Love Me Tender

Love Me Tender
Semoga Dia tidak kuliah lagi disini


__ADS_3

Tamara memasuki sebuah kelas yang sedang riuh, karena sesuatu hal yang dia tidak tahu duduk perkaranya. Dia pun melangkahkan kakinya menghampiri seseorang yang pertama kali dijumpainya.


"Ada apa ini?" tanya Tamara pada seorang wanita yang duduk di bangku bagian depan.


"Apa kau benar-benar tidak tahu?" Wanita itu menatap Tamara dengan curiga.


Tamara berdecak kesal saat dia ditatap seperti itu. "Kalau aku tahu, aku tidak akan bertanya padamu."


Wanita yang sedang di ajak bicara oleh Tamara menoleh ke belakang. "Teman-teman, mahasiswa terpopuler ada disini!" teriak wanita itu. "Aku harus bagaimana, nih?" tanyanya berpura-pura bingung.


"Kamu harus menjadikannya teladan!" seru suara bariton pria saat masuk ke dalam kelas. Mereka pun tersentak kaget saat melihat dosen yang akan mengajar menyaksikan kericuhan yang baru saja terjadi.


Dengan kelabakan semua mahasiswa yang masih berdiri mengelilingi seseorang mengambil posisi duduk. Tamara pun melangkahkan kakinya menghampiri Indira, seseorang yang mereka kerumuni sedari tadi.


Theo, sang dosen yang akan mengajar kelas itu berjalan menuju meja dengan rasa kesal. "Kalian semua kuliah di kampus ini dengan membayar mahal sejumlah uang, bukan untuk bertindak semena-mena seperti ini!" Theo menghempaskan buku yang sedang dipegangnya di atas meja, hingga semua mahasiswa kembali tersentak kaget.


"Maaf kalau saya sedikit kasar. Tapi saya tidak suka dengan tindakan kalian barusan!" Theo menegaskan ucapannya. "Atau kalian mau bernasib sama seperti ketiga mahasiswi itu!" Theo mulai berbicara lantang seraya menahan emosinya. "Itu hanya contoh kecil. Jika kalian tidak mau mengikuti aturan kampus ini, silakan keluar. Karena kampus ini tidak butuh uang kalian. Kampus ini dibangun untuk melahirkan generasi-genarasi yang mau sukses meraih mimpinya."


Semua mahasiswa masih terdiam saat Theo mengedarkan pandangannya. Namun pandangan Theo berhenti pada seorang mahasiswa yang sedari tadi memakai earphone. Theo pun melangkahkan kakinya menghampiri pria itu. Tangan Theo menarik earphone dari telinganya, saat berdiri di samping pria itu. "Apa kamu mendengar ucapan saya?" tanya Theo saat kedua earphone berhasil disitanya.


Tanpa mengucapkan sepata kata pria itu meraih tas ranselnya, lalu meninggalkan kelas.


"Kamu mau kemana?" tanya Theo dengan emosi, karena merasa tidak dihargai.


"Cih, bapak aneh! Tadi bapak.yang bilang, kalau tidak mau ikuti aturan kampus ini silakan keluar. Saya keluar, pak." Pria itu menyandang tasnya dengan santai menuju pintu keluar.


Theo pun beranjak dari posisinya berdiri, lalu memulai kuliah seakan tidak terjadi apa-apa. Kita lihat saja besok. Aku yakin kau akan mengemis agar diterima kembali, batin Theo.


 


Pria itu berjalan menuju parkiran mobil dengan meluapkan emosinya. "Kenapa semua orang ingin mengaturku!" teriaknya seraya membanting tas ransel ke ban mobil miliknya, hingga alarm mobil berbunyi. "Santai bray", ucapnya seakan berbicara dengan mobil. Dia pun mengeluarkan kunci mobil dan menekan remotenya.


"Nah gitu dong, diam", ucapnya sambil membuka pintu, lalu dia masuk ke dalam mobil. Setelah menyalakannya pria itu langsung melajukan kendaraannya meninggalkan parkiran. Di dalam mobil dia terus memikirkan tujuannya, karena tidak mungkin dia kembali ke rumah. Meskipun mamanya tidak akan peduli dengannya, karena selalu sibuk dengan urusan sosialita. Tapi sang mama pasti akan menceritakan semua kejadian pada papanya.

__ADS_1


Pria itu terus mencari tempat nongkrong yang aman dan tak mungkin diketahui papa dan mamanya. Dia pun menepikan kendaraannya di sebuah cafe. Lalu keluar dari dalam mobil dan menguncinya.


"Daven...!" teriak suara seorang wanita yang dia kenal. Dia pun membalikkan badannya dengan sedikit ragu.


"Mama", ucqpnya.dengan mulut menganga.


"Ngapain di sini, nak?" tanya sang mama saat menghampirinya.


"Ya, mau makanlah, ma. Emangnya mau ngapain lagi."


"Maksud mama, ini jam berapa kenapa anak mama bisa ada disini?" sang mama menatap curiga Daven.


"Laper, ma."


"Emangnya di kampus tidak ada kantin?" tanya sang mama berbasa basi. "Setahu mama kantin kampus di sana sangat lengkap dan makanannya juga enak", ujarnya saat membayangkan pertama kali dia makan di kantin kampus Arkana University bersama teman sosiitanya yang tak lain adalah istri pemilik kampus.


"Sudah.jangan bohong lagi. Mama tuh capek selalu menutupi kelakuanmu seperti ini pada papa. Ayo, sekarang juga kembali ke kampus!"


"Males", sahut Daven seraya masuk ke dalam mobil.


---


Di kampus.


"Baiklah kuliah sampai di sini. Ingat tugas yang saya berikan, minggu depan tolong dikumpulkan pada Tamara."


"Baik, pak", sahut mereka hampir bersamaan.


Theo memungut bukunya di atas meja, lalu melangkahkan kakinya keluar dari kelas.


"Ke kantin yuk", ajak Tamara seraya menoleh ke arah Indira.


"Emm, maaf aku disini saja." Indira menaruh tangannya di atas meja untuk menumpu kepalanya.

__ADS_1


"Lho, kenapa?" tanya Tamara sambil meletakkan punggung tangannya di dahi Indira. "Gak panas" ucapnya.


"Aku baik-baik saja. Cuma aku harus sedikit berhemat, karena..." Indira menggantung ucapannya. Rasanya dia belum siap untuk menceritakan kisah pilu yang sedang dia alami.


"Ayo kita ke tempat favorit", ajak Tamara seraya menarik tangan Indira. Barangkali sahabatnya itu akan terbuka, jika berada di tempat yang tenang.


---


Dan benar saja dengan suasana tenang taman kampus di tambah bujuk rayu Tamara, akhirnya Indira menceritakan semua masalah yang sedang dia hadapi.


Tamara menatap nanar wajah sendu Indira. Entah kenapa dia ingin sekali Indira tinggal bersamanya di rumah kediamannya.


"Bagaimana jika kau tinggal di rumahku saja?" tanya Tamara.


Indira tersenyum getir. "Kau jangan bercanda, Ara. Mana mungkin orang tuamu mengizinkanku tinggal di rumahmu."


"Aku tidak bercanda. Sepulang dari kampus, aku akan menanyakannya pada Daddy dan Mommy", sahut Tamara dengan serius.


Gubrak.


Suara benda yang jatuh membuat Indira dan Tamara tersentak kaget. Mereka pun saling memandang.


"Suara apa tu?" tanya Tamara sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


Tiba-tiba seorang pria muncul dari belakang mereka. "Kalian mengganggu tidurku! Tidak bisakah kalian pindah!" ucap Devan yang sedari tadi tidur di bangku taman tepat di belakang mereka.


"Cih, kenapa kau masih disini? Bukankah kau akan keluar dari kampus ini?" Tamara mencecar Daven, karena pria itu telah mempermalukan sang kakak di depan semua mahasiswa.


"Tadinya sih mau keluar, tapi dihalangi sama mamaku yang bawel", ujarnya tanpa rasa bersalah, lalu dia melanjutkan tidurnya di bangku taman. "Sudah jangan ganggu aku lagi. Pergilah dari sini", ujarnya dengan mata terpejam.


Tamara pun mulai tersulut emosi saat melihat sikap Daven. "Ini anak ngeselin." ucap Tamara berdecak kesal, hampir saja sepatu kets mahal miliknya melayang ke wajah Daven, jika tidak dihalangi oleh Indira.


"Sudah, biarkan saja dia. Nanti juga dia sadar sendiri." Indira menarik paksa tangan Tamara, meninggalkan taman kampus.

__ADS_1


"Semoga dia tidak kuliah lagi disini!" ucap Tamara seraya mengikuti langkah Indira.


__ADS_2