Love Me Tender

Love Me Tender
Tiara Hamil


__ADS_3

Di dalam kamar mandi, sudah beberapa kali Indira memuntahakan isi perutnya hingga tak bersisa. Entah kenapa rasa mual itu selalu datang tiba-tiba.


Ceklek.


Indira membuka pintu kamar mandi, lalu dia melangkah keluar dan mengedarkan pandangannya mencari keberadaan sang suami, namun dia tidak menemukannya. "Apa dia meninggalkanku lagi", keluh Indira. Padahal tadi dia sudah meminta sang suami menunggunya, untuk turun bersama ke ruang makan.


Saat ini Indira sudah mengenakan pakaiannya dengan rapi. Lalu dia berjalan ke luar dari kamar. "Siapa yang datang bertamu?" ucap Indira bergumam. Namun seketika matanya terbeliak kala melihat Tiara sedang duduk di sofa dengan menangis.


Ratu langsung bangkit dan menghampiri Indira yang sedang berjalan menuju mereka.


"Ayo, kemarilah nak", ajak.Ratu agar Indira menjauh dari sana, lalu mereka berjalan menuju ruang keluarga.


"Ada apa, mom?" tanya Indira yang mulai.curiga saat melihat gelagat aneh sang ibu mertua.


Ratu menahan tangisnya, dia mendengus kasar saat akan menceritakan tentang Tiara. "Dia itu mantan pacarnya Theo dan saat ini dia sedang hamil anak Theo." perkataan itu lolos dari mulut Ratu yang membuat Indira beringsut mundur.


"Jadi selama ini mereka bukan hanya pacaran biasa", ucap Indira yang mengira sang suami hanya sebatas pacaran pada umumnya.


Ratu tak kalah kagetnya dengan Indira. "Lo, ini maksudnya apa? Dira sudah tahu kalau selama ini Theo selingkuh?"


Indira mengangguk dengan pelan. "Maaf, mom. Dira salah, karena menyembunyikan semua ini dari daddy dan mommy. Dira pikir kak Theo hanya sekedar mengingat kisah cintanya yang lama. Dan setelah itu dia akan kembali pada Dira. Namun semuanya berbeda dengan apa yang Dira pikirkan", ucapnya dengan terisak.


Ratu pun melunak saat mendengarkan penjelasan Indira. "Kita lihat saja nanti, apa solusi yang diberikan ayah mertuamu dan kakek."


Indira mengangguk. "Baik, mom", sahutnya.


 


Di dalam kamar Indira tiada henti menangis. Dia terus memikirkan perbuatan sang suami yang membuatnya merasa sakit. Kata cerai yang sering diucapkan sang suami selama ini tidak dia anggap sebagai suatu keseriusan. Namu apa yang dia dengar malam ini menjawab pilihan sang suami.


Ceklek.


Theo masuk ke dalam kamar dengan wajah murung. Lalu dia langsung masuk ke dalam kamar mandi, tanpa mengucapkan sepata kata pada Indira yang sedari tadi menatapnya.


Indira meraih ponselnya yang ada di atas meja. Lalu dia mulai curhat dengan Daven. Tak berselang lama Daven membalas chat dari Indira. Chat mereka pun berlanjut sampai jarinya keriting. Setelah ada sedikit kelegaan yang dirasakan oleh Indira, dia pun mengakhirinya.


"Kenapa dia lama sekali di dalam kamar mandi?" ucap Indira bergumam. Walaupun Theo sudah menyakitinya berkali. Namun Indira masih peduli pada Theo. Dia bangkit dari sofa, lalu berjalan menuju kamar mandi. "Kak..kak Theo", panggil Indira sembari mengetuk pintu.

__ADS_1


Ceklek.


Pintu kamar mandi di buka. Theo langsung menghamburkan diri memeluk Indira. 'Maafkan aku", ucapnya dengan suara paraunya. Dia mengira bahwa jika Tiara hamil maka dia akan punya alasan untuk menceraikan Indira, namun pikirannya itu salah. Sang daddy marah besar, bahkan akan mengusirnya jika saja sang mommy tidak membujuknya.


"Aku yang salah, karena cintaku pada Tiara aku melupakan tanggung jawabku sebagai seorang suami. Maafkan aku", ucap Theo dengan rasa pilu.


Indira hanya terdiam saat Theo memeluknya. Dia sama sekali tidak membalas pelukan itu.


"Maaf kak. Aku sudah mengantuk", ucapnya agar Theo melepaskan pelukannya. Dan benar saja Theo langsung melepas pelukannya.


Indira berjalan menuju sofa. Dia membaringkan tubuhnya lalu menarik selimut sebatas dadanya. Ditatapnya langit-langit kamar berwarna putih itu, saat matanya sulit terpejam. Ayah, ibu, kenapa sulit sekali putrimu ini menjalani hidup yang layak, batin Indira menangis.


Satu jam berlalu bahkan lebih, namun mata Indira belum juga terpejam. Bolak-balik dia melihat jam dinding, namun tetap saja dia kesulitan tidur. Lalu dia mencoba membaca sesuatu di ponselnya, tak berselang lama matanya mulai terkantuk, hingga akhirnya dia tertidur.


 


Mentari pagi sudah menyapa, namun Indira belum juga bangun dari tidurnya.


"Sepertinya dia demam", ucap Theo saat baru saja meletakkan telapak tangannya di atas dahi Indira.


Tiba-tiba Indira terbangun, matanya mengerjap untuk menyesuaikan dengan cahaya dalam ruangan itu. Setelah mulai sadar dia pun menoleh ke arah Theo yang sedang duduk sambil memejamkan matanya.


Indira menatap wajah tampan sang suami dengan tersenyum. Namun sesaat kemudian wajahnya berubah sendu kala mengingat suatu fakta yang mengejutkan sekaligus menyakiti.


"Sudah bangun?" tanya Theo sembari meletakkan telapak tangannya di dahi Indira. "Syukurlah panasnya sudah turun." Theo langsung membereskan alat kompres yang tadi dia gunakan.


 


Sang kakek dan nenek baru saja tiba di rumah kediaman Theo. Akibat ulah Theo seluruh keluarga di buat malu. Belum selesai dengan pernikahannya dengan Indira, kini dia sudah membuat hamil sang mantan pacar


Sang kakek yang datang ke rumah itu memberi keputusannya, yakni berpisah dari Indira. Dia mendapat sebuah informasi yang sangat penting, bahwa almarhum ayah Indira telah menipu kerjasama bisnisnya selama ini, bahkan peristiwa saat sang ayah menolong kakek yang terjatuh di sungai itu semua rekayasa orang tua Indira. Entah dari mana sang kakek mendapat informasi itu, namun dia mempercayainya.


 


Ratu dan Tamara menatap sendu Indira yang sedang berpamitan pada keluarga Theo. Mereka yakin Indira bukan seperti yang dituduhkan. Seseorang pasti dengan sengaja melakukannya, dan mereka menduga itu adalah perbuatan Tiara, karena kebetulan sekali semuanya itu terjadi di waktu yang bersamaan.


Sang mommy telah memberikan sejumlah uang untuk Indira tanpa sepengetahuan sang kakek. Dia tak rela Indira menderita di luar sana.

__ADS_1


"Kamu jaga diri baik-baik ya, nak", ucap Ratu dengan lirih.


---


Daven yang mendapat kabar.itu, langsung bertindak cepat. Dia pun segera membantu Indira menemukan tempat tinggal yang baru.


"Untuk sementara kau tinggal di sini saja. Nanti aku coba carikan tempat yang lebih baik", ucap Daven sembari membantu Indira membereskan barang-barangnya.


Namun tiba-tiba Indira merasa mual. Dia langsung bergegas menuju kamar mandi.


"Sepertinya aku masuk angin, karena belum makan", ujar Indira yang biasa mengalami hal seperti itu saat masuk angin.


"Ayo, kita sarapan dulu", ajak Daven. Lalu mereka pergi keluar dari kamar berukuran 5x5 itu. Daven merasa kasihan melihat kondisi Indira saat ini. Dia tahu persis bagaimana kehidupannya saat bersama bibi dan pamannya. Sekarang dia pun mengalami hal yang sangat menyakitkan.


"Ayo, turunlah", ucap Daven saat memarkir sempurma kendaraannya di depan sebuah cafe. Lalu mereka melangkah masuk ke dalam cafe itu.


"Ini menunya." Daven menyodorkan buku menu kehadapan Indira. Dengan lesu Indira melihat buku menu ditangannya.


"Teh hangat sama roti ini saja", tunjuk Indira pada buku menu.


"Pelayan", panggil Daven. Lalu sang pelayan datang.


"Kami pesan yang ini dan ini.ya." Daven menunjuk pada buku menu saat sang pelayan mencatatnya.


"Apa kau masih sedih?" tanya Daven saat sang pelayan baru saja pergi.


"Untuk saat ini mungkin aku masih sedih, tapi aku yakin kedepannya aku bisa melupakan semuanya itu." Indira tertunduk lesu sembari menahan agar air matanya tidak jatuh.


Tak berselang lama sarapan yang dia pesan pun datang. Lalu Indira dan Daven sama-sama menikmati pesanan masing-masing.


"Aku akan tetap.mendukungmu, bahkan akan selalu ada buatmu di saat kapanpun. Aku janji", ucap Daven.


"Jangan pernah mengucapkan janji yang kita tidak tahu apakah kita mampu atau tidak melakukannya."


"Aku yakin pasti bisa.melakukannya. Percayalah!" Daven menatap Indira.dengan tersenyum.


Andai kau.tahu bahwa aku mencintaimu di dalam diam. Aku harap kau bisa tetap disisiku sampai kapanpun, batin Daven.

__ADS_1


__ADS_2