
Daven dan Indira baru saja tiba di bandara.kota Paris. Tiupan angin kencang itu menerpa wajah lembut Indira.
"Kepalaku sedikit pusing", ucapnya. Tiba-tiba dia menutup mulutnya, karena dorongan yang berasal dari dalam perutnya, hingga ia ingin mengeluarkan sesuatu.
"Apa kau perlu ke toilet?" tanya Daven sembari menyerongkan kepalanya menatap Indira yang sedang menunduk.
"Hem, tolong antarkan aku ke toilet sebentar", pintanya dengan lesu. Ini adalah kali pertama Indira menaiki pesawat, namun dia sudah harus menempuh perjalanan yang cukup lama.
Indira berjalan ke luar dari dalam toilet setelah mengeluarkan isi perutnya yang sedari tadi membuatnya merasa mual, akhirnya dia pun merasa sedikit lega.
"Ayo, kita duduk di sana saja." Daven menunjuk sebuah tempat untuk duduk yang terlihat nyaman bagi Indira. Mereka pun bisa menilmati makan dan minum di sana.
Netra Indira terkesiap saat melihat sebuah tempat makan yang sangat epik itu. "Wah, tempatnya nyaman sekali", ucapnya berdecak kagum.
"Ayo, duduklah. Aku akan memesan minuman hangat untukmu."
Indira pun mengangguk pelan, dia menyetujui sesuai apa yang telah Daven pilihkan untuknya, karena Daven lebih paham akan makanan dan minuman di kota ini. Bagaimana tidak, kedua orangtuanya sering mengajaknya berlibur ke kota ini.
Di sebuah ruangan yang terlihat sepi itu, seorang wanita duduk di kursi roda. Dia menatap nanar langit-langit kusam kamarnya.
Ceklek
Seseorang membuka pintu kamarnya. "Pagi, bu. Ayo, kita makan dulu", pinta putra semata wayangnya itu dengan lembut.
"Ibu tidak mau, bawa saja kembali!"
"Ibu harus tahu, kalau putra ibu sudah berhasil menaklukkan hati putri musuh ibu."
"Apa ucapanmu itu benar?" selidiknya yang sudah bosan dengan bualan sang anak.
"Benar ibu sayang. Ibu lihat saja apa yang akan terjadi beberapa hari kedepan", ucapnya seakan merencanakan sesuatu.
"Ibu senang mendengarnya. Kalau begitu ibu harus makan sekarang", ujarnya sembari meraih sepiring makanan dari tangan putranya itu.
Di rumah sakit.
Tiara duduk termenung di atas tempat tidur. Dia seakan kehilangan semangat untuk melanjutkan hidupnya. Air matanya tak kunjung berhenti tertumpah membasahi wajah mulusnya.
"Aku tak mungkin menceritakan hal ini pads nenek, dia akan membunuhku", ucapnya bergumam.
__ADS_1
Ceklek.
Seseorang masuk ke dalam kamar sempitnya itu.
"Permisi, bu. Bagaimana perasaan ibu hari ini?" tanya sang perawat yang akan membuka infus di tangan Tiara.
"Hem, baik", balasnya dengan malas.
"Owh, bagus kalau begitu", ucap ssng perawat dengan tersenyum. "Hari ini ibu sudah boleh pulang. Apa ada kerabat atau suami ibu yang akan datang menjemput ibu di sini?
Tiara terdiam sesaat. Aku tak mungkin memberitahu Theo mengenai hal ini, batinnya.
"Ada, sus. Aku akan segera menghubungi suamiku", ujarnya sembari meraih ponsel di atas nakas dan menscroll nama kontak seorang pria yang bukan suaminya, namun huhubungan mereka sudah seperti layaknya suami istri.
Di ruangan Theo, sang mommy membereskan semua pakaian putranya itu. Hari ini dia sudah diizinkan oleh dokter untuk pulang ke rumah.
"Apa kamu sudah yakin untuk pulang hari ini, nak?" tanya Ratu yang khawatir kepala Theo akan terganggu saat diperjalanan nantinya.
"Yakin dong, mom. Dokter kan sudah ngizinin."
"Okelah kalau begitu", sahut Ratu sembari menutup tas yang berisi pakaian Theo itu. Lalu dia meminta pengawal membawa tas itu serta membantu Theo duduk di kursi roda.
"Kenapa harus pakai kursi roda sih, mom? Theo kan bisa jalan sendiri", ucapnya berdecak kesal.
Theo terpaksa naik ke atas kursi roda dengan wajah di tekuk. "Ikut apa kata mommy aja deh", ujarnya pasrah.
Mereka berjalan bersama keluar dari ruangan itu.
Ting.
Sang pengawal mendorong keluar kursi roda Theo, saat pintu lift terbuka lebar.
"Syukurlah kita langsung keluar di basement, jadi tidak ramai yang akan memperhatikan Theo", ujarnya. Dia tidak ingin orang memandangnya dengan rasa iba, karena memakai kursi roda.
Theo mengernyitkan keningnya kala melihat sosok wanita yang dia kenal. "Itu Tiara, mom", ucapnya sembari berdiri dari kursi rodanya dan berusaha mengejar wanita yang baru saja masuk ke dalam mobil.
"Eh, mau kemana?" teriak Ratu panik. Sang pengawal dengan sigap mengejar Theo.
"Jangan lari, Tuan", titah sang pengawal dengan menahan tubuh atletis Theo. Meskipun Theo sedang dalam keadaan sakit, namun tenaga yang dimilikinya berhasil membuat kedua pengawal itu kewalahan.
__ADS_1
"Lepaskan!" teriak Theo dengan meronta, namun para pengawal semakin memegangnya dengan erat. Dia pun berdecak kesal kala melihat mobil yang ditumpangi wanita mirip Tiara itu sudah melaju meninggalkan basement.
"Sial, dia sudah pergi", rutuknya. "Aww..." ringisnya saat kepalanya tiba-tiba terasa sakit.
"Tuan..." ucap kedua pengawal hampir bersamaan. Lalu mereka membopong Theo kembali ke kursi rodanya.
"Theo, lihatlah dirimu sekarang. Kepalamu jadi sakit hanya karena mengejar wanita itu!"
"Theo hanya ingin menanyakan siapa pria yang bersama dengannya itu, mom."
"Untuk apa kau menanyakanmya. Bisa saja dia berdalih dengan mengatakan bahwa pria itu saudara sepupunya atau kerabat jauhnya. Mommy sudah biasa mendengar trik wanita yang sedang tertangkap basah", ujar Ratu yang merasa senang Theo melihat sendiri wanita seperti apa yang dicintainya itu.
"Bisa jadi pria itu memang sepupunya, mom. Kita gak boleh berburuk sangka."
"Terserah kamu, nak. Feeling mommy berkata dia punya niat yang gak baik sejak pertana sekali kau membawanya datang ke rumah."
"Semoga itu hanya perasaan mommy saja. Theo akan menelponnya dan menanyakan langsung padanya siapa pria itu, setelah kita tiba di rumah nanti", ujar Theo yang berusaha santai. Ratu hanya membalasnya dengan berdehem.
Baru saja Ratu merasa senang, karena Theo mencurigai kehamilan Tiara. Namun sekarang dia di buat kesal, karena Theo kembali peduli pada Tiara. Kenapa putraku ini suka piin plan, batin Ratu.
Di kampus Arkana University.
Tamara telah menyelesaikan kuliahnya hari ini. Dia langsung melangkahkan kakinya berjalan menuju gerbang kampus. Saat sedang berjalan di lorong kampus, seseorang seperti sedang mengikutinya, namun saat Tamara membalikkan badannya tidak ada seorang pun dibelakangnya. Lalu Tamara semakin mempercepat langkahnya. Dia mulai panik saat terdengar derap langkah seseorang mengejarnya.
Aaaaa... Pekik Tamara saat seseorang memegang pundaknya dari belakang.
"Kau kenapa, Ara?" tanya suara seorang pria.
Tamara membalikkan badannya perlahan. Lalu dia menghela nafas lega, kala melihat Saka ada dihadapannya saat ini. "Aku pikir tadi siapa."
"Kenapa kau seperti ketakutan?"
"Sepertinya ada orang yang sedang mengikutiku. Tadi siang, sewaktu aku pergi ke taman kampus, seperti ada orang yang mengikutiku. Dan setelah beranjak dari situ, aku seperti diikuti lagi. Semakin aku berjalan cepat, orang itu pun mempercepat langkahnya. Tapi anehnya, saat aku berbalik, tidak ada seorang pun di belakangku. Tak mungkin itu makhluk tak kasat mata kan?"
"Mungkin ada orang yang sedang mengerjaimu. Lain kali jangan pergi seorang diri ke taman kampus."
"Oke. Aku akan mengajakmu jika ingin pergi ke sana", sahut Tamara. Seketika wajah pucatnya berubah merona. Saka hanya membalasnya dengan berdehem, lalu mereka berjalan bersama menuju gerbang kampus.
"Motormu mana? Kenapa kau mengikuti sampai ke gerbang kampus?"
"Biar kau gak ketakutan lagi", balas Saka dengan santai.
__ADS_1
Tamara menatap Saka dengan tersenyum. "Terimakasih Saka", ucapnya. Namun batinnya berkata lain. So sweet, ucapnya di dalam hati yang berbunga-bunga.