
Kuliah hari ini terasa sangat melelahkan bagi Indira, terlihat jelas pada guratan diwajahnya.
"Ayo, aku antar pulang", ucap Daven menawarkan diri. Tamara yang mendengar ajakan Daven langsung berbalik dan menatap tajam ke arah Indira.
"Tidak perlu. Aku bisa.pulang sendiri", sahut Indira sembari memungut tumpukan buku di atas meja. Dia tidak mau Tamara marah karena tidak menurutinya.
Tamara puas dengan jawaban Indira. Digantungnya tas selempang miliknya, lalu dia berjalan keluar kelas, tanpa mengatakan sepatah kata pada Indira.
Daven tertawa renyah. "Sudah aku katakan dia bukan orang yang pantas untuk djadikan sahabat. Ayo, biarkan saja aku mengantarmu!" Daven menarik paksa tangan Indira menuju ke luar kelas. Indira pun terpaksa mengikuti langkah Daven.
Tak butuh waktu yang lama, Daven dan Indira sudah berada di parkiran mobil
Kenapa mereka selalu terlihat bersama, batin Theo.
Theo terus menatap keakraban Daven dan Indira dari dalam mobilnya.
"Kenapa diam, kak? Ayo, kita pulang." Tamara berdecak kesal saat melihat Theo hanya diam sembari menatap keluar kaca mobil.
"Lihat apa, sih?" Tamara yang mulai penasaran pun ikut menatap ke luar. "Kenapa si Dira penipu ini tidak mau mendengar ucapanku!" seru Tamara.
"Kau sudah melarangnya?" tanya Theo sembari menoleh ke arah Tamara.
Tamara membalas dengan menganggukkan kepalanya. "Sudah, kak. Tadi aku tidak sengaja mendengar Daven mengajaknya pulang bareng", sahut Tamara. "Atau jangan-jangan Daven itu komplotannya Indira?" tebak Tamara yang terus menaruh curiga pada Indira.
Theo menatap kepergian mobil Daven dengan tatapan amarah. Dia merasa bahwa Indira tidak menghormatinya sebagai seorang suami. Theo melajukan kendaraannya mengejar mobil Daven yang berjarak tidak jauh darinya.
Cit.
Suara decitan ban mobil Theo dan Daven menarik perhatian mahasiswa yang baru saja keluar dari gerbang kampus. Daven dan Theo sama-sama keluar dari dalam mobil.
"Apa anda mau cari mati!" Daven emosi hingga dia lupa sedang berhadapan dengan siapa.
Theo pun tak kalah emosi melihat Daven. Dia berjalan melewati Daven sembari menatap tajam ke arahnya. Lalu tangannya membuka pintu di samping kemudi. "Turun!" Theo meminta Indira agar segera keluar dari mobil Daven. Indira bergeming, namun jantungnya terus memompa dengan kencang. Theo yang sudah dibuat kesal oleh Indira, menarik paksa tangan Indira hingga dia keluar dari dalam mobil. "Jangan pernah mau di antar siapapun, atau...", bisik Theo di dekat telinga Indiira dengan menggantung ucapannya.
__ADS_1
Indira mengangguk dengan cepat, lalu dia melangkahkan kakinya menjauhi Theo dan Daven.
"Hei, mau kemana?" tanya Daven, namun Indira terus berjalan tanpa menoleh ke arahnya. Indira tidak ingin beasiswanya di cabut hanya karena masalah yang menurutnya sepele yakni membiarkan Daven mengantar dirinya pulang.
Saat ini Indira berdiri seorang diri di dekat halte kampus. Diraihnya ponsel dari dalam saku celananya dan segera dibukanya aplikasi untuk memesan ojek online.
Di rumah kediaman Theo.
"Apa Indira sudah pulang bi?" tanya Theo saat akan melanjutkan langkahnya menuju tangga.
"Belum, den", sahut sang bibi yang membuat Theo dan Tamara saling memandang.
"Kemana dia?" tanya Theo dengan berdecak kesal. Lalu dia meraih ponsel dari dalam saku celananya. "Apa kau punya nomor ponsel Indira?" tanya Theo seraya menatap Tamara.
Dengan malas Tamara mencari kontak Indira yang tidak dia hapus dari daftar kontak di ponselnya.
Theo langsung menyimpan nomor kontak Indira yang dikirim oleh Tamara melalui aplikasi hijau itu. Kemudian dia langsung menghubungi Indira. Theo membatalkan panggilan telepon yang sudah masuk nada tunggu. "Kenapa aku peduli padanya?" ucapnya bergumam sembari memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana.
"Biarkan saja. Lebih bagus jika dia tidak kembali", sahut Theo seraya melangkahkan kakinya berjalan menuju anak tangga.
Tamara hanya bisa menatap iba saat sang kakak berjalan menjauhinya.
Di tempat lain Indira sedang berjalan mengendap-endap sembari mengedarkan pandangannya menyusuri setiap sudut ruang tamu.
"Bi... Bibi... " panggil Indira berulang kali, namun sang bibi tetap tidak membalas panggilannya.
Indira berjingkat saat pintu masuk ditutup dengan sangat keras. Indira langsung membalikkan badannya, dan betapa terkejutnya dia saat melihat sang paman sudah memegang kunci ditangannya seraya tersenyum padanya.
Indira beringsut mundur dengan langkah gemetar. Rasa takut mulai menyelimutinya saat ini. "Paman tolong jangan lakukan itu", pinta Indira seraya memohon pada sang paman.
"Jangan takut sayang. Paman akan melakukannya dengan lembut, hingga kau hanya merasakan nikmatnya saja", ujarnya sang paman yang membuat Indira bergidik ngeri.
__ADS_1
Indira masih melangkah mundur hingga tubuhnya menempel di dinding. Tubuhnya semakin gemetar tatkala sang paman berjarak hanya beberapa langkah saja dengannya. Indira pun menutup matanya sembari berteriak. "Bibi... Tolong Dira!" Indira berusaha memanggil sang bibi yang dia tidak tahu keberadaannya.
Saat Indira membuka matanya sang paman sudah berada tepat dihadapannya. Lalu sang paman memegang dagunya dan membuka kacamata yang mengganggu pandangannya itu. "Jangan paman... Aku mohon." Indira berusaha melunakkan hati sang paman.
Gubrak.
Tendangan kuat seorang pria yang ahli dalam taekwondo itu berhasil membuka pintu hanya dalam satu kali tendangan, hingga menghentikan aksi sang paman yang hendak menempelkan bibirnya pada Indira.
"Siapa kau?" tanya sang paman yang menatap pria dihadapannya dengan emosi.
"Calon menantumu paman", ucapnya ngasal.
"Aku tidak memiliki anak perempuan!" ujarnya yang membuat pria itu terkekeh.
"Ternyata kau tidak lupa soal itu! Jadi apa kau lupa dia siapa?" tunjuknya pada Indira yang sedang meringkuh ketakutan.
"Apa urusanmu anak muda?" Sang paman langsung melayangkan pukulannya mengarah ke wajah pria itu.
"Awas Daven!" teriak Indira saat tangan sang paman hampir saja mengenai pelipis Daven, jika tidak di tahan oleh Daven.
"Mainnya fair dong paman. Jangan main serang tiba-tiba", ucap Daven yang mampu memancing emosi sang paman.
Sang paman yang sudah tersulut emosi kembali melayangkan pukulannya, hingga mereka berduel. Namun karena usia yang sudah tidak muda lagi membuat sang paman mudah lelah.
"Apa kemampuanmu cuma segini!" ucapan menantang Daven semakin membuat sang paman geram. Namun tak berselang lama suara sirene polisi terdengar. Sang paman tersentak kaget, saat polisi akan menangkap dirinya.
"Heh, ini kenapa?" Sang paman terus meronta saat akan di bawa paksa oleh pihak yang berwajib.
Tiba-tiba sang bibi keluar dari dalam kamar dengan langkah terseok-seok.
"Jangan... Tolong jangan tangkap dia pak polisi!" teriak sang bibi dengan mencoba melepas paksa genggaman tangan pak polisi dari tangan sang suami.
"Silakan ibu ikut saja ke kantor polisi", ucap pak polisi sembari menyeret paman Indira.
Indira menatap nanar kepergian paman dan bibinya. Semoga bibi tidak membelanya lagi, batin Indira.
__ADS_1