Love Me Tender

Love Me Tender
Rencana Pernikahan


__ADS_3

Ratu tersentak kaget saat mengingat seseorang yang telah lama dia tidak bertemu dengannya.


"Citra?" tebaknya.


"Ternyata nyonya kesayangan Raja ini masih mengingatku. Sungguh aku merasa tersanjung."


"Ibu..." bisik Saka mengingatkan sang ibu.


Tamara sedari tadi termangu mendengar setiap ucapan yang keluar dari mulut Citra, calon ibu mertuanya itu.


"Saya pikir alangkah baiknya jika kita melupakan masa lalu. Kita mulai suatu hubungan yang baik di masa sekarang", ujar Ratu untuk mencairkan suasana yang mulai tegang.


"Theo setuju dengan mommy. Meskipun Theo tidak tahu duduk persoalannya. Tapi damai itu indah."


"Aku datang kemari hanya karena putraku sangat menyukai putrimu. Aku tak ingin dia menjadi depresi hanya karena persoalan cinta!"


Ratu langsung menoleh ke arah sang suami. "Bagaimana, dad?" tanya Ratu yang juga memikirkan nasib putrinya, jika tidak menikah dengan Saka.


"Oke, aku putuskan bahwa pernikahan ini tetap berlangsung. Biar kami yang menanggung semua biaya. Tapi setelah menikah, Saka akan tinggal bersama kami di sini."


Citra terdiam sejenak. Saka bukan putraku, jadi untuk apa aku peduli dia mau pergi kemana. Batin Citra.


"Oke, aku setuju", jawab Citra tanpa ada rasa ragu.


"Baik. Berarti kita sudah sepakat. Sekarang kita akan menentukan tanggal pernikahan mereka."


"Dad, meskipun semua biaya ditanggung oleh keluarga kita. Setidaknya keluarga pria memberi mahar", sanggah Theo yang tidak mau adik satu-satunya itu di anggap remeh oleh keluarga Saka.


"Kau tenanglah. Kami bukan keluarga yang tidak beradab", kilah Citra.


"Oke, silakan dilanjut, dad", ucap Theo. Namun sorot matanya menatap tidak suka sikap Citra sedari tadi.


Setelah itu mereka memutuskan tanggal baik. Satu minggu kedepan pernikahan akan dilangsungkan. Kedua keluarga sudah sepakat.


 


Sepeninggal keluarga Saka, mereka kedatngan keluarga yang lain.


"Maaf kami bertamu selarut ini", ujar wanita tua yang tampak seperti nenek Tiara.


Itu tahu sudah larut, tapi tetap memaksa bertamu. Batin Ratu. Dia tidak suka semua hal yang berhubungan dengan Tiara. Entah kenapa naluri keibuannya mengatakan Tiara tidak tulus mencintai Theo.


"Silakan duduk." Raja menjamu dengan ramah.


"Terimakasih", balas wanita tua itu.


"Ibu ini siapa? Dan ada keperluan apa sampai selarut ini datang bertamu?" tanya Raja dengan wajah serius.


"Saya neneknya Tiara. Maksud kedatangan kami kemari meminta pertanggungjawaban! Kapan anak anda menikahi cucu saya?"

__ADS_1


"Maaf sebelumnya bu. Di keluarga kami saat ini ada masalah lain yang harus kami urus", keluh Raja.


"Saya tidak mau tahu. Jangan karena cucu saya seorang diri, jadi kalian mau mengabaikannya begitu saja!"


"Maaf nek..."


"Jangan bicara!" Raja menghalangi Theo untuk berbicara. "Mungkin di sini ada kesalahpaham. Kami sama sekali tidak mengabaikan cucu ibu."


"Jadi kapan mereka akan menikah?"


"Secepatnya! Setelah surat perceraian Theo dengan istri pertamanya keluar. Sebelum hamilnya membesar."


"Theo menolak, dad. Tiara sudah keguguran!"


"Apa?" ucap Raja dan Ratu hampir bersamaan. Mereka terbeliak saat mendengar ucapan Theo.


"Emangnya kenapa kalau sudah keguguran? Kamu mau lari dari tanggung jawab!" protes sang nenek.


"Maaf, nek. Apa alasan nenek mendesak saya menikahi cucu nenek? Bukankah bisa dilakukan kapan saja?"


"Aku akan segera melaporkan perbuatanmu! Biar kamu membusuk di penjara!" sergah nenek Tiara dengan menatap tajam ke arah Theo.


"Tenanglah dulu, bu! Kami akan bertanggung jawab, tapi bukan dalam waktu dekat ini. Karena selain surat cerai Theo belum keluar, adiknya Theo akan menikah minggu depan."


Tiara tersentak kaget saat mendengarnya. Pria bodoh mana yang mau menikahi wanita yang sudah dilecehkan, batin Tiara.


"Sekarang saya tanya pada ibu. Apa ibu tahu kapan ibu meninggal?" pungkas Raja.


"Cih, ayah dan anak sama-sama tidak punya sopan santun!"


Theo pun tersulut emosi saat mendengar ucapan nenek Tiara. "Silakan nenek laporkan saja! Saya tidak takut!"


"Cukup Theo! Jangan diteruskan!" ujar Raja sembari menahan emosinya.


"Begini saja, bu. Karena ini sudah larut dan perbincangan kita sepertinya sangat alot. Alangkah baiknya, jika kita lanjutkan pembahasan ini besok pagi jam 10, di tempat ini."


"Besok sudah harus diputuskan tanggal pernikahannya! Saya juga akan menyuruh seseorang bersiap di kantor polisi."


"Baik. Kalau begitu sampaii jumpa besok", balas Raja dengan tegas.


"Oke!" sahut nenek Tiara dengan tegas, lalu mereka beranjak meninggalkan kediaman Theo dengan kesal.


Sepeninggal Tiara dan neneknya, Raja menoleh dengan raut wajah kesal ke arah Theo. "Kenapa hal sebesar itu tidak kau beritahukan pada kami?"


"Maaf dad. Theo lihat daddy dan mommy pusing mikirin masalah Ara. Jadi Theo berencana akan memberitahukannya setelah semuanya tenang."


Raja terdiam sesaat, dia pun sadar beberapa hari ini mereka sibuk mengurus Tiara. "Oke, kalau begitu. Mengenai tanggal pernikahan apa kamu punya pendapat?"


Theo tidak akan menikahinya, dad!"

__ADS_1


"Apa yang kau pikirkan? Ini semua kesalahanmu sendiri!"


"Daddy tenanglah! Theo sudah punya sebagian bukti, malam ini akan Theo rampungkan semuanya."


"Mommy juga setuju dengan Theo. Tidak perlu ada pernikahan. Lebih baik Theo kembali pada istrinya. Mengenai papa mertua, biar mommy yang coba bicara."


"Masalah itu nanti kita pikirkan, mom. Sekarang kita selesaikan urusan Tiara dan neneknya", sela Raja.


"Daddy, mommy, kak Theo. Maafkan Ara gak bisa berbuat apa-apa. Ara mau ke kamar dulu, boleh?"


"Oke sayang. Biar mommy yang antar. Daddy dan Theo juga istirahatlah. Besok kita harus siapkan tenaga untuk menghadapi rencana yang mungkin sudah mereka siapkan."


"Oke, mom", balas Raja dan Theo bersamaan.


---


Di tempat yang berbeda, tampak ibu Saka yang mendorong kursi rodanya terburu-buru sembari berteriak. "Bibi... Bibi"


"Ibu hati-hati, Saka takut ibu terjatuh."


"Kau diam! Aku bukanlah ibumu."


Saka terkesiap mendengar ucapan Citra. Dia bingung melihat kemarahan sang ibu.


"Bibi.. Dimana kau?" teriak Citra seraya mendorong kursi rodanya menuju kamar sang bibi. Saka pun mengikutinya dari belakang.


Citra menubrukkan kursi rodanya pada pintu kamar sang bibi yang tertutup rapat. Spontan Saka membukanya.


"Bibi...!" Citra kembali berteriak sembari menyusuri kamar sunyi sang bibi.


Saka berinisiatif menghubungi sang bibi, agar ibunya berhenti berteriak. Sesaat kemudian terdengar nada dering ponsel sang bibi dari dalam laci yang ada di samping tempat tidur. Saka bergegas untuk melihatnya.


"Ada apa?" tanya sang bibi yang tiba-tiba datang.


"Bibi dari mana saja? Puas saya mencari bibi!"


"Saya di toilet nyonya. Suara teriakan nyonya saya dengar sekilas, makanya saya buru-buru datang!"


"Saya menagih janji bibi!"


"Besok akan saya beritahu nyonya. Sekalian saya tunjukkan tempat tinggalnya."


"Jangan bilang bibi sudah membohongiku?"


"Saya tidak akan berani nyonya. Saya janji, besok kita akan ke sana."


Citra mulai tenang, lalu dia mendorong kursi rodanya keluar dari kamar sang bibi. Sedangkan Saka yang masih bingung, harus menahan rasa penasarannya sampai esok.


 

__ADS_1


__ADS_2