
Setelah Daven membayar makanan pesanan mereka, dia langsung menggendong Rafa dan menaikkannya dipundaknya. Putra Indira itu tampak riang dengan apa yang dilakukan sahabat Ibunya itu. Rafa menjulurkan satu tangannya ke depan seperti akan terbang bak superhero idolanya.
"Daven, tolong jangan buat dia terbiasa seperti ini. Walaupun aku tidak percaya mitos, tapi setidaknya apa yang baik yang dikatakan oleh orang tua zaman dulu perlu kita dengarkan juga."
"Emangnya apa yang mereka katakan?" tanya Daven masih dengan menggendong Rafa dipundaknya.
"Katanya kalau menggendong anak seperti itu, maka dia akan durhaka dan suka melawan", ujar Indira.
"Lalu kau percaya?"
"Aku hanya tidak mau dia terlalu di manja. Nanti dia tidak akan mendengarkanku lagi."
"Oke, kalau kau khawatir itu benar terjadi", sahut Daven dengan menurunkan Rafa dari pundaknys.
"Kenapa diturunkan, Om?" tanya Rafa dengan raut wajah cemberut sembari menghentakkan kakinya.
Daven mulai menyadari sjkap Rafa. Dia memang tampak memberontak, ini karena aku terlalu memanjakannya, ucap Daven di dalam batinnya. "Pundak Om mulai sakit. Mungkin karena Om mulai tua", jawab Daven.
"Om sudah tua? Tapi Om belum punya anak", ucap Rafa dengan wajah bingung. Namun bagi Daven ucapan Rafa bak cambuk baginya.
Indira langsung menarik tangan Rafa. "Tidak boleh bicara seperti itu pada orang yang lebih tua", sela Indira.
"Baik, Ma", jawab Rafa dengan menganggukkan kepalanya.
"Ayo, kita pulang. Nanti malam Kakek dan nenek mengajak kita makan malam. Rafa harus istirahat di rumah."
"Hore Rafa punya Kakek dan Nenek juga", ucapnya dengan melompat girang.
Indira dan Daven terenyuh mendengar ucapan Rafa. Mereka pun saling menatap dengan pikiran masing-masing.
"Kalau gitu ayo kita pulang, Ma. Rafa mau menyiapkan kado buat Kakek dan Nenek", ajaknya dengan menarik tangan Indira.
Mereka pun berjalan bersama menuju mobil Daven di parkir.
...---...
Di rumah keluarga Theo sedang kedatangan tamu. Raja dan Theo berjalan masuk dengan rasa penasaran.
"Daddy lihatlah siapa yang datang", kata Ratu saat melihat suaminya berjalan menghampiri mereka.
Raja menatap wanita cantik yang tampak seumuran dengan putrinya sedang duduk dengan tersenyum padanya.
"Hai, Om. Apa kabar?" sapa wanita itu dengan ramah.
"Owh, hai juga. Maaf Om lupa, kamu siapa ya?"
"Lova Om... Dealova... Apa Om sudah ingat?" tanyanya dengan tersenyum menampilkan gigi ginsul manisnya.
"Haa... Kalau gigi ginsul ini Om ingat! Kamu anak Reihan, kan?"
"Betul Om", jawabnya. "Ini pasti Kak Theo, kan?" tebaknya saat melihat Theo duduk di sofa.
"Iya, Kakakmu ini sudah menikah", ucap Ratu yang tahu persis keponakannya itu menyukai putranya sejak kecil.
__ADS_1
"Owh, sudah menikah ya", ucap Lova dengan raut wajah kecewa.
"Kamu kapan rencananya menikah? Ara saja sudah punya anak", desak Ratu agar sang keponakan tidak lagi mengharapkan cinta dari Theo.
Lova terdiam sesaat. "Masih mikirin karir dulu, tante", jawabnya dengan memaksakan senyum diwajahnya.
"Jangan terlalu lama. Nanti keburu tua", ucap Ratu sedikit keras.
"Ya, Tante", jawab Lova dengan lesu.
Raja merasa iba melihat Lova diperlakukan keras oleh sang istri. Walaupun tujuan Ratu melakukan hal itu untuk kebaikan Theo dan Lova, namun Raja menganggap Ratu terlalu memaksa.
"Rencana Lova berapa lama di kota ini?" tanya Raja mengalihkan perhatian Lova.
"Mungkin - "
"Opa... Oma..." teriak Cha cha saat menuruni anak tangga. Lova pun bingung untuk melanjutkan ucapannya yang terputus.
"Kalau sedang ada tamu jangan teriak-teriak sayang", terang Ratu memberi nasehat cucu cantiknya itu.
"Iya, Oma. Cha cha minta maaf", sahut bibir mungilnya dengan rasa bersalah.
"Iya, sayang. Lain kali jangan diulangi, ya", pinta Ratu dengan lembut. Cha cha pun mengangguk sebagai jawaban.
"Hai, Lova", sapa Tamara yang mengenal wajah Dealova melalui sosial medianya.
"Hai, Ara. Apa kabar?" tanyanya yang juga mengenal wajah Tamara melalui sosial media.
"Seperti yang kau lihat", jawabnya dengan tersenyum, lalu dia ikut bergabung dan duduk di samping Ratu.
"Iya, ini anakku", tunjuknya pada Cha cha yang sedang di pangku Ratu.
"Suami Ara mana?" tanya Dealova sembari celingak celinguk.
"Mungkin sebentar lagi pulang", jawab Tamara.
"Owh, begitu ya. Tapi sepertinya Lova gak bisa menunggunya. Malam ini kantor mengadakan acara penyambutan karyawan baru dan karyawan pindahan. Jadi Lova harus bersiap lebih awal", jelasnya.
"Tidak apa-apa. Lain kali pasti bisa ketemu", sahut Tamara seraya memangku Cha cha.
"Terimakasih buat pengertiannya. Kalau begitu Lova pamit."
"Oke, hati- hati di jalan", ucap Ratu saat Dealova bangkit dari tempat duduknya.
"Iya, Tante", balasnya dengan tersenyum seraya melirik ke arah Theo. Lalu dia melangkahkan kakinya berjalan meninggalkan ruang tamu keluarga Theo.
Seluruh keluarga Theo hanya menatap punggung Lova yang semakin menjauh.
"Dia sangat menyukai Theo", ujar Ratu saat Lova sudah tidak terlihat lagi.
"Meskipun Dira tidak bersama Theo saat ini, tapi Mommy tidak ingin ada wanita mana pun yang mencoba mendekatimu, Nak", imbuhnya.
Theo menghampiri sang Ibu, lalu memeluknya. "Terimakasih, Mom. Kali ini Theo tidak akan mengecewakan Mommy lagi", balas Theo dengan menesteskan air mata penyesalan.
__ADS_1
Ratu mengusap lembut wajah Theo bak seorang anak kecil hingga wibawanya sebagai seorang CEO seketika runtuh.
"Uncle Ti kan udah gede. Kenapa masih cengeng sih?" tanya Cha cha sekaligus meledek.
"Hus, gak baik ngomongin orang yang lebih tua", ucap Tamara menasehati putri kecilnya itu.
"Maaf, Ma", balas Cha cha dengan membekap mulutnya sendiri.
Ratu menyentak lembut tubuh Theo. "Kau sudah dewasa. Jangan sampai keponakanmu melihat sisi lemahmu ini", pinta Ratu yang tidak ingin cucunya berfikir lain.
"Iya, Mom. Maaf, tadi Theo terbawa perasaan", jawabnya dengan wajah sendu. "Apalagi Dira bersikeras agar kami bercerai", lanjutnya.
Seluruh keluarga Theo sontak mendelik kala mendengarnya.
"Apa kau menyetujuinya?" tanya Ratu.
"Theo tidak akan bercerai. Tidak mungkin putra kami tumbuh tanpa seorang Ayah", ujarnya yang membuat seluruh keluarganya kembali kaget kecuali sang Ayah.
"Jadi Mommy punya cucu selain Cha cha", tanya Ratu dengan wajah berbinar.
Cha cha cemberut kala mendengar ucapan sang Oma. "Oma pasti gak sayang lagi sama Cha cha", celetuknya. Lalu dia turun dari pangkuan sang Ibu dan berlari menghamburkan diri ke dalam pelukan sang Ayah yang baru saja pulang.
"Papa..." rengeknya.
Saka menyentak pelan tubuh Cha cha "Kenapa putri cantik Papa cemberut? Nanti cantiknya hilang lho", ledek Saka yang membuat Cha cha semakin kesal.
"Papa juga gak sayang sama Cha cha", katanya berdecak kesal seraya mendorong Saka.
"Hem, putri Papa lagi ngambek kayaknya nih. Sayang sekali, padahal Papa mau ngajak Cha cha beli ice cream. Kalau gitu Papa makan sendiri aja", ucapnya dengan berpura-pura pergi.
"Papa... " panggil Cha cha yang membuat seluruh keluarga berusaha menahan tawanya.
"Ada apa?" tanya Saka dengan santai.
Cha cha menatap sang Ayah dengan cengengesan. "Hem, itu. Papa jadi beli ice creamnya?" tanyanya.
"Iya, tapi buat Papa sendiri", balas Saka dengan membuang wajahnya.
"Cha cha boleh minta sedikit saja", pohonnya.
"Tadi Papa dengar ada yang gak mau ice cream deh. Mama dengar juga kan?"
"Iya, Pap. Tapi kayaknya - "
"Oma.." pekik Cha cha seraya berlari kepangkuan Ratu. "Papa sama Mama jahat", adunya dengan terisak.
"Tenang sayang. Nanti Oma yang belikan Cha cha ice cream", bujuknya dengan menahan tawa.
"Cha cha mau dua Oma", sahutnya dengan mengangkat kedua jarinya.
"Iya, nanti Oma belikan", jawab Ratu seraya mencium gemas pipi Cha cha.
"Terimakasih Oma sayang", balas Cha cha dengan mencium pipi Ratu.
__ADS_1
Jika putraku ada di sini, mungkin dia juga akan bersikap manja pada Mommy, ucap Theo dalam batinnya.