
Theo celingak celinguk mencari seseorang. Sesaat kemudian kepalanya berhenti kala melihat seseorang yang dicarinya sedang berjalan dari arah depannya.
"Rafa..." panggil seorang anak perempuan yang baru saja turun dari mobil. Rafa pun berhenti, lalu dia menoleh ke arah sumber suara.
"Mira..." balas Rafa memanggil nama anak perempuan yang sudah membuatnya berhenti.
"Cha cha kenal dengan anak laki-laki itu?" tanya Theo seraya menunjuk Rafa.
"Kenal", sahut Cha cha dengan cemberut.
"Kenapa cemberut? Apa dia mengganggumu?"
Cha cha menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Bukan Uncle Ti", balasnya. "Dia itu anak yang tidak tahu berterimakasih", ujar Cha cha sambil bersedekap.
Theo merasa ucapan sang keponakan semakin menarik. "Maksud Cha cha gimana?"
"Cha cha mau masuk kelas dulu. Bu guru sudah memanggil", ujarnya dengan berlari kecil. Theo pun tak bisa berkata-kata lagi. Dia hanya bisa menatap sang keponakan pergi dengan mulut yang menganga.
Namun ekspresi wajahnya berubah kala hatinya terusik melihat Rafa berlari dengan riang menuju kelasnya.
Setelah Rafa hilang dari pandangannya. Dia buru-buru melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya. "Sudah pukul 8, Dira pasti menungguku di kantor", ucapnya seraya berjalan menuju tempat mobilnya di parkir. Saat sedang .melangkah dia sadar akan sesuatu. "Berarti tadi Dira melihatku dari dalam mobil."
Theo kembali celingak celinguk mencari mobil Indira. "Hanya bersisa 2 mobil, apa mobil Dira ada di antara salah satu mobil itu?" tanyanya di dalwm hati.
Baru saja Theo menyelesaikan ucapannya, salah satu mobil pergi menyisakan 1 mobil berwarna merah. Theo beranjak dari posisinya berdiri, lalu dia berjalan menghampiri mobil itu.
Tok. Tok.
Kaca jendela mobil di buka perlahan, seseorang menjulurkan kepalanya. "Ya, ada apa Pak?" tanya seorang wanita dengan ketus.
"Ma-maaf, Bu. Saya salah orang", ucap Theo terbata-bata kala melihat wanita yang tampak garang itu.
Tanpa membalas ucapan Theo, wanita itu menutup rapat kaca jendela mobilnya. Kemudian dia buru-buru melajukan kendaraannya, meninggalkan Theo yang masih berdiri di sisi kiri mobilnya.
Di dalam mobil yang berbeda, namun tidak jauh dari tempat itu, seseorang sedang menahan tawanya kala melihat muka cengo Theo.
__ADS_1
...---...
Setelah 10 menit diperjalanan Theo tiba di tempat parkir perusahaannya. Dia keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju pintu lift.
"Pagi Theo", sapa suara seorang wanita yang tidak asing ditelinganya.
Theo berbalik hingga netranya bertemu dengan netra wanita yang ada dihadapannya saat ini. "Kenapa kau masih datang kemari?" tanya Theo dengan tidak ramah.
Tiara berjalan mendekati Theo, tangan kirinya bergerak cepat melingkar di pinggang Theo, hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka. Baru saja Theo akan menghempas tangan Tiara, tiba-tiba dua orang wanita berdiri menyaksikan sikap manja Tiara padanya.
Theo mulai kelabakan bak seorang suami yang sedang ketahuan berselingkuh. Dengan kasar dia melepaskan tangan Tiara yang masih melingkar dipinggangnya. Namun siapa sangka kedua wanita itu malah melenggang pergi tanpa mengucapkan sepata kata pada mereka.
"Dira... Tunggu!" teriak Theo saat melihat Indira dan sang asisten sedang berjalan menuju pintu lift. Namun Tiara emosi saat mendengar Theo memanggil nama Indira. Dia semakin tidak ingin melepaskan Theo dari pegangannya, hingga mereka saling tarik menarik. Sekuat apapun Tiara berusaha menarik dapat dipastikan Theo yang akan berhasil.
Tidak butuh waktu yang lama, Theo berhasil melepaskan diri dari pegangan Tiara. Dia berlari dengan cepat mengejar Indira yang sudah berada di dalam lift. "Tunggu!" teriaknya berharap Indira menahan lift. Lagi-lagi Indira acuh padanya.
Theo mendengus kasar sembari menatap pintu lift yang sudah tertutup sempurna sebelum dia berhasil memencet tombol. Dengan emosi yang meluap-luap dia berbalik dan menatap tajam ke arah Tiara yang sedang berjalan menghampirinya.
"Apa kau sudah puas?" tanya Theo dengan penuh amarah.
"Kenapa kau marah padaku, sayang."
"Theo, aku memang pernah melakukan satu kesalahan. Tapi apakah tidak ada maaf darimu, setelah kau tahu alasan aku melakukan semua itu?"
Theo hanya menatap Tiara dalam kebisuan. Sesaat kemudian dia tersenyum sinis "Mungkin kau menganggap kesalahan yang sudah kau lakukan itu adalah hal biasa. Kau tidak tahu jika hasil perbuatanmu telah mengacaukany kehidupan orang lain yang sama sekali tidak bersalah padamu!"
"Dia yang telah mengacaukan kehidupan kita! Jika dia tidak menggodamu, bagaimana bisa kau dijebak dan terpaksa menikah dengannya."
"Cukup omong kosongnya! Aku tidak ada waktu untuk menjelaskan pada orang egois sepertimu!"
"Kau yang egois! Kau yang ingin kita bersama kembali di saat kau sudah menikah dengannya. Jika kau tidak memberikan cinta yang lembut padaku, bagaimana mungkin aku mengambil resiko menduakan Mark!"
"Jangan mencari alasan. Mark sudah tahu kau menduakannya. Bagaimana mungkin kau berkata mengambil resiko?"
Tiara terbeliak mendengar ucapan Theo, lidahnya seakan tak mampu untuk membalasnya.
__ADS_1
"Aku ada meeting penting. Jangan pernah datang lagi mencariku untuk alasan yang tidak jelas itu."
Ting.
Pintu lift terbuka lebar, Theo bergegas masuk ke dalam. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu sang istri yang sama sekali tidak pernah dia ceraikan.
Tiara hanya bisa menatap Theo dari celah pintu lift yang akan tertutup. "Apa tidak ada harapan lagi?" tanyanya bergumam. Tubuhnya hampir saja merosot, jika seseorang tidak menahannya. "Mark", ucapnya dengan mulut menganga.
"Sudah cukup dramanya. Sekarang kita pulang!" tukas Mark dengan tatapan tajam.
Tiara mulai ketakutan bahkan lututnya bergetar hebat kala tatapan itu berganti dengan senyuman di wajah pria berbadan atletis itu.
"Ayo", ajak Mark dengan menuntun Tiara berjalan menuju mobilnya di parkir.
...---...
Suasana hening menyelimuti ruangan dingin yang tampak rapi itu. Netra Theo seakan tidak ingin memalingkan wajahnya menatap wanita yang sedang duduk dihadapannya saat ini.
"Julie, berikan draftnya", titah Indira dengan wajah serius.
"Baik, Bu", balas sang asisten seraya meraih sebuah amplop besar berisi lembaran draft dari dalam tas.
"Di sini ada beberapa draft yang bisa Pak Theo lihat terlebih dahulu", ujar Julie saat menyodorkan amplop besar pada Theo.
"Baik, akan saya lihat nanti", ucap Theo kala amplop sudah berada ditangannya. Lalu dia meletakkan amplop itu di atas meja. "Sekarang ada hal penting yang akan saya bicarakan berdua saja dengan atasan kamu", lanjutnya dengan wajah serius.
Julie menoleh ke arah Indira seakan menunggu perintah.
"Kau tunggu saja di luar", pinta Indira dengan wajah yang tak kalah serius.
Julie beranjak dari posisinya, lalu berjalan meninggalkan ruangan Theo.
"Aku minta surat cerai kita", pinta Indira dengan tegas yang membuat Theo terbeliak.
Baru saja Theo akan menanyakan kabar sang istri, namun tiba-tiba dia dimintai surat cerai. "Apa kau benar-benar ingin kita bercerai?" tanya Theo.
__ADS_1
Indira mengernyitkan keningnya. "Bukankah pertanyaan itu seharusnya ditujukan pada Pak Theo?"
Theo menatap Indira dalam kebisuan. Dia sadar jika dirinya yang lebih dulu menggugat cerai Indira. "Maafkan aku", katanya dengan penuh penyesalan.