Love Me Tender

Love Me Tender
Namaku Saka


__ADS_3

Sebuah mobil mewah, namun bukan milik Theo terparkir di kampus Arkana University. Terdengar suara decak kagum atas penampakan mobil mewah itu.


"Itu pemiliknya", ujar seorang mahasiswa pada teman disebelahnya.


"Kayak gak asing. Siapa ya..?" sahut teman disisi kanannya itu sembari mengingat.


"Dia itu salah satu pejabat penting, pastilah sering muncul di televisi", sahut teman yang sedari tadi tak lepas dari buku ditangannya.


"O, iya dia itu kan pak Angga Harianto, pejabat di kementrian. Tapi mau apa dia datang kemari?"


"Anaknya kan kuliah di sini", celetuk temannya yang masih memegang buku bacaannya itu.


Kedua teman yang gak update mengenai berita dalam negeri itu menatap teman yang selalu menjawab pertanyaan mereka. "Kutu buku!" teriak mereka bersamaan dibarengi gelak tawa.


"Namaku Saka, bukan kutu buku!" Lalu dia beranjak meninggalkan kedua temannya yang masih menertawakannya. "Dasar orang-orang bodoh!" ejeknya dengan bergumam.


 


Pak Angga Harianto memasuki lorong kampus didampingi pengawalnya.


"Beliau kan.. "


"Itu pak Angga Harianto."


Mahasiswa yang berpas-pasan dengan pejabat penting itu saling membicarakannya.


"Ruangannya di sebelah sini pak", ucap sang pengawal seraya menuntunnya.


Lalu mereka maauk ke dalam ruangan tersebut.


Tak berselang lama mereka pun keluar dari ruangan itu dengan raut wajah di tekuk. Sebuah keputusan yang telah di buat oleh pemilik kampus telah merugikan putra semata wayangnya, Daven.


"Hubungi pengacara kita!" Angga memerintahkan sang pengawal, karena dia tidak setuju dengan keputusan yang disampaikan oleh pihak kampus. Lalu dia berjalan dengan cepat menuju kendarsannya terparkir.


"Baik, pak", ucapnya sembari meraih ponsel di dalam saku dan segera menghubungi pengacara.


 


Di kantin kampus.


Setelah kembali menjadi sahabat, Tamara dan Indira ingin merayakan dengan makan banyak di kantin hari ini.


"Hai, Dira", sapa seseorang saat menghampiri meja Indira.

__ADS_1


"O, hai Saka", balas Indira dengan tersenyum.


"Apa aku boleh gabung dengan kalian?" tanyanya seraya memohon.


Indira pun menatap ke arah Tamara. Tatapan tajam Tamara seakan menjadi jawaban bagi Indira.


"Maaf Saka, lain kali kita bisa satu meja", ucap Indira yang membuat wajah Saka memerah, karena rasa malu.


"Baiklah", sahut Saka seraya menjauh dari meja Indira.


Indira menatap nanar kepergian Saka.


"Sudah jangan dilihatin terus, kau belum tahu dia itu orang seperti apa. Kewaspadaanmu sedikit kurang, nih." Tamara berdecak kesal, karena Indira bersikap terlalu baik sama semua orang. Dia takut seseorang akan memanfaatkannya.


"Dia itu kan teman satu angkatan kita. Gak ada salahnya dong kita akrab", sahut Indira yang tidak terima akan pandangan Tamara.


Tamara menatap Indira dengan kesal. "Kita ini baru berbaikan, lho. Kenapa kau lebih memikirkan orang lain?" Tamara meletakkan sendok yang sudah menyuap beberapa kali makanan ke dalam mulutnya. "Aku udah gak mood makan", ujarnya kemudian, lalu beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Indira seorang diri.


Indira pun kaget melihat reaksi Tamara yang menurutnya terlalu berlebihan. "Ara... Please jangan gitu. Ara... Ara...!" teriakmya memanggil Tamara, namun Tamara tetap melangkahkan kakinya, tanpa menoleh kearahnya. "Huft... Dan lagi."


Tiba-tiba seseorang duduk dihadapan Indira. "Kau kenapa kesini? Bukankan kau diminta datang ke ruang Dekan?"


"Cie, penampilanmu berubah sekarang, cantik", ujar Daven dengan tersenyum. Lalu perhatiannya kembali tertuju pada makanan dihadapannya. "Aku lapar." Tangannya langsung meraih makanan di atas meja, tanpa meminta izin pada pemiliknya.


Indira pun menatapnya dengan kesal. "Kenapa kau selalu bertindak sesuka hatimu? Tidak bisakah kau menghargai orang lain sedikit saja!"


Daven menghentikan tangannya yang akan memasukkan sesendok bakso ke dalam mulutnya. "Apa aku orang seperti itu dalam pandanganmu?" tanyanya sembari menatap Indira.


Indira mendengus kasar. "Kau sendiri yang menunjukkan prilaku seperti itu!"


"Salahkan saja kedua orang tuaku!" celetuk Daven yang berhasil menarik perhatian Indira.


Indira pun mengernyitkan keningnya. "Kenapa harus mereka yang disalahkan atas perbuatanmu sendiri?"


"Karena mereka tidak pernah menganggapku. Aku ini anak yang tidak punya prestasi, tidak seperti anak teman-teman papa. Aku juga di larang melakukan apa yang mereka tidak suka. Aku dilarang untuk menjadi diriku sendiri!" seru Daven dengan emosi.


Indira terkesiap mendengar penuturan Daven. "Maaf, aku tidak tahu masalahmu sebesar itu", ucap Indira dengan wajah mengiba.


"Kau tidak perlu iba padaku. Aku sudah terbiasa seperti ini."


"Tidak boleh! Kau harus berubah!" seru Indira.


"Maksudmu?"

__ADS_1


"Kau bisa jadi diri sendiri. Tunjukkan pada mereka kau akan berprestasi sesuai pilihanmu", ucap Indira penuh semangat.


"Jadi aku harus tetap ikut bermain game online?"


"Apa? Kau suka bermain game!" Indira terkesiap, wajah ibanya seketika berubah menjadi kesal. Dia mengira Daven menyukai seni dan musik atau barangkali ingin menjadi seorang atlet bela diri, karena dia tahu Daven mahir dalam bela diri taekwondo.


Indira pun mendengus kasar. "Lebih baik kau pertimbangkan lagi. Aku yakin pasti ada bakatmu yang belum kau asah."


"Jadi kau juga beranggapan apa yang kulakukan ini tidak memiliki masa depan?" tanya Daven dengan wajah serius.


"Apa kau yakin dengan bermain game online masa depanmu terjamin?" Indira bertanya balik.


Daven pun terdiam, karena sudah sering mendapat pertanyaan seperti itu dari kedua orang tuanya.


"Tolong pikirkan lagi, apakah itu hanya sekedar hobbymu atau kau cuma tertantang untuk mengalahkan orang lain yang bermain lebih hebat darimu." Indira bangkit dari tempat duduknya. "Aku masuk kelas dulu", ucap Indira seraya melangkahkan kakinya meninggalkan Daven yang masih duduk dengan termenung.


Dari kejauhan ada mata yang menatap kepergian Indira dengan tersenyum.


 


Indira berjalan di lorong kampus dengan sedikit grogi. Seorang pria yang berjalan berlawanan arah dengannya membuat dia ingin menghilang saat ini juga.


"Siang pak", sapa Indira dengan canggung.


"Keruangan saya sekarang!" seru Theo.


"Tapi pak, saya ada kelas."


"Nanti saya yang minta izin", sahut Theo yang membuat Indira terdiam. Lalu dia mengikuti langkah Theo dari belakang.


"Kenapa di belakang?" Theo langsung menarik tangan Indira sehingga posisi mereka sejajar.


"Saya kalah jauh tingginya sama bapak", ujar Indira dengan menunduk.


"Emang kalau jalan sama saya tingginya harus sama?" Pertanyaan menohok Theo membuat Indira tak mampu berucap.


Indira sedikit kewalahan mengikuti langkah panjang Theo. "Jangan terlalu cepat jalannya pak!" pinta Indira dengan menggerutu.


"Salah sendiri kakimu pendek."


Indira memberanikan diri menatap wajah Theo yang sedang tersenyum padanya. "Gini-gini saya jago bela diri muay thai lo pak. Apa bapak mau mencobanya?"


Theo pun terdiam seketika, pandangannya fokus ke depan. Tidak ada lagi perbincangan di antara mereka hingga tiba di ruangan Theo.

__ADS_1


Seseorang yang sedari tadi mengikuti Theo dan Indira menatap dengan rasa benci keakraban keduanya.


__ADS_2