ke luar kaca jendela mobil.
Kemana kak Theo pergi, apa dia bersama dengan kekasihnya itu, batin Indira. Dia tak berhenti memikirkan sang suami.
"Sudah sampai, non", ucap pak Joko memecah keheningan di antara mereka.
"Oke, terimakasih pak", ucap mereka hampir bersamaan.
Tamara berdiri sembari menunggu Indira keluar dari dalam mobil. "Ayo", ajaknya saat Indira berada disampingnya. Mereka pun berjalan bersama menuju kelas.
"Em, apa nanti kita bisa ke taman kampus setelah mata kuliah pertama berakhir?" tanya Tamara memulai perbincangan.
Indira menoleh ke arah Tamara sekilas. "Apa ada hal yang mendesak?" tanya Indira balik.
"Sangat mendesak!"
"Oke", sahut Indira singkat.
Lalu mereka meneruskan langkah mereka menuju kelas.
"Hai, adikku yang cantik", sapa Dion yang datang dari arah belakang mereka.
Tamara menoleh ke arah Dion. "Hai, kak Dion. Tumben sendiri", sahutnya.
"Emang biasanya dengan siapa?"
"Biasanya juga kakak jalan sama pacar kakak yang sok kecakepan itu."
"Maksud kamu Karin? Dia itu bukan pacar kakak", ucap Dion dengan tertawa renyah. Tanpa dia duga ucapannya itu di dengar langsung oleh Karin.
"Awas... Jangan menghalangi jalan!" teriak Karin yang berjalan sambil melewati mereka.
"Puft... Kena mental gak tuh!" ledek Tamara.
Dion menatap punggung Karin yang semakin menjauh dengan wajah melongo. Selama ini dia merasa keren, karena kemana-mana selalu didampingi mahasiswi cantik seperti Karin, dengan kejadian barusan, dia gak tahu kedepannya seperti apa.
"Ayo, bujuklah dia", ucap Tamara memberi saran sembari menepuk pundak Dion.
"Tidak perlu. Dia bukan siapa-siapa bagi kakak."
"Ara udah kasi saran, ya. Terserah kakak mau trima atau tidak", ujarnya saat menghentikan langkahnya di depan kelas. "Kami masuk kelas dulu, kak." Tamara melangkah masuk ke dalam kelas diikuti Indira dibelakangnya, sedangkan Dion melanjutkan langkahnya menuju kelasnya sendiri.
__ADS_1
Di tempat lain di atas sebuah ranjang, Theo mulai mengerjap.sembari memegang kepalanya yang terasa sakit. "Aku dimana?" ucap suara paraunya.
Matanya terkesiap saat kesadarannya mulai kembali. "Kapan aku melepas semua pakaianku?"
'Tadi malam, sayang", sahut suara lembut seorang wanita yang datang dari arah kamar mandi. "Apa kau sudah lupa dengan yang kita lakukan tadi malam?" Wanita itu mengusap rambut basahnya sembari naik ke atas ranjang. "Kau berjanji akan bertanggung jawab!" jari telunjuk wanita itu menyentuh lembut hidung mancung Theo.
Tadi malam aku melakukan apa?Kenapa aku tidak mengingat apapun, batin Theo. Dia mengusap kasar rambutnya sembari berteriak.
"Kenapa kau berteriak? Apa kau berubah pikiran setelah semua yang terjadi?" tanya wanita itu dengan terisak. "Jika aku tahu kau akan ingkar janji aku tak akan memberikan milikku yang paling berharga", ucapnya masih dengan terisak.
"Maaf, aku tak bermaksud seperti itu. Aku hanya bingung, karena tidak bisa mengingat apapun yang terjadi tadi malam. Tolong berhentilah menangis, sayang." Theo mengusap lembut kepala wanita itu yang tak lain adalah kekasihnya sendiri. Lalu dia menarik kepala wanita itu hingga bersandar didadanya. "Aku tidak akan lupa dengan janjiku", ucapnya yang membuat wanita itu mendongak sembari menatap wajah tampan Theo dengan tersenyum sumringah.
Di kampus Arkana University.
Setelah jam kuliah pertama selesai, Indira dan Tamara berlari menuju taman kampus.
"Ayo, kita duduk di sana", tunjuk Tamara pada bangku yang terletak di tengah taman. Indira pun mengikuti langkah Tamara.
"Santailah dulu, coba nikmati suasana di sini." Tamara merenggangkan kedua tangannya sembari menutup mata.
"Jika tidak ada yang penting, aku balik saja ke kelas." Indira langsung bangkjt berdiri.
"Eh, tunggu dulu kakak ipar. Janganlah merajuk." Tamara menarik tangan Indira dan menuntunnya untuk duduk kembali. "Beberapa hari ini aku lihat kakak ipar sering murung. Apa rumah tangga kalian sedang ada masalah?"
"Tidak ada masalah. Rumah tangga kami baik-baik saja kok. Aku hanya sedang memikirkan bibi yang masih koma di rumah sakit."
"Kakak ipar tidak sedang berbohong kan?"
"Ya, enggaklah. Mungkin itu perasaanmu saja.'
"Bagaimana dengan Tiara, mantannya kak Theo? Apa kak Theo pernah menceritakannya?"
Indira terdiam sesaat. Kenapa Tamara bisa menebak dengan tepat, batin Indira. "Tidak pernah", sahut Indira.
"Apa kakak ipar yakin?" selidik Tamara dengan menaik turunkan kedua alisnya.
"Ya, sangat yakin!"
__ADS_1
"Bukankah ini suami kakak ipar?" Tamara menunjuk layar ponselnya tepat dihadapan wajah Indira.
Indira terkesiap saat melihat foto suaminya sendiri bersama dengab wanita lain.
"Kakak ipar jangan berbohong lagi! Kak Tiara baru saja memposting foto ini di sosial medianya. Padahal selama ini dia tidak pernah memposting apapun. Itu artinya kak Tiara sudah kembali dari London. Dan saat ini kak Theo mulai mengabaikan kakak ipar. Iya kan?"
Ucapan Tamara membuat Indira beringsut mundur hingga tak mampu lagi menahan bobot tubuhnya.
"Kakak ipar!" teriak Tamara sembari menangkap tubuh Indira yang mulai merosot. "Ayo, duduklah dulu. Maaf aku sudah membuat kakak ipar jadi seperti ini."
Tanpa aba-aba air mata Indira yang sedari tadi membendung di pelupuk mata, jatuh bebas membasahi pipinya. "Aku tahu pernikahan kami dilakukan karena terpaksa. Aku tahu kak Theo tidak pernah mencintaiku. Tapi ini semua bukan kemauanku", rengeknya sembari mengusap air mata yang tiada henti membasahi pipinya.
Tamara merasa terenyuk mendengar ucapan Indira. "Seharusnya kakak ipar menceritakan semuanya padaku. Bukankah kita tetap sahabat, meski sudah menjadi saudara ipar."
Indira membalas dengan mengangguk pelan.
"Aku akan selalu mendukungmu, sahabat sekaligus kakak iparku", ucap Tamara sembari memeluk erat Indira.
Dengan susah payah Indira menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk lengkungan indah. "Terimakasih, kau mau mendukungku."
"Sama-sama. Ayo, kita kembali ke kelas." Tamara menarik tangan Indira. Lalu mereka berjalan meninggalkan taman kampus dengan bergandengan tangan.
Sepeninggal mereka, seseorang yang sedari tadi mendengar semua pembicaraan mereka bangkit dari tempat dia membaringkan tubuhnya.
Di kelas Indira dan Tamara sedang riuh, karena jam kuliah berikutnya sang dosen tidak masuk. Seharusnya dosen yang mengajar adalah Theo.
"Kenapa kak Theo gak masuk ya?" tanya Tamara pada Indira yang duduk disebelahnya.
Indira membalas dengan mengangkat kedua bahunya. "Entahlah."
"Indira..." teriak seorang mahasiswa memanggil namanya. Indira menoleh ke sumber suara. "Bukankah kau sudah menjadi asisten dosen pak Theo. Apa pak Theo memberikan tugas untuk kita?"
Indira terkesiap. "Kenapa aku bisa lupa tentang itu", ucapnya bergumam. "Oke, aku akan pergi ke ruang pak Theo sekarang", ujarnya sembari bangkt dari tempat duduknya.
Baru saja Indira akan melangkah keluar dari ruang kelas, seseorang memasuki kelas mereka. Pria tampan dan terlihat masih sangat muda itu langsung berdiri di tengah tengah kelas. Semua mahasiswi yang berada di kelas itu mulai riuh. Mereka berdecak kagum atas ketampanannya.
"Kak Radit! Ngapain dia di sini", ucap Tamara bergumam, namun masih dapat didengar oleh Indira.
Radit? Tapi memang wajah pria ini tidak asing, dimana aku pernah melihatnya? Batin Indira. Dia pun kembali menempelkan bokongnya di tempat duduknya.
__ADS_1