Love Me Tender

Love Me Tender
Anak Siapa?


__ADS_3

Di dalam kamar Theo.


Theo sedang membuka sebuah email dari seorang peretas yang sudah dia bayar. Mata nanarmya menatap beberapa foto kala Indira sedang mengandung dan menerima kelulusan saat kuliah di LN.


Theo masih terus mengotak atik laptopnya untuk membuka file foto berikutnya. Foto selanjutnya terbuka. Theo tersenyum haru, kala melihat Indira sedang menggendong bayi mungil yang tampak menggemaskan.


"Dia putraku", ucapnya dengan nada lirih.


Namun seketika matanya berbinar kala melihat foto terakhir. "Ternyata putraku berada di sekolah yang sama dengan Cha cha", ucapnya girang.


Lalu dia mencuri beberapa foto untuk di simpan.


"Semoga besok Indira mau menemuiku", ucapnya bermonolog sembari menyimpan laptop yang baru saja dia offkan.


...---...


Di dalam kamar milik Indira, dia menghela kasar kala memikirkan dirinya yang tidak lagi memiliki keberanian untuk bertemu Theo.


"Kenapa aku bisa selemah ini", gumamnya. "Sadar Dira, sadar... dia sekarang bukan lagi suamimu", lanjutnya bermonolog dengan menepuk pelan pipinya.


"Besok, aku harus menemuinya dan meminta surat cerai kami", ucapnya.


Drrt. Drrt.


Tiba-tiba ponsel Indira bergetar. Tangannya langsung meraih ponsel yang ada di atas nakas. "Daven", ucapnya saat membaca nama kontak di layar ponselnya. Indira pun menerima panggilan itu dengan menggeser tombol hijau diponselnya.


"Malam Daven. Ada apa malam-malam begini menghubungiku?"


"Malam Dira. Ternyata kau memang benar-benar ingin melupakan aku!" ucapnya lirih.


"Bagaimana mungkin aku bisa melupakan pria yang sudah melakukan banyak hal padaku", jawab Indira dengan serius.


"Jadi kenapa kau membatasi kapan aku bisa menghubungimu!" balas Daven berdecak kesal dari seberang telepon.


"Emangnya kapan aku membatasimu untuk menghubungi aku?"


"Baru saja. Saat kau mengangkat telepon, kau tampak tidak senang saat aku menelepon."


"Kau terlalu sensitif, seperti wanita yang sedang PMS saja", inbuh Indira.


"Kalau kau masih meledekku, aku akan lompat dari sini!" teriak Daven memekakkan telinga Indira.


"Video call, aku ingin melihatnya!" pungkas Indira.


Daven berpura-pura menangis. "Kau benar-benar tidak peduli lagi padaku! Ini pasti karena kau sudah bersatu kembali dengan pria yang sudah membuangmu itu, kan?"


"Jangan asal bicara. Cepat katakan apa tujuanmu menghubungiku?"


"Papa dan Mama ingin bertemu denganmu. Mereka mengundangmu besok makan malam di rumah", ujar Daven mengubah nada bicaranya.

__ADS_1


"Oke, besok aku datang. Tolong sampaikan pada Om dan Tante, ya", pohon Indira.


"Jangan lupa dandan yang cantik", pinta Daven.


"Jika aku berdandan, Om dan Tante akan mengira aku sedang memberi kesan yang baik pada calon mertua."


Daven terdiam sesaat kala mendengar penuturan Indira. "Apa kau benar-benar tidak mau menerima cintaku?"


"Daven, maafkan aku. Aku tidak pantas untukmu. Kau layak mendapatkan wanita yang lebih baik dariku."


"Jika kau mau menerimaku, maka kau memang pantas untukku."


"Sudah! Tidak perlu diperpanjang. Bagaimanapun kau sudah aku anggap sebagai saudaraku sendiri. Jadi aku mohon jagan membicarakan hal itu lagi."


"Baiklah", sahut Daven dengan nada lesu. "Ingat besok jam 7 malam kau harus datang ke rumah", lanjutnya.


"Oke, aku pasti datang."


Lalu Daven mengakhiri sambungan telepon.


Setelah sambungan telepon terputus, Indira menghela nafas kasar seraya merebahkan tubuhnya di atas ranjang . "Daven, semoga kau bertemu dengan wanita yang tulus mencintaimu", ucap Indira bermonolog.


...---...


Di bandara Internasional.


"Maaf, aku tadi sedang menelepon", ujar pria itu dengan wajah memelas.


"It's oke. Lain kali hati-hati!"


"Terimakasih."


"BTW aku pertama sekali di kota ini. Apa kau bisa membantuku memesan taksi online?" pohon wanita itu yang mendapat tatapan aneh dari pria dihadapannya.


"Aku bukan penipu. Namaku Lova, baru saja tiba dari kota Paris. Aku dipindah tugaskan ke kota ini. Perusahaan sudah menyediakan tempat tinggal, alamatnya ada di dalam kertas ini."


Pria itu meraih kertas dari tangan Lova seraya menatapnya dengan serius. "Lain kali jangan memberi informasi apapun pada orang asing."


"Aku yakin kau pasti orang baik, namamu siapa?" tanya Lova dengan tersenyum.


"Aku Daven, kota ini adalah tempat kelahiranku."


"Wah, kalau begitu aku bertemu dengan orang yang tepat. Apakah kau bisa mengantarku ke alamat itu?"


"Ayo, ikutlah denganku. Kita searah", ujar Daven.


Lova pun mengikuti Daven. Dia berjalan dengan mensejajarkan langkahnya dengan Daven. Mereka terus berjalan hingga ke tempat mobil keluarga Daven di parkir.


...---...

__ADS_1


Malam begitu cepat berlalu, berganti pagi yang cerah.


"Pagi sayang", sapa Indira pada putranya yang sedang menghampiri meja makan.


"Pagi, Ma", sahutnya dengan mulut menganga.


"Anak Mama masih mengantuk?"


"Tadi malam Mama gak bacain buku cerita untuk Rafa, jadi Rafa lama boboknya", sahutnya dengan mengerucutkan bibir.


"Maafkan Mama, nak. Tadi malam Om Daven nelpon, Mama jadi kelupaan deh."


"Om Daven di mana, Ma? Apa dia datang nyusul kita ke sini?" tanya Rafa girang.


"Om Daven tidak ada di sini. Dia masih di kota Paris."


"Yah, kirain Om Daven datang. Rafa mau main game bareng Om Daven. Kali ini pasti Rafa yang menang", ucapnya dengan semangat.


"Belajar yang benar dulu. Jangan main game terus yang dipikirin. Entar Mama gak kasi Rafa pegang HP lagi."


"Mama pelit!"


"Rafa mulai melawan Mama? Belajar dari mana?" tanya Indira dengan tatapan serius.


Rafa mulai ketakutan saat melihat sang Mama marah padanya. "Maaf, Ma. Rafa salah", ujarnya dengan wajah memelas.


Indira berjongkok seraya menatap wajah putra tampannya itu. "Rafa sayang sama Mama?" tanya Indira yang di balas dengan anggukan oleh Rafa. "Mama juga sayang sama Rafa", ucapnya kemudian dengan memeluk putranya. "Jangan pernah membantah Mama. Karena semua yang Mama lakukan itu untuk kebaikan Rafa", tuturnya dengan nada lembut.


"Iya, Ma", sahut Rafa dengan tersenyum.


Indira mengusap lembut wajah tampan putranya, lalu dia berdiri dan menggenggam tangannya. "Ayo, kita sarapan", ajaknya dengan menuntun Rafa untuk duduk di kursi khusus buat putranya itu.


...---...


Setelah menyelesaikan sarapan pagi, Indira yang ditemani sang asisten pergi untuk mengantarkan Rafa ke sekolah.


"Bu, pagi ini kita masih harus mengantar berkas perjanjian kerja sama dengan pak Theo."


"Draft yang saya minta, apa sudah selesai?" tanya Indira mengabaikan ucapan sang asisten.


"Hanya 5 lembar Bu", sahut sang asisten dengan gugup.


"Tidak apa-apa. Aku juga sudah menyiapkan beberapa. Semoga klien Pak Theo suka dengan draft kita."


"Saya yakin mereka pasti suka, Bu. Hasil karya Ibu selalu memukau."


"Kau terlalu memuji", sahut Indira saat mobil yang mereka tumpangi berhenti di halaman sekolah putranya. Baru saja Indira akan membuka pintu mobil, namun sesaat kemudian dia hentikan kala melihat Theo sedang mengantar seorang anak perempuan.


Anak itu sebenarnya anak siapa? Tanya Indira di dalam batinnya.

__ADS_1


__ADS_2