
Raja mempersilakan Indira duduk, sedangkan Saka undur diri setelah mendapat tatapan yang penuh arti dari sang mertua.
"Lama tidak bertemu kau sudah semakin sukses saja", ujar Raja yang berusaha akrab kembali dengan menantunya itu sembari duduk di sofa.
"Sebenarnya kita pernah bertemu sebelumnya Pak. Tapi mungkin pada saat itu waktunya tidak tepat, jadi saya tidak bisa berbincang lama dengan Bapak," sahut Indira dengan sopan.
"Iya, kau benar. Daddy ingat itu", balas Raja yang membuat Indira terbeliak kala mendengar kata Daddy yang baru saja terucap.
Raja sengaja mengatakannya. Dia ingin melihat reaksi menantunya itu dan ternyata dia berhasil mengusik perasaan Indira. Raja pun meneruskan ucapannya.
"Apa kau benar-benar ingin menceraikan Theo?" tanya Raja.
Indira terdiam sesaat, lalu dia menatap ke arah ayah mertuanya. "Iya, Pak", jawabnya.
"Kau berbohong", tegas Raja.
Indira mengernyitkan keningnya. "Maksud Bapak apa?"
"Jika kau ingin bercerai dengan Theo, maka kau seharusnya tidak akan pernah mau bertemu lagi dengannya", pungkasnya.
"Saya dan Theo hanya rekan bisnis. Itu artinya saya bisa bersikap profesional, Pak!" Indira mulai sedikit emosi setelah dituduh berbohong.
Raja tertawa meledek. "Anak baru kemaren sok bicara profesional kerja!"
"Bapak meremehkan saya?"
"Saya tidak meremehkan kamu. Tapi alasan kamu membuat hati saya digelitik."
Indira semakin bingung mendengar perkataan sang mertua. Dia takut perkataannya nanti malah akan membuat mertuanya tersinggung.
"Saya tidak akan mencampuri urusan pribadi dengan pekerjaan, Pak!" tegasnya.
"Apa alasan kamu menceraikan Theo?"
Indira menatap jengah sang mertua yang berbelat belit bertanya tentang perceraiannya. "Bukankah keluarga Bapak yang ingin kami bercerai? Sudah 5 tahun saya menantikan surat cerai kami namun tak kunjung diberikan."
"Ucapanmu yang ini baru benar. Sebenarnya kau hanya ingin memenuhi keinginan Theo 5 tahun lalu, bukan karena kau yang ingin bercerai", imbuh Raja.
Tok. Tok.
Suara ketukan pintu menghentikan Indira yang akan menjawab pernyataan sang mertua.
"Masuk!" ucap Raja.
__ADS_1
Theo masuk diikuti oleh Radit dibelakangnya. "Daddy..." panggil Theo seraya berjalan masuk ke dalam. "Dira juga di sini", ucapnya dengan raut wajah bahagia.
"Kalian duduklah dulu", pinta Raja.
Theo dan Radit pun duduk saling bersebelahan di sofa.
"Ayo, lanjutkan apa yang ingin kamu katakan tadi."
Keberanian Indira sedikit terganggu kala melihat Theo. Dia berdehem seraya menelan salivanya. "Saya ingin perceraian kami segera dilakukan Pak, agar saya bisa hidup dengan bebas tanpa harus menjaga perasaan orang lain."
Raja mengangguk. "Saya tahu sekarang, kalau kamu trauma dengan pernikahan. Kamu tidak ingin kembali tersakiti jika kembali pada Theo. Apa yang Daddy katakan benar?" tanya Raja sembari menatap Indira.
"Tidak sepenuhnya benar, Pak. Saya merasa bahagia hanya berdua saja bersama putra saya."
"Tahukah kamu, kalau hak asuh putramu bisa saja berpindah pada kami?"
Pertanyaan Raja membuat Indira terkesiap. Dia tidak pernah memikirkan sampai sejauh itu. "Saya yakin hak asuh akan jatuh ke tangan saya, Pak!" ucap Indira dengan sangat yakin.
"Belum tentu. Karena dipersidangan bisa saja terjadi banyak hal. Jangan sampai perceraianmu dengan Theo akan membuat putra kalian yang menjadi korban."
Indira terdiam sesaat. Dia tidak ingin gegabah dalam mengambil keputusan. "Jadi apa yang Bapak inginkan?" tanya Indira dengan wajah serius.
"Berikan Theo kesempatan memperbaiki rumah tangga kalian selama 1 bulan. Jika dalam 1 bulan Theo tidak dapat membuat hatimu tergugah, maka Daddy tidak akan menahan kamu untuk melanjutkan perceraian itu."
Setelah beberapa saat Indira berfikir keras. Dia menghembuskan nafas panjang, lalu menatap Raja. "Berikan saya waktu untuk memikirkan hal ini Pak", pohon Indira yang tidak mau salah dalam mengambil keputusan.
"Besok kamu harus memberikan jawabannya pada saya!" tegas Raja yang tidak ingin menunda terlalu lama.
Indira mengangguk dengan ragu. "Baik, Pak", jawabnya. "Kalau begitu saya pamit undur diri", lanjutnya seraya bangkit dari tempat duduknya.
"Pak Theo dan Kak Radit, saya pamit", ucapnya saat menatap keduanya bergantian. Lalu dia berjalan menuju pintu keluar.
Theo masih tersenyum saat melihat Indira keluar dan pintu pun tertutup.
"Daddy hanya bisa membantumu sampai di sini. Selanjutnya kamu harus bertindak sendiri", ujar Raja dengan tatapan serius.
"Terimakasih Daddy membantuku memberikan pilihan itu pada Dira. Semoga Dira setuju dan Theo akan memikirkan cara agar hati Dira kembali tergugah."
"Oke, yang penting kau harus fokus pada Indira", sahut Raja yang di balas dengan anggukan oleh Theo. "Berhubung kau sudah ada di sini, Daddy pulang."
"Daddy gak mau makan siang bareng?" tanya Theo saat Raja baru saja akan melangkah.
"Daddy ada janji dengan Mommymu. Kalau kau berhasil membawa kembali menantu Daddy, baru Daddy pergi makan siang bersamamu!" tukasnya.
__ADS_1
Theo tersenyum getir. Ucapan sang Ayah ibarat sebuah tantangan besar baginya yang melebihi persaingan bisnis. "Baik, Dad. Theo yakin akan membawa Dira kembali ke rumah."
"Oke, Daddy tunggu waktu itu", sahut Raja seraya membalikkan badannya, lalu berjalan meniuju pintu ke luar.
"Apa kau sudah punya rencana?" tanya Radit saat Ayahnya Theo sudah keluar.
Theo menggelengkan kepalanya. "Aku baru saja akan memikirkannya", jawab Theo.
Radit membuang nafas dengan kasar. "Aku akan coba membantumu memikirkannya. Karena aku juga ikut andil dalam masalah ini."
"Terimakasih, Bro. Aku juga berharap Dira akan memikirkan apa yang sudah kau sampaikan padanya tadi pagi."
"Sebenarnya dia tadi percaya dengan apa yang aku katakan. Tapi saat dia akan kembali ke meja tempat kalian bertemu, dia melihat kau sedang mengelus pundak Tiara. Jadi dia langsung putar badannya dan pergi begitu saja."
"Ini semua salahku. Aku mudah sekali merasa iba jika berhubungan dengan Tiara."
"Sekarang kau sudah tahu akal liciknya. Jangan lagi kau tertipu oleh wajah sedihnya."
Theo mengangguk sebagai jawaban. Lalu dia melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya. "Ini masih jam 11. Apa kau mau menungguku menyelesaikan beberapa pekerjaan, setelah itu kita pergi makan."
"Oke, aku akan menunggumu di sini. Jangan terlalu lama!" balas Radit. Lalu dia meraih gawai miliknya dari dalam saku celana. Lalu mengotak atiknya sembari menunggu Theo menyelesaikan pekerjaannya.
Tok. Tok.
"Masuk", ucap Theo.
"Permisi, Pak", kata Risa saat menjulurkan kepala. Lalu dia berjalan masuk ke dalam bak foto model. "Ini berkas yang harus Bapak tanda tangan", ujar Risa dengan menyodorkan berkas ditangannya, namun matanya beberapa kali melirik ke arah Radit.
"Tanda tangam di sini?" goda Theo.
"Iya, Pak", sahutnya tanpa melihat ke arah Theo. Matanya masih terus menatap Radir yang sedang asyik dengan gawainya. Dia tampan sekali, batin Risa.
"Apa kamu yakin?" tanya Theo dengan menatap ke arah Risa.
Risa berdehem seraya mengangguk. "Hem, iya Pak."
"Coba lihat lagi", pinta Theo saat tangannya masih memegang pena, tapi belum membubuhi tanda tangannya di dokumen yang di bawa Risa.
Risa terkejut kala melihat sang atasan menatap dirinya dengan wajah kesal. "Maaf, Pak. Silakan tanda tangan di sini", ucapnya dengan rasa bersalah.
Lalu Theo menandatangani berkas yang membutuhkan tanda tangannya. "Ini, sudah selesai", katanya sembari memberikan domumen yang tadi di bawa oleh Risa. "Lain kali perhatikan pekerjaanmu dengan baik."
"Baik, Pak. Kalau begitu saya undur.diri", jawabnya dengan rasa malu. Lalu dia keluar dari ruangan Theo tanpa melirk ke arah Radit yang sedang melihat ke arahnya.
__ADS_1