
Tiara berjalan mendekati Theo. Dia menatap Theo dengan senyum termanisnya seolah tidak terjadi masalah apapun di antara mereka.
"Aku tahu kau pasti tidak bisa melupakan Cafe favorit kita kan sayang", katanya dengan nada lembut layaknya seorang kekasih yang sedang rindu bertemu dengan pasangannya.
Theo menatap jengah wanita yang pernah dia cintai itu. "Jangan buat semuanya jadi rumit! Kebetulan kau di sini, jelaskan pada Dira apa yang sebenarnya terjadi."
Tiara tersenyum sinis seraya menatap Indira yang sedang menatapnya. "Kau benar sayang, aku harus mengatakan yang sebenarnya pada mantan istrimu ini", sahutnya menekankan kata mantan istri seraya menurunkan sedikit kacamata hitam yang dia pakai.
"Cukup Tiara! Dia bukan mantan istriku!"
"Tapi berkas perceraianmu sudah masuk 5 tahun lalu. Berarti kau ingin bercerai dengannya kan sayang."
"Hentikan Tiara, bukan itu yang aku maksud! Dan satu hal lagi jangan pernah panggil aku dengan kata itu!"
Indira yang mulai jengah dengan perdebatan mereka, buru-buru bangkit dari tempat duduknya. "Ternyata ini yang mau kau tunjukkan padaku! Buang waktuku saja!" seru Indira dengan nada emosi. Diraihnya tas jinjing miliknya yang ada di atas meja, lalu dia bergegas meninggalkan tempat itu.
"Dira tunggu!" teriak Theo mencoba mengejar Indira, hingga dia menjadi tontonan pengunjung restoran.
Tiara menjegal langkah Theo dengan menarik paksa tangannya. "Jangan kejar dia atau aku akan berteriak mengatakan bahwa kau telah berselingkuh dan melakukan kekera*an dalam rumah tangga!" tukasnya seraya menunjukkan lebam di wajahnya.
Theo terkesiap melihat wajah Tiara. "Apa yang sudah pria itu lakukan padamu?"
Tiara terduduk lesu seraya menghela nafas. Ini kesempatan aku untuk menarik kembali simpati Theo, ucapnya di dalam batin. "Aku sudah tidak kuat lagi tinggal bersamanya", lirihnya.
Theo kembali duduk di kursi dan mencoba untuk mendengarkan cerita yang lebih jelas. "Coba kau ceritakan kenapa dia melakukan hal ini padamu."
Tiara menangis sembari menunduk. "Aku sudah di tipu olehnya. Hampir setiap hari dia meny*ksa bahkan memaksa aku menuruti keinginan yang tidak masuk akal."
Theo mengernyitkan keningnya. "Apa maksudmu saat kalian sedang melakukan itu?"
Tiara mengangguk pelan. "Aku sudah tidak tahan lagi tinggal dengannya", isaknya masih dengan menunduk.
Theo ragu untuk menyentuh pundak Tiara. Namun sesaat kemudian dia melakukannya, agar Tiara tenang.
Tanpa Theo sadari Indira menatapnya dari pintu masuk dengan wajah emosi. Indira buru-buru meninggalkan tempat itu walau Radit berusaha menahannya. Saat Radit tak dapat menahan kepergian Indira, dia membalikkan badannya berjalan menghampiri Theo yang masih menepuk pundak Tiara.
"Jangan pernah kembali pada masa lalu!" sergah Radit.
Sontak Theo dan Tiara menoleh ke sumber suara.
"Kau baru sampai?" tanya Theo.
Tiara menatap curiga kedatangan Radit. Dia pun mencoba mengalihkan perhatian Theo. "Apa kita bisa bicara berdua saja?" tanyanya masih dengan terisak.
Theo tidak langsung membalas perkataan Tiara. Dia menoleh ke arah Radit seakan ingin meminta bantuan.
"Tiara, tolong jangan ganggu Theo lagi. Dia masih berstatus suami Indira", tegas Radit.
"Aku ingin bicara dengan Theo sebentar", ucapnya dengan wajah memelas.
__ADS_1
Radit hafal dengan sikap ingin dikasihani itu. Dia tidak mau lagi terbuai dengan bujuk rayu Tiara. Tidak akan aku biarkan Theo terjerat untuk kedua kalinya, batin Radit.
"Mark sedang mencarimu di luar", ucap Radit berbohong.
Tiara terbeliak kala mendengar perkataan Radit. Dari mana Radit mengenal Mark, batinnya. "Theo lihatlah, Mark sudah mengejarku sampai kemari", ujarnya dengan perasaan takut.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan?" tanya Theo.
"Aku ingin perlindungan darimu. Jika kita kembali bersama, maka aku pun terlepas dari pria hipokrit itu."
"Kalau begitu aku minta maaf, aku tidak bisa memenuhi keinginanmu!"
"Kenapa Theo? Aku sangat mencintaimu dan kau pun masih mencintaiku."
"Ternyata kaulah yang hipokrit!" tegas Theo. Lalu dia beranjak dari posisinya.
"Theo, please jangan tinggalkan aku. Dia itu pria yang temperamental! Aku takut, jika berhadapan dengannya setiap saat", pohon Tiara dengan isak tangis. "Please, berikan aku kesempatan sekali ini saja, untuk memperbaiki semua kesalahanku. Aku janji akan menjadi wanita yang dulu sangat kau cintai."
Theo menghentikan langkahnya, lalu berbalik dan menatap Tiara dalam kebisuan. Hatinya mulai iba saat melihat ketakutan di mata Tiara.
"Tiara, aku yakin kau bisa meninggalkannya tanpa harus kembali padaku. Aku berjanji akan tetap melindungimu."
Sontak Radit menatap Theo. "Jangan melakukan kesalahan yang sama!" tukasnya.
"Bagaimana caranya kau akan melindungiku?" tanya Tiara.
Pfft.
Radit berusaha menahan tawanya. Dia mengira Theo kembali tertipu oleh bujuk rayu Tiara.
"Pikirkanlah dengan baik. Jika kau setuju dengan ideku, maka segera hubungi aku atau Radit."
Theo melangkahkan kakinya meninggalkan Tiara yang masih duduk dengan tatapan sendu. Radit pun mengejar langkah Theo seraya merangkul pundak sahabatnya itu.
"Ini barulah pria sejati", pujinya dengan tersenyum riang.
Tiara hanya bisa menatap keduanya menjauh dengan perasaan kacau. Rencananya kembali gagal setelah mempersiapkannya semalaman.
"Ini semua karena Radit si**an", rutuknya.
Tanpa Tiara sadari seseorang yang sedang duduk di sudut ruangan itu telah menyaksikan semua drama yang baru saja dia pertontonkan. Dengan rahang yang mengeras dia menatap tajam ke arah Tiara.
...---...
Di kantor Theo, Indira sedang berjalan di lorong kantor menuju meja sekretaris Theo.
"Dira..." panggil Saka saat baru saja keluar dari ruangan Theo yang membuat Risa menghentikan tangannya di atas keyboard.
"Pak Saka kenal dengan Ibu Dira?"
__ADS_1
Saka mengangguk sebagai jawaban.
Indira berjalan menghampiri Saka yang masih berdiri di depan pintu ruangan Theo. "Hai, Saka. Apa kabarmu?"
"Aku baik", jawabnya "Tapi Kau terlihat lebih baik dan semakin cantik", puji Saka dengan tersenyum bahagia.
"Kau selalu suka berkata seperti itu. Jangan sampai Ara mendengarnya dan dia menjadi salah paham", pungkas Indira.
"Kalian adalah sahabat. Dia pasti tidak akan salah paham."
Raut wajah Indira seketika berubah mendengar perkataan Saka. "Bagaimana kabar Ara?" tanya Indira dengan lirih.
"Dia baik-baik saja. Saat ini dia sibuk mengurus putri kami dan urusannya dengan Mommy."
"Jadi anak perempuan cantik yang kalian antar ke sekolah waktu itu putri kalian?"
"Owh, jadi kau pernah melihat kami. Kenapa kau tidak langsung menemui kami?" tanya Saka dengan raut wajah tidak senang.
"Waktu itu aku belum siap untuk bertemu dengan kalian berdua."
Saka mengernyitkan keningnya. "Kenapa tidak siap? Apa kau melakukan kesalahan pada kami?"
Indira membalas dengan menggeleng. "Saat itu aku tidak ingin kalian mengetahui keberadaan putraku."
"Jadi kau punya seorang putra?" tanya Saka dengan suara keras.
"Shht... Kenapa kau harus berteriak?"
"Maaf, aku hanya sedikit kaget mendengarnya", jawab Saka. "Jadi siapa ayahnya?" selidiknya dengan tatapan serius.
"Untuk saat ini aku belum bisa memberitahumu."
"Kenapa kau harus merahasiakannya? Apa karena dia putra Theo?" Saka terus mencecar Indira dengan banyak pertanyaan.
"Kau terlalu banyak bertanya", sergah Indira. "Sudah aku katakan belum saatnya aku untuk memberitahumu, tapi kau masih mendesakku!" lanjutnya dengan nada kesal.
"Maaf, kalau pertanyaanku membuatmu tidak nyaman."
Tiba-tiba pintu ruangan Theo di buka seseorang dari dalam.
"Ada apa ribut-ribut di luar?" tanya Raja seraya menjulurkan kepalanya dan melihat kesekeliling. "Dira... Ayo, masuklah. Kenapa kalian berbincang di luar", ucapnya dengan tersenyum sembari membuka lebar pintu.
Indira pun membalas dengan tersenyum. "Maaf, Pak. Saya sudah mengganggu ketenangan Bapak", sahutnya dengan menunduk sopan.
Raja sedih mendengar sapaan yang disematkan Indira padanya seakan membuat jarak yang jauh antara dirinya dengan Indira.
"Tidak apa-apa. Ayo, masuk", ajaknya kembali.
Indira dan Saka pun masuk ke dalam ruangan Theo.
__ADS_1